Monday, December 22, 2008

Bibliomania VS Bibliosophia

Di sebuah café pada kisaran awal abad ke-19, di Inggris pecah pertengkaran antara Thomas Frognal Dibdin dan James Bareford. Dibdin adalah penulis buku The Bibliomania yang mendapatkan serangan habis-habisan dari Bareford lewat tulisan-tulisan pamflet yang tajam. Keduanya pun beroleh pendukung masing-masing. Dibdin disokong pakar kedokteran, Dr John Ferriar. Sementara Bareford mendapat sokongan dari negarawan Philip Dormer Stanhope.

Tuesday, November 11, 2008

Goyang Dangdut Mala

MALA akhirnya bersedia mengakui bahwa dia adalah pelaku mutilasi pada korban yang diakui sebagai Midori, bintang film panas sekaligus sahabatnya itu. Sahabat yang telah menyeretnya pada sebuah konspirasi politik yang tidak dikehendakinya.

Pengakuan itu dilakukan MALA dengan jaminan bahwa NORA, istri yang kekasihnya tidak akan dibunuh. Cintanya pada NORA yang lugu dan sederhana itu ternyata mampu membuatnya bersedia mengorbankan hal-hal terpenting dalam hidupnya.

Wednesday, October 22, 2008

Agar Tak Sekedar Menjadi Mayat Hidup


Bahagiakah anda menjalani hidup ini? Apakah anda merasa bingung menentukan arah hidup? Apakah anda gagal dan sulit memaafkan kesalahan diri sendiri? Apakah anda memendam dendam? Apakah hidup anda membosankan? Apakah anda sedang putus asa? Apakah anda tidak betah dirumah? Apakah anda dijauhi rekan kantor? Apakah anda merasa tak berati?

Sunday, August 24, 2008

Penjaga Ingatan Melawan Lupa

 Oei Hiem Whie, Budi Darma
::  Diana AV Sasa
 “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa”.
Kalimat lugas itu diucapkan tokoh Mirek dalam novel kontroversial The Book of Laughter and Forgetting yang ditulis Milan Kundera, seorang novelis, buruh, dan musisi jazz asal Ceko. Kundera juga menulis pembantaian berdarah di Bangladesh dengan cepat menutupi kenangan akan invasi Rusia atas Ceko, pembunuhan Allende mengurangi rintihan Bangladesh, perang di Padang Pasir Sinai membuat orang melupakan Allende, pembantaian bangsa Kamboja membuat orang melupakan Sinai, dan seterusnya dan seterusnya, hingga akhirnya setiap orang membiarkan segala sesuatunya terlupakan.

Monday, August 11, 2008

Bincang-bincang: Merdeka Bersama Buku

"Buku adalah temanku. Buku-buku menjadi temanku dan pastilah (penjara) ini merupakan tempat tenang untuk belajar. Selama aku memiliki buku, aku dapat tinggal di mana saja.” (Surat Mohammad Hatta dari Boven Digul, Papua, pada 1934)

Mengundang seluruh penulis, peresensi, penerbit, kolektor, pembaca, dan pecinta buku untuk hadir dalam bincang-bincang bersama Kubugil n Friends dalam rangka peringatan 63 tahun Indonesia merdeka.

Tema : Yang Muda yang Merdeka Bersama Buku
Hari/tanggal : Minggu, 17 Agustus 2008
Tempat : Toko buku Togamas, DTC, Surabaya
Waktu : 10.00-13.00 wib

Pembicara:
1. Sirikit Syah (penulis novel)
2. Endah Sulwesi (blogger buku senior, anggota dewan 13 Kubugil)
3. Iman D Nugroho (wartawan The Jakarta Post, mantan ketua AJI Surabaya, kolektor buku,owner www.iddaily.net)
4. Arida Istiarti (penulis, anggota Forum Lingkar Pena)

Moderator:
Arief Santosa (Redaktur Rubrik “Buku” Jawa Pos)

Juga akan dilakukan community building (pembentukan milist pecinta buku dan kontrak sosial /pernyataan bersama untuk mengajak lebih banyak orang untuk membaca, meresensi, menulis, dan menerbitkan buku)

Jangan lewatkan karena ada bingkisan buku bagi 100 peserta yang datang cepat dan doorprize buku-buku terbaru. Bagi yang di Surabaya dan kota-kota terdekat, datang ya.....


Salam dari Sasa, Kubugil 'n Friends di seluruh Indonesia
Kontak: 0852 3244 4023


LAIN_LAIN

Panitia pelaksana: Fajar Timur Surabaya, Kutu Buku Gila--KuBuGil (www.kubugil.multiply.com)
Disponsori oleh: Henk Publica, TB Togamas Surabaya
Kerjasama media: Harian Jawa Pos, www.event.web.id, www.iddaly.net
Didukung oleh: Penerbit Calista, Penerbit Erlangga, I:BOEKOE

Saturday, July 5, 2008

Goyangan Nora

RESENSI/REVIEWS
Buku ini adalah bagian pertama dari Tetralogi Dangdut. Menceritakan tentang seorang gadis bernama NORA yang lugu dan sederhana. Keluguannya ini memang terkadang terkesan tidak masuk akal. Tetapi justru dari keluguannya ini lahir sebuah kesederhanaan yang menyentil sisi-sisi humanis kita. Kesederhanaan yang sudah banyak dilupakan karena manusia begitu sibuk berpacu dengan mesin waktu dan berlomba dengan gengsi.

Mala, adalah sosok lelaki yang idealis, cerdas, modern, dan di gadang-gadang untuk menjadi generasi pemimpin bangsa. Jaringannya seluas pengetahuannya. Ketegasannya sekeras pendiriannya. Karirnya setinggi cita-citanya. Tapi semua itu menjadi habis  tak berarti ketika dia di hadapkan pada sosokNORA. Perempuan yang sangat  dipujanya di dasar hati tapi selalu di ingkarinya dalam realitas. Kesederhanaan Nora membuatnya malu untuk mengakui perasaannya itu, apa lagi menunjukkannya pada publik. Sementara NORA dengan keluguannya selalu mencari perhatian agar Mala mau mengerti suara hatinya yang haus belaian.

Namun keangkuhan diri masing-masing membuat hati mereka terpental dan memilih untuk saling mengabaikan. Ketika kesunyian menyergap relung hati, diantara hiruk pikuk kejamnya intrik kehidupan, barulah kesederhanaan cinta itu disadari dan dicari. Bahwa mereka sebenarnya saling menginginkan.

Terlambat…. nasib menentukan garis berbeda. Keinginan itu harus tertunda karena Mala terjebak dalam intrik dan konspirasi kekuasaan yang membuatnya dikejar aparat kepolisian, dituduh melakukan mutilasi pada seorang model, dan di pecat dari kantor persnya.

KOMENTAR/COMMENT
NOVEL YANG LENGKAP: Kental dengan kritik sosial, menjungkir balikkan emosi,  satir, dan penuh kalimat yang menggugah kesadaran. Salah satunya ini : “ Bukan kemerdekaan, tapi tanggung jawablah sebenarnya yang nikmat dan membahagiakan.” (hal.122)


Judul : Nora
Penulis : Putu Wijaya
Harga : Rp.49.000
Penerbit : Gramedia Pustaka
ISBN 978-979-709-336-5

Wednesday, June 11, 2008

Aku Ditelanjangi Muhidin

muhyiddin
RESENSI
Buku ini pertamakali kubaca sekitar tahun 2003- 2004. Saat itu masih susah untuk dapet buku ini, soalnya sempat mau dibakar segala setelah muncul kontroversi. Aku dapat dari nitip seorang kawan yang jalan-jalan ke Jogja. Itupun dia dapetnya mesti muter seluruh toko buku dan cuma dapet satu, yang tinggal satu-satunya. Harganya 28.000. Aku tahu buku itu dari seorang teman.

Pertamakali membaca buku ini, aku merasa ditelanjangi. Semua kalimat yang ditulis seperti menterjemahkan apa yang aku alami. PERSIS…!!! Pemberontakannya pada Tuhan, Ketidak percayaannya pada Cinta, Perkawinan, dan Laku-laki. Semua sedang kualami. Aku dalam kondisi depresi dan kecewa yang berat. Hanya saja aku belum menentukan pilihan akan kemana membawa alur perahu kehidupanku, Tokoh di buku ini sudah, Dia memilih menjadi pelacur sebagai bentuk pemberontakan dan sekaligus aktualisasi atas kekecewaanya.