Sunday, August 24, 2008

Penjaga Ingatan Melawan Lupa

 Oei Hiem Whie, Budi Darma
::  Diana AV Sasa
 “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa”.
Kalimat lugas itu diucapkan tokoh Mirek dalam novel kontroversial The Book of Laughter and Forgetting yang ditulis Milan Kundera, seorang novelis, buruh, dan musisi jazz asal Ceko. Kundera juga menulis pembantaian berdarah di Bangladesh dengan cepat menutupi kenangan akan invasi Rusia atas Ceko, pembunuhan Allende mengurangi rintihan Bangladesh, perang di Padang Pasir Sinai membuat orang melupakan Allende, pembantaian bangsa Kamboja membuat orang melupakan Sinai, dan seterusnya dan seterusnya, hingga akhirnya setiap orang membiarkan segala sesuatunya terlupakan.


Peristiwa yang datang sambit-menyambit di negeri kita menjadi arena bagaimana pelupaan itu terjadi. Kenaikan BBM yang menyulut demonstrasi di mana-mana mendadak surut karena kasus FPI beringas di Monas. Peristiwa suap anggota DPR dan pejabat Bank Indonesia menenggelamkan soal kekerasan atas nama agama itu. Hiruk-pikuk pemberitaan soal pembunuhan berantai di Jombang membuat orang perlahan-lahan melupakan kasus suap itu. Sementara, kasus bencana lumpur Lapindo kian hari kian abstrak.

Demikianlah, seheboh apa pun peristiwa akan segera terlupakan oleh peristiwa lain yang lebih baru dan lebih gegantik. Bagi para pemegang kuasa, teori lupa akan menjadi senjata paling ampuh untuk mengalihkan perhatian publik, sepenting dan seserius apa pun persoalannya. Mereka bukan saja memanfaatkan naluri hasrat ingin tahu yang ada pada setiap orang, tetapi juga memanfaatkan kelemahan dasar manusia, yakni cepat melupakan.

Dan cara melawan manusia akut yang dimanfaatkan mesin kekuasaan politik dan ekonomi itu adalah dengan belajar kepada para penulis dan begawan. Di setiap bangsa, di tiap-tiap kota, kelompok asketis inilah yang menjadi tumpuan terakhir masyarakat untuk tetap waras dan waskita atas serbuan alienasi yang datang berlimpah-limpah. Beruntunglah di Surabaya dengan hutan pabrik dan mall-nya yang aduhai, masih memiliki beberapa benteng terakhir kebudayaan.

Kita menyebut tiga begawan buku yang terus berupaya melawan lupa, mereka inilah laskar-laskar terakhir yang menjadi penjaga-penjaga ingatan dengan caranya sendiri-sendiri.

Adalah Oei Hiem Hwie, 76, mencoba merekam setiap detail peristiwa hari demi hari dengan cara mengkliping dan mengoleksi semua produk teks (koran, majalah, buku, brosur) yang datang dari mana pun. Perpustakaan yang dikelolanya, Medayu Agung, adalah monumen ingatan yang barangkali tak dimiliki oleh perpustakaan mana pun di kota ini.

Laku sebagai kolektor teks dan pengkliping yang dirintis Pak Oei datang dari tradisi muda saat menjadi wartawan di harian Trompet Masjarakat. Hobi itu akhirnya terhenti saat gempa politik G30S meletus dan ia dijebloskan ke Pulau Buru karena kedudukannya sebagai sekretaris Badan Persaudaraan Kewarga-negaraan Indonesia (Baperki) yang dinilai berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Buku-bukunya dirampas dan dibakar. Hanya beberapa saja yang selamat karena berhasil disembunyikan di atas plafon, di gudang, dan di tempat-tempat tak terjaga lainnya. Itu pertama kali Pak Oei memperjuangkan sendiri warisan ingatannya dari vandalisme. Sisa-sisa itulah yang jadi cikal berdirinya Perpustakaan Medayu Agung.

Pak Oei adalah sosok pencinta buku. Baginya buku adalah artefek ingatan. Kegiatannya terhadap artefek itu tiada lain adalah usahanya merawat ingatan agar generasi muda Indonesia tak terus-menerus dibodohi penguasa. Dan Pak Oei sadar betul bahwa apa yang ada di kepalanya bisa sewaktu-waktu hilang ketika kelak usianya pangkas. Maka, dikumpulkannya buku-buku dan kliping koran sebagai bagian dari upaya kodefikasi penuturan sejarah.

Tak jauh dari kediaman Pak Oei, ada begawan sastra yang dengan tekun menulis dalam bahasa Jawa dan Indonesia sekaligus. Suparto Brata, 76, adalah sosok yang enerdjik, penuh semangat. Cintanya tak pernah susut pada buku. Padahal, apa yang ditulisnya jarang mendapat apresiasi yang layak, baik dari publik maupun pemerintah. Baru ketika ia mendapat anugerah penulis Asia Tenggara Terbaik 2007 dari Kerajaan Thailand, pemerintah mulai melirik. Ironis memang, justru bangsa lain yang menghargai usahanya merawat tradisi Jawa dan Indonesia. Inilah wajah bangsa kita yang kerap abai atas kekayaan tradisi yang dipunyai dan baru kebakaran jenggot ketika milik kita itu dicuri bangsa lain.

Suparto Brata bercita-cita ingin menduniakan sastra Jawa dan menciptakan perdamaian dunia melalui karya-karya novelnya. Maka, tak bosan-bosan ia menulis dengan disiplin laiknya seorang laskar budaya terakhir. Mbah Parto hingga kini memiliki jadwal menulis teratur mulai pukul 04.00 subuh hingga 09.00. Rutin setiap hari. Dengan disiplin itu ia telah menghasilkan 130 buku hingga kini. Walau sudah uzur, Mbah Parto juga tak gaptek-gaptek amat. Sosok yang rendah hati ini juga menjajal tradisi anak-anak muda sekarang dengan ngeblog. Tak tanggung-tanggung,  Mbah Parto mempunyai dua blog sekaligus, www.supartobrata.com dan www.supartobrata.blogspot.com.
Seorang lagi begawan penjaga ingatan di Suirabaya yang patut dicatat adalah Budi Darma. Sastrawan, akademisi, peraih Sea Write Award, Anugerah Akademi Jakarta, dan Anugerah Ahmad Bakrie ini juga tak pernah berhenti keliling dunia. Posisinya sebagai guru besar dan salah satu sosok penting di lembaga kebudayaan MASTERA (Majelis Sastra Asia Tenggara) membawanya pada sebuah kerja mulia: membimbing cerpenis dan esais muda berbakat dari Brunei Darusalam, Malaysia, dan Indonesia. Kiprahnya ini menjadikannya sebagai sosok penyemai lahirnya generasi yang sadar literasi. Ia adalah begawan penjaga berlangsungnya kontinuitas tradisi literer di Surabaya khususnya dan di Indonesia umumnya. 

Surabaya beruntung masih mempunyai benteng terakhir asketisme seperti tiga sosok itu. Mereka inilah ~ dan juga nama-nama anonim lain yang tersebar di kamar-kamar senyap ~ yang akan menjadi penjangga ingatan akan laku perjalanan kota ini hingga warganya tak akan alpa dari mana berasal dan ke mana akan kembali.

Diana A.V. Sasa, ketua Forum Nusantara Madani,Tinggal di Surabaya.

Dikutip dari:
Jawa Pos, Minggu 24 Agustus 2008.
Halaman 6 BUKU, Di Balik Buku.

0 comments: