Monday, December 22, 2008

Bibliomania VS Bibliosophia

Di sebuah café pada kisaran awal abad ke-19, di Inggris pecah pertengkaran antara Thomas Frognal Dibdin dan James Bareford. Dibdin adalah penulis buku The Bibliomania yang mendapatkan serangan habis-habisan dari Bareford lewat tulisan-tulisan pamflet yang tajam. Keduanya pun beroleh pendukung masing-masing. Dibdin disokong pakar kedokteran, Dr John Ferriar. Sementara Bareford mendapat sokongan dari negarawan Philip Dormer Stanhope.
Keduanya bertengkar ihwal sepele sebetulnya. Iseng yang serius. Ribut-ribut kesukaan orang pada buku yang mereka istilahkan dengan bibliomania dan bibliosophia.
Simak salinan manuskrip pertengkaran mereka di bawah ini.
 
BAREFORD

Hey Tuan Dibdin!! Sudah kubaca The Bibliomania yang Anda tulis setahun lalu itu.

DIBDIN
Wah, bagus dong. Terimakasih.

BAREFORD
Yah, memang bagus. Kata bibliomania itu tergolong istilah”baru”.

DIBDIN
Ah, nggak baru-baru amat sebetulnya.

BAREFORD
O, ya?

DIBDIN
Ya, Dr Ferriar sudah pernah menuliskan dalam beberapa puisinya kok.

BAREFORD
Apa katanya?

DIBDIN
Hasrat liar, siksaan tiada akhir. Itulah biblomania. Itulah manusia malang, yang mengidap penyakit-buku....

BAREFORD
Dan Anda menyepakati pernyataan itu?

DIBDIN
Bung sudah baca buku saya dan tentu tahu jawabannya kan Bung!

BARESFORD
Ya, Anda menyebutnya sebagai ”penyakit”.

DIBDIN
Yang mewabah, Bung....

BARESFORD
Bagaimana Anda menyebutnya sebagai penyakit ketika itu sama sekali tidak menyakiti?

DIBDIN
Memang betul. Tapi begitu banyak orang segar-bugar yang tak tahu serombongan virus sedang menggerogoti tubuhnya. Mereka baru sadar ketika badannya mulai rewel bertahun-tahun berikutnya.

BARESFORD
Tapi bukankah mengumpulkan buku itu bukan sesuatu yang menjijikkan seperti umumnya penyakit?

DIBDIN
Akan menjijikkan ketika itu dilakukan dengan hasrat yang meledak-ledak tanpa tujuan intelektual yang jelas.

BARESFORD
Apa maksud Anda?

DIBDIN
Lihatlah seorang bibliomania yang matanya nanar ketika melihat serangkaian huruf kecil yang dicetak miring pada katalog lelang ”unik dan langka”. Lalu dengan tergesa-gesa berangkat ke balai lelang seakan di belakangnya segerombolan tentara sedang berteriak padanya: ”Jangan sampai ketinggalan...!! Kejar! Dapatkan!! Jangan sampai telat...!” Lalu ia pun menguras isi kantongnya untuk beradu kebanggaan dan gengsi. Begitu sibuknya mengumpulkan dan berburu tanpa sempat untuk membacanya. Itu menjijikkan sekali, Bung! Sangat!

BARESFORD
Tidak sama sekali Tuan Dibdin! Kuberitahu bahwa Anda tidak tahu betapa mengagumkan perasaan yang muncul pada setiap perburuan itu. Rasanya seperti laskar yang berebut untuk menjadi prajurit terpilih kerajaan. Berusaha menjadi yang tercepat dan terbaik. Itu petualangan yang luar biasa. Tak terkatakan. Dan itu Anda katakan menjijikkan.

DIBDIN
Wow, prajurit yang malang. Tak sadar rupanya sedang terserang wabah. Ha ha ha ha ha ha.

BARESFORD
Kok Anda katakan itu wabah.

DIBDIN
Wabahlah namanya, Tuan Baresford. Wabah yang berbahaya, karena terjadi di setiap musim di sepanjang tahun.

BARESFORD
Tuan Dibdin, sungguh Anda benar-benar telah menorehkan penghinaan kepada relawan-relawan itu.

DIBDIN
Relawan? Hah? Relawan? Apa nggak salah dengar!?

BARESFORD
Ya relawan ilmu pengetahuan yang sudi menghabiskan waktu dan tenaganya untuk menghimpun ribuan buku, merawat, dan menjaganya.

DIBDIN
Relawan atau korban yang riang gembira? Ha ha ha ha...

BARESFORD
Relawan yang pahlawan tentu saja. Ribuan buku jelas bukan hal yang sepele, bukan?

DIBDIN
Ribuan buku dikejarnya, tapi puluhan saja yang menyerap ke otaknya. Buat apa? Itu kelainan menurut saya. Hanya ledakan ”hasrat mengumpulkan” yang tak terkendali. Maniak buku. Bibliomania!

BARESFORD
Bibliosophia, Tuan Dib! Perbaiki sebutanmu. Itu suatu hasrat yang bijaksana untuk menyebarkan ide membaca buku. Buku dan kebijaksanaan. B-i-b-l-l-i-o-s-o-p-h-i-a. Eja baik-baik itu.

DIBDIN
Bibliosophia? Sepertinya istilah itu ada di pamflet liar yang saya baca beberapa hari lalu. Anda toh yang menulisnya?

BARESFORD
Ah, tidak.

DIBDIN
Ketangkap tangan nih. Oh rupanya Anda penulisnya.

BARESFORD
Kalau iya memang kenapa.

DIBDIN
Nggak kenapa-kenapa. Kasihan aja.

BARESFORD
Justru aku kasihan kepada Anda. Meremehkan tak senonoh pada orang yang cinta buku.

DIBDIN
Cinta buku? Bukannya pecandu. Sakit, Bung.

BARESFORD
Cinta. Bibliosophia.

DIBDIN
Penyakit. Bibliomania.

BARESFORD
Cinta.

DIBDIN
Penyakit.

Sudah, kita stop di sini saja transkrip ini. Karena tak ada perkembangan yang menarik dari perbincangan dua orang itu. Sebetulnya dua-duanya adalah sama gilanya. Nggak ngaku dan jaim aja keduanya. Dasar orang-orang gila buku. Jadi, sekarang mau pilih mana: bibliomania atau bibliosophia?(*)

0 comments: