Wednesday, January 28, 2009

Perpustakaan Dalam Gelap Yang Terang

:: Diana AV Sasa
Ini tentang sebuah perpustakaan pribadi milik seorang laki-laki bernama Alberto Manguel. Perpustakaan ini terletak di sebuah sudut rumah kuno peninggalan abad XV. Dulunya rumah itu adalah sebuah lumbung penyimpanan anggur bagi penduduk di sekitar desa. Di dekatnya dibangun kuil untuk menyembah Dewa Anggur. Ketika panen tiba, petani-petani itu memberi

Pledoi Sejarah Kebudayan Indonesia

"Sejarah senyap adalah sebuah metode dan usaha menggali kuburan ingatan kolektif dari persemayaman yang dipaksakan; sebuah ikhtiar mencabuti kembali patok-patok nisan tanpa nama dan mendengarkan tutur dari alam kubur kebudayaan Indonesia tentang apa yang sesungguhnya terjadi"

Emboss palu-arit tercetak samar di kertas putih bersih itu menghadirkan kembali rasa getir trauma masa lalu. Judul dengan warna merah menyala di samping logo penerbit bak darah mengalir, mengingatkan pada betapa banyak darah tertumpah yang menjadi tumbal gambar itu.

Ketika Catatan Sejarah Dibingkai Romantisme

Melihat kepiawaiannya mengaduk-aduk emosi pembaca melalui alur cerita yang runtut dan mengugah dalam Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca) –yang ditulis dengan gaya tutur roman-, menilik ketekunan dan kegigihannya dalam menyunting dan menyusun pelbagai sumber sejarah hingga menjadi karya Sang Pemula dan Panggil Aku Kartini Saja-yang merupakan karya non fiksi-, maka buku Jalan Raya Pos, Jalan Daendels nampaknya merupakan sebuah karya yang disusun untuk menggabungkan gaya keduanya tapi justru kehilangan arah penulisan yang jelas.

Sunday, January 25, 2009

Perpustakaan Sebagai Gerbang Kesempatan

:: Diana AV Sasa

Sekira abad ke-17, di belahan barat China ditemukan sebuah gua yang berisi 50ribu manuskrip dan lukisan berharga dari abad pertengahan. Manuskrip dan lukisan itu bertumpuk di dinding gua yang penuh dengan pahatan yang sangat indah. Mural itu menggambarkan ajaran hidup Budha. Disekitarnya berserakan patung-patung dewa dari tanah liat. Gua itu kemudian menjadi suaka dan sekaligus perpustakaan Budha pertama dan terbesar dimasanya. Berbagai julukanpun diberikan : Magouku, Gua dengan Ketinggian Luar Biasa, Qianfodong, dan Situs Ratusan Budha.

Sunday, January 4, 2009

Buku, Seni, dan Kemewahan

 
:: Diana AV Sasa

Buku bukan hanya barang cetakan asal jadi. Atau melulu teks yang dibaca. Buku juga adalah seni. Seluruh proses penciptaan buku hingga hadir di pangkuan para pembaca yang budiman, pastilah dikerjakan dengan kecintaan yang melimpah-limpah. Termasuk soal pameran buku. Pameran yang dibuat asal-asalan, sebagaimana yang kerap kita lihat dalam ajang pameran buku di Indonesia, pastilah pameran yang tak diselenggarakan dengan dorongan naluri seni, melainkan melulu menjadikan buku sebagai barang niaga sebagaimana kepercayaan para saudagar.