Wednesday, January 28, 2009

Perpustakaan Dalam Gelap Yang Terang

:: Diana AV Sasa
Ini tentang sebuah perpustakaan pribadi milik seorang laki-laki bernama Alberto Manguel. Perpustakaan ini terletak di sebuah sudut rumah kuno peninggalan abad XV. Dulunya rumah itu adalah sebuah lumbung penyimpanan anggur bagi penduduk di sekitar desa. Di dekatnya dibangun kuil untuk menyembah Dewa Anggur. Ketika panen tiba, petani-petani itu memberi
sesajen pada Dewa Anggur berupa minuman anggur. Sesajen itu diletakkan di sebuah batu di dekat kuil. Batu itulah yang sekarang menjadi rak buku tempat Alberto meletakkan buku-bukunya.

Batu itu dipilih Alberto karena ia yakin spirit yang ditinggalkan orang-orang desa pada Dewa anggur itu pastilah masih membekas disana. Buku-buku itu akan berlaku sebagai ‘sesajen’ bagi sesuatu yang juga agung. Pengetahuan. Peradaban. Maka disanalah ia membangun ‘kuil’ kecilnya, perpustakaan. 

Pepustakaan itu tidak megah. Sangat sederhana. Luas dan tanpa sekat. Menggambarkan pribadi yang terbuka dan wawasan yang tak terbatas pemiliknya. Di salah satu dindingnya terdapat jendela yang cukup lebar. Dari jendela itu Alberto bisa melihat ayam-ayam di pekarangan tetangganya sedang berebut makanan. Dari sana juga ia bisa mengumpulkan banyak potongan peristiwa diluar rumah. Permasalahan-permasalahan yang pelik dan itu-itu saja. Alberto menggabungkan setiap peristiwa, merekamnya dalam pikiran, dan merenungkannya. Mencari inspirasi yang terselip.

Saat merenung itu Alberto sesekali akan mengedarkan pandangan pada buku-bukunya. Buku-buku itu tertata rapi dalam rak dinding dari kayu yang kuat dan elegan. Sebuah rak rendah berisi buku-buku kecil tersandar dibawah jendela. Disamping kanan jendela rak buku dari batu peninggalan dewa Anggur bertengger dengan gagah, memberi tempat yang hangat dan sakral untuk buku-bukunya. Di dekat rak batu itu ada kursi empuk dan besar untuk membaca. Di depannya, sebuah meja besar dan kursi tinggi dengan sandaran tegak teronggok anggun. Di meja kursi ini lah biasanya Alberto menulis. 

Perpustakaan pribadi itu koleksinya tak begitu banyak. Tapi Alberto menatanya dengan sangat teratur laiknya perpustakaan yang baik. Alberto menatanya seperti seorang konduktor yang memimpin orkestra. Buku-buku itu dibagi menjadi beberapa kategori. Penyusunannya diurutkan abjad. Katalognya pun dibuat dengan rinci dan lengkap. Buku apa ada dimana, dia tahu betul bagaimana menatanya hingga ia tak akan kesulitan saat mencari. Buku-buku itupun berderet rapi dengan susunan yang alphabetis. Setiap kali Alberto mengedarkan pandangan ke deretan buku-buku itu, mereka seakan menyanyikan irama alphabet yang ritmis.

Di siang hari, deretan buku-buku yang teratur itu begitu kentara dan mudah dilihat. Tidak ada buku yang terselip diantara buku lain. Semuanya ditata sedemikian rupa hingga begitu mudah ditemukan. Bagi Alberto, barisan buku-buku itu seperti memainkan irama yang menyihir. Memanggil Alberto untuk mencari dan mengambil beberapa buku untuk dibaca. Alberto pun dengan patuh mendekati rak, matanya menelusur, dan bertemu deretan huruf-huruf judul buku, lalu tangannya akan meraih satu buku dan membawanya ke pangkuan. Alberto membacanya di kursi empuk yang sengaja ia pilih agar nyaman saat membaca.

Di malam hari saat jendelanya masih terbuka, dan ayam-ayam tetangga tak lagi berkeliaran, Alberto masih tetap di perpustakaannya. Dimatikanya seluruh lampu dan hanya menyisakan sebuah lampu baca di mejanya. Dalam perpustakaannya yang gelap itu ia mulai menulis . Inspirasi yang didapatnya sejak siang, dari pengalaman memandang keluar jendela hingga membaca buku, ia tumpahkan semua dalam tulisan. Saat itulah ia terseret pada situasi yang intim dan personal. Disaat semua suara diluar rumahnya menghilang, disaat semua dunia diluar rumahnya turut lenyap bersama malam, ia justru suntuk dengan rangkaian kata demi kata. Seperti hantu yang menyala dalam kegelapan. Ketika semua orang lelap dalam mimpinya, Alberto justru sedang terjaga penuh. Hanyut dalam pergulatan pikiran dan imajinasi, menulis.

Alberto menuliskan apa yang telah sedari siang diamati dan dibacanya. Menulis pada malam hari memberi kesempatan baginya untuk memasuki ruangan penuh imajinasi. Disaat semua riuh dunia disekitarnya menjadi bisu, perpustakaannya tetap menyala. Begitu benderang diantara gelap diluar rumah. Deretan buku dibelakangnya seakan sedang bersenandung lirih mengiringi jarinya yang menorehkan huruf demi huruf. Mengalirkan ispirasi yang berirama luwes. Mendorongnya untuk terus menulis dan menulis.

Usai tulisannya jadi, Alberto akan mengemasi semua kertas dan bukunya. Menyimpannya lagi dalam rak dengan rapi. Dan beranjak tidur. Ia tak pernah mau membaca dimalam hari dan menulis dipagi harinya. Segala yang argumen dan cerita yang dibaca biasanya akan terbawa dalam tidurnya. Ia tak menyukai itu. Baginya menulis di perpustakaannya lebih hikmat saat malam hari. 

Pepustakaan itu tetap hidup tatakala dunia luar sedang mati. Tetap terang ketika sekitarnya gelap. Itu adalah kebanggaan yang mendatangkan semangat baginya. Rasa percaya diri yang menakhlukkan. Percaya betul ia bahwa terang benderang itu menunjukkan pencerahan pikiran yang terus bergerak. Pikiran yang makin tajam dan menukik dalam sunyap. Sungguh ia tengah hanyut oleh mitos perpustakaan yang dibangunnya sendiri (*)

0 comments: