Sunday, January 25, 2009

Perpustakaan Sebagai Gerbang Kesempatan

:: Diana AV Sasa

Sekira abad ke-17, di belahan barat China ditemukan sebuah gua yang berisi 50ribu manuskrip dan lukisan berharga dari abad pertengahan. Manuskrip dan lukisan itu bertumpuk di dinding gua yang penuh dengan pahatan yang sangat indah. Mural itu menggambarkan ajaran hidup Budha. Disekitarnya berserakan patung-patung dewa dari tanah liat. Gua itu kemudian menjadi suaka dan sekaligus perpustakaan Budha pertama dan terbesar dimasanya. Berbagai julukanpun diberikan : Magouku, Gua dengan Ketinggian Luar Biasa, Qianfodong, dan Situs Ratusan Budha.
Penemuan gua Magouku ini membuka pintu sejarah perkembangan Budha di China. Lukisan di dinding gua dan manuskrip-manuskripnya menguak banyak cerita seputar dewa-dewa, raja yang ambisius, rahib kenamaan, dan pahlawan yang paling dicari. Para rahib yang melukiskannya/memahat dnding gua itu telah menguak rahasia metamorfosis krakter masyarakat terhadap agama pada setiap generasi. Manuskrip dan lukisan yang dibuat oleh beberapa generasi itu memberi gambaran perkembangan peradaban dari masa ke masa. Dengan ditemukannya gua pengetahuan itu maka buku(baca:Perpustakaaan) mendapat kesempatan untuk unjuk kemampuan dan bersaksi.

Pada dasarnya setiap buku selalu menanti kesempatan untuk ditemukan, baik sendiri ataupun bersama-sama dengan buku lain. Buku-buku di jajaran rak toko buku sejatinya menanti dengan harap agar ia terpilih dan kemudian berpindah ke rak pribadi di rumah. Dengan meninggalkan rak toko buku dan berpindah ke rak pribadi maka buku tinggal menanti kesempatan untuk diambil dan dibaca. Maka jika direnungi, seluruh buku di perpustakaan sesungguhnya menanti kesempatan untuk ditemukan. Proses penemuan itu membukakan gerbang bagi buku untuk mempertontonkan isinya hingga membuat pembacanya terpikat.

Buku-buku yang tersebar di toko buku atau pasar loak biasanya tertata berdasarkan kategori sang pemiliknya. Pembagiannya disesuaikan dengan ranah keilmuan masing-masing buku. Buku ekonomi, buku sejarah,buku politik, buku sastra, dan lain-lain. Ketika buku-buku itu berpindah tangan dari penjual ke pembeli, itulah gerbang pertama buku untuk mendapat kesempatan berubah sekutu.

Meskipun buku-buku di perpustakaan umumnya diklasifikasikan dan diberi nomor berdasarkan urutan kelompok ilmu, kemudian urutaan abjad judul atau nama pengarangnya kemudian kategori peminjaman seperti teori Dewey, namun ada perpustakaan pribadi yang dikelompokkan berdasarkan selera pemiliknya. Misal berdasarkan buku biografi, buku tentang perang, buku tentang binatang, buku tentang wanita, dan sebagainya. Ada pula yang dikelompokkan berdasarkan pengarangnya atau tahun terbitnya.

Perubahan kategori kelompok memberi kesempatan lebih pada buku untuk dibaca oleh karakter pembaca yang lebih beragam. Buku Anne Frank tentang kesaksian perang di Jerman yang semula berada pada kategori sejarah mungkin tak menarik minat pembaca sastra. Namun ketika ia berpindah ke kategori buku biografi maka pembaca sastra mendapat kesempatan untuk menemukannya dan membacanya. Dengan demikian perpindahan buku dari satu rak ke rak lain merupakan migrasi penting bagi sebuah buku meraih kesempatan dibaca.

Kesempatan buku untuk menemukan pembacanya acapkali datang secara seporadis. Buku-buku yang datang bermigrasi secara serentak dan dalam jumlah besar biasanya disebabkan beberapa kondisi khusus. Bisa karena hasrat dan kecintaan kolektor yang memborong buku incarannya untuk melengkapi koleksi. Untuk ini buku sering kali harus mengarungi samudra dan melintas batas wilayah benua sebelum kemudian mendapat kesempatan untuk menemukan pembacanya. Bisa juga karena kondisi-kondisi darurat seperti perang atau penyitaan. Mereka kelak menjadi rahasia yang bersaksi akan sebuah pertahanan hidup dan pembelaan diri. Buku-buku dalam kondisi ini biasanya bercampur baur dalam kardus atau gerobak menunggu kesempatan untuk dikatalogkan. Ketika ditemukan mereka akan menjadi saksi sejarah yang merekam fakta dan sumber otentik yang akan menjawab pertanyaan generasi penemunya dan masa depan.

Kita tengok perpustakaan-perpustakaan di Gurun Adrar, Central Mauritania, tepatnya dikota oasis Chinguetti dan Quadane. Disana lusinan perpustakaan tua menyimpan buku-buku yang terkumpul karena aktivitas perjalanan. Buku-buku itu bercampur dengan rempah-rempah, bahan makanan pokok yang dibawa peziarah. Buku-buku itu tersimpan disana selama bertahun-tahun karena lasan dagang atau keamanan. Buku-buku yang disimpan tergolong karya yang luar biasa. Diantaranya adalah buku-buku (kitab-kitab) dari sekolah Al Qur’an di Granada, Baghdad, Kairo, Kordoba, sampai Bizantium. Ribuan judul mengenai Astronomi, Sosiologi, Hadist, Grammar, Pengobatan, dan Puisi. Buku-buku itu disimpan dirumah-rumah yang tersebar sepanjang rute perjalanan.

Buku-buku yang tersimpan dalam perpustakaan-perpustakaan rahasia seperti di gua Magouku atau di rumah-rumah sepanjang Gurun Adrar adalah harta karun tak ternilai bagi pengetahuan dan peradaban. Buku-buku itu awalnya terkubur dan disembunyikan selama bertahun-tahun. Menunggu kesempatan untuk ditemukan.

Bagi buku-buku di perpustakaan terpendam dan rahasia, momen ‘penemuan’ adalah sebuah momen pencerahan. Dengan ditemukannya kubur rahasia itu maka mereka dapat melanjutkan tugasnya menyebarkan pengetahuan. Sebuah buku yang tak menemukan pembacanya ibarat buku yang terkubur hidup-hidup. Karena tugas sebuah buku sebagai sumber literasi adalah menyuarakan suara senyap kesaksian sejarah manusia dan dunia. Dengannya tabir pengetahuan masa silam dapat terkuak. Maka kesempatan buku-buku untuk menemukan pembacanya mesti dibuka selebar-lebarnya. Variasi katalog dan usaha penyelamatan buku-buku dari pembinasaan adalah salah satu upaya pembuka kesempatan itu. Kesempatan buku untuk membuka gerbang pengetahuan bagi pembacanya.(*)

0 comments: