Wednesday, April 29, 2009

Agar Menulis Bisa Gampang

Oleh Diana AV Sasa

“Buku ini bisa dibaca dalam 10 Menit,” demikian Andrias Harefa membuka tulisan dalam bukunya berjudul Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang. Kalimat ini provokatif sekali mengingat tebal bukunya sampai 100 halaman dan itu muskil menyelesaikannya dalam 10 menit. Namun, Andrias menyarankan agar membaca saja halaman sebelah kiri di setiap awal 17 subjudul yang merupakan saripati dari bab terkait. Jika tak mengerti, barulah membaca uraian di halaman sebelahnya yang juga tak terlalu panjang.

Saya mencoba tantangan itu. Dan benar saja, dengan membaca sekilas saja—tak sampai 10 menit—saya mendapat gambaran bagaimana menulis bisa menjadi mudah. Kutipan-kutipan yang diambil sangat mendasar, motivatif, dan menjawab pertanyaan klasik kebanyakan penulis pemula. Sajiannya yang nge-pop disertai ilustrasi kartun yang lucu membuat kalimatnya mudah dicerna dan dipahami.

Andrias menulis buku ini sebagai jawaban kegelisahan yang dialaminya ketika membaca beberapa buku mengenai mengarang yang justru banyak menguraikan hal-hal teknis seputar tata penulisan yang membuat dahi berkerut. Salah satunya buku Arswendo Atmowiloto, Mengarang Itu Gampang.

Seperti halnya saya, ternyata Andrias menemukan kesan yang sama setelah membaca buku sang maestro itu, bahwa mengarang itu alih-alih gampang, malah makin sulit.

Menurut Andrias, ada kondisi prasyarat yang harus dipenuhi agar menulis menjadi gampang. Artinya, harus ada kesediaan berproses melalui pembelajaran yang harus dilewati bila ingin mencapai tahap ”gampang” itu.

Karena itu, Andrias memilih dua kata AGAR-BISA sebagai representasi tujuan dari bukunya. Ia hanya ingin menunjukkan jalan bagaimana agar menulis itu menjadi gampang, bukan memaparkan jalan berliku yang mesti dilakukan dalam teknis menulis. Ia berfokus pada motivasi yang membangkitkan minat dan ambisi penuh cinta untuk belajar menulis sampai hal itu menjadi benar-nemar gampang.

Untuk itu, di awal Andrias memberi lembar khusus peringatan dibukunya.

“Anda tak bisa belajar menulis/mengarang dengan membaca buku ini. Sebab buku ini adalah buku tentang menulis/mengarang. Artinya, dengan membaca buku ini Anda baru belajar tentang dan sama sekali belum belajar menulis dan mengarang. Menulis/mengarang adalah praktik, sehingga hanya dengan melakukannya Anda menjadi bisa,” demikian tulisnya.

Dari halaman peringatan ini saja saya sudah bisa menangkap arah dan tujuan ke mana Andrias akan menggiring isi bukunya. Dasar yang diletakkannya demikian jelas. Kunci dari ”bisa” menulis adalah latihan dan latihan. Teori sebanyak dan sebaik apa pun yang diserap hanya akan mandeg jika tak pernah mulai berlatih menulis.

Sebelum mulai berlatih, ada pondasi dasar yang harus dikukuhkan terlebih dahulu. Ini adalah kondisi prasyarat yang utama. Keyakinan bahwa ”aku bisa menulis” harus dibangun kuat. Siapa saja yang pernah sekolah di Sekolah Dasar pasti pernah membuat karangan. Artinya, mengarang adalah keterampilan sekolah dasar yang mampu dilakukan.

Keyakinan itu mesti didorong dengan rasa cinta yang kuat pula terhadap aktivitas menulis. Dengan kecintaan, menulis menjadi segampang menulis puisi cinta romantik saat jatuh cinta. Ini adalah kekuatan luar biasa yang berada di bawah sadar. Cinta membuat seseorang menjadi sensitif, peka terhadap apa yang terjadi di sekitarnya.

Dengan demikian hati lebih mudah digerakkan. Ketika gerakan hati ini dipadukan dengan wawasan, lahirlah ide. Ditambah keterampilan sekolah dasar, lahirlah tulisan, apa pun bentuknya. Sederhana sekali menganalogikan cinta dan menulis ini.

Cinta saja tak cukup. Perlu komitmen, kesungguhan hati, tekad bulat, keyakinan, dan percaya diri untuk bisa mengarang agar cinta itu tak kehilangan arah. Minat dan ambisi yang kuat untuk membuktikan sesuatu yang kita yakini sebagai ‘kebenaran’ akan membantu menjadikan mengarang itu mudah.

Andrias benar, apa yang tertanam dalam hati sebagai sebuah keyakinan memang akan melahirkan dorongan ambisi dan kehendak besar untuk membuktikan kebenaran keyakinan itu. Berjalan dengan keyakinan akan melahirkan hasil akhir yang penuh kekuatan, berisi, dan memuaskan batin.

Agar kemampuan menulis berkembang menjadi kebiasaan, menurut Andrias, maka latihan adalah bangunan berikutnya yang mesti ditegakkan. Tulis apa saja yang bisa ditulis. Ide bisa berasal dari apa saja di mana saja. Hanya diperlukan situasi hati yang kondusif dan kebiasaan mengamati dunia sekitar agar ide itu muncul sebagai sebuah kebiasaan.

Yang perlu dilakukan kemudian adalah menumbuhkan sikap rasional dengan melatih pertanyaan atas ide tersebut. Apa, siapa, di mana, kapan, mengapa, dan bagaimana diolah terus hingga ide itu berkembag. Membiasakan diri dengan mengolah pertanyaan akan melatih membangun argumentasi rasional.

Resep Andrias yang berasal dari perenungan pengalaman pribadi dan wawasannya ini memberi petunjuk jelas bagaimana caranya sebuah ide bisa dikembangkan dengan mudah. Kuncinya satu, menjawab 6 pertanyaan pokok itu.

Lantas bagaimana setelah ide itu ada? Andrias menawarkan resep dari pengalaman pribadinya dan juga beberapa penulis lain yang cukup dikenal. Riset adalah tahap meramu ide itu menjadi tulisan yang beraneka rasa dengan bahan yang beragam pula. Riset ini adalah kata lain dari mengumpulkan bahan tambahan. Sumbernya bisa dari buku, majalah, koran, tivi, atau internet.

Kian banyak buku yang dibaca, kian banyak bahan tambahan yang dipunya, maka materi karangan pun akan makin bervariasi. Ibarat orang memasak, punya bahan 3 sayuran dengan 10 sayuran tentu beda. Bahan 10 sayuran sudah pasti akan menghasilkan masakan yang lebih variatif.

Menulis pun begitu. Bahan-bahan tambahan itu yang akan memperkaya padu padan ide dengan wawasan. Tugas penulis adalah meramunya hingga menjadi enak dan lezat disantap. Menambah dan mengurangi di sana sini sampai ketemu rasa yang pas.

Bagaimana mulai meramunya jika kita tak punya pengalaman mengolah sebelumnya? Andrias menularkan ajaran guru menulisnya, Mardjuki, seorang wartawan Yogyakarta yang mengajarkan 3 N: Niteni (mengamati), Nirokke (meniru), dan Nambahi (menambahi). Amati saja beberapa tulisan orang lain, pahami karakternya, tiru gayanya atau pola berpikirnya, buat dengan gaya sendiri dengan menambahi di sana sini.

Menurut saya, inilah seni menulis itu, seperti penjahit yang menelisik dan menyatukan bahan demi bahan. Beda orang beda hasil jahitan. Di sini kompetisi itu terletak. Keterampilan dan latihan terus-menerus akan menghasilkan karya yang berbeda tergantung kualitas latihannya. Seorang atlet yang latihan sekali dengan sepuluh kali tentu hasilnya akan berbeda, bukan?
Dari mana mulai berlatih menjahitnya? Kebanyakan ahli menyarankan menulis dengan sistem yang linear otak kiri. Dari ide, lalu topik, judul, dan gagasan pendukungnya, baru kemudian penutup.

Andrias mencoba menawarkan gagasan berbeda dengan pola otak kanan. Memulai bisa dari mana saja, tengah, atau akhir tak masalah. Dari mana saja ide itu awalnya bermula. Yang penting ditulis saja dulu. Nanti dengan sendirinya akan berkembang pikiran itu untuk melengkapinya. Andrias tentu saja tetap menyarankan beberapa hal berkaitan dengan pemilihan judul dan topik yang pas dengan ramuan yang dibuat.

Jika sudah jadi, maka tinggal mengkritik naskah mentah yang sudah ada. Boleh dikritik sendiri atau orang lain agar lebih komprehensif. Lalu coba kirim ke media untuk dipublikasikan sehingga mutu tulisan teruji. Jika ditolak jangan berputus asa, coba lagi dan lagi. Penolakan mesti dimaknai sebagai pemicu kesadaran bahwa tulisan kita tak sempurna atau belum pas dengan karakter media. Maka akan lahir kesadaran untuk terus belajar dan belajar, berlatih dan berlatih. Maka kesediaan untuk memahami mutu dan pasar suatu media menjadi penting.

Andrias menulis buku ini berangkat dari ketidakpuasan buku yang pernah dibacanya, maka ia mampu melahirkan obat ketidakpuasan itu. Terbukti, buku ini jauh lebih mudah dipahami daripada buku Arswendo. Andrias menulis dengan sistematika yang meskipun melompat-lompat dan berulang, namun cukup singkat, praktis, dan sederhana untuk dipahami. Dibaca ditoilet atau di kendaraan pun buku ini masih bisa dimengerti tanpa meninggalkan beban berarti di hati dan pikiran.

Judul: Agar Menulis-Mengarang Bisa Gampang
Penulis : Andrias Harefa
Penerbit : PT Gramedia Pustaka Utama (2002)

1 comments:

Jeniri Amir said...

“Menulis karya yang layak diterbit, mencari orang yang dapat dipercayai untuk menerbitkannya, dan mendapatkan orang yang waras untuk membacanya merupakan tiga kesukaran utama sebagai penulis.”

- CHARLES CALEB COLTON