Monday, April 20, 2009

Perpustakaan Sebagai Identitas Bangsa

Bagaimana sebuah perpustakaan diisi dan diurus, akan sangat menggambarkan pribadi pemiliknya. Jenis-jenis buku apa yang dikoleksi, berapa jumlahnya, bagaimana penataannya di dalam rak, akan sangat mencerminkan selera pemiliknya. Jika ia kepunyaan pribadi maka ia melukiskan kepribadian pemiliknya. Jika ia perpustakaan Negara maka ia menggambarkan kepribadian negaranya.


Kepribadian suatu bangsa dapat tercermin dari Perpustakaan Nasionalnya. Sejarah berdirinya sebuah bangsa akan menjadi dongeng heroik yang diceritakan turun temurun dari generasi ke generasi. Dongeng itu akan selalu mengalami perubahan dan berbumbu jika hanya semata tutur lisan ke lisan. Untuk itu diperlukan bukti-bukti otentik yang akan menjadi saksi setiap kisah yang dituturkan. Disinilah tugas penting perpustakaan nasional itu. Ia menjadi pilar utama yang menghimpun keping-keping kesaksian kebangunan bangsanya.

Perpustakaan Nasional bisa melukiskan keragaman masyarakat, kondisi sosial kultur, bahkan geografis wilayah suatu bangsa. Dari ragam koleksi yang dimiliki perpustakaan nasional, dapat dilihat identitas masyarakatnya, identitas secara nasional secara kolektif. Kebesaran dan kehancuran, kebangunan dan kejatuhan, dapat terekam dengan baik dalam sumber-sumber literasi jika perpustakaan bisa selalu terjaga dari pemusnahan.

Sayangnya, acapkali perpustakaan tak pernah luput dari penghancuran sebuah bangsa. Perpustakaan Alexandria misalnya, ia ikut jatuh bangun seiring penguasa yang memperebutkan wilayahnya. Dalam setiap penghancuran selalu ada koleksi yang musnah. Dengannya maka saksi sejarahpun terhapuskan dari kroniknya. Sejarahpun ditentukan penguasa. Maka sejarah baru ditorehkan dengan membangun pusat literasi baru. Yang lalu terlupakan dan yang baru ditanamkan. Demikian berulang selama beberapa kali penghancuran. Pun demikian, selalu ada satu generasi yang memiliki kesadaran bahwa keberadaan perpustakaan nasional itu penting sebagai wujud identitas bangsanya.

Sebagai identitas nasional sebuah bangsa, perpustakaan menjadi monument sekaligus pusat budaya yang diperjuangkan banyak Negara untuk bisa terbangun dengan megah. Padanya dunia akan melihat negaranya. Perpustakaan yang agung menunjukkan Negara yang agung. Itali, sebagai contoh, sampai memiliki 8 Perpustakaan nasional. Masing-masing memiliki koleksi menkajubkan dari masa-ke masa. Darinya dunia belajar tentang sejarah dan kebesaran Italia.

Di Inggris ada British National Library yang dibidani Antonio Panizzi, seorang Italia yang arif. Manurut Panizzi, adalah kewajiban Negara untuk membangun perpustakaan bagi setiap warganya. Warga yang miskin layak mendapat akses dan kesempatan yang sama dengan warga yang kaya untuk memenuhi hasrat ingin tahunya akan pengetahuan. Untuk itu ia mendedikasikan British National Library sebagai salah satu perpustakaan terbaik di dunia dan sebagai identitas budaya dan politik Inggris.

Guna mewujudkan keinginanya itu, Panizzi melakukan beberapa langkah khusus berkaitan dengan koleksi buku di perpustakaan yang dipimpinnya. Karya-karya yang diutamakan adalah yang berkaitan dengan imperium Inggris baik mengenai agama, politik, sastra, sejarah, saint, hukum, kenegaraan, perdagangan, seni, budaya, dan sebagainya. Semakin langka dan semakin mahal, maka semakin wajib bagi perpustakaan untuk memiliki dan menyimpannya di daftar koleksi. Koleksi-koleksi yang sangat tua dan langka itu juga diterjemahkan ke kadalam bahasa modern agar lebih memudahkan generasi mendatang yang cenderung menyukai segala sesuatu yang praktis. Dan yang paling penting adalah bahwa seluruh koleksi itu hendaklah koleksi anak negeri. Karya-karya dari luar negeri hanyalah sebagai pembanding dan referensi.

Di dalam British National Library inilah segala aspek dari kehidupan dan pemikiran Inggris terwakili. Ia menjadi potret jiwa secara nasional, menampilkan Negara secara utuh. Okupansi pembacanya mungkin memang tak akan terlalu besar, namun ia menjadi identitas sebuah Negara/ bangsa, tempat dimana setiap rujukan mengenai Inggris berada.

Sulistyo Basuki menuliskan sedikit mengenai sejarah Perpustakaan Nasional Republik Indonesia. Apabila dilihat dari koleksinya dapat merujuk pada Perpustakaan Bataviasch Genootschap van Kunsten en Wetenschap yang didirikan pada tahun 1778. Lembaga ini kemudian diberi tambahan Koninklijk sebagai penghargaan atas karyawan serta merupakan lembaga ilmu pengetahuan tertua di Asia. Koleksi KBGKW ini tetap utuh selama pendudukan Jepang. Gedung sebelah Museum Nasional (kini Departemen Pertahanan, dahulu Rechtshogeschool) dijadikan markas besar Kempetai (polisi rahasia Jepang) yang terkenal kekejamannya. Alhasil koleksi BKGKW tetap utuh, berbeda misalnya dengan koleksi perpustakaan khusus lainnya, ada yang dirusak misalnyanya berbagai perpustakaan dan perkebunan yang berada di luar kota besar yang banyak mengalami kerusakan semasa pendudukan Jepang dan sesudahnya, padahal sebelumnya banyak yang masih dalam kondisi baik.

Setelah Indonesia merdeka, BGKW berubah menjadi Lembaga Kebudajaan Nasional Indoensia, dengan demikian koleksinya menjadi koleksi perpustakaan Lembaga Kebudayaan Nasional. Dalam perkembangan selanjutnya lalu menjadi museum. Dengan sendirinya Perpustakaan Lembaga Kebudayaan Indonesia menjadi Perpustakaan Museum selanjutnya menjadi Perpustakaan Museum Nasional, kemudian berkembang sebagai koleksi Perpustakaan Nasional di bawah Departemen Pendidikan dan Kebudayaan (1980) selanjutnya menjadi Perpustakaan Nasional sebagai lembaga negara non departemen (1988). Kedudukan ini tetap sampai sekarang.

Perpustakaan nasional di Negara manapun selalu didedikasikan sebagai oase penghimpun sejarah Negara itu. Tak terkecuali perpustakaan Negara kita, Indonesia. Sebagai Negara jajahan memang masyarakat kita belum memiliki kesadaran literasi sampai sejauh memiliki perpustakaan nasional pada saat itu. Beruntunglah kita karena Belanda termasuk Negara penjajah yang setidaknya memiliki kesadaran itu. Memang bukan untuk Indonesia mereka tujukan pendirian lembaga literasi itu, melainkan untuk kebesaran negaranya sendiri. Mereka sadar betul bahwa kebesaran negaranya harus tetap terdokumentasikan dengan baik. Namun harus diakui dari sanalah perpustakaan nasional kita bermula.

Sayangnya pemerintah kita tak terlalu bersemangat mengumpulkan puing-puing sejarah negeri ini seperti Panizzi mengejar segala koleksi tentang Inggris. Juga tak ada gerakan nasional untuk mengajak masyarakat ikut terlibat aktif mengumpulkan data-data yang dimiliknya. Tak menutup kemungkinan banyak sumber-sumber sejarah yang terselip di beberapa perpustakaan para cendikia dan kutu buku di masa silam. 

Cara seperti ini pernah ditempuh pemerintah Lebanon. Berawal dari seorang sejarawan dari Lebanon, Viscount Philipe de Tarazi yang menyumbangkan koleksinya pada negara. Pemerintah Lebanon kemudian mengajak penulis-penulis lain dan seluruh rakyat Lebanon untuk mengumpulkan buku guna melengkapi perpustakaan Nasional. Proyek itu menjadi tugas nasional yang dikerjakan bersama. Mereka berusaha mengumpulkan lagi keeping-keping identitas keragaman bangsanya. Menyatukan lagi integritas nasional yang tercerai berai.

Memang bukan usaha yang mudah. Butuh upaya dan waktu yang tak sedikit. Kendala biaya dan minimnya kesadaran akan pentingnya perpustakaan Nasional sebagai identitas bangsa menjadi kendala tersendiri. Bahkan sampai sekarang masih banyak sumber-sumber sejarah bangsa kita yang justru berada di perpustakaan atau museum Belanda. Banyak faktor memang yang menjadi alasan kepindahannya. 

Kekalahan Belanda atas Jepang salah satunya. Namun memang ilmuwan Belanda lebih tertarik akan sejarah Indonesia dibanding warga Negara Indonesia sendiri. Buktinya banyak buku-buku tentang Indonesia yang justru lahir dari penelitian ilmuwan Belanda. Ini kemudian menjadi tugas bersama untuk mempertanyakannya. Masihkah kita peduli akan identitas bangsa ini? Sudah kah Perpustakaan Nasional kita merepresentasikannya? (Diana AV Sasa)

0 comments: