Monday, May 18, 2009

Muhidin M Dahlan: Anak Laut Itu Menggiring Buku

Dia datang dengan terror. Sudah tiga hari. Menyusup begitu saja. Menerobos sarang persembunyianku seenaknya. Menelisip dibawah rumah tua pinggir jembatan kereta. Meraung-raung di belakang punggungku. Memukul dinding-dinding purba di selataran Menteng yang megah.

“PR-mu tinggal satu, Nduk. Menulis tentangku. Aku dan buku”.


Aku diam saja. Terpekur pada kali yang mampet dan bau di depanku. “Kau lihat ini”,

Sasa: Gadis Penyanyah Buku dari Celah Batu





::1
Dari atas puncak Gunung Brengos, Pacitan, Satu diantara Barisan Bukit Selatan,  dia mengaok-ngaok memanggilku, lelaki dari lembah jahanam. Suaranya memutar sekali dan menembus pedalaman Lawu dan memantul tepat di garis tengah bibir Merapi. Dia tahu aku tak sedang bersidekap sambil membangun kemah di salah satu pundak gunung pendekar bercambuk api ciptaan film laga Indonesia. Lantas, suara itu membelok siku, membelahi kota yang kini sudah menjadi kota setengah gila setengah berantakan. Dan suara itu memantul dari satu mall ke mall yang lain. Suaranya itu memergokiku sedang kepanasan di salah satu sudut mall yang sudah rombeng.

Saturday, May 16, 2009

Perpustakaan, Ingatan, dan Harga Diri


“Perpustakaan adalah harga diri seorang penulis. Jika ada orang yang berani membakarnya, maka saya tidak akan bisa memaafkan dosanya. Seumur hidup. Tidak akan pernah”. 

Kalimat menggetarkan itu kerap diulang-ulang Pramoedya Ananta Toer dalam beberapa wawancara dengan amarah yang tertahan. Ketika ia mengungkapkan tentang kecintaannya pada buku; ketika ia ditanya tentang pembakaran dan pemusnahan buku, dengan lantang ia katakan itu.

Friday, May 15, 2009

Catatan Sebelum SBY Maju : "Perpustakaan di Tanah Tumpah Darah Sang Presiden"

Kempes ke4 bannyaKota seribu satu gua, begitu julukan kota ini. Tersembunyi diceruk teluk ujung barat pantai selatan . Dilingkupi Barisan Bukit Selatan yang memagari kota bak raksasa memeluk gunung. Miskin, begitu identitas yang disandangnya. Pendapatan Asli Daerah terendah di seantero Provinsi Jatim. Pacitan, bumi kelahiran sang Presiden, tanah aku dikenalkan ibu pada bumi.

Gamang Hati Eks Aktivis Soal MEGA-PRO


Saya bukan aktivis 98. Tapi saya mengerti dan merasakan sisa-sisa pergerakan masa itu. Setidaknya, senior-senior yang mengkader adalah aktivis 98. Sekarang saya masuk dalam sistem di PDI Perjuangan. Pilihan paling realistis dan pas dengan ideologi yang saya yakini.

Bu Mega dipastikan akan disandingkan dengan Prabowo. Saya-dan mungkin kawan-kawan eks aktivis lain- diberondong pertanyaan "Oiii, bagaimana aktivis2 pergerakan yg ada di PDI P menjelaskan posisi mereka mendukung penembak dan pembunuh aktivis 1998? Kalian ingat Thukul dan aktivis2 hilang

Thursday, May 14, 2009

Peluncuran Buku "Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku" @ 20 Mei 2009 jam 18.30-selesai Newsmuseum Jl. Veteran

Goodreads Indonesia (GRI) bekerjasama dengan ANITA dan IBOEKOE 'n dbuku, mengundang warga buku yg berada dan/atau sedang berada di Jakarta untuk hadir dalam acara Peluncuran Buku "Para Penggila Buku: Seratus Catatan di Balik Buku"

Bersama:
Taufik Rahzen (Budayawan)
Kurnia Effendi (Sastrawan)
Aldo Zirsov (Goodreads Indonesia)
Putra Gara (Seniman Monolog-Anita)
Komunitas Goodreads Indonesia
Komunitas Kutubukugila (Kubugil)

Tuesday, May 12, 2009

Kegelisahan Kader Banteng Muda

" Lebih baik mempersoalkan pemilu yang tidak jurdil daripada berpikir koalisi dengan Partai Demokrat. Selama lima tahun terakhir terdapat kontradiksi pokok antara PDIP dengan Demokrat. Realitas ini tampak nyata dari dinamika di DPR. Terutama sekali dalam arah kebijakan politik ekonomi".(HK)

Tuesday, May 5, 2009

Dari Mana 72 Jurus Bermula?

Naning Pranoto adalah penulis fiksi dan sekaligus nonfiksi. Bukunya sudah lebih dari 20. Jebolan University of Western, Sydney, dengan ilmu khusus menulis kreatif. Ia pakar menulis dan sering menjadi pembicara workshop atau pelatihan menulis. Pernah menjajal sebagai wartawan, editor, hingga pimpinan redaksi. Maka menulis memang sudah makanan kesehariannya. Dan tentu saja jurus-jurus menulis sangat ia kuasai. Ia pun berniat menurunkan ilmu itu.

Ditulisnya di sampul buku itu: 72 Jurus Seni Mengarang. Entah mengapa ia memilih angka 72. Barangkali angka 7 dan 2 itu bermakna khusus baginya, seperti Indonesia Buku (I:BOEKOE) demikian mengeramati angka ”100” sebagai judul bukunya, seperti telihat dari judul-judul bukunya: 100 Buku Sastra Indonesia Yang Patut Dibaca Sebelum Dikuburkan, 100 Pemberontakan Indonesia, 100 Tokoh Pers Indonesia, 100 Pledoi Indonesia, dan sebagainya. Saya tak tahu pasti dan tak menemukan rujukan tentang itu.