Friday, May 15, 2009

Catatan Sebelum SBY Maju : "Perpustakaan di Tanah Tumpah Darah Sang Presiden"

Kempes ke4 bannyaKota seribu satu gua, begitu julukan kota ini. Tersembunyi diceruk teluk ujung barat pantai selatan . Dilingkupi Barisan Bukit Selatan yang memagari kota bak raksasa memeluk gunung. Miskin, begitu identitas yang disandangnya. Pendapatan Asli Daerah terendah di seantero Provinsi Jatim. Pacitan, bumi kelahiran sang Presiden, tanah aku dikenalkan ibu pada bumi.

Kota ini dulunya hanya dikenal orang karena Pantai atau Guanya- yang dindingnya bisa mengeluarkan bunyi berirama jika di pukul. Tapi akhir-akhir ini, jika menyebut kota ini, orang akan langsung menyebut satu kalimat yang nyaris sama: “Wah, SBY donk..”. Asosiasi ini demikian identik dan lekat. Jika Pacitan maka SBY, Jika SBY maka Pacitan. Kota yang semula suram dan lesu itupun pelahan beranjak bergairah dengan naiknya sang putra daerah ke tampuk pimpinan negeri, tahun 2004 lalu.


Saya sendiri putra daerah,asli. Tapi tempat saya dilahirkan jauh sekali dari tanah kelahiran SBY. Lebih dari 50km mesti ditempuh menuruni gunung dan jalan berliku penuh jurang di kanan kiri, jika saya ingin menengok kotanya SBY. Saya tidak tahu apakah SBY pernah datang ke daerah saya semasa mudanya. Tapi beberapa waktu lalu ia baru saja menyambangi desa saya, Pakisbaru itu untuk meresmikan renovasi tahap pertama Monumen Jenderal Sudirman yang sempat terbengkalai bertahun-tahun paska Soeharto lengser.

Sekarang jika menyebut Pacitan, sedikit-sedikit nama desa saya ada yang menyebut. Monumen, dengan patung menjulang diatas bukit menjadi ikon desa kami yang berada di ketinggian 1100dpl itu. Desa yang dulu jadi jujugan pejabat orde baru macam Moerdiono, Sudharmono, Rudini,dan Harmoko, jika ingin menyepi. Pejabat sekarang hanya berkunjung karena urusan dinas saja. Tempat persembunyian Jenderal Sudirman semasa gerilya ada di ceruk bukit desa ini.

Dua bulan lalu, saya pulang kedesa. Banyak yang berubah. Desa ini sedang bergerak untuk bangun lagi. Dulu semasa orde baru desa ini paling makmur dan maju. Lalu pemerintahan berganti dan desa ini menjadi lesu pembangunan. Jalan-jalan bolong dimana-mana. Pinus-pinus habis dijarah. Kering dan tandus jadinya. Sekarang sudah sedikit membaik. Saya menyempatkan untuk turun gunung kearah kota. Kotanya sang Presiden yang putra daerah itu. Tujuan saya satu, ingin melihat perpustakaannya.

Sepengetahuan saya, Presiden kita ini gemar sekali membaca. Kabar di media menyebut koleksi bukunya belasan ribu. Di mobilnya juga selalu tersedia bacaan. Bahkan disakunya konon selalu ada buku kecil terselip. Beliau bahkan sudah menelurkan tiga: Transforming Indonesia: Selected International Speeches (2005), Indonesia On The Move(2007), dan Indonesia Unggul(2008)i. Melihat cara bicara dan kualitas pembicaraan, memang nampaknya beliau ini banyak memamah bacaan. Saya percaya bahwa luasnya pengetahuan seseorang salah satunya didapat dari kebiasaan membaca yang tekun. Maka saya ingin melihat seperti apa Presiden yang putra daerah ini mewujudkan kecintaannya pada buku di tanah kelahirannya.

Butuh waktu hampir 2jam saya menuruni gunung hingga ke kota dengan kuda besi. Saya tak mampir kemana-mana, langsung ke tujuan awal: perpustakaan. Saya hanya perlu bertanya pada 2 orang untuk menemukan perpustakaan itu. Orang pertama yang saya tanyai adalah seorang bapak setengah baya yang sedang menjaga toko kelontong. “Oh, rumah pintar ya Mbak? Lurus saja sampai alun-alun, nanti mutar ke timur lalu kekanan, mentok, lalu belok kiri” katanya. Saya manggut-manggut saja sambil dikepala berkelibat pikiran “Wah, seru nih, perpustakaannya bernama Rumah Pintar, pasti menarik”.

Saya menuju alun-alun dan mencoba bertanya lagi pada orang yang berbeda. Kali ini seorang pelajar. “Rumah pintar apa Perpusda,Mbak?” Tanya adik SMP yang di dadanya tertera nama “Wahyuni SR” itu.

Saya terhenyak,”memang beda ya?” Tanya saya kemudian. “Beda,Mbak. Kalau Perpusda ada di barat alun-alun itu. Mbak tinggal lurus aja, nanti ada di kanan jalan. Kalau Rumah Pintar, Mbak mesti mutar alun-alun lalu kearah timur, ada jalan kekiri Mbak belok aja,lalu kiri lagi. Rumah pintarnya kiri jalan”. Saya manggut-manggut lagi sambil berpikir bimbang. Mau lihat perpustakaan dulu atau Rumah Pintar dulu,karena ternyata berbeda. Saya memutuskan ke perpustakaan dulu, meluruskan niat awal dan jaraknya lebih dekat.

Saya berhenti didepan sebuah bangunan tua gaya semi kolonial yang agak suram. Bangunan itu terdiri
dari tiga bangunan induk yang tergabung jadi satu. Cat dindingnya berwarna putih dengan list hijau pucat pada kayu-kayunya. Halamannya luas penuh paving. Saya memarkir kendaraan dan mendekati pintu. Tak Nampak ada kehidupan disana. Saya melongok kekaca dan tak terlihat apa-apa selain bayangan beberapa rak buku umumnya perpustakan. Saya baru ingat jika saya datang di hari yang salah. Seperti umumnya perpustakaan, pegawainya digaji Negara, jadi prosedur kerjanya mengikuti jam PNS, sabtu libur.

Dengan sedikit kecewa saya berjalan memutar kesamping gedung. Betapa terperangah saya melihat bus tua teronggok penuh lumut dan rumput disisi barat gedung. Bus itu reyot, karatan dan bannya kempes semua. Oh, ternyata bus Perpustakaan Keliling. Saya meraba badan bis itu sambil membayangkan bagaimana dulu bis ini bergerak merambat keliling kampung menjajakan buku dan disambut gembira anak-anak kampung yang haus buku. Sepanjang ingatan, saya yakin belum pernah mendapati bis ini menyapa Pakisbaru. Saya pasti akan senang sekali jika saja dulu dimasa bis ini masih muda dan kokoh(saya pasti juga masih belia), ia rajin menyambangi saya dan kawan-kawan di gunung sana. Saya tak perlu nunggu kiriman buku impress yang datangnya tak tentu hanya untuk sekedar membaca.

Tak tega berlama-lama di dekat bis almarhum itu, saya bergegas kedepan lagi. Saya longok sekali lagi kaca jendela. Nampak rak-rak buku dan beberapa gelintir buku yang tak banyak. Ruangan perpustakaan itu juga biasa saja. Hanya ada meja kursi untuk membaca dan meja peminjaman seperti biasa. Saya tak melihat ada komputer disana. Jika tak salah tebak kotak kecil berjajar ke atas didekat meja peminjaman adalah kotak katalog versi jadul. Saya merengut dan bersegera meninggalkan bangunan tua itu.

Begulat dipikiran saya, bagaimana bisa Presiden yang putra daerah dan mengaku mencintai buku itu membiarkan perpustakaannya merana seperti ini.

“Contohlah India," kata Presiden, "Negara itu menghadapi demikian banyak persoalan sebagaimana Indonesia. Tetapi hal itu mereka anggap sebagai salah satu imagination, karena India telah menguasai IT. Mengapa India bisa menguasai IT, karena bangsa India telah mengembangkan budaya belajar dan membaca."

Sewaktu meresmikan Perpustakaan Bung Hatta pada pekan terakhir September 2006, sang Presiden juga menyerukan agar masyarakat Indonesia membudayakan gemar membaca dan mengembangkan tempat gemar membaca atau perpustakaan. Aih, saya ingin sekali berteriak “oii…ini perpustakaan tanah kelahiran paduka dan bis perpustakaan kelilingnya terlantar disini. Tutup pula dihari sabtu. Hari dimana orang lebih punya banyak waktu untuk membaca karena akhir pekan dan menjelang libur ahad”

Saya bersungut menyalakan kendaraan dan melesat pergi. Harapan saya untuk melihat perpustakaan luar biasa dari seorang Presiden yang putra daerah dan mengaku kutu buku, berakahir mengenaskan. Saya tringat rumah pintar yang disebut orang-orang tadi. Sedikit tergesa saya meluncur kearah yang ditunjuk. Namanya saja rumah pintar, pasti lebih bagus dari perpustakaan daerah itu.

Benar saja. Saya sampai di bangunan baru berlantai dua yang mentereng. Di depannya ada antenna satelit dengan latar belakang spanduk bertuliskan “Rumah Pintar,Tunas Bangsa Pelita Bangsa”. Disampingnya terpampang plakat yang menunjukkan bangunan ini ada dibawah kuasa Dinas pendidikan Kabupaten. Di sisi kiri bangunan tersedia toko alat tulis dan jasa photo copy.

Saya agak sumringah melihat bangunan yang nampak tertata apik itu. Sebelum masuk, saya sempatkan melihat batu peresmian di sisi kanan bangunan. Oh, ternyata sumbangan dari pemerintah Jepang. Diresmikan oleh Ibu Negara.

Saya masuk kedalam gedung yang Nampak sepi itu. Seperti layaknya bangunan baru, kesan gedung itu memang bersih dan terawatt. Pandangan saya langsung terpikat pada satu sudut ruangan yang Nampak semarak warna-warni. Ruangan itu dikelilingi dengan lukisan khas anak-anak berjajar disekitarnya. Nampak beberapa permainan anak-anak tertata rapi dipinggir. Lampion-lampion kertas bergambar lucu juga bergelantungan di atas sudut ruangan terbuka itu. Nampaknya itu arena bermain dan belajar anak-anak. Disamping luar ruangan, saya melihat plorotan dan mainan haling rintang berwarna cerah terpasang anggun.

Seorang laki-laki muda menghampiri saya. Sambil sedikit beramah tamah saya bertanya pada Mas (saya lupa namany) yang ternyata penjaga Rumah Pintar itu. “Perpustakaannya mana,Mas?,” Tanya saya tanpa basa-basi. Dia menunjuk ruangan yang terkunci di depan pintu masuk. Kalau sabtu ditutup katanya. Saya kecewa lagi dan berpuas diri hanya dengan melongok dari kaca gelap untuk melihat isinya. Ruangan itu kecil saja. Buku-bukunya juga tak banyak. Jauh lebih sedikit dari koleksi pribadi saya dirumah. Ah, segini saj, batin saya sambil menaiki tangga menuju lantai dua.

Di lantai dua terdapat ruangan terbuka yang cukup luas. Kata masnya yang penjaga, disana biasanya diadakan pameran lukisan dan lomba-lomba. Lantai dua itu adalah Telecenter. Layanan internet yang difasilitasi Indosat. Di banner yang terpampang di dekat pintu tertulis : Rumpintec, Dunia Semakin Dekat, Internet connection menggunakan Indosat IM2, Access Max sampai 128Kbps, Webcam, LCD15” dan ruangan ber AC. Saya melongok keruangan internet. Disana saya dapati dua bocah seumuran Taman kanak-kanak sedang asyik didepan komputer ditemani seorang perempuan separuh baya. Yang perempuan saya perhatikan sedang bermain olah kata Bahasa Inggris, yang laki-laki sedang menulis surat untk ayahnya yang merantau. Luar biasa sekali sekecil itu sudah bisa menulis surat, lewat email pula. Dasyat juga Rumah Pintar ini.

Saya pun cerewet mencari tahu tentang pengunjung dan aktivitas di Rumah Pintar itu. Tapi dua orang penjaga disana yang saya tanyai itu lebih banyak menjawab dengan”tidak tahu”, “jarang”,”tidak ada”. Maka saya lebih memilih melihat-lihat saja isi tulisan-tulisan yang terpampang di dinding.

Kata tulisan itu, Visi Rumah Pintar adalah Mendekatkan informasi dunia untuk membangun sumber daya manusia yang mengikuti perkembangan tehnologi informasi. Misinya adalah (1)memberikan layanan informasi yang mampu mendorong perbaikan kehidupan di masyarakat. (2)Pemberdayaan masyarakat, (3)Membuka peluang bagi pelaku bisnis, (4)Pendidikan (education). Di kertas warna-warni itu tercatat pula grafik pengunjung berdasar profesi selama bulan Juli 2008(Pelajar SD: 105,SMP: 98,SMA:70, mahasiswa: 56, PNS : 10,Swasta : 50), jadi sebulan total pengunjung 389, jika dirata-rata maka sehari 12-13 orang. Sungguh angka yang sangat kecil untuk ukuran sebuah semangat perubahan dan gila teknologi.

Iseng-iseng sebelum meninggakan Rumah Pintar itu saya Tanya penjagany,”Mas, pernah baca bukunya pak SBY?” Dia terdiam sebentar dan kemudian menggeleng, “Pernah dengar, tapi saya belum pernah baca” jawabnya malu-malu. “Tapi ada kan,Mas di Perpustakaan?” kejar saya lagi. Dia menjawab ragu,”Kayaknya ada”.

Usai sudah petualangan saya mengejar perpustakaan tanah kelahiran sang Presiden. Saya melihat sebuah ironi. Betapa tidak, perpustakaan daerah mestinya mendapat perhatian penuh dan menjadi pusat pengembangan tempat membaca sebuah kota. Ini dia malah dibiarkan tetap menjadi suram dan lapuk dan justru dihadapkan pada bangunan baru bernama Rumah Pintar sumbangan Pemerintah Jepang. Lihatlah, bahkan untuk membuat sebuah perpustakaan yang bagus pun mesti menunggu sumbangan bangsa lain. Bangsa yang punya sejarah memilukan dengan negeri ini.

Rumah pintar menurut penelusuran saya di Google memang merupakan inisiatif dari ibu Negara bersama Solidaritas Istri Kabinet Bersatu (SIKIB). Rumah Pintar lahir karena keprihatinan, kurangnya sarana belajar masyarakat, yang itu menjadi kendala bagi kemajuan bangsa. Diharapkan Rumah Pintar dapat menyediakan wahana yang menyediakan sarana prasarana (sapras) belajar anak-anak dan masyarakat, agar mendapatkan kemudahan dalam memperoleh akses pembelajaran lewat jalur nonsekolah.

Manurut saya, keberadaan Rumah Pintar sebenarnya tak perlu terpisah dari perpustakaan daerah. Dia bisa menjadi bagian dari perpustakaan sehingga perpustakaan yang renta dan sepi pengunjung itu bisa lebih banyak menarik peminat dengan adanya konsep penataan seperti Rumah Pintar. Jika berdiri sendiri seperti itu, dua bangunan itu seperti saling terasing dan vis a vis. Jika yang satu pintar maka yang satunya sekan bodoh. Yang satu mentereng yang satu lapuk. Yang satu modern yang lainnya kuno.

Jika Ibu Negara berniat membangun monument diri seperti Alm. Tien Soeharto membangun Taman Mini dan Kebun Buah Mekarsari, betapa mulia dan anggunnya jika monument itu berupa renovasi penataan ulang perpustakan daerah. Bukan hanya fisik bangunannya, tapi juga menejemen dan koleksinya.

Maka sudah selayaknya kecintaan itu diwujudkan dengan lebih arif. Tanpa harus bergantung pada bantuan asing, saya yakin, penataan ulang perpustakaan bisa dilakukan olehnya. Dengan demikian ia tidak hanya membangun monumennya sendiri, tapi juga mengukuhkan fungsi perpustakaan sebagai identitas sebuah kota. Sehingga kelak, buku-buku di perpustakaan itu bisa bercerita pada generasi mendatang tentang kejayaan kota yang katanya ‘miskin’ itu. Dari sanalah pernah lahir putra daerah yang memimpin negeri, dan ia seorang pecinta buku yang tekun. Perpustakaan ini adalah buktinya.Ingat-ingat pesan Presiden ini:

“Di Indonesia budaya membaca masih rendah. Bila tidak kita ubah budaya itu maka masa depan kita tidak cerah. Saya ingin menjadi bagian dari perubahan ini. Saya mengajak seluruh rakyat, marilah kita membangun diri menjadi masyarakat membaca dan belajar. Teruslah menghidupkan kegemaran untuk membaca karena membaca adalah investasi, solusi, dan bisa mengubah nasib bangsa," (Diana AV Sasa)

Kempes ke4 bannya
sudah menggelambir tripleks di langit2nya
sudah menggelambir tripleks di langit2nya
Sudut bermain dan berkarya
Sudut bermain dan berkarya
Cyber Kids
Cyber Kids
Sepi...sepi...
Sepi...sepi...
Sumbangan Nippon
Sumbangan Nippon
Mentereng
Mentereng

0 comments: