Friday, May 15, 2009

Gamang Hati Eks Aktivis Soal MEGA-PRO


Saya bukan aktivis 98. Tapi saya mengerti dan merasakan sisa-sisa pergerakan masa itu. Setidaknya, senior-senior yang mengkader adalah aktivis 98. Sekarang saya masuk dalam sistem di PDI Perjuangan. Pilihan paling realistis dan pas dengan ideologi yang saya yakini.

Bu Mega dipastikan akan disandingkan dengan Prabowo. Saya-dan mungkin kawan-kawan eks aktivis lain- diberondong pertanyaan "Oiii, bagaimana aktivis2 pergerakan yg ada di PDI P menjelaskan posisi mereka mendukung penembak dan pembunuh aktivis 1998? Kalian ingat Thukul dan aktivis2 hilang

itu? Baru 11 tahun, mengapa kita pendek ingatan? Ingatkah ayah Prabowo menggalang pembangkangan pada Soekarno (PRRI/Permesta) yg nota bene bapa'e Bu Megawati Soekarno Putri. Kenapa melupa.....?"

Sejak awal,saya memang mengkhawatirkan hal ini. Bahasa saya saat itu "Bagaimana kelak saya akan bercerita pada anak cucu saya tentang Bapaknya Prabowo yang berseteru dengan Bung Karno, lalu anak-anaknya jalan bergandengan?" Artinya, saya pun setengah hati. Tapi sebagai kader, saya pikir saya mesti menjalankan apapun keputusan partai. Taat azaz. Pilihan paling realistis dibanding yang lain. 

Ini memang pragmatisme politis. Langkah taktis yang bisa dipilih saat ini. Bukan strategis. Baru itu yang bisa saya jawab, dengan segenap hati yang tak rela dan feel guilty… (Ada banyak dibawah sana yang mesti diurusin dan butuh hidup lebih baik kedepannya)

0 comments: