Saturday, May 16, 2009

Perpustakaan, Ingatan, dan Harga Diri


“Perpustakaan adalah harga diri seorang penulis. Jika ada orang yang berani membakarnya, maka saya tidak akan bisa memaafkan dosanya. Seumur hidup. Tidak akan pernah”. 

Kalimat menggetarkan itu kerap diulang-ulang Pramoedya Ananta Toer dalam beberapa wawancara dengan amarah yang tertahan. Ketika ia mengungkapkan tentang kecintaannya pada buku; ketika ia ditanya tentang pembakaran dan pemusnahan buku, dengan lantang ia katakan itu.

Perpustakaan adalah harga diri.

Bagi seorang Pram, buku-buku yang tersimpan dalam perpustakaanya adalah ekspresi dirinya. Perwujudan dari kecintaan pada literasi. Bidang yang diyakininya mampu mendorong sebuah perubahan masyarakat dengan ketajaman pena. Pergerakan yang dimotori kekuatan untai kata.

Pram percaya penulis bisa membawa pencerahan bagi pikiran masyarakat yang terkungkung. Menyorung kesadaran untuk bergerak dan melakukan perubahan. Melawan kelaliman dan ketidakadilan. Pram sudah membuktikannya dengan Tetralogi Buru-nya yang menggugah. Maka ketika ada orang yang berani memberangus perpustakaan, buku-buku, bagi Pram, itu adalah kebiadaban tiada tara.

Buku dan pena (baca:menulis) memberi pencerahan pikir pada Pram. Ketika penguasa yang lalim membuanganya ke pengasingan Pulau Buru, buku dan pena itulah yang menyelamatkannya. Hampir tiga tahun Pram mengalami krisis kreativitas dan kemerosotan jiwa karena kerja paksa di dalam tahanan. Ia sedih dan merana karena dipisahkan dari dua karibnya, buku dan pena. Maka bukan kebebasan yang dimintanya pada penguasa, melainkan izin agar bisa menulis lagi.

Pram pun membangun lagi perpustakaan kecilnya dalam kamar tahanannya. Isinya tak banyak, hanya beberapa naskah yang ditulisnya sendiri. Perpustakaan itu tak punya rak, apalagi katalog. Bukunya tidak dipajang, melainkan disembunyikan di bawah balok semen (naskah asli tulisan tangan Pram dan penutup naskah itu kini tersimpan rapi di Surabaya dalam Perpustakaan Medayu Agung milik Oei Hiem Whie, kawan di Pulau Buru). Tapi perpustakaan mungil yang tersembunyi itulah yang memberi kekuatan Pram untuk terus bertahan. Tak menyerah kalah pada siksa sepi kungkungan tembok penjara. Hasilnya: Tetralogi Pulau Buru (Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca), Trilogi Pembentukan Nasion Awal (Arok Dedes, Mata Pusaran, dan Arus Balik), juga autobiografinya yang memukau: Nyanyi Sunyi Seorang Bisu. Buku-buku itu kini tak lagi disembunyikan. Mereka terpajang rapi di setiap rak hampir semua pengagumnya.

Rasa merdeka dari kungkungan berkat buku dan perpustakaan itu juga dirasakan oleh seorang ”bapak bangsa” negeri ini. Adalah Hatta, seorang pecinta buku yang tekun, juga mengusir kebosanan rutinitas penjara yang jemu dengan buku. Jauh lebih beruntung daripada Pram, statusnya sebagai tahanan politik dan posisinya sebagai proklamator memberikan banyak kesempatan bagi Hatta untuk membangun perpustakaan sesungguhnya di dalam sel. Ketika kawan-kawannya berkunjung, oleh-oleh yang dimintanya bukan makanan kesukaan atau selimut hangat, melainkan buku. Berpeti-peti buku diboyongnya ke dalam sel. Di sana ia ciptakan perpustakaan pribadinya dengan sukacita. Kesedihan dan kesepian berlalu sudah dengan hadirnya buku-buku itu.

Buku-buku dalam perpustakaan selnya telah memberikan semangat sekaligus kekuatan jiwa pada Hatta. Ia tak mau berputus asa dan merutuki keterkurungan di balik tembok penjara. Segala tekanan dan kejenuhan ia lampiaskan dengan mengintimi perpustakaan dan menulis. Dalam perpustakaanya ia bangun betul kekuatan jiwanya agar kokoh dan tak rapuh oleh waktu. Karenanya ia segar bugar ketika hari pembebasan itu datang. Kata Hatta, ”Buku adalah temanku. Buku-buku menjadi temanku dan pastilah (penjara) ini merupakan tempat tenang untuk belajar. Selama aku memiliki buku, aku dapat tinggal di mana saja.”

Buku-buku dalam perpustakaan yang menjadi saksi sekaligus kekuatan untuk bertahan hidup itu juga ada jauh di negeri timur: Jerman. Saat itu, Adolf Hitler berkuasa dengan lalim. Gerakannya adalah anti Yahudi. Segala yang berbau Yahudi dimusnahkan, termasuk buku. Pembakaran buku di suatu sore di Unter de Linden depan University of Berlin pada 10 Mei 1933 adalah trauma yang mencekam bagi setiap Yahudi yang menyaksikan. Buku-buku karya Henrich Mann, Stefan Zweig, Freud, Zola, Proust, Gide, Helen Keller, dan lain-lain terbakar habis tak bersisa.

Sungguh sebuah tindakan yang banal pada sumber pengetahuan. Salah apa penulis-penulis itu hingga bukunya dibumihanguskan begitu. Seorang penulis ketika menulis tak pernah memikirkan siapa yang akan membaca bukunya kelak. Buku itu dilahirkan seperti bayi. Ia tumbuh dan berkembang sendiri menemukan pembacanya. Jika buku itu bagus dan seorang pembaca menemukan pengalaman membaca yang menggugah, maka ia akan menceritakan pada orang lain dan menyarankan untuk membacanya. Maka buku dengan sendirinya menembus batas segala ras, agama, dan wilayah.

Bukulah menemukan sendiri pembacanya. Kredo itu sudah dibuktikan seorang pustakawan Sholem Aleichem Jewish Library di Biala Podlaska. Ia memutuskan untuk menyelamatkan buku-buku di perpustakaan sebelum dimusnahkan tentara Nazi. Buku-buku itu diangkut dengan gerobak ke rumah salah seorang koleganya. Sebanyak mungkin ia selamatkan. Hari demi hari. Sambil berpacu dengan rasa was-was akan kedatangan pasukan Nazi yang akan merampas dan membakar buku sampai suhu 451 derajat Fahrenheit.

Meski pustakawan itu sadar betul mungkin tak akan ada pembaca yang akan tersisa, karena semua orang Yahudi dikirim ke kamp penahanan dan berakhir maut, namun ia yakin buku-buku itu tetap harus diselamatkan. Buku adalah penyelamat ingatan dan kenangan. Jika tak ada Yahudi yang tersisa di negeri itu, maka suatu saat akan ada pembaca lain yang akan menekuninya. Ini bukan tentang kepastian sebuah buku dibaca, melainkan tentang menyisakan kesempatan membaca. Ia benar, setelah rezim Nazi runtuh, buku-buku itu ditemukan di sebuah loteng oleh seorang sejarawan, Tuvia Borzykowski. Benar saja, buku-buku itu menemukan sendiri pembacanya.

Kisah lain di masa yang sama, tentang orang-orang Yahudi yang mempertahankan buku dari pembakaran dengan caranya sendiri. Ini kisah tentang usaha menyembunyikan perpustakan di sebuah kamp anak-anak. Perpustakaan rahasia itu hanya memiliki 8 buku. Setiap anak mendapat tugas untuk menyembunyikan buku-buku itu ditempat yang berbeda setiap hari. Delapan buku itu dilengkapi dengan buku-buku ingatan. Pengasuh-pengasuh yang sudah menghapal beberapa isi buku selalu mengutip untuk seorang anak. Pengasuh lain mengutip untuk anak yang lain. Begitu seterusnya hingga setiap anak telah menyimpan banyak sekali kutipan dalam ingatannya. Mereka ibarat buku-buku hidup yang melengkapi koleksi perpustakaan rahasia itu. Nazi bisa membakar buku-buku tapi mereka tak bisa membakar isi kepala mereka.

Perpustakaan rahasia itu memberi semangat pada setiap anak di kamp untuk bertahan hidup. Karena merekalah yang akan meneruskan isi setiap buku jika kemerdekaan tergenggam. Maka mereka tak boleh menyerah atau mati. Ketakutan harus dilawan. Rasa ciut nyali harus dimusnahkan dengan semangat menyemaikan lagi buku-buku. Sungguh ini sebuah perjuangan menegakkan perpustakaan yang paling pedih. Dalam tekanan kehidupan yang sangat menyiksa, kehidupan intelektual itu masih bertahan dan terus hidup. Seorang anak muda dari Polish berujar, ”Buku adalah sahabatku, ia tak pernah mengkhianatiku, dia memberiku rasa nyaman di tengah keputusasaan, ia mengatakan bahwa aku tak sendiri.”

Begitulah buku (baca:perpustakaan) yang telah mewujud dalam nilai dan menjadi harga diri. Ketika terinjak, ia layak dibela dan ditegakkan. Tak ada seorang pun yang layak memperlakukannya semena-mena. Apa lagi memusnahkannya. Dengan buku itu seseorang bisa tahu di mana ia letakkan martabatnya sebagai manusia yang berpikir. (Diana AV Sasa)

0 comments: