Monday, May 18, 2009

Sasa: Gadis Penyanyah Buku dari Celah Batu





::1
Dari atas puncak Gunung Brengos, Pacitan, Satu diantara Barisan Bukit Selatan,  dia mengaok-ngaok memanggilku, lelaki dari lembah jahanam. Suaranya memutar sekali dan menembus pedalaman Lawu dan memantul tepat di garis tengah bibir Merapi. Dia tahu aku tak sedang bersidekap sambil membangun kemah di salah satu pundak gunung pendekar bercambuk api ciptaan film laga Indonesia. Lantas, suara itu membelok siku, membelahi kota yang kini sudah menjadi kota setengah gila setengah berantakan. Dan suara itu memantul dari satu mall ke mall yang lain. Suaranya itu memergokiku sedang kepanasan di salah satu sudut mall yang sudah rombeng.

“Jika kau datang, kau adalah tamu istimewa keluarga kami. Datanglah,” bisiknya lirih dan setengah membujuk. Aku berpikir sejenak. Lalu mengiyakan. Kemudian dia sibuk memberi komando perjalanan. Kubilang, aku ingin menembus jalur pantat semar Wonosari yang terkenal sebagai jalur tengkorak itu. Katanya jangan. Itu terlalu jauh dan kau akan tersesat. Tapi kubilang, tersesat itu adalah tugasku dan aku konsisten dengan tugas sesat-menyesatkan itu. Tapi dia bilang ada jalur lebih dekat. Menembus  Wonogiri via Klaten menikuk ke arah timur hingga perbatasan JawaTimur paling ujung dan mendaki sedikit kearah selatan.
Esoknya, sesudah langit timur mengeluarkan api-api hangat, aku menunggang kuda besi yang sudah menjelajahi nyaris seluruh kota di Jawa Timur. Kali ini mencobai jalur Selatan.  Dan benar, aku memang tersesat hingga ke Klaten. Tapi aku meyakini, jika dia manusia dan bukan jin penunggu gunung dan dia warga Indonesia, pastilah aku akan kembali ke jalan yang benar. Lalu kuterabas jalan-jalan yang tak pernah ada dalam pengetahuan geografisku sebelumnya: Klaten-Pedan-Kedungdowo-Bogor-Bulu-Batu Seribu-Pule-Wonogiri. Selepas dari Wonogiri ini, perjalananku seperti puisi yang berima. Lihatlah kota-kota mungil yang kulewati ataupun terpapar di papan penunjuk arah: Girimarto, Tirtomoyo, Jatiroto, Ngadirojo, Sidoharjo, Jatisrono, Jatipurno, Jatipuro, Slogohimo, Purwantoro, Kismantoro, Ponorogo, yang semuanya berakhiran “o”.
Tapi tak mudah menaklukkan perjalanan ini. Menunggangi jalan ini serupa membaca tiga novel sekaligus: Seratus Tahun Kesunyian karya Marquez,The God of Small Thing karya Arundhati Roy, dan Ayat-ayat Setan karya Salman Rushdie. Tahu sendiri kan, hanya orang gila yang bisa menyelesaikan novel-novel dengan tendensi igauan, kengawuran, kerumitan berbahasa di atas rata-rata, jebakan sesak napas dan sesat pikir itu. Jalanan menuju rumahnya adalah jalanan dengan novel berplot meliuk-liuk yang membikin perjalanan sungguh lamban, tikungan bahasa tajam yang memaksa kita selalu mengencangkan tali sabuk kewaskitaan. Sedikit lengah, bukan saja kehilangan jalan cerita akibat terbenam dalam plot yang menyerupai labirin, tapi menanggungkan cilaka hidup. Sebab di kiri kanan terdapat ranjau jebakan berupa ngarai menganga, sebagaimana Rushdie menyiapkan api dalam kisahnya tentang Nabi Muhammad dalam kelambu 12 istrinya. Karena itu, untuk bisa membaca dan melampaui plot ini aku tirahat dan minum air putih yang sudah didoai. Capek, berhenti. Sebab hanya orang yang berpikir jernih, tahan emosi seperti peringatan di pantat-pantat truk bergambar cewek-cewek seksi, yang bisa melampauinya hingga di halaman akhir.
Dan aku memang berhenti di sebuah halaman depan masjid dengan ketinggian 1.118 dpl. Terbentang 50km dari pusat kota pacitan.  Ya, aku berada di puncak gunung di mana aku disambutnya dengan hanya berdaster longgar mirip dengan emak-emak di kampung-kampung. Namanya Gunung Brengos. Mirip slogan pasangan kandidat gubernur Jawa Timur “Coblos Brengose” yang terpampang di jalan-jalan
Dan mulailah ia berkisah tentang kotanya yang diselimuti pegunungan batu tandus dan dingin. Umumnya rumah-rumah terjepit di balik bebatuan, kecuali sederet jalan Sudirman yang lumayan mewah karena saban waktu pejabat datang berkunjung. Hanya tiga yang hijau kebiruan di sini: pohon pinus, langit, dan bendera Partai Demokrat yang berkibar-kibar sombong tanpa saingan. Maklum saja, di sini, putra terbaik kota ini, Susilo Bambang Yudhoyono, menjadi presiden RI yang ke-9.
Ini kota istimewa dalam sejarah (militer) Indonesia. Tapi terlupakan. Coba buka buku Pelajaran Sejarah Perjuangan Bangsa (PSPB). Saat perang gerilya, ada disebut sebuah tempat yang dijadikan Markas Besar Tentara Keamanan Rakyat. Itulah Dukuh Sobo, yang terletak di lembah Dusun Tempel, Desa Pakisbaru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Dari dukuh inilah Panglima Besar Jenderal Soedirman mengendalikan tentaranya melawan Belanda setelah serangan dadakan 1 Maret 1949. Sobo dipilih karena lokasinya yang ada di bawah tebing curam, tertutup bukit-bukit batu, sehingga sulit dilacak pesawat terbang Belanda. Karena tinggi daerah ini kerap tertutup kabut.
Kini berdiri gagah dan besar patung Sudirman yang mana area ini akan dijadikan semacam monumen bagi ingatan. Tapi dia muak dengan pembuatan monumen yang mirip Monas Jakarta ini. Dia lebih sepakat dengan konsep sebelumnya: Wisata alam dengan kereta gantung,taman bunga, dan camping ground. Tapi ini kerja tentara. Bagaimana pun jangan pernah melawan tentara karena mereka punya senjata pembunuh.
Termasuk saat dia dengan bersemangat memperlihatkan kepadaku satu-satunya Perpustakaan umum yang ada di desanya, di mana ia pernah kecewa karena sewaktu kecil dia ingin membaca buku di  perpustakaan itu tapi setelah diresmikan Sulasikin Moer Pratomo, buku-bukunya raib entah kemana.  Gedung dengan beratap joglo di depan patung Sudirman itu kini dikelilingi mobil-mobil berplat hijau-tua. Tampak angker. Buku-buku menghilang dan menjadi mess tentara pekerja. Dia coba pamit baik-baik untuk masuk ke dalam barangkali ada beberapa keping ingatan yang masih tercecer di dalam, tapi seorang kopral menghadang di pintu dengan wajah beringas. Mungkin meminta surat-surat. Kaburlah aku. Kaburlah dia. Ah, perpustakaan itu pun tertekuk di bawah sepatu laras angkatan darat ini.
Juga tentang sebuah danau. Diingatnya baik-baik danau itu. Sehabis mencari bunga pinus untuk kayu bakar dan bermain layang-layang di lapangan, ia berlari kecil menyusuri tanah berlembah. Duduk di atas batu menghadap air jernih. Dia menulis. Umumnya catatan harian. Dia bergaya meniru-niru bacaan kecilnya, Petualangan Lima Sekawan. Dia membayangkan sebuah kebun bunga di bukit kecil penuh peternakan kupu-kupu yang sama sekali tak ada. Di tepian kali ini dia reka dan ciptakan sendiri “dunia” itu.
Dan dia tersentak setelah sadar bahwa di usia belia itu dia sudah bisa menulis.  “Gus, di danau itu pernah kutulis karangan pertamaku saat aku kelas 4. Cuma dapat juara 3 di Kabupaten sih. Tapi itu karya pertamaku. Orisinil. Kalah juga bukan karena buruk isinya, tapi karena tulisanku jelek. Waktu itu, menulis karangan harus dengan huruf tegak bersambung di atas kertas folio bergaris. Padahal aku benci sekali tulisan itu, tak bisa membuatku cepat dalam menulis. Tulisan tanganku kan jelek. Hanya dapat 6 atau 7 saat pelajaran menulis halus. Tapi aku tak peduli. Dan lagi, isi karangan itu tak seperti harapan panitia. Aku menulis 68 lembar cerita perjuangan seorang anak desa agar bisa ke Jakarta ketemu Presiden Soeharto untuk menceritakan desanya yang punya peran penting dalam sejarah tapi terlupakan. Aku bercerita. Sementara lomba itu menginginkan karangan yang bentuknya formal opini. Ada kaidah-kaidah penulisan baku. Guru walikelasku memujiku berulang-ulang, dan ketika kalah, aku menangis sejadinya. Guru itu mengusap lembut rambutku sambil berkata, ‘Kamu pintar, Nak.... Tulisanmu bagus. Hanya kau berada pada situasi yang tidak tepat, kelak kau juga akan mengerti,’ ucapnya lembut.  ‘Kemenangan sebenarnya adalah ketika kau mampu menuliskan semua isi kepalamu. Jangan berkecil hati.’ Itu Bu Tini yang mengucapkan di mana kini beliau sudah wafat. Tapi kalimat itu lekat di benakku. Rasanya aku ingin menulis catatan harian lagi.”
::2
Inilah aku dengan nama yang sangat panjang: Diana Amaliyah Verawati Ningsih,28 Maret 1980. Aku punya banyak nama panggilan. Kakek memberiku nama kecil Nining, Mama menyebutku dengan Nana, teman-teman wonogiri ada yang memanggil dek Lia,atau dek Vera. Guruku manggil Dian. Murid-murid menyapaku dengan Mam Diana.  Sasa adalah nama yang kupatenkan sejak siaran di radio RKPD Sukoharjo saat SMA, sampai pindah di Surabaya. Tak ada hubungan dengan pabrik niaga vitsin Adji No Moto tentunya.
 Aku gadis yang geneologisnya didekap dinginnya batu-batu. Kesadaranku diasup buku-buku dari sebuah keluarga guru agama. Sudah 30 tahun mengajar sebuah SD di kaplingan lembah pada tanah yang tak subur di mana penduduknya menggantungkan hidup pada sawah tadah hujan dan menanam ketela. Mereka tak tahu bahwa ketela itu menghabiskan unsur hara dan membuat tanah semakin tak subur. Hanya cengkeh dan kopi yang jadi andalan. Itupun harus terseok-seok ketika putra cendana bermain di pasar dan harga ce ngkeh jatuh awal tahun 2000an lalu.
 Ayahku membesarkan pikiranku dengan menyisihkan sebagian gajinya yang kecil untuk berlangganan majalah sepertiKuncup, Bobo, Ananda,dan juga buku-buku Inpres yang kebanyakan berisi cerita rakyat, legenda, serta cerita-cerita teladan terbitan Balai Pustaka.  Buku-buku itu dibawa pulang dulu ke rumah. Setelah kubaca, baru masuk perpustakaan sekolah. Kebanyakan kemudian habis dimakan rayap di perpustakaan kumuh itu.
Dibelakang rumah, kupelihara bekicot. Kujual ke pengepul yang biasa menyetor ke pabrik untuk dibuat Keripik-02 di Kediri. Ini makanan haram kata ayahku. Tapi aku butuh bacaan. Apakah haram juga kalau aku membeli-sewa bacaan dari uang bekicot? Sebab hasil bekicot itu kupakai menyewa buku komik milik tetanggaku yang baru pindah dari Jakarta. Dia membawa banyak sekali buku. Maka aku sejak SD, dari jepitan batu-batu,  sudah membaca Api di Bukit Menoreh,Panji Tengkorak, Serial Lupus, Olga dan sepatu Roda, karya-karya Marga T,juga majalah-majalah seperti Anita dan Intisari.
Dan buku juga yang menuntunku keluar dari celah-celah batu yang membuat kami semua terkurung, terlupakan dari sejarah besar (militer) Indonesia. Karena kemampuanku melebihi teman-temanku sesama anak-anak batu dan besarnya kekhawatiran ayah melihat putrinya terbelakang karena jago kandang di antara batu-batu, aku dipindahkan ke Wonogiri saat kelas 6 SD. Aku seperti Tarzan (kalau cewek namanya siapa ya) turun gunung. Tinggal sendiri dalam kos. Kebingungan dengan lingkungan baru, alam baru,teman baru, kebiasaan hidup baru,yang semuanya berbeda jauh dari gunung batuku.  Tapi buku membantuku mengejar ketertinggalan oleh karena papasan batu-batu. Saban hari aku mengunjungi penyewaan buku di sebuah gereja. Penjaganya seorang suster yang halus dan lembut tuturnya. Suster Antony namanya. Setiapkali masuk perpus, wajib bagi kami untuk menyapa dengan salam khas “Selamat sore,Suster Anthony” .
Ketika teman-teman sebayaku pinjam komik-komik macam Candy-candy,Sepatu Kaca, Doraemaon,  aku membawa novel-novel dewasa. Aku tak tertarik dengan cerita komik yang jauh dari keseharianku itu. "Diana, uang sakunya disimpan separuh. Jangan dipake sewa buku semua," kata Suster Antony suatu kali lantaran melihatku sungguh rakus meminjam. Perpustakaan gereja dan beberapa persewaan buku membuatku betah tinggal dalam  lembah  Gunung Gandhul itu. Di kota ini pula aku berkenalan dengan sastra jawa lewat Panjebar Semangat dan Joyoboyo. Membacanya berulang-ulang tiap edisi. Dari tidak mengerti hingga hanyut dan gandrung. Belajar menulis geguritan dan membacanya. Aku pun jatuh cinta pada sastra Jawa.
Tapi sewaktu kelas 2 SMA aku kembali ditarik ke gunung lantaran terlibat pacaran intensif dan ayah khawatir putrinya hilang kendali. Maka di balik batu-batu itu aku terkungkung lagi,  panik dan tertekan lantaran tak ada buku juga tak ada pacar. Di celah-celah batu ini apa yang kubaca selain debu berjejal diguyur angin yang membawa desau dan embun. Tapi mukjizat itu datang dari kota di bawah sana. Seorang kawan dari Palang Merah mengirim sebuah karya  Seno Gumira Ajidarma.  Jazz, Parfum, dan Insiden. Aku tergila. Kuingat terus sang penolong itu. Darinyalah aku berjodoh dengan cerita.
Kini gadis Pakis yang terkurung dalam sunyah ketinggian Brengos itu sepenuhnya jadi gadis kota yang energik. Ya, aku kini hidup di kota niaga yang hampir tak pernah tertidur. Di Surabaya, ketika aku seperti berada di tengah rimba raya beton-beton, awam teknologi, bukulah yang kemudian jadi jangkar dan sekaligus kompas yang membuatku sedikit waras dan mengenal internet.
Buku mengantarku merayapi dunia pergerakan, menjawab satu demi satu rasa ingin tahuku,mendorongku untuk bicara dengan lagak sok intelek di forum-forum diskusi, hingga menjejaliku dengan bahan-bahan orasi di panggung mimbar bebas.
Aku si gadis batu itu, kini menjadi seorang demonstran!
::3
Surabaya. Di sini ia tinggal. Bercinta dan membangun dengan susah payah keluarga kecilnya. Tapi dia merintih melihat kota  yang makin kalap dan rakus saja itu. Kota yang melupakan warganya dari mencintai buku yang dengan itu kearifan hidup bisa ditimba. Di tengah-tengah hutan tembok yang asri dan papan-papan reklame yang memamerkan senyum paling memikat, dia mendobrak. Tak lupa di ujung lidahnya yang keluh diejanya dengan terbata beberapa toko buku yang hadir di kota ini: Gramedia Tunjungan Plaza, Pasar Blauran, emperan buku loak  Jalan Semarang, Uranus, Manyar, Toga Mas, dan Gunung Agung.
Tersebutlah pada suatu hari, sebuah acara diskusi pameran foto Seno Gumira Ajidarma. Oleh host dibilang tak boleh membahas buku di acara itu. Tapi dia nekad. Dia ngacung. Dan dikeluarkannya seluruh kegilaannya atas buku-buku Seno, sesekali dihubungkannya dengan tema buku Seno agar host tak terus-terusan  melotot padanya. Orang-orang tercengang.Mungkin menggumam gadis aneh darimana ini. Reseh. Tapi dia berani, dan toh tak terjadi apa-apa. Dengan gembira dia tenteng 20-an buku Seno dan didaulatnya untuk memberi tandatangan dengan diselingi dialog-dialog pendek antara si pengagum dan yang terkagum.
Di sudut parkir, seorang pemuda klimis menghampiri ,“Pertanyaannya tadi bagus, Aku L, boleh minta nomor kontaknya?” sapanya sembari mengulurkan selembar kartu nama. Tapi Dia sedang tak berminat pada sebuah pesona laki-laki. Dia sedang berbunga setelah bertemu penulis pujaannya. Diapun bergegas pulang,membawa serta rasa intim bersama buku.
Tanpa buku dia gelisah. Perkawinan telah menggelisahkannya karena nyaris setahun lebih memisahkannya dengan buku dan internet. Dan itu tak boleh terjadi berlarut-larut. Dia melonglong lagi memanggil-manggil arwah-arwah buku itu untuk menyetubuhi hati dan pikirannya. Dan para arwah itu menghadap. Sekaligus ditantangnya.
Mula-mula dia menghasut sebuah komunitas buku bernama Kutu Buku Gila yang menurutnya paling dinamik di dunia maya. Beberapa dari anggota inti komunitas itu (baca: “Dewan 13”) terpancing dan terhasut. Dia berseru menantang: “Akan kubuktikan kepada semua orang. Jika upacara buku ini tak beroleh pengunjung, maka inilah kota anti buku.”
Anggota KuBuGil yang terhasut berusaha menenangkannya, menyabarkannya, dan kalau bisa menunda keinginannya yang menggebu. Kata ketua tertinggi perkumpulan: “Acara itu terlalu dekat dengan upacara pertama.” Oh, semua nasehat baik itu disodorkan tiada lain karena kekhawatiran yang sungguh mendalam bahwa acara KuBuGil bertema “Merdeka Bersama Buku” akan gagal. Tersebab dua hal. (1) Nyaris di bangsal KuBuGil sendiri, acara perbukuan di Surabaya ini ditanggapi sepi-sepi saja karena alasan berikut ini dan sekaligus penyebab kedua. (2) Waktunya tak tepat. Bersamaan dengan sibuknya orang-orang upacara bendera dan rentetan seremonial 17 Agustus 2008 pukul 9 sampai 13.
Tapi dia adalah gadis pakis yang besar di antara buku-buku batu. Hatinya membatu dengan keyakinannya. Sekeras batu dia ngotot bahwa ini adalah arena pembuktian tesisnya bahwa kota ini bukan anti buku. Bahwa kota ini mencintai buku, tapi belum terekspresikan dengan baik dengan kampanye yang dilakukan terus-menerus. Dia membagi keyakinan bahwa semua orang juga seperti dia. Yang menggilai bacaan.
 Maka diselenggarakannya Upacara 17-an II itu dengan mengandalkan kekuatannya sendiri. Diyakinkannya semua orang untuk mendukung. Sponsor dan para pendonor buku dihubunginya. Gudang penerbitan milik seorang kawan di ubrak abriknya. Terik panas matahari Surabaya tak menyurutkan niatnya untuk melobi kantor penerbit yang jauh ditengah wilayah industry yang penat. Kuda besinya dipaksa mengangkut Kardus besar berisi buku-buku yang di jokinya sendiri. Tatkala dana kurang, dipalaknya sang suami, juga kantongnya dibukanya lebar-lebar dengan memotong separuh gajinya. Teman-teman mainnya juga tak lupa dipalaknya di tengah jalan di depan kantor Dewan Rakyat (ini memang sudah palak gaya preman) untuk bayar hotel dua anggota KuBuGil yang paling berhasil dihasutnya.
Ada 150 peserta hadir. Dan mereka semua pulang dengan “bekal” buku gratis yang diberi para dermawan buku. Setara dengan peserta Upacara Buku I yang diselenggarakan KuBuGil sendiri tepat pada Hari Buku, 17 Mei 2008 di Jakarta. Tapi bedanya, nyaris yang menjadi inisiator dan penindak tunggalnya adalah dia seorang. Yang lain mau membantu karena mungkin hanya kasihan melihat tekadnya yang membatu tentang buku dan masyarakat.
Dari situ, dia ternyata bukan hanya pembaca buku, tapi juga dengan keyakinan yang menyala-nyala menjadi provokator agar sebuah kota dalam masyarakat industrial mau membaca dan mencintai buku. Seperti dirinya. Bahwa buku bukan hanya tindakan-tindakan diam dalam sebuah kamar yang membikin pribadi menggelembungkan egoismenya, tapi tradisi membaca buku bisa dibagi, bisa dikampanyekan. Sisihkan waktu untuk kampanye itu jika buku tak hanya menjadi milik kutubuku semata, tapi juga buat masyarakat.
Tapi jika kalian akan bertanya buku apa yang paling dia anggap paling mengubah dirinya, inilah pengakuannya:
(1) Dunia Shopie(Jostein Gaarder): buku ini  kutemukan ketika aku frustasi di pergerakan. Ketika aku tersesat aneka wacana karena membaca bermacam buku tanpa tahu mana yang mesti dibaca dulu mana yang belakangan. Aku serakah karena ingin bisa berdiskusi dengan ciamik layaknya aktivis yang paham aneka wacana. Maka buku ini membimbingku keluar dari ketersesatan. Caranya mengajariku tentang dasar-dasar filsafat begitu ringan dan mudah dimengerti. Diceritakan dengan gaya bertutur, buku ini menjadi buku wajib baca bagi anak cucuku kelak.
(2) Islam Dan Teologi Pembebasan(Asghar Ali Engineer). Buku ini membuatku terperangah, dikatakannya bahwa Muhammad sang nabi itu pada dasarnya membawa nilai-nilai  sosialisme. Islam hadir sebagai agama pembebas yang membawa perubahan social baik pada ranah politik,ekonomi maupun kekuasaan.
(3). Jazz, Parfum, dan Insiden (Seno Gumira Ajidarma). Novel cerdas yang pertama kali kubaca dan aku pun lumpas. Perpaduan fiksi dan non fiksi yang apik. Aku hanyut. Buku ini yang membuatku tergila-gila. Kepada Seno tentu saja. Jauh dari picisan. Aku jatuh cinta. Dan buku ini sekaligus menjadi jangkar—atau mungkin magnet—yang membuatku menggilai semua karya Seno. Di rak bukuku karya Seno sudah ada 20-an.
(4) Tuhan Izinkan Aku Menjadi Pelacur!  (Muhidin M Dahlan). Buku ini gue banget. Perjalanan Nidah nyaris sama persis seperti yang kualami. Pencariannya hingga keputus asaannya. Hanya kami berbeda pada pilihan akhir. Bagiku buku ini patut disandingkan dengan Veronika Memutuskan Mati (Paulo Coelho). Karena dari sini pula kutahu bahwa makna kematian adalah berbuat sesuatu sehingga hidup menjadi  bermanfaat. Jika tidak, maka kita hanya akan menjadi  seperti mayat hidup. Dari perenungan Veronika selama  berada di rumah sakit jiwa, aku jadi tahu bahwa siapa yang gila di antara kita. Dari TIAMP aku tahu bahwa hidup harus terus dipertanyakan sebelum akal kita terampas.
(5)Bumi Manusia (Pramoedya Ananta Toer). Aku paling tergiur dengan Ontosoroh. Bagiku, Ontosoroh memaknai ketertindasannya untuk membalikkan keadaan. Dia reguk secuil demi secuil pengetahuan dari suaminya yang sekaligus majikannya untuk membantunya terangkat sederjat dengan siapa pun manusia di bumi ini. Sekadar kamu tahu saja, Gus Peng, buku yang mengenalkanku pertama kali kepada Pram sejatinya adalah Arok Dedes.

::4
Lalu aku pamit turun gunung. Meninggalkan buku-buku batu. Meninggalkan dia dan keluarganya yang menanti lebaran yang itu-itu juga. Meninggalkan tiga biru. Sepagi-pagi. Kembali melintasi kelokan jalan seperti merenangi lembar-lembar dari tiga buku yang paling berbahaya menghilangkan akal dan menyesatkan iman jika tidak mengencangkan sabuk kewaskitaan: Seratus Tahun Kesunyian, The God of Small Thing, dan Ayat-ayat Setan. Aku terus bergerak ke timur. Ke tanah leluhur. Arok. (Gus Peng).

1 comments:

Anonymous said...

Terus semangat!!! Kartini akan bangga padamu.