Monday, June 22, 2009

Launching “Para Penggila Buku”

Surabaya dari hari ke hari semakin meneguhkan namanya sebagai kota niaga yang kalap dan rakus. Hutan beton bertumbuh semakin rapat. Pusat perbelanjaan menjamur nyaris di semua penjuru kota. Papan reklame memenuhi setiap ruang kosong dengan senyum-senyum menawan. Pusat-pusat budaya makin terdesak dan terhimpit. Gerakan budaya pun menjadi berakan sunyi yang berbisik diantara komunitas-komunitas kecil.

Buku, sebagai tempat menimba kearifan hidup, menjadi satu sisi budaya yang turut berdesakan dikota niaga ini. Toko-toko buku besar bermunculan, menawarkan ragam pilihan yang bisa disesuaikan dengan isi kantong warga kota. Pemerintah kota bak pahlawan buku menyurung pembangunan kampung ilmu sebagai wadah pedagang buku emperan. Taman bacaan dan mobil baca keliling mengunjungi beberapa ujung kampung saban berapa hari sekali. Sudut-sudut baca teronggok wajib di setiap puskesmas. Dengan semua itu, sudahkah kota ini dan juga warganya, menjadikan buku sebagai bagian dari budaya yang memagari kearifan hidup dari gerusan perniagaan?

Diantara keriuhan itu, ada pecinta dan penggila buku yang coba berjalan di jalan sunyi selaiknya sebuah buku. Mereka adalah penulis-penulis muda yang coba menerbitkan buku sendiri untuk melawan dominasi penerbit besar. Mereka adalah pemilik toko buku dan perpustakaan independen yang tekun menjagai buku-buku dengan beberapa orang pengunjung saja seharinya. Mereka adalah komunitas pecinta buku yang dengan kesabaran mendiskusikan buku-buku sebagai refleksi kehidupan meski hanya dengan anggota yang tak genap sepuluh orang. Mereka adalah aktivis buku yang tak lelah berteriak tentang pentingnya membaca sekaligus mendekatkan buku ke pembacanya di kampung-kampung. Mereka-mereka inilah pion-pion budaya yang menjadikan buku sebagai peneguh semangat menjaga benteng budaya sebuah kota.

Jalan buku memang sunyi. Sesunyi perjalanan yang dilalui setiap pecintanya. Tapi semangat dan cita-cita yang mereka usung tak sesunyi buku. Dengan jalannya masing-masing, mereka melukis wajah Surabaya esok hari melalui buku-bukunya. Kota ini tentu tak anti buku. Kota ini pastilah mencintai buku. Maka mari dengarkan suara bisikan mereka tentang buku di tengah gempita kota industri dan niaga yang makin gila ini. Yuk, ikutan ngobrol bersama di acara:

Diskusi dan Peluncuran Buku
“Para Penggila Buku:100 Catatan dibalik Buku”
karya Muhidin M Dahlan & Diana AV Sasa
Tema diskusi: “Membaca Surabaya Esok”
Tanggal: Senin, 29 Juni 2009
Waktu: Pukul 19.00 WIB
Tempat : C2O Library, Jl Dr. Cipto No 20 Surabaya (depan Konjen AS)

Menghadirkan
Muhidin M Dahlan (Penulis, pegiat lembaga riset dan penerbitan Indonesia Buku)
Diana AV Sasa (Penulis, Owner Galeri Buku ::dbuku::)
Arief Santosa (Redaktur Buku Jawa Pos)
Giryadi (Budayawan)
Moderator : Fakhruddin Nasrullah (Sastrawan)
Tersedia Buku-buku dengan harga diskon.

Acara ini didukung sepenuhnya oleh:
 
Lembaga Riset dan Penerbitan Indonesia Buku(i:boekoe) www.indonesiabuku.com
Galeri Buku ::dbuku::
Komunitas Esok (Emperan Sastra Cok-Cepetan Ojo Keri-)
C2O Library , Cinematheque ‘n CafĂ©
www.event.web.id
LP. Fajar Timur
CP: Nisa (031-91154085), Tongky (0812 172 8453)

Friday, June 12, 2009

Mantra Scipta Penggila Buku

::engkos kosnadi

"Tahu kau mengapa aku sayangi kau lebih dari siapapun? Karena kau menulis, suaramu takkan padam ditelan angin, akan abadi, sampai jauh, jauh dikemudian hari." 

Saya orang yang sering tertegun membaca pernyataan Pramoedya Ananta Toer ini. Ya, kekuatan tulisan-kedahsyatan kata-kata dimana ujaran lama berkata Scipta Manent verba Volant (yang tertulis akan tetap mengabdi, yang terucap akan berlalu bersama angin).

Monday, June 1, 2009

Soekarno dan Hantu Buku

Berbicara soal buku dalam sosok kaum pergerakan, nama Hatta kerap dikutip, terutama bersama berpeti-peti bukunya dalam pembuangan. Dan Hatta memang kutubuku.
Tapi Soekarno juga punya atensi terhadap buku luar biasa. Ia bukan kutubuku, tapi hantu buku. Sampai-sampai ketika sahabatnya membeli buku, belum sempat si pemilik membacanya sudah dipinjam dan dibaca Soekarno hingga habis.

Tapi berbeda dengan Hatta yang bukunya seperti laut teduh dan reflektif, buku-buku Soekarno adalah badai yang bergemuruh. Buku yang berteriak-teriak.

Datang dan saksikan peluncuran buku "Para Penggila Buku" karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan dengan topik spesial "SOEKARNO".