Sunday, August 2, 2009

Upacara Buku

Oleh: Diana A.V. Sasa
MASYARAKAT Hindu Bali memegang tradisi penghargaan yang tinggi pada ilmu pengetahuan. Mereka memanifestasikannya dalam penghormatan kepada Dewi Saraswati, sebuah nama suci untuk menyebutkan sosok Dewi Ilmu Pengetahuan. Yakni, seorang dewi yang digambarkan memiliki empat lengan. Setiap lengan memegang buku, ganitri, wina, dan bunga teratai.


Bunga teratai atau padma adalah simbol kesucian yang merupakan hakikat ilmu pengetahuan. Buku/lontar adalah representasi kitab suci Weda yang melambangkan bahwa pengetahuan bersifat universal dan abadi. Ganitri/tasbih adalah simbol kekuatan meditasi dan pengetahuan spiritual yang tak akan habis. Itu berarti menuntut ilmu pengetahuan merupakan upaya manusia untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.

Sedangkan wina/kecapi adalah alat musik yang melambangkan bahwa ilmu pengetahuan mengandung keindahan atau estetika yang amat tinggi. Empat tangan Dewi Saraswati menggambarkan empat aspek kepribadian manusia dalam mempelajari ilmu pengetahuan, yakni pikiran, intelektual, waspada (mawas diri), dan ego.

Dewi Saraswati juga didampingi angsa dan merak yang berdiri di sampingnya. Angsa merupakan simbol kebijaksanaan untuk membedakan antara yang baik dan yang buruk, sedangkan merak melambangkan ilmu pengetahuan yang agung dan berwibawa.

Saraswati berasal dari kata saras yang berarti mata air dan wati yang berarti memiliki. Saraswati bermakna sesuatu yang memiliki sifat seperti mata air. Ilmu pengetahuan pun mengalir terus-menerus tiada henti seperti mata air, ibarat sumur yang airnya tidak pernah habis meskipun setiap hari ditimba untuk kehidupan. Mereka meyakini bahwa saraswati juga berarti ucapan atau kata yang bermakna. Kata atau ucapan akan bermakna apabila didasarkan pada ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan itulah yang akan mendasari orang untuk menjadi manusia bijaksana. Kebijaksanaan merupakan dasar untuk mendapatkan kebahagiaan.

Penghormatan kepada Dewi Ilmu Pengetahuan diwujudkan dalam suatu upacara buku saban 210 hari. Hari Saraswati jatuh setiap Sabtu Umanis Watugunung (sistem penanggalan Bali), yang salah satunya jatuh pada 1 Agustus 2009 dalam tahun Masehi. Besoknya, yaitu Minggu Paing wuku Sinta adalah Banyu Pinaruh, yaitu hari yang merupakan kelanjutan perayaan Saraswati.

Pada hari Saraswati, buku mendapat perlakuan istimewa. Ia seperti makhluk hidup yang harus dilayani. Aktivitas membaca dan menulis pada hari itu ditiadakan sebagai bentuk penghormatan kepada buku.

Pada Sabtu, semua lontar dan pustaka -terutama Weda dan sastra-sastra agama- dikumpulkan menjadi satu. Buku-buku di rumah -buku tulis, novel, koran, komik, hingga majalah- diturunkan dari rak dan ditata rapi di satu tempat. Di tempat tersebut, buku-buku itu dibersihkan. Kemudian, diantarkan sesaji upacara, seperti beras wangi, air kembang dari tujuh mata air, dan tumpeng.

Pada Minggu, sebelum melaksanakan upacara, umat mandi suci, kemudian memotong rambut sebagai wujud kebaruan dan penyucian diri. Sebelum matahari tegak lurus dengan langit, mereka memanjatkan doa. Dalam doa, umat menyebutkan bahwa buku-buku harus disucikan untuk pencerahan, kebenaran, pengetahuan, dan kebajikan. Upacara ditutup dengan minum air dari tujuh mata air dan jamu yang mengandung enam rasa sebagai wujud air suci ilmu pengetahuan. Sesudah itu, umat mandi di laut untuk membersihkan diri dari segala kotoran lahir batin.

Tradisi penghormatan pada buku sebagai medium ilmu pengetahuan diwariskan merupakan salah satu nilai luhur dari generasi ke generasi di masyarakat Hindu Bali. Karena itu, Bali mampu menjaga sumber-sumber sejarah dalam bentuk pustaka dengan baik. Banyak warga Bali yang memiliki koleksi lontar secara turun-temurun dalam keluarga. Bahkan, banyak juga bahan literasi kuno mengenai kajian budaya Jawa lama yang tersimpan di Bali.

Sejarah mencatat, dalam proses runtuhnya Kerajaan Majapahit, para budayawan menyelamatkan ribuan lontar dengan membawanya ke arah timur, menuju Bali hingga Lombok. Lontar-lontar itu berisi berbagai hal, mulai seni, sastra, pengobatan, arsitektur, agama, hingga niaga. Bahkan, lontar kitab Negarakertagama pun ditemukan di Puri Pamotan Cakranegara, Gianyar.

Lontar-lontar tersebut terjaga dengan baik hingga kini. Itu membuktikan adanya upaya keras untuk menyelamatkan warisan sejarah mahapenting tersebut. Bahan dari daun lontar membuat naskah itu mudah lapuk termakan usia. Karena itu, diperlukan perawatan khusus dengan mengatur suhu tempat naskah disimpan, melapisi dengan kertas khusus, menyemprotkan obat pembasmi rayap, dan membersihkan dari debu-debu yang menempel. Perlakuan maksimal tersebut tentu tak dapat dilaksanakan terlalu sering oleh masyarakat yang menyimpan lontar di Bali. Sebab, biayanya tidak kecil.

Maka, tradisi upacara buku itu secara tidak langsung telah menjadi sebuah upaya penyelamatan pustaka secara masal. Dengan upacara Saraswati yang rutin setahun dua kali itu, pustaka-pustaka lontar maupun buku-buku mendapat penyegaran dan upaya konservasi. Buku-buku tersebut dikeluarkan dari tempat penyimpanan, diangin-anginkan agar mendapat udara segar, lalu dibersihkan. Selain itu, kerusakan buku diperbaiki agar isi buku tetap terjaga. Dengan perawatan tersebut, pustaka-pustaka kuno di Bali dapat bertahan dari gerusan usia.

Rutinitas merawat buku sesungguhnya adalah ritual menjaga napas ilmu pengetahuan. Semakin baik perlakuan atas buku, akan semakin panjang napas pengetahuan yang disebarkan. Jika mulai menguning, dipenuhi jamur, atau digerogoti rayap, buku-buku itu sebenarnya sekarat, menunggu kematian menjemput. Maka, semua bergantung kita, para pemilik buku. Akan membinasakannya, membiarkannya terus sekarat, atau memperpanjang napas kehidupannya.

Untuk itu, memperlakukan buku sebagai sumber ilmu dengan penuh ketakziman dan penghormatan memang sudah selayaknya. Upacara buku tak selalu harus berwujud upacara Saraswati. Perawatan rutin pada buku adalah upacara yang senantiasa akan mengembuskan mantra-mantra kehidupan pada buku. Meski benda mati, ia tetap "hidup" bila selalu diperlakukan seperti mahluk hidup. Ia baru mati jika sudah tak mampu berdiri, rapuh, hancur, tak bisa bersaksi, dan terlupakan. (*)

*) Diana A.V. Sasa, pengasuh situs indonesiabuku.com

**) Dimuat Jawapos, 2 Agustus 2009

0 comments: