Sunday, September 13, 2009

Mata-Mata Pengincar Buku

Walter Lionel Pforzheimer (1914- 2003)

“Selalu ada kesempatan untuk mengkoleksi sesuatu, sekalipun pada masa perang.”

Kata-kata itu diucapkan Walter Lionel Pforzheimer, seorang pengacara, kurator buku, dan agen kondang CIA (Center Intelligence Agent) . Ia bukan sedang membual, apalagi berkhayal. Apa yang dikatakannya itu sudah ia buktikan. Dalam cengkeraman maut dan bau mesiu di kancah peperangan, saat bertaruh nyawa penuh was-was menyusup ke sarang musuh sebagai mata-mata, dengan bayang-bayang ketakutan jika misinya sebagai mata-mata terbongkar, ia masih sempat mengambil sesuatu untuk dikoleksi. Salah satunya adalah buku.

Bagi Pforzeimer, buku adalah penuntun hidup. Ia mencintai buku seperti juga ia mencintai profesinya. Spionase, mata-mata. Diperlakukannya koleksinya serapat ia menjaga rahasia tertinggi negara. Untuk itu, ia bangun dua buah perpustakaan khusus di lantai 2 Apartemen Watergate. Dinding perpus itu berlapis baja, corcoran beton, dan pintu besi lengkap dengan sistem keamanan super canggih. Seakan tak diberinya celah secuil pun bagi pihak yang tak berkepentingan untuk menilik isinya. Bukan sikap yang berlebih karena memang yang disimpan adalah dokumen-dokumen rahasia dan beberapa buku tentang dunia intelejen. Dunia yang terselubung, penuh penyamaran. Ada sekira 20 ribu volume dalam kamar besi itu. Koleksi yang dikumpulkannya selama 50 tahun lebih.

Darah buku yang demikian mengombak-ombak itu diwarisinya dari ayah dan paman-pamannya: Walter Pforzeimer, Carl Pforzeimer, dan Arthur Pforzeimer. Ketiganya saudagar minyak yang sama-sama mencintai buku. Walter, sang ayah adalah kolektor buku-buku klasik Perancis. Carls, pamannya, adalah kolektor buku sastra Inggris. Sedangkan Arthur, paman satunya lagi, seorang pedagang buku.

Dari lingkungan keluarga buku, remaja ting-ting ini tumbuh menjadi pemamah buku. Juga pengumpul buku. Di usia yang baru belasan tahun itu, ia sudah termehek-mehek pada koleksi klasik Frank Stockton (1834-1902), seorang novelis, penulis cerpen, dan humoris asal Philadelphia. Untuk itu, dengan telaten, setiap pekan, ia sisihkan 50 cent dari uang sakunya untuk membeli buku. Kegemarannya ini berlanjut hingga kuliah di Universitas Yale.

Kampus Yale menjadi ladang yang kian mematangkan kecintaannya pada buku. Pada tahun keduanya di sana, ia sudah mambentuk sebuah klub buku mahasiswa. Dua tahun kemudian dia sudah menjadi orang kepercayaan termuda Asosiasi Perpustakaan Yale. Dari buku-buku yang dibacanya pula, Pforzeimer mendapat bahan yang beragam hingga menjadi ahli debat yang tangguh.

Demikian cintanya Pforzeimer pada buku, hingga saat ulang tahun yang ke 21, ia mendapat hadiah istimewa dari sang ayah. Kata ayahnya, ”Baiklah, Nak... kau tak butuh mobil baru lagi, jadi aku akan memberimu perpustakaan ini saja sebagai hadiah.” Pforzeimer tentu saja kaget tiada terkira dengan hadiah tak biasa itu. Tapi ia tahu, ayahnya pasti tahu pasti bahwa ia mampu merawat dan menjaga koleksi berharga itu. Keputusan itu ternyata tepat. Bertahun-tahun kemudian, bahkan hingga kini, koleksi itu masih terawat dengan baik, bersanding dengan koleksi buku dan dokumen intelijennya.

Seperti kebanyakan kolektor yang baru mendapat kesadaran untuk mengoleksi setelah mengalami sebuah peristiwa mencengangkan, Pforzeimer pun demikian. Awalnya ia hanya gemar membeli buku-buku intelijen karena berkaitan dengan pekerjaannya sebagai mata-mata. Hingga suatu hari, di New York, sobat lamanya, Bill McCarthy menunjukan secarik surat. Bukan surat sembarangan karena di situ tertera nama George Washington, tertanggal 26 Juli 1777, ditujukan pada Kolonel Elias Dayton, kepala bagian intel Washington di New Jersey.

Isinya: “Kebutuhan untuk memiliki intelijen yang baik sudah amat nyata dan tak perlu disanggah lagi. Semua itu mengingatkanku untuk menambahkan bahwa, kau mesti menyimpan rahasia serapat-rapatnya. Karena kesuksesan sebuah rahasia bergantung pada pengelolanya, dan karena menginginkannya, mereka umumnya terkalahkan, maka dibuatlah isu yang terencana dan menjanjikan.”

Pforzeimer sempat tercenung. Disadarinya bahwa surat di hadapannya bukanlah sesuatu yang sepele. Itu sebuah dokumen rahasia. Ia bimbang antara mengoleksi atau tidak. Apalagi barang itu didapatnya secara kebetulan saja. Tapi justru yang kebetulan itu yang jadi picu pelatuk untuk mulai mengoleksi materi-materi intelijen lainnya. Termasuk dua surat rahasia Washington yang lain yang ditunjukkannya pada semua pengunjung koleksinya kelak. Itu tersebab CIA pun tak memiliki surat-surat itu.

Pforzeimer kemudian mulai berburu materi koleksi. Dia merunut setiap dokumen rahasia dalam misi-misi penyamarannya. Pekerjaan sebagai mata-mata yang mengharuskannya keliling dunia memberi kesempatan luas untuk mendapat buku-buku dan dokumen-dokumen dari pelbagai negara.

Dalam setiap misinya, selalu ia mencuri kesempatan untuk menyelipkan buku. Beberapa diambilnya tanpa rencana, hanya sekadar mengikuti naluri. Seperti ketika ia mengambil sebuah novel Jerman sekira 1930-an berjudul Kamts Battle um Thurant. Dalam buku itu tertera sebuah plat yang bergambar garuda, swastika di bawahnya, dan sepotong nama Adolf Hitler.

Beberapa lagi ada yang diambilnya begitu saja dari beberapa kawan karena ditelantarkan dan dianggap tak penting. Karena punya warisan darah kolektor hidungnya cepat sekali mengendus mana buku yg layak dikoleksi mana yg dilewatkan.

Di antara koleksinya itu ada sebuah foto dan blangko permohonan visa seorang wanita Belanda bernama Margarethe Geertruida Zelle Meleod tahun 1917. Perempuan ini biasanya memakai nama samaran Mata Hari dan beberapa kali singgah di Indonesia. Dialah mata-mata perempuan Perancis yang paling masyhur di dunia spionase.

Pforzeimer juga memiliki koleksi langka autobiografi beberapa mata-mata. Termasuk Memoirs of Secret Service (1699) karya Matthew Smith. Ditambah lagi salinan dari Warren Commission Report atas asasinasi Presiden John F. Kennedy yang ditandatangani semua komisioner. Dia juga mengumpulkan memoar-memoar dari mantan intel, beberapa bahkan ada inskripsi khusus yang ditulis untuknya.

Koleksi-koleksi itu dibagi menjadi dua. Satu di perpustakaan intelijen CIA, dan satu miliknya pribadi. Barang-barang kuno dan antik disimpannya sendiri karena agensi tak menyimpan hal yang aneh-aneh. Koleksinya adalah buku-buku berbahasa Inggris. Sedangkan semua buku yang ada di agensi adalah buku referensi dalam banyak bahasa. Untuk itu, ia selalu membeli dua kopi untuk sebuah judul buku. Satu untuknya, dan satu untuk perpustakaan CIA.

Ketika CIA meminta koleksinya, Pfozheimer justru memutuskan untuk mengirim semua koleksi ke almamaternya, Yale. Semua-muanya. Termasuk 5 ribu koleksi ayahnya, tanpa kecuali. Begitu tegas dia menekankan bahwa semua itu untuk Yale. Karena ia yakin, di sana lah rumah yang tepat bagi harta karunnya. Menurut Pfozheimer, agensi sering ribut dan dia tak mau koleksinya jatuh ke tangan pihak yang tak mengerti nilai dari sebuah buku. Maka, dibuatnya surat kuasa yang cukup detail hanya untuk memastikan bahwa seluruh koleksinya berpindah secara bersamaan ke Yale. Tak terkecuali. Meski CIA getol menginginkannya.

Warisan Walter Lionel Pforzheimer itu kemudian menjadi literatur intelijen berbahasa Inggris terbesar di dunia. Dari sana pula semua mahasiswa di Kampus Intel Pertahanan mendapatkan sumber belajarnya. Di Yale sendiri, koleksi Pforzheimer itu terkenal dengan sebutan “Koleksi Mata-Mata”. (Diana AV Sasa)

0 comments: