Tuesday, September 8, 2009

Musuh Buku : Api

:: Diana AV Sasa
 
Dari semua kekuatan alam, api adalah musuh buku yang paling tak bersahabat dan bengis. Bayangkan, hanya dari sepercik bara yang mengenai ujung buku, ia bisa terus merambat, membesar, dan kemudian melahap seluruhnya. Dari satu kemudian menjalar ke buku-buku lain di sekitarnya. Begitu cepat dan massif. Bahkan manusia pun meminjam api sebagai alat yang paling demonstratif untuk menunjukkan kekuasaannya.

Sejarah mencatat beberapa peristiwa kehebatan api ketika melahap buku. Di antaranya yang paling besar adalah peristiwa terbakarnya perpustakaan-perpustakaan saat kebakaran hebat melanda Inggris di tahun 1666.

Tahun itu kemudian dipercaya sebagai tahun setan karena mengandung angka 666. Sekaligus tahun itu menjadi tahun paling mengenaskan bagi sejarah literasi Inggris. Bukan hanya perpustakaan pribadi yang lenyap, tapi juga perpustakaan perusahaan dan gereja. Jutaan manuskrip dan buku langka ikut jadi abu. Bahkan ribuan koleksi yang dipindahkan dari Paternoster Row dengan niat mengamankannya pun ikut hangus di katedral St. Paul.

Kebakaran hebat juga pernah melanda balai lelang Sotheby ketika sedang menawarkan koleksi Oxford. Api yang berasal dari bangunan sebelah itu menjalar ke ruang lelang dan melenyapkan beberapa koleksi langka. Seketika itu juga, lelang yang sudah memasuki hari ketiga itu dihentikan mendadak.

Di Gereja Belanda, Austin Friars sekira 1862 juga pernah nyaris melenyapkan perpustakaan di Galery Gereja Belanda. Beberapa buku yang bisa diselamatkan kondisinya sangat mengenaskan; hangus legam di sana sini. Sebagian besar basah kuyup oleh air ketika pemadam kebakaran menyemprotkan air ke atas atap. Buku-buku basah itu masih agak beruntung karena selamat dari amukan api.

Buku-buku yang hangus dan basah itu diselamatkan seorang pustakawan yang sangat sabar dan tabah. Namanya Mr. Overall. Di atas loteng buku-buku itu dijemur dan dikeringkan selama berminggu-minggu. Sebagain besar sudah tak utuh. Ada yang hilang sampulnya. Juga ada hanya tersisa satu lembar. Hangus dan bernoda di sana sini, bahkan sudah berubah bentuk jadi kusut. Buku-buku itu dicuci, direkatkan, di setrika, dan dijilid lagi dengan ketelatenan yang luar biasa. Ketelatenan yang hanya dimiliki seorang pencinta buku sejati.

Aksi si raja api melahap buku-buku langka itu tentu membuat hati banyak pencinta buku miris. Menyesal karena tak bisa berbuat banyak untuk sekadar antisipasi. Kesedihan mereka beralasan karena kecintaan mereka pada buku berdasar pada kesadaran bahwa pembuatan buku-buku langka jelas tidak mudah.

Ketika belum ada kertas, pembuatan sebuah buku memakan waktu bertahun-tahun, bahkan nyaris sepanjang hidup penulisnya. Karya-karya itu diukir di atas kulit binatang atau kulit kayu papirus, kemudian ujungnya diberi gulungan kayu sehingga untuk sebuah buku akan terdiri dari banyak sekali gulungan. Sebuah usaha yang membutuhkan ketelatenan dan dedikasi tinggi pada buku.

Para pencinta buku hanya bisa bersedih karena api yang melalap buku-buku itu sering kali berasal dari kecerobohan manusia. Sebuah ketidaksengajaan. Tapi bagaimana ketika manusia dengan sengaja menggunakan api untuk membakar buku?

Kronik dunia menyimpan beberapa peristiwa pembakaran buku yang sengaja dilakukan manusia untuk meneguhkan kekuasaan. Yang paling tua dan sering didengungkan adalah peristiwa terbakarnya Perpustakaan Akbar Iskandariah pada 47 M.

Ada dua versi cerita yang berbeda tentang terbakarnya perpustakaan ini.

Ketika itu Julius Caesar memerintahkan anak buahnya untuk membakar kapal yang bersandar di pelabuhan agar tak dirampas Mesir. Itu dilakukan untuk mempertahankan wilayah kekuasannnya agar tak beralih ke tangan Mesir. Tapi api ternyata merembet ke pelbagai bangunan di sekitar pelabuhan termasuk perpustakaan yang didalamnya terdapat 400 ribu gulung manuskrip dari kertas papirus.

Versi lain mengatakan bahwa pembakar perpustakaan itu adalah Khalifah Umar yang menguasai Alexandria pada 640 SM. Perkataan Umar yang sering dikutip adalah “Semua buku-buku itu akan bertentangan dengan isi al-Qur’an, dan itu adalah bid’ah, atau mereka menyepakatinya, maka mereka telah berlebihan”. Perpustakaan itupun dihancurkan dengan api hingga lebur.

Terlepas dari cerita mana yang benar, peristiwa pembakaran Perpustakaan Alexandria adalah sebuah peristiwa penghilangan bukti sejarah terbesar yang pernah ada. Mesti diakui bahwa perpustakaan itu menyimpan lebih dari setengah juta dokumen dari Siria, Yunani, Persia, Mesir, India, dan banyak negara lain. Di perpustakaan itu pula banyak pelajar yang melakukan penelitian, menulis, menerjemahkan, dan menyalin literasi-literasi penting. Dengan musnahnya perpustakaan besar yang merupakan sumber terbesar pengetahuan dunia itu, maka sejarah, sastra, dan pembelajaran penting peradaban ikut pula musnah.

Parahnya lagi, pada 378-396 M, Kaisar Romawi Theodosius mengulang kebodohan serupa. Ia memerintahkan pembakaran perpustakaan Alexandria yang telah berusaha dibangun lagi dengan susah-payah oleh Antonius pada 41 M itu.

Peristiwa pembakaran buku atas nama tirani kekuasan terjadi pula ketika kerajaan Persia mengalahkan Babilonia pada 539 SM. Pelbagai manuskrip penting hilang terbakar dalam perang itu. Di Cina Daratan, pendiri dinasti Qin, Shi Huang-ti (246-210 SM) memerintahkan pembakaran buku-buku Konfusian pada 213 SM.

Di Jerman, Hitler memerintahkan tentara Nazi merampas semua literatur yang menurutnya bobrok dan bertentangan dengan kebijakan Jerman. Karya-karya besar dari Sigmund Freud, Karl Marx, Heinrich Hiene, dihancurkan pada 10 Mei 1933 dengan membakarnya sampai suhu api mencapai 451 derajad Fahrenheit. (Peristiwa ini digambarkan dengan gamblang dalam film garapan Fran├žois Truffaut berjudul Fahrenheit 451—lihat bagian FILM BUKU).

Aksi manusia yang menggunakan api untuk membakar buku sebagai bentuk pemuasan terhadap legitimasi kekuasaan ini berlanjut sampai ke abad milenium. Beberapa waktu lalu, sekira bulan Mei 2008, Menteri Kebudayaan Mesir, Faruq Husni, seorang kandidat ketua UNESCO mengeluarkan pernyataan yang membuat banyak orang gerah. Ia mengancam, “Saya akan bakar buku-buku Israel secara pribadi jika saya dapati buku itu ada di perpustakaan Mesir.”

Faruq mengatakan itu dua abad lebih setelah peristiwa Alexandria atau Babilonia dan/atau 70 puluh tahun setelah Nazi membakar buku. Ini adalah bukti bahwa pembakaran buku telah menjadi budaya bagi orang-orang yang ingin melanggengkan tirani. Mereka menganggap buku sebagai sebuah ancaman.

Dari masa sebelum Masehi hingga sekarang, manusia telah menggunakan api sebagai alat legitimasi kekuasaannya. Api dipakai untuk membakar buku-buku yang tak sejalan dengan sistem tiran yang mereka jalankan. Lama kelamaan pembakaran buku tak lagi menjadi peristiwa luar biasa. Ini telah menjadi budaya laten bagi orang-orang yang berpikiran sempit. Orang-orang yang menyatakan ketidaksetujuannya dengan mengusung api sebagai senjata pemusnahan. Ketika ada buku yang isinya berbeda dengan kebenaran yang mereka yakini, maka senjata itu akan diacungkan. Api dikobarkan. Buku dimusnahkan.

Bagi pencinta buku yang mengerti betul jerih payah pembuatan sebuah buku, berikut manfaat buku bagi peradaban, pasti menangis darah menyaksikan api meluluhlantahkan buku dengan kesengajaan yang nyata. Buku memang merupakan alat agitasi dan sekaligus perang pikiran yang efektif. Tapi melawan buku dengan api adalah sebuah tindakan yang tak bijak. Bertentangan dengan kearifan ilmu pengetahuan. (*)

0 comments: