Tuesday, December 22, 2009

Refleksi Baca-Tulis 2009

Bagi saya, ada yang berubah tahun ini dalam membaca-menulis. Saya membeli banyak sekali buku (hampir 400% kenaikannya dibanding 2008), dan hanya membaca beberapa. Jujur, saya tergoda sekali dengan buku-buku tebal, meski kadang isinya tak bagus-bagus amat, tapi saya suka (mungkin saya mulai terjangkit bibliomania dan bukannya bibliosophia). Obsesi saya memang, selagi punya uang, saya beli buku sebanyak-banyaknya, bacanya bisa nanti-nanti, yang penting beli dulu. Kalau suatu saat saya tak punya uang dan tak mampu membeli buku, saya tak perlu khawatir karena tetap bisa membaca buku-buku yang saya beli jauh-jauh hari dan belum terbaca.

Pelajaran saya dalam membeli buku di tahun ini adalah: menaikkan budget. Jika dulu saya hanya memberikan budget buku 100-200 ribu sebulan, maka tahun ini saya menaikkannya menjadi 500 ribu setiapkali terima honor (tak selalu setiap bulan. Jika honor besar, saya menaikkan budget menjadi 1juta. Ternyata dengan cara ini, saya sudah tak lagi memandang buku sebagai barang mahal. Biasa saja, seperti saya membeli kosmetik Natasya yang harganya lebih mahal dari rata-rata harga buku.

Tahun ini jarang sekali saya bisa membaca dengan nikmat. Saya membaca untuk keperluan menulis saja. Maka, bacaan saya kebanyakan seputar apa yang saya tulis. Saya membaca beberapa buku seputar pemilu karena sempat menulis buku Golput/diGolputkan (gagal terbit), kemudian buku seputar perpustakaan, dan buku mengenai Susilo Bambang Yudhoyono (ada sekira 11 buku saya baca sekilas, tapi hanya 3 yang saya baca tuntas). Saya juga membaca dua buku yang sangat ingin saya tulis resensinya tapi belum terlaksana, yaitu buku Merupa Buku (ini tentang evolusi dunia sampul buku karya Koskow) dan Menyulut Lahan Kering Perlawanan(tentang aktivs pergerakan 90an, Andi Munajat).

Namun ada beberapa buku yang saya baca dengan nikmat dan meninggalkan kesan yang menggerakkan (buat saya, buku bagus adalah buku yang mampu menggerakkan saya setelah membacanya):
1. Rahasia di Balik Dapur Si Tukang Masak (Bara Pattiradjawane)
2. Ouch!!! (Melanie Subono)

Kedua buku ini menyadarkan saya mengenai pentingnya catatan harian (lagi dan lagi). Setelah kehilangan 14 catataan harian dan menikah, saya memang kehilangan nafsu menulis catatan harian. Sesekali saja saya lakukan. Buku ini membuat saya bangun dan menulis lagi, tak ada peristiwa yang bisa diulang, karena hari terus bergerak maju. Sekali peristiwa tak tercatat, ia akan lewat selamanya. Siapa lagi yang akan mendokumentasikan sejarah diri sendiri jika bukan diri sendiri juga?

2009 adalah sebuah kebangkitan bagi saya. Ditahun ini, saya merasa mengalami sebuah revolusi besar dalam hidup. Belum pernah saya sebahagia ini, menemukan apa yang saya cari dan melakukan apa yang saya suka: Menulis. Dan revolusi itu berkat budi baik seorang sahabat, Muhidin M Dahlan. Ia yang menemukan saya dalam ceruk gelap keputusasaan dan rintihan cengeng di Friendster dan kemudian menyulut api hingga saya bisa melihat jalan keluar yang benderang. Ia yang menuntun saya untuk sembuh dari depresi dengan cara menulis. Ia yang menunjukkan pada saya bahwa hidup terlampau pendek untuk disia-siakan dalam keluh kesah. Berpikir positif, berkarya positif, dan tetap tekun dengan pilihan, itu yang ia ajarkan pada saya.

Muhidin benar, tanpa saya sadari, saya telah menghasilkan 1 buku setebal 668 halaman bersamanya, Para Penggila Buku:100 Catatan di Balik Buku, Mari Membuat Perpustakaan Kreatif, dan minibiografi Ani Yudhoyono dalam buku 10 Ibu Bangsa sebanyak 19 ribu karakter. Bersama Muhidin juga, kami bisa mewujudkan keinginan kawan seniman yang ingin beramal dengan buku. Kami fasilitasi sebuah perpustakaan kampung di puncak gunung Brengos, Pacitan berikut sebuah buku karya anak-anak Pakisbaru, Kepada Ibu Negara:151 Suara Hati Anak-anak Puncak Brengos. Kami juga melahirkan dua buah situs yang kami pelihara dengan tekun, www.indonesiabuku.com (menghimpun kronik berita buku Indonesia) dan www.gelaranalmanak.com (direktori senirupa Indonesia-masih dalam proses unggah data).

Dan yang paling membuat saya puas adalah ketika kami mampu menggelar kampanye membaca-menulis di Pacitan, Ponorogo, Magetan, Jakarta, Bandung, Jogja, Surabaya, dan Solo dengan perantara Para Penggila Buku. Kegiatan itu tak akan terselenggara tanpa budi baik kawan-kawan Good Reads Indonesia, Asosiasi Penulis Anita, Newseum,Iboekoe, Gedung Indonesia Menggugat, Emperan Sastra Cok, Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia, C2O Library, Kaoem Dewantara Institut, dan semua media masa yang telah mendukung: Jawa Pos, Radio Suara Surabaya, Surabaya Pos, Radar Madiun, Kedaulatan Rakyat, Kompas, API Indonesia, Joglo Semar, Solo Pos, Suara Merdeka, dan Radio Republik Indonesia Pro 2 Jakarta. Salam kekaguman dan terimakasih saya juga kepada kawan-kawan blogger yang telah banyak menyebarkan informasi acara kami. Semoga apa yang kami berikan bermanfaat.

Apa yang telah saya mulai di 2009, ingin saya lanjutkan di 2010. Bersama Muhidin juga, saya ingin melahirkan satu anak lagi dari Para Penggila Buku, dan satu buku mengenai Senirupa (kami telah mewawancara 60 seniman sebagai persiapan). Satu kebanggaan bila satu lagi perpustakaan kampung dapat kami buat juga di 2010. Tiga target minimal itu akan saya jadikan patok keberhasilan saya tahun 2010. Bila ada pencapaian lain, itu bonus.
Ours

Ours

0 comments: