Thursday, December 16, 2010

Sri Tulis dari Lemah Tulis

Oleh : Diana AV Sasa
 Pupuh 1 

Kami, aku, adalah kalangwan. Bangsawan dan kalangan kerajaan menyebut penulis keindahan dengan sebutan itu. Aku lupa sejak kapan diriku dinobatkan menjadi kalangwan. Tiap hari lakuku adalah bergulat menggubah syair negeri manca menjadi kakawin di atas lontar. Mulanya Sakakala, kemudian Lambang, lalu Parwasagara, dan kemudian Bhismasarana, hingga akhirnya menuliskan kembali kisah Sang Buddha.

Aku mengaji kakawin dari Maha Guruku di Padepokan Lemah Tulis. Di sana aku ditempa bertahun-tahun dengan samadi, mengguguh tata krama hidup, kakawin, dan ilmu tulis-menulis. Sudah bergenerasi-generasi kami dididik dengan itu. Hingga aku diizinkan Maha Guru, atas permintaan Baginda Sri Nata, memiliki sebuah kamar istimewa di Kadharmadhyaksan, sebuah perdikan yang tak jauh dari Kutaraja untuk para Dharmadhyaksa.

Sunday, November 14, 2010

Ayo Menulis Sejarah Kampung

:: Diana AV Sasa

”Tidak mungkin ada penulis buku yang mampu merangkum keseluruhan yang ada dan dialami kota Surabaya”.

Kalimat pesimis  ini ditulis seorang guru besar dari ITS yang dikenal sebagai pakar tata kota, John Silas, dalam pengantar buku karya Akhudiat, Masuk Kampung Keluar Kampung: Surabaya Kilas Balik (2008). Buku ini adalah sekumpulan esai Akhudiat tentang kampung-kampung dan situs-situs penanda kota Surabaya yang diceritakan berdasar pengetahuan, pengalaman, dan ingatan penulis.

Wednesday, October 13, 2010

Pemerintah Anggap Pelarangan Buku Tetap Sah

TEMPO Interaktif, Jakarta - Meski Mahkamah Konstitusi memutuskan mencabut Undang-undang nomor 4/PNPS/tahun 1963 yang membolehkan Kejaksaan melarang buku, bukan berarti buku sama sekali tak bisa dilarang.

"Di sini tidak ada yang terkurangi dari kewenangan Kejaksaan, orangnya kalau (melanggar) pidana, ya berarti dilaporkan sesuai pemidanaan, kalau perdata ya bisa digugat melalui hal-hal keperdataan. Tidak ada menang kalah," kata Kepala Sub Dit Penyiapan dan Pendampingan Sidang Makamah Konstitusi Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia Mualimin Abdi seusai sidang di Mahkamah Konstitusi, Rabu (13/10).

Wednesday, September 29, 2010

Catatan Pertama dan Terakhir untuk UMI

Umi...
Catatan sejarahmu sampai diakhir sudah
Disana telah kau kisahkan sejumput kecintaan dan kepedihan
Darinya, kelak putramu akan belajar tentang ketegaran hidup

Kau bukan seorang yang dikenal publik luas.
Tapi darimu aku belajar tentang arti persahabtan dan kepedulian keluarga besar kesenian
Kau pula ajarkan ketahanan mengahadapi kematian di depan mata

Monday, August 16, 2010

Penerbit, Hargailah Pembacamu!

Diana A.V. Sasa*

Di rubrik ini, dua minggu lalu (1/8/2010), Sunaryono Basuki dalam tulisannya, Buku Cetak Ulang, Lebih Menguntungkan, saya bayangkan sedang menuding pembaca dengan pongahnya sembari menjadi pembela penerbit yang ciamik.

Contoh pembaca yang kecewa karena merasa dikibuli penerbit setelah membeli buku Budi Darma, bila saya boleh sedikit “rumangsa” rupanya merujuk kepada tulisan saya di rubrik ini (Mempertanyakan Etika Penerbit Buku Recycle, 30/11/2008). Dalam tulisan itu, sepenuhnya saya mempertanyakan etika penerbit yang dalam menerbitkan ulang sebuah buku melakukan pengabaian hak-hak pembaca dalam mendapatkan informasi yang lengkap mengenai kabaruan dan pembedanya dengan terbitan sebelumnya. Jadi, tak semata soal penting-tidak penerbitan ulang karya-karya lama.

Wednesday, April 21, 2010

Di Jalan Raya Melawan dengan Vespa “Tetanus”



::Diana AV Sasa*)

Sepuluh tahun lalu, kami mengenalnya sebagai lelaki rombeng berpeci miring dengan baju tahanan Polwiltabes Surabaya bernomor 028—yang di kemudian hari saya tahu baju itu menjadi saksi sejarah bahwa ia pernah dituduh sebagai provokator demonstrasi buruh Maspion. Ia menenteng megaphone warna merah dan berteriak menonjok-nonjok di tengah lapangan. Taufik Hidayat yang kerap dipanggil Monyong itu seperti macan podium di kampus kami, Universitas Negeri Surabaya (UNESA). 

Saturday, April 10, 2010

H.E. Huntington: Ambisi Jawara Buku

::Diana AV Sasa

Budaya Aristrokrasi mengusung kemegahan dan kemewahan sebagai simbol status sosial. Setiap orang berusaha menunjukan kelasnya dengan pelbagai cara. Kian besar nama mereka, kian mereka akan diperbincangkan dari mulut ke mulut dan tetap dikenang setelah kematiannya.

Penanda akan kehadirannya pun dibuat dalam ragam bentuk. Budaya itu berkembang turun-temurun sampai pada zaman modern. Adalah Henry Edwards Huntington, salah seorang yang mewarisi budaya itu. Kebesaran namanya dikenang dengan beberapa monumen atas namanya. Pantai Huntington, Taman Huntington, Perpustakaan Huntington, Hotel Huntington (Sekarang The Langham, Huntington Hotel and Spa), Rumah sakit Huntington, Sekolah Henry E Huntington, dan Huntington Drive (sebuah bulevard dengan bagian tengah disajikan seperti Jalan Kereta Api Elektrik Pasifik).

Tuesday, March 30, 2010

Taufik Monyong: Dari Jalanan Dia Melawan

Catatan Pengantar untuk Pameran Taufik, Street Rebel, 9-14 April 2010, Galeri Orasis,Surabaya
Oleh: Diana AV Sasa*)


Saya masih bagian dari 1500 orang mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (UNESA) angkatan 1999 ketika kali pertama mengenalnya. Ia memakai baju tahanan Polwiltabes Surabaya dengan nomor 028—yang di kemudian hari saya tahu menjadi saksi sejarah bahwa ia pernah dituduh sebagai provokator demonstrasi buruh Maspion. Demikian juga di hari itu, lelaki rombeng berpeci miring itu menenteng megaphone warna merah dan berteriak menonjok-nonjok di tengah lapangan disertai arahan ini itu sana sini pada kami yang berpeluhan di bawah langit Surabaya.

Thursday, March 11, 2010

Para Penggila Buku

:: Kurnia Effendi

(penulis cerpen dan penggemar buku)

Siapa sebenarnya yang disebut para penggila buku? Apakah mereka yang jadi gila gara-gara buku? Mari kita iseng berkunjung ke rumah sakit jiwa, adakah salah satu di antara mereka yang terkurung di situ lantaran sebuah buku? Boleh jadi, ada. Sering terjadi seseorang yang “ngelmu” (mencari ilmu yang terkait dengan kebatinan dan dunia tak tampak), mempelajari buku yang diberikan oleh guru “spiritualnya”, lalu karena tak sanggup menanggungkan secara mental, maka sintinglah dia. Jadi kesimpulannya, bukan dia sebagai penggila buku, tetapi gila akibat isi buku yang dibacanya.

Saturday, February 20, 2010

Ironi Stagen Lasmi

:: Diana AV Sasa

Lasmi, perempuan desa itu membaca Di Bawah Bendera Revolusi-nya Bung Karno, Habis Gelap Terbitlah Terang-nya Kartini, juga novel-novel Pujangga Baru. Ia terpesona gagasan Bung Hatta tentang koperasi dan menyukai gagasan Bung Karno tentang negeri ini. Sutikno terpesona Lasmi pada aktivitasnya, pikirannya yang progresif, dan caranya berargumentasi. Meraka kemudian menjalani kehidupan sebagai dua orang berpikiran terbuka, progresif, maju dan membangun rumah tangga ideal a la aktivis pergerakan masa itu.

Tuesday, January 5, 2010

Ibu Negara, Ibu Buku

:: Diana AV Sasa
 
Beijing, China, 31 Juli 2007, Ibu Negara Kristiani Herawati Yudhoyono beridato di atas mimbar sidang UNESCO (United Nations Educational Scientific and Cultural Organization). Ia memutar film untuk memaparkan fakta-fakta dan hasil yang bisa dicapai program perpustakaan keliling Indonesia Pintar melalui sarana mobil pintar, motor pintar, kapal pintar, dan rumah pintar. Pihak UNESCO pun terpikat. Program Ani dianggap sebagai suatu kegiatan pemberantasan buta aksara dan memberikan pendidikan bagi masyarakat yang tak terjangkau.

Sunday, January 3, 2010

Diana AV Sasa, Penggila Buku dari Puncak Gunung Brengos

:: Risang Anom Pujayanto

Salah satu penulis buku Lekra Tak Membakar Buku yang saat ini dicekal, Muhidin M Dahlan pernah mengibaratkan perjalanan menuju ke kediaman Diana Amaliyah Verawati Sasa yang berada di ketinggian 1.118 dpl itu bak membaca tiga novel sekaligus. Seratus Tahun Kesunyian karya Gabriel Garzia Marquez, The God of Small Thing karya Arundhati Roy dan Ayat-Ayat Setan karya Salman Rushdie. Tempat tinggal yang dikelilingi bebatuan pegunungan tandus, dingin dan berkabut itu bernama Desa Pakis Baru, Kecamatan Nawangan, Kabupaten Pacitan. Jaraknya sekitar 50 km dari pusat Pacitan atau 70 km dari jantung Ponorogo. Di sana, sukar sekali mencari hiburan selain radio.