Thursday, March 11, 2010

Para Penggila Buku

:: Kurnia Effendi

(penulis cerpen dan penggemar buku)

Siapa sebenarnya yang disebut para penggila buku? Apakah mereka yang jadi gila gara-gara buku? Mari kita iseng berkunjung ke rumah sakit jiwa, adakah salah satu di antara mereka yang terkurung di situ lantaran sebuah buku? Boleh jadi, ada. Sering terjadi seseorang yang “ngelmu” (mencari ilmu yang terkait dengan kebatinan dan dunia tak tampak), mempelajari buku yang diberikan oleh guru “spiritualnya”, lalu karena tak sanggup menanggungkan secara mental, maka sintinglah dia. Jadi kesimpulannya, bukan dia sebagai penggila buku, tetapi gila akibat isi buku yang dibacanya.


Dalam rangka memperingati Hari Buku Nasional (17 Mei) dan Hari Kebangkitan Nasional (20 Mei), Indonesia Buku bersama dengan Goodreads Indonesia (GRI), Kutu Buku Gila (Kubugil), dan Asosiasi Penulis Cerita (ANITA), menyelenggarakan peluncuran dan diskusi buku “Para Penggila Buku”. Bertempat di Newseum CafĂ© dengan pembicara kedua penulisnya, yakni Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan, didampingi oleh Taufik Rahzen, dan Aldo dari GRI. Bertindak sebagai moderator, Lita dari GRI. Acara dipandu oleh Kurnia Effendi dari ANITA.

Siapa ingat akan Hari Buku Nasional?  Mungkin hanya segelintir. Tanggal 17 Mei diambil dari peristiwa berdirinya IKAPI tahun 1950. Sementara para penerbit Yogya menolaknya dengan membuat ikatan penerbit dengan aneka nama. Biarlah masing-masing berbeda pendapat, yang penting adalah esensinya, bahwa buku memiliki hari kebesaran.

Adalah Muhidin M Dahlan (yang lebih dikenal dengan Gus Muh), dengan pengalamannya di dunia penerbitan di kawasan Yogya, berniat mengumpulkan sejumah besar esainya tentang buku yang dimuat di pelbagai media massa. Ia melihat potensi besar pada Diana Sasa, aktivis sosial dan politik asal Surabaya yang juga banyak menulis dunia buku terutama di harian Jawa Pos. Dengan bujukan yang membesarkan hati, Gus Muh berhasil menaklukkan Diana Sasa yang akhirnya bersedia menulis (menyusun) bersama 100 catatan di balik buku.

Di dalam buku yang tebalnya 668 halaman itu, dibahas 8 topik besar, yakni: Kisah Buku, Klub Buku, Musuh Buku, Guru Buku, Revolusi Buku, Film Buku, Rumah Buku, dan Tokoh Buku. Seratus esai di dalamnya itu dikumpulkan dan dilengkapi dalam waktu beberapa bulan (sejak Oktober 2008) dan akhirnya dapat menjadi saksi Hari Kebangkitan Nasional 2009.

Apa hebatnya sebuah buku? Tidak dapat diurai dengan sebaris kalimat atau sekuplet paragraf. Setidaknya ada Nehru, William Chester Minor, WJS Poerwadarminta, Ruth Baldwin, Haryoto Kunto, Om Whie, Pramoedya Ananta Toer, Oprah Winfrey, Kiswanti, dll, berada di balik peristiwa buku. Ada yang menganggapnya sebagai jendela dunia, ada yang cemas ketika televisi hadir ‘menggantikan’ buku, ada yang menyimpannya sebagai saksi sejarah, ada yang memopulerkan dengan cara masing-masing, ada yang memperjuangkannya agar terus dibaca oleh banyak orang.

Dengan membaca buku “Para Penggila Buku”, kita jadi tahu bahwa buku memiliki energi luar biasa. Adakah yang sanggup menyingkirkannya dari muka bumi? Bahkan saat lahir dunia gambar melalui kotak kaca berwarna, buku bergeming sebagai sesuatu yang tak luntur dimakan kemajuan. Saat  internet melaju dengan perkembangan luar biasa, adakah yang membawa-bawa laptop sambil antre di bank, berdesakan  dalam bus kota, atau membisu di toilet  hanya untuk membaca sepucuk kisah? Saat sahabat ulang tahun, buku masih sangat berharga dan menunjukkan kasih berkepanjangan jika dihadiahkan. Dengan keindahan sampul dan formatnya, terkadang buku menjelma karya seni yang patut diabadikan dalam sebuah simpanan.

Jadi, ya, buku mengandung energi yang sanggup membuat seseorang mengganti rasa putus asa menjadi semangat menggelora. Sebagai contoh buku “Laskar Pelangi” karya Andrea Hirata yang menjadi inspirasi bagi anak-anak putus sekolah di seantero Indonesia. Atau novel amarah berjudul “The Catcher in The Rye” karya JD Salinger yang memengaruhi pembacanya sampai ia membunuh John Lenon. Banyak pula buku Dale Carnegie telah berjasa membangkitkan jiwa, mengubah perilaku orang menjadi positif, seperti halnya Stephen Covey dengan “Seven Habit”-nya. Dan sejumlah buku buruk di masa remaja, karya Enny Arrow, membuat kita matang sebelum waktunya.

Buku ditulis dengan berbagai maksud. Wahyu yang turun kepada Rasulullah Muhammad SAW, sebagai risalah kekhalifahan di bumi, dengan ingatan yang dijaga oleh Allah, tertera secara estafet melalui perjalanan zaman sampai kemudian menjadi Al-Quran. Tentu Empu Walmiki, Nostra Damus, Djajabaya, dan Ronggowarsito, adalah para pujangga yang dikenal memiliki konsep atas kehidupan bernegara dan bermasyarakat, telah mewariskan banyak spirit yang energinya terus tersimpan hingga entah kapan. Strategi perang Sun Tzu, tak mungkin dikenal banyak orang di dunia (bahkan untuk kalangan ekonom) jika tidak diterbitkan dalam bentuk buku. Jadi benar kata Nehru, buku adalah jendela dunia. Tidak hanya bagi pembacanya, karena Karl May yang tak pernah menjelajahi Amerika Selatan sanggup menulis ribuan halaman tentang Old Shatterhand dan dunia Indian dengan latar tempat yang rinci.

Mengapa buku kadang kesepian tak memiliki pembaca? Jangan khawatir. Kata Gus Muh, buku memiliki nasibnya sendiri. Siapa menyangka buku “Ayat-Ayat Cinta” (Habiburrahman El-Shirazi) menjadi begitu populer? Mengapa JK Rowlings mampu menyihir pembaca segala umur di dunia dengan serial Harry Potter yang pernah ditolak beberapa penerbit di Inggris? Mengapa Lupus mewabah di kalangan remaja tahun 80-an dan kini giliran Raditya Dika heboh dengan “Kambing Jantan”? Tentu ada banyak faktor yang membuat buku itu memiliki perjalanan yang berbeda. Mulai dari materi sampai cara mengemas dan memperkenalkannya.

Para penggila buku, misalnya yang tergabung dalam Kubugil, adalah orang-orang militan yang membaca buku antara 10 -15 judul dalam sebulan. Tak hanya itu, mereka juga menuliskan kesannya dalam sebuah resensi, meski kebanyakan untuk konsumsi blogger. Para penggila buku semacam Kiswanti yang dengan sepedanya mengelilingkan perpustakaan, pasti menyimpan energi positif yang tak dapat dinilai dengan uang. Tapi, apakah ada penggila buku yang justru memiliki buku-buku dengan cara mencuri? Ada. Namanya Stephen Carrie Blumberg. Baca saja buku “Para Penggila Buku”, lengkap tertulis di sana kisahnya.

Bagi para pendiri republik ini, buku adalah bagian yang paling besar mengisi hidup mereka. Soekarno, Hatta, Syahrir, Tan Malaka… Buku sering menjadi parameter intelektual. Buku yang kita cintai juga memiliki musuh alami: air, api, rayap. Maka penjahat paling besar terhadap buku adalah mereka yang membakar buku-buku. Karya intelektual langsung musnah dan tak berjejak kecuali sebagai abu yang tak terdaur ulang.

Untuk gemar membaca saja merupakan perjuangan yang berat di era audio-visual. Tetapi bagi keluarga yang anak-anaknya penggila buku, justru kerepotan memenuhi konsumsi mereka. Bayangkan, sekarang harga buku relatif mahal. Dana untuk membeli buku sering dinomorsekiankan. Lalu, bagaimana cara kita bisa memiliki? Menabung? Kalau hanya ingin membacanya, kini perpustakaan tumbuh di mana-mana. Milik negara, lembaga pendidikan, lembaga keagamaan, LSM, juga didirikan oleh orang-orang yang begitu cinta terhadap buku. Misalnya Oei Hiem Whie di Surabaya, Sigit Susanto dan Maria Bo Niok dari Apresiasi Sastra, juga kiprah Yessy Gusman dengan jaringan perpustakaannya di seluruh Indonesia. Sementara itu, Taufik Rahzen, diam-diam telah memiliki 14.000 koleksi buku dalam perpustakaan yang terbagi di beberapa kota, di antaranya Jakarta dan Yogyakarta.

Harapan Taufik Rahzen, buku harus terus diperjuangkan keberadaannya. Ia telah memiliki banyak pengalaman menerbitkan buku dengan segala risiko kerugian atas biaya produksi. Belakangan dengan siasat memadukan karya tulisan dengan karya seni rupa, buku dapat memiliki nilai yang tinggi. Memang benar, mungkin ada yang membeli dengan harga ratusan juta untuk satu eksemplar, tetapi apakah itu dijamin akan dibaca banyak orang? Bagaimanapun, buku dicetak terutama untuk dibaca.

Namun ada satu hal yang menarik dalam ungkapan Taufik, yakni tentang “artefax in the future”. Buku yang kita beli hari ini, yang kita baca saat ini, yang kita miliki dalam beberapa tahun ini, adalah buku yang akan sangat bernilai di masa depan. Contohnya “Di Bawah Bendera Revolusi” karya Soekarno, pernah dijual dengan harga jutaan karena langka. Jadi, pada suatu saat, sejarah (kenangan) memang menjadi panglima dalam sebuah industri. Retrospeksi selalu menarik dan dirindukan karena seseorang akan dibebaskan mengenang hal-hal besar di masa lalu.

Dari sisi itu ada benarnya bahwa buku memang tak akan terkubur oleh zaman. Terutama jika kandungan isinya mampu mencerahkan dari berbagai sudut pandang. Buku kumpulan puisi Hamzah Fanshuri, akan menjadi keindahan tersendiri yang bercahaya di masa lampau. Nietze masih dibaca hingga hari ini. Dan banyak lagi. Mereka adalah energi yang tak kunjung habis.
 
Memang tak perlu menjadi penggila buku. Bacalah buku sebelum dilarang membaca buku. Berbuku-buku ilmu telah melahirkan pengarang yang menulis ilmu berbuku-buku. ***

Sumber : Indonesia buku

0 comments: