Tuesday, March 30, 2010

Taufik Monyong: Dari Jalanan Dia Melawan

Catatan Pengantar untuk Pameran Taufik, Street Rebel, 9-14 April 2010, Galeri Orasis,Surabaya
Oleh: Diana AV Sasa*)


Saya masih bagian dari 1500 orang mahasiswa baru Universitas Negeri Surabaya (UNESA) angkatan 1999 ketika kali pertama mengenalnya. Ia memakai baju tahanan Polwiltabes Surabaya dengan nomor 028—yang di kemudian hari saya tahu menjadi saksi sejarah bahwa ia pernah dituduh sebagai provokator demonstrasi buruh Maspion. Demikian juga di hari itu, lelaki rombeng berpeci miring itu menenteng megaphone warna merah dan berteriak menonjok-nonjok di tengah lapangan disertai arahan ini itu sana sini pada kami yang berpeluhan di bawah langit Surabaya.



Kemudian hari, ketika saya aktif di Badan Eksekutif Mahasiswa Fakultas Bahasa dan Seni (BEM FBS) UNESA, dia menjadi salah satu mentor saya dalam gerakan mahasiswa. Dia mengajak mahasiswa baru berdiskusi tentang filsafat, politik, agama, hingga seni. Taufik Hidayat alias Monyong, ketua Sanggar Abu Abu (sebuah sanggar tempat kawan-kawan belajar tentang Sosialisme dan gerakan pendampingan kaum marjinal perkotaan) itu, mengajari saya bagaimana menggelar pemberontakan pada sistem kampus yang tak berpihak pada mahasiswa.

Taufik adalah mahasiswa yang kerap menjadi “pusat perhatian”. Bukan hanya karena ia angkatan “tua” yang nyaris menjadi mahasiswa abadi, tapi juga karena ia selalu muncul di setiap panggung kampus dengan suara lantang dan berondongan kata-kata dari mulutnya yang nyerocos sulit dibendung. Di setiap mimbar bebas ia bicara dengan kritis dan pedas. Di setiap aksi demonstarsi tangan kanannya selalu mencekau batang megaphone. Ia tak gentar meski kuliahnya terancam surat Drop Out. Ia terus menyulut kompor hingga saya dan kawan-kawan menaiki lagi mimbar bebas, menggelar lagi happening art, dan berbaris lagi dalam himpunan demonstrasi hingga membuat petinggi kampus ketar-ketir.

Demonstrasi dan mimbar bebas adalah panggung seni bagi Taufik Monyong. Kritik dan pemberontakan atas sistem kampus dan negara ia ekspresikan melalui kesenian. Seni baginya adalah musik, lukisan, dan ekspresi gerak tubuh.

Bersama Tepe, Candra, Berti, dan Ubun, ia membentuk band bernama Piknik. Karena nama itu terlihat kurang gahar dan nendang, Piknik pun bersulih menjadi Kebun Binatang. Kata Taufik, nama itu lebih pas karena dari sudut pandang mana pun lebih mudah mengajari binatang daripada mengajari manusia. Mereka membawakan musik bergenre alternative rock untuk menyampaikan kritik pada penguasa. Bagi mereka, siapa pun yang berseberangan dengan nilai yang mereka usung adalah binatang.

Pemberontakan juga ia sampaikan melalui coretan di atas kanvas. Sewaktu menjadi mahasiswa, ia menggelar pameran tunggal Traditional Decorative (1996) di Kantor Kec. Randu Agung, Lumajang dan Dua Sisi (2002) di Café Djendela, Surabaya. Juga mengikuti beberapa pameran bersama.

Tapi, dari semua itu, street performance (demikian Taufik menamai aksinya) adalah kecintaannya. Di sana ia mengeksplorasi tubuh dengan gerak, coretan, dan musik. Maka saya tak lagi terkejut bila pagi hari ketika tiba di pelataran kampus mendapati dia dan beberapa kawan sudah bermandi lumpur dan mengotori halaman.

Street Performance Taufik adalah alamat bahwa hari itu akan banyak kelas dikosongkan dengan paksa. Disusul siang harinya, angkutan warna hijau dengan kode G akan terparkir berjajar di pinggiran jalan kampus. Dan tak lama kemudian, selebaran-selebaran menyebar dari tangan ke tangan disusul teriakan membakar semangat. Poster-poster pun dibentangkan. Dan wassalam saja dengan perkuliahan. Dosen-dosen yang tetap mengajar akan angkat tangan ketika pintu kelas digedor dan mahasiswanya digiring keluar kelas. Sebab Taufik memanggil-manggil dengan suaranya yang keras dan sengak di telinga: “Ayo kawan…penuhi jalan raya..sampai kita bertemu di sana, di pintu Rektorat. Kawan semua… kini saatnya serbu rektorat…!!!”

Demonstrasi, aksi turun jalan, adalah ruang di mana Taufik belajar menempa diri. Sebagai mahasiswa jurusan Senirupa, ia menjadikan ruang ini sebagai media berkarya. Bagi Taufik, tak ada demonstrasi tanpa sentuhan aksi teatrikal (yang disebutnya street performance itu). Ada saja idenya. Mulai telanjang hanya berbalut lumpur hingga membakar toga saat upacara wisuda (sumpah, dia tak akan berani membakar ijasahnya!!!).

Setelah kampus meluluskannya dengan “terpaksa” karena sudah eneg dengan ulahnya, ia pun menjajal dunia politik praktis. Namanya pernah tercatat sebagai calon legislatif kota Surabaya dari Partai Nasional Banteng Kemerdekaan (PNBK) pimpinan Eros Djarot. Dan tetap saja, ia tak dapat melepaskan gaya seni jalanannya dalam berkampanye. Sembari menaiki motor gede, ia melakukan aksi teatrikal keliling kota. Memperkenalkan diri pada khalayak Surabaya dari kampung-kampung hingga pusat perbelanjaan. Polisi pun dibuatnya kewalahan.

Namun politik praktis bukan jalannya. Setelah melalui pencarian yang panjang, ia meneguhkan diri untuk kembali ke dunia yang menjadi pilihannya semasa muda: senirupa. Ia jadikan kanal budaya sebagai media alternatif pemikiran yang ingin ia sampaikan yang kadang sulit diterima oleh orang lain. Dengan bahasa seni ia bagi refleksi dan harapan-harapannya tentang Indonesia di masa depan.
Kemunculannya di dunia senirupa sempat menjadi “gunjingan”. Tapi ia meyakini betul pilihannya. Dan ia terus berkarya. Tahun 2007 pameran tunggal digelarnya dengan tajuk Revolusi Sebuah Cita-cita (Galeri Surabaya, Surabaya). Pada tahun 2009 di RRI Surabaya ia pamerkan Expedition Art, juga Patung Sampah (Pantai Kenjeran, Surabaya), Perang Sket (Ruang Art Gallery, Surabaya), dan Bhineka Tunggal Ika dan Pancasila (Martadinata, Bandung).

Tak ingin terpacak di dinding galeri, aksi turun jalan tetaplah menjadi ruang berkarya yang paling mantap di hatinya. Selama 2009 saja, ia terlibat puluhan aksi. Mulai mengantarkan pendaftaran gugatan pencalegan M. Sholeh (eks PRD) yang digugurkan Partai PDI Perjuangan, mengawal korban kasus Bank Century, hingga membela kasus pajak perusahaan-perusahaan di kompleks industri SIER. Tak hanya demonstrasi, ia juga melakukan aksi teatrikalnya pada peluncuran buku salah seorang sahabat di pergerakan, Lisa Febriyanti, Iluminasi. Di akhir 2009, ia terlibat proyek Surabaya Juang dalam rangka hari pahlawan dan menampilkan 100 patung manusia sebagai make up performance di beberapa titik kota Surabaya. Aksi demi aksi di jalanan yang ia lakukan akhirnya membuahkan pengakuan sebagai penggerak senirupa street art dari panitia Biennale Jatim #3 akhir tahun lalu.

Kini, dengan vespa ia melontarkan lagi pemberontakan jalanannya. Street Rebell yang ia pilih sebagai judul pameran tunggalnya bukanlah pilihan yang hampa sejarah. Perjalanan berkeseniannya menjejak dengan jelas di ruas ini. Vespa-kendaraan roda dua yang cukup uzur itu-adalah kendaraan yang paling merdeka. Setidaknya itu menurut Taufik. Meski tua, berkesan kuno, ketinggalan jaman, namun vespa menyimpan ruh pemberontakan jalanan.

Vespa, mungkin satu-satunya kendaraan tanpa kelengkapan standar lalu lintas namun bebas melaju di jalanan. Dan Vespa yang ia pilih adalah Vespa modifikasi yang sudah nyaris kehilangan rupa aslinya. Ia pancangkan baut, kawat, cerobong, paku, hingga jeruji besi runcing di sekujur tubuhnya. Bila sedang melaju dijalan raya, vespa-vespa tak beraturan itu demikian merdeka. Polisi tak berani menghentikan, pengguna jalan lain pun memilih menghindar untuk berdekatan (Tentu saja lebih baik minggir, daripada menguras kantong gara-gara kendaraannya tergores vespa berkulit besi karatan yang bak landak berduri).

Namun, vespa yang ‘dirusak’ Taufik dari wajah aslinya bukanlah semata modifikasi otomotif. Pilihan materi dan bentuknya menyuarakan sebuah kritik akan ketimpangan sosial disekitarnya. Vespa dengan moncong yang penuh cerobong dari seng misalnya, seolah menyuarakan protesnya pada laju industrialisasi yang makin menyudutkan ruang-ruang ekologi hingga alam kehilangan kearifan. Vespa merah putih yang setengah tubuhnya ia tubrukkan ke tembok adalah upaya Taufik untuk menyeru betapa bangsa Indonesia telah kehilangan nyaris separuh kepribadiannya. Maka vespa ‘raja jalanan’ itu merefleksikan pemberontakan jalanan yang ingin ditasbihkan Taufik.

Jalan, bagi Taufik bukan semata selasar dimana roda kendaraan melaju. Benturan kepentingan di jalanan adalah sebuah miniatur kehidupan yang sesungguhnya. Di jalanan inilah hadir harga diri, tata krama, ancaman, muslihat, budi baik, dan kejahatan. Jalanan adalah sebuah gelanggang pertarungan politik, ekonomi, dan budaya antara kepentingan pemerintah dengan kebutuhan rakyat. Pemerintah membuat peraturan (baca: rambu-rambu) untuk menciptakan ketertiban demi kenyamanan pemilik modal. Sementara rakyat menggunakan jalanan sebagai ladang penghidupan berebut rejeki sekedar untuk bertahan hidup. Dalam pertarungan di jalan ini, rakyat acap kali menjadi pihak yang terkalahkan. Keberadaan mereka di jalan dianggap menimbulkan ketidaknyamanan, kesemrawutan, dan wajib disingkirkan. Padahal, keberadaan mereka di jalanan hanyalah karena mereka menjadi korban dari kebijakan publik yang tak pernah melibatkan partisipasi mereka. Maka tak mengherankan bila kemudian muncul perlawanan-perlawanan dalam perilaku mereka di jalanan. Rakyat ingin merebut kembali hak-haknya yang terabaikan.

Street Rebell yang disampaikan Taufik adalah perenungan panjang tentang sebuah sistem yang menempatkan rakyat semata sebagai obyek kekuasaan. Pemberontakan ala jalanan dengan nyanyian, kepalan tangan, teriakan, tatapan tajam, dan kadang ancaman itulah yang dihayati Taufik sebagai ruh dalam ia berkarya. Pemberontakan jalanan bagi Taufik adalah sebuah perlawanan yang meruntuhkan basis-basis otoritas, mengguncang kestabilan, dan tak pernah puas dengan kemapanan.

Taufik Hidayat alias Monyong, anak jalanan itu pulang ke ‘rumahnya’ sudah. Pada kesenian ia beratap. Pada aspal jalanan ia beralas. Mencoba terus melakukan perlawanan dengan sepenuh ketakziman. Selamat datang di Pemberontakan Jalanan, Street Rebell.

Balai Pemuda Surabaya, 30 Maret 2010

*) Diana AV Sasa, redaktur situs literasi www.indonesiabuku.com
**) Disarikan dari wawancara penulis dengan Taufik Hidayat, 13 Juni 2009 dan 20 Maret 2010

0 comments: