Wednesday, April 21, 2010

Di Jalan Raya Melawan dengan Vespa “Tetanus”



::Diana AV Sasa*)

Sepuluh tahun lalu, kami mengenalnya sebagai lelaki rombeng berpeci miring dengan baju tahanan Polwiltabes Surabaya bernomor 028—yang di kemudian hari saya tahu baju itu menjadi saksi sejarah bahwa ia pernah dituduh sebagai provokator demonstrasi buruh Maspion. Ia menenteng megaphone warna merah dan berteriak menonjok-nonjok di tengah lapangan. Taufik Hidayat yang kerap dipanggil Monyong itu seperti macan podium di kampus kami, Universitas Negeri Surabaya (UNESA). 

Saturday, April 10, 2010

H.E. Huntington: Ambisi Jawara Buku

::Diana AV Sasa

Budaya Aristrokrasi mengusung kemegahan dan kemewahan sebagai simbol status sosial. Setiap orang berusaha menunjukan kelasnya dengan pelbagai cara. Kian besar nama mereka, kian mereka akan diperbincangkan dari mulut ke mulut dan tetap dikenang setelah kematiannya.

Penanda akan kehadirannya pun dibuat dalam ragam bentuk. Budaya itu berkembang turun-temurun sampai pada zaman modern. Adalah Henry Edwards Huntington, salah seorang yang mewarisi budaya itu. Kebesaran namanya dikenang dengan beberapa monumen atas namanya. Pantai Huntington, Taman Huntington, Perpustakaan Huntington, Hotel Huntington (Sekarang The Langham, Huntington Hotel and Spa), Rumah sakit Huntington, Sekolah Henry E Huntington, dan Huntington Drive (sebuah bulevard dengan bagian tengah disajikan seperti Jalan Kereta Api Elektrik Pasifik).