Thursday, December 16, 2010

Sri Tulis dari Lemah Tulis

Oleh : Diana AV Sasa
 Pupuh 1 

Kami, aku, adalah kalangwan. Bangsawan dan kalangan kerajaan menyebut penulis keindahan dengan sebutan itu. Aku lupa sejak kapan diriku dinobatkan menjadi kalangwan. Tiap hari lakuku adalah bergulat menggubah syair negeri manca menjadi kakawin di atas lontar. Mulanya Sakakala, kemudian Lambang, lalu Parwasagara, dan kemudian Bhismasarana, hingga akhirnya menuliskan kembali kisah Sang Buddha.

Aku mengaji kakawin dari Maha Guruku di Padepokan Lemah Tulis. Di sana aku ditempa bertahun-tahun dengan samadi, mengguguh tata krama hidup, kakawin, dan ilmu tulis-menulis. Sudah bergenerasi-generasi kami dididik dengan itu. Hingga aku diizinkan Maha Guru, atas permintaan Baginda Sri Nata, memiliki sebuah kamar istimewa di Kadharmadhyaksan, sebuah perdikan yang tak jauh dari Kutaraja untuk para Dharmadhyaksa.


Paduka Sri Nata menyukai kakawin-kakawinku. Senantiasa ia memintaku menulis untuknya bila ia tengah tetirah di Taman Sari. Tapi ada tugas utamaku hingga aku berada di sini: mengikuti perjalanan kenegaraan menyusuri seluruh kawasan kerajaan saban akhir musim penghujan.

Pupuh 2 

Sebelum berjumpa denganmu, Maha Dewiku, aku hanyalah putra mahkota penggoda bidadari di seluruh penjuru desa. Tapi sejak peristiwa di Danau Sore itu, semuanya berubah. Bukan saja gerai rambutmu yang bergelumbang wangi pandan membuatku tersungkur, santun budimu mengawangkanku ke sudut langit.
Hanya itu?

Juga sesapuan senyummu yang meruntuhkan segala-gala keangkuhan diriku. Itulah kekalahan yang kusyukuri. Karena di Danau Sore kau bacakan padaku sebait kakawin yang membuatku bersimpuh tanpa perlawanan di pangkuan hatimu.

Kupinang kau, Maha Dewi, untuk kusandingkan di sisi tahtaku. Menjadi prameswari. Kelak, bila tahta kerajaan ini ditampuhkan ke pangkuanku.

Pupuh 3

Kanjeng Gusti Putri Prameswari memanggilku Sri Tulis. Sri dari Lemah Tulis. Aku memang dari tanah udik itu. Walau udik, padepokan ini terhormat. Terutama Ramanda. Rama mengutusku ke sini lantaran permintaan prameswari untuk dicarikan seorang pasiran karena ia gemar dibacakan cerita-cerita dan sanjak menjelang tidur. Para dayang di istana tak satu pun yang mengenal baca-tulis, selain keluarga kerajaan. Para pasiran istana diboleh-bolehkan bersolek, menari, dan bermain gamelan, namun tak boleh memasuki kamar lontar. Karena itu aku merasa perempuan istimewa. Prameswari menyayangiku.

Suatu senja, usai menemani Kanjeng Putri Prameswari mandi di danau, aku mengajaknya beristirahat di sebuah patani berbentuk serupa jamur. Kuambil sebuah pudak dan kutunjukkan padanya. Syair dalam pudak itu indah dan menggodam-godam berahi. Kutahu bahwa itu goresan kalangwan. Tapi siapa, masih rabaan.

Kutimang pudak asmara itu. Kubacai lagi pelan-pelan bait syairnya. Dadaku tiba-tiba mekar serupa padma menyambut pagi. Lamat-lamat, kukenali cara tutur syair itu. Juga liuk dan ketegasan jari menggores getah sirihnya. Terlampau sering membaca beragam lontar menjadikanku cukup mengenali ciri masing-masing kalangwan. Aku pun bisa memilih syair mana yang mesti dibacakan pada malam ini dan mana yang malam berikutnya dan berikutnya lagi. Mengikuti arah hati Kanjeng Prameswari.

Dan sanjak di atas pudak itu, sepertinya bicara tentang aku. Perempuan si pemintal lontar. Hanya aku perempuan di istana ini yang mendapat kepercayaan memintal lontar untuk kebutuhan para kalangwan. Tapi puji-pujian dalam syair itu, ah aku tak percaya ada kalangwan menaruh hati padaku. Atau jangan-jangan hanya perasaanku saja.
“Kau tahu siapa penulisnya, Sri?” tanya Prameswari.

Aku tersenyum sendiri. “Eit, Sri, lihat pipimu merah begitu,” kata Prameswari sambil tersenyum dan memperihatkan sebarisan giginya yang pucat.

“Hanya sebuah syair. Malam nanti aku akan menyalinnya untuk Kanjeng Ratu.”

Bila kau menjelma menjadi pudak, aku akan merupakan tulisan atas daunnya
Jemarimu berbau lontar yang kau cipta dengan kecintaan
Ijinkan aku menggores sajakku di atas lontarmu walau hanya semalam

Pupuh 4

Membuat lontar bukan pekerjaan mudah. Butuh ketekunan, keuletan, dan kesabaran. Aku memundaki tugas itu dengan sepenuh-penuh kecintaan. Walau sudah terbiasa, aku tetap melakukannya mengikuti kebiasaan para sepuh di Lemah Tulis.

Mula-mula daun-daun pohon siwalan yang dipetik dari pohon kupotong secara kasar dan kujemur menggunakan panas matahari. Warna daun yang semula hijau menjadi kekuningan.

Lalu daun-daun itu kurendam dalam air yang mengalir selama beberapa hari dan kemudian kugosok bersih dengan serabut kelapa.  Setelah bersih, daun itu kupotong dan kuikat. Lalu lidinya kubuang dan kujemur lagi sebelum kurebus dalam kuali besar dicampur dengan ramuan. Aku sendiri yang membuat ramuan itu dari rempah dan dedaunan. Kudiamkan setengah hari sebelum daun-daun itu kuangkat dan kujemur kembali di atas tanah.

Sore harinya daun-daun itu kuambil dan tanah di bawah dedaunan kubasahi dengan air kemudian daun-daun kutaruh kembali supaya lembab dan lurus. Keesokan harinya daun-daun itu kubersihkan dengan sabut kelapa lagi dan kutumpuk untuk seterusnya disimpan di penindih yang terbuat dari kayu berukuran besar. Daun-daun ini ditekan selama kurang lebih enam purnama. Namun setiap dua pekan kuangkat dan kubersihkan.

Genap enam purnama, daun-daun itu kupotong lagi sesuai ukuran yang diminta dan kuberi tiga lubang: di ujung kiri, tengah, dan ujung kanan. Jarak dari lubang tengah ke ujung kiri harus lebih pendek daripada ke ujung kanan untuk menandai saat penulisan. Tepi-tepi lontar juga kuberi tanda warna merah dengan getah pohon. Lontar sekarang siap ditulisi. Kami menyebutnya kropak. Setiap kropak lontar yang akan ditulisi, biasanya kusisiri garis tipis dengan peruncing  pengumpak supaya nanti kalau menulis tidak mencong-mencong.

Kropak-kropak lontar bergaris halus itu yang kemudian dikirim kurir ke Lemah Tulis
Selanjutnya tugas para kalangwan yang mengukir aksara kawi di atasnya menggunakan pengumpak dengan resam keindahan yang dibuahkan dewata dalam kedirian mereka. Yang kutahu, setelah kawi itu didupai kalangwan dengan anugerah, pekerjaanku yang selanjutnya adalah mengusapkan kemiri yang dibakar pada permukaannya. Bekas goresan itu menjadi kehitaman terlihat tajam karena jelaga minyak kemiri. Lalu setiap kropak kubersihkan dengan kapas dan kerap kuolesi dengan minyak sirih supaya bersih dan tak dirayapi serangga.

Belum selesai. Tumpukan kropak-kropak itu kusatukan dengan sebuah tali melalui lubang tengah dan diapit dengan sepasang bambu pengapit dan kumasukkan dalam sebuah peti kecil.

Pupuh 5

Tak pernah aku setakut begini. Paduka Raja memanggilku  dengan raut wajah bermendung murka.

“Sri, apakah Kanjeng Putri Prameswari pernah memintamu untuk melukisnya?”

Pertanyaan paduka raja seperti ribuan kerikil yang dilontarkan keras-keras ke mukaku. Aku diambang keraguan. Gamang dimana mesti berpihak. Bila aku mengaku, aku hianat pada putri prameswari. Namun terlampau sulit pula untuk menghindar karena hanya aku pasiran yang dekat dengan prameswari dan mampu melukis di atas pudak.

Dengan kepala tertunduk dan mata mencauk lantai aku menyembah takzim.

“Ampun beribu ampun paduka yang mulia,” jawabku lirih. “Hamba hanya menjalankan perintah.”
Raja menghentak lantai. Aku menggigil ketakutan.

 “Untuk maksud apa gerangan prameswari memintamu melukisnya tanpa busana seperti ini?” suara raja terdengar berat tertahan. Mungkin malu, mungkin curiga, entah…

 “Lalu, yang hitam ini titik apa, Sri?” tanya raja tiba-tiba.

“Ampun Gusti, itu adalah luka hitam di bibir kemaluan Kanjeng Prameswari. Ampun, Paduka!”

“Lancang sekali kau Sri. Matamu sudah terlampau jauh memandang,” suara Baginda terdengar bergetar.

“Ampun Gusti, hamba hanya menjalankan titah untuk menggambar rinci. Serincinya, Gusti.”

“Tapi tidak sekurang ajar begini! Aku tak mau cacat di tubuh permaisuriku diketahui orang lain.” Suara Baginda Raja  meresap meremuk rasa, merasuk tulang sungsum pendengar.

“Ampun paduka,” suaraku makin parau.

Aku sudah madah. Mungkin aku akan diseret ke tiang gantungan bersebab kelancanganku itu.
Namun kemudian kulihat Baginda menyambar kendi di atas meja dan menyiram pudak itu. Aku terpekur dalam diam. Berkali kali aku mengangkat sembah dan memohon ampun.
Gambar prameswari itu pun pudar.

Pupuh 6

Dadaku dikerumuni kepundan. Sebuah sanjak sarat pujian kutemukan di atas karas yang tergeletak di bawah peraduan. Benakku digerogoti syak, laki-laki mana menyimpan amunisi keberanian yang begitu lancang merayu prameswari raja dengan sebuah kakawin.

“Duh, Kakanda. Sungguh sahaya hanya menyalin kidung ini dari sebuah pudak yang tertinggal dalam patani jamur di pinggir danau. Sahaya temukan usai mandi bersama pasiran. Bahasanya sungguh indah. Nampak penulisnya adalah kalangwan berhati halus dan memiliki cipta rasa keindahan tinggi. Ini hanya salah satu yang sahaya salin.”

Setengah berlari aku mencari patani yang dimaksudkan permaisuriku. Tanah basah jejak hujan semalam tak lagi kuhirau. Dan memang ada pudak di sana. Terserak di luar dinding patani. Basah oleh embun dan hajaran hujan. Bukan satu pudak tapi lima. Tapi pudak-pudak itu kosong. Tak ada bekas goresan, apalagi tulisan.

Kau dusta, Maha Dewi! Kau berselingkuh! Kau Hianat! Karas itu bukti sudah. Juga lukisan tubuhmu di atas pudak itu. Tiada maaf, kau mesti diasingkan! Sundal!

Pupuh 7

Sejak di Padepokan Lemah Tulis, Ramanda mengajarkan agar aku mencatat kejadian-kejadian yang kualami saban hari. Jadilah aku menulis apa-apa yang kucecap dan kulihat usai membacakan lontar untuk Kanjeng Ratu Prameswari.

Setelah beliau diasingkan, tentu saja aku berselimut duka dan sunyah kehilangan junjungan yang kujaga dalam keseharian. Aku memiliki lebih banyak waktu untuk menulis. Tapi aku tak pandai menulis sanjak seperti para kalangwan. Aku hanya mencatat apa yang kulakukan sejak terang tanah hingga hari berganti petang. Sesekali kutulis tentang resep masakan yang kubuat di dapur istana dan disukai raja. Hanya untuk berjaga-jaga bila tiba-tiba raja memesannya lagi.

Pupuh 8

Hampir semua murid Lemah Tulis tahu bahwa Sri, putri Maha Guru semata wayang itu, penyuka cerita. Kebiasaan itu bertambah-tambah tatkala ia beranjak menjadi perempuan dewasa. Bekerja di istana sebagai juru cerita termuda yang pernah dipunyai Lemah Tulis dan pembuat lontar untuk kalangwan istana. Barangkali untuk alasan menambah wawasan ceritanya, kulihat sendiri dalam beberapa kali mengunjungi kamar lontar di sisi kanan paseban. Sri betah duduk setengah hari di sebuah jendela yang terbuka lebar. Sri bukan hanya membaca, tapi sesekali menyalin apa yang ia suka dari bacaannya. Ketika aku bertanya mengapa, katanya hanya karena ia suka dan tak mungkin ia mampu membeli salinan lontar-lontar seperti yang dimiliki kerajaan.

Sri pun berandai, kelak bila dia memiliki lontar sendiri, ia bisa membacakannya untuk anak-anaknya.
Dan entah dari mana pikiran itu meluncur, pada sebuah pertemuan yang lengang di siang bolong, ia berbisik menghiba agar sudilah aku mengambilkan beberapa lontar rahasia kerajaan untuknya. Lontar-lontar itu berada di dalam peti khusus yang terkunci. Isinya lontar-lontar tua karya kalangwan negeri jauh dan kitab-kitab suci yang belum sempat disalin. Hanya kalangan Dharmadyaksa, Brahman, dan Ksatria yang dizinkan membacanya, itu pun atas sepengetahuan Baginda Raja.

Aku sudah memasang jurus penolakan atas permintaan putri Maha Guruku ini, namun segera hatiku luluh tatkala ia menyurungkan bibirnya ke telingaku sembari berbisik, “Sekali ini saja, Kakang. Lakukan untukku, untuk adikmu Sri.”
Ujung rambutnya yang harum menyentuh bahuku dan menggetarkan saraf rabaanku. Aku lantak dibuatnya.

Pupuh 9

Malam yang pekat dan panas. Kunang-kunang lalu-lalang membawa sebintik obor kecil di tubuhnya mencahai mataku yang sedang berdiri di balik dinding keputren dengan jarit terjinjing. Ia berjanji akan membawakan aku sebuah lontar berisi kakawin yang indah, tulisan seorang kalangwan ternama. Aku menunggu dengan degub jantung yang bersicepat. Takut, penasaran, dan hasrat yang meluap untuk segera membaca tulisan kalangwan itu berkecamuk dalam pedalamanku.

Pupuh 10

Mencuri adalah pantangan. Bila dilanggar, hukumannya adalah mati. Apalagi bila yang dicuri adalah harta milik kerajaan. Dan aku tak pernah mencuri. Tak pernah karena salah satu pelajaran dasar yang diajarkan Maha Guru adalah tata krama dan kesopanan, termasuk tak mengambil yang bukan haknya. Tapi justru Sri yang menghiba. Sri, putri maha Guruku sendiri. Dan aku menurut saja. Ini pengalaman pertamaku. Mencuri. Di kerajaan pula. Rasanya leherku seperti terjerat tali dadung ketika meraih lontar dari lemar kayu kamar penyimpanan. Memang tak ada yang berwasangka. Aku saban hari membaca lontar di ruang itu. Semua kalangwan istana memiliki hak khusus untuk masuk ke sana. Tapi membawa lontar keluar, ini adalah perkara.

Setengah berjingkat aku menyusuri dinding istana keputren. Ini pula pelanggaran. Lelaki mana pun, bahkan kalangwan paing disukai Baginda Raja sekalipun, tak diizinkan berkeliaran di istana keputren pada malam hari. Dan kudapati ia sudah menunggu di sana dengan sumringah.

Lontar itu berpindah dari tanganku ke balik stagennya. Ia berjanji akan mengembalikannya sebelum fajar tiba.

Pupuh 11

Sebelum berangkat mengikuti rombongan perjalanan panjang raja, ia masih sempat mengambilkan beberapa lontar untukku. Aku menyalinnya dan lalu keesokan harinya ia mengembalikan ke tempat semula. Semalaman aku duduk di belakang meja hingga menjelang fajar tiba.

“Ketika aku pergi, aku ingin dirimu banyak simpanan bacaan. Maka itu, sekarang salin saja semuanya, membacanya nanti saja saat aku pergi. Supaya selalu ingat padaku,” bisiknya di telingaku ketika menyerahkan lontar ke-60. Berarti, sudah genap lengkap 60 malam ia mencuri untukku. Dia memang pencuri ulung. Bukan cuma lontar, tapi juga hatiku. Ramanda, maafkan kelancangan putrimu dan juga murid kesayanganmu itu.

Pupuh 12

Akhir musim penghujan selalu menjadi saat-saat yang sibuk di kerajaan. Selama enam purnama ke depan, kerajaan akan melakukan pesiar  keliling menyusuri seluruh wilayah negeri menaiki kereta dan kuda. Rombongan yang mengikuti raja dipilih dengan tugas masing-masing. Mahamantri Agung, Tanda, Pendeta, Pujangga, semua para pembesar turut serta. Dan tentu saja para kawi pecinta kalangon seperti diriku. Aku, seperti biasa, tugasku adalah menulis kisah perjalanan ini bersama dua orang kalangwan lain.

Sri, atas izin Paduka Sri Nata, juga diizinkan masuk dalam rombongan. Aku yang mengusulkan. Tugasnya: membantu menjaga lontar dan menyediakan segala kebutuhan kalangwan. Dengan keberadaannya, perjalanan ini tentu tak membosankan seperti musim yang lalu.

Pupuh 13

Pagi-pagi rombongan telah tiba di Ermanik, dukuh teguh-taat kepada Yanatraya. Sri Nata ingin rehat.
Kemarin aku sudah menulis tentang hutan dan beberapa perdukuhan yang dimiliki kerajaan ini. Sekarang aku akan menulis tentang keindahan Pancuran Mungkur. Apa yang kutulis bukan sanjak indah yang disukai raja. Hanya tentang apa yang tertangkap seluruh indraku ketika berada di suatu tempat. Aku memang menulis bukan untuk mencari pujian raja. Apalagi hadiah lontar-lontar indah seperti kebanyakan kalangwan lakukan. Aku menulis apa yang kusuka.
Sri mengambilkan enam helai lontar untukku. Menungguiku menulis dan menyimak dengan penuh perhatian.

“Kakang, sesekali aku mbok diajari menulis kakawin yang indah begitu,” katanya pelan.

“Ah, untuk apa? Kau menyiapkan lontar saja. Bukankah itu tugasmu.”

“Tapi aku ingin bisa menulis indah seperti dirimu,” rayunya lagi.

“Untuk apa? Kalangwan tak ada perempuan. Ramandamu juga pasti sama pendapatnya denganku. Kau sudah beruntung bisa membaca dan menulis seadanya. Perempuan lain tak ada yang bisa selain putri-putri itu.”

“Aku tak ingin jadi kalangwan, aku hanya ingin bisa menulis indah. Mengapa, tak boleh?” Sri merenggut. Dan aku selalu tak tahan melihatnya merajuk.

“Baiklah, tapi berjanjilah kau tak akan pamer pada siapa pun. Nanti kau dianggap lancang lagi.” Sri mengangguk setuju.

Pupuh 14

Air mataku tumpah. Syair pertamaku dihinanya. Buruk sekali katanya. Katanya lagi aku tak berbakat menulis indah. Seandainya aku laki-laki dan terpilih sebagai kalangwan saat itu, hanya memperburuk nama besar kalangwan. Dengan bersungut-sungut kukatakan padanya,

“Jika ini buruk, tunjukkanlah mana yang buruk. Dan bagimana supaya indah. Kau hanya menyuruhku menulis dan aku menulis. Lalu kau kata ini buruk. Kau yang tak berbakat menjadi guru....”

Pupuh 15

Aku selalu tak tahan melihatnya merajuk. Semakin merajuk, semakin berbinar kecantikannya. Maka di hari berikutnya, kuberi dia contoh bagaimana memilih kata yang indah. Beberapa lontar kakawin yang kubawa kuserahkan padanya.
“Baca ini. Pilih kata-kata yang menurutmu indah. Pinjamlah untuk syairmu.”

Pupuh 16

Seperti katanya, seperti itu pula yang kukerjakan. Ketika rombongan Sri Nata beristirah di dukuh kasogatan Madakaripura yang memiliki pemandangan indah, sementara Sri Nata mengunjungi mata air, dan dengan ramah melakukan mandi bakti, aku menyalin satu bait syair yang menurutku indah, kupakai untuk menuliskan :

2.4 Perjalanan membawa rombongan ke arah timur laut. Ngarai yang membuka mulutnya lebar-lebar dan siap menghisap siapa saja yang berjalan tanpa sabuk waskita. Sementara di kejauhan tampak asap mengepul dan taman-taman pesanggrahan yang melingkar, candi-candi pertapaan yang berdiri menjulang. Ladang-ladang luas terhampar. Tersebar berundak-undak mengelilingi leher gunung. Juga sebatang sungai besar menuruni bukit dan menyirami tanaman para kalangan di persawahan.

5. Adapun sebuah dusun yang dipandangnya dari atas, terletak di bawah, dalam sebuah lembah di tengah-tengah pungung-punggung bukit. Bangunan indah sekali, atapnya yang dibuat dari lalang terselubung oleh hujan gerimis. Gumpalan-gumpalan asap melayang jauh, meninggalkan bekasnya di langit. Balai desa terlindung oleh sebatang pohon banyan, atapnya terbuat dari gelagah; di bawahnya sering diadakan musyawarah.

Aku tersenyum bangga karena menurutku syair itu indah sekali.
Tapi dia memicingkan mata dan dari mulutnya meluncur kata-kata ganas ini, “Sri, kau tahu, kau bukan meminjam. Kau mencuri!”

Pupuh 17

Aku tahu dia berbakat. Seorang yang sedang belajar memang tak harus segera diberi puji-pujian. Nanti ia cepat puas, dan bahkan ia akan berhenti belajar. Ketika rombongan berhenti di sebuah desa di lereng bukit, kuajarkan padanya bagaimana membuat perumpamaan agar sebuah kata memiliki rasa ungkapan yang berbeda.

Pupuh 18 

Dewa asmara turun untuk datang menggoda.  
Sri Paduka berangkat, asrama tinggal berkabung.
Bambu menutup mata sedih melepas selubung.  
Sirih menangis merintih, ayam raga menjerit.  
Tiung mengeluh sedih, menitikkan air matanya.   

 “Kakang, kalau tulisanku yang ini bagus ‘kan?” bisiknya sambil bersandar manja di pundakku. Ia kini menunggu pendapatku. Dan selalu begitu. Dengan manja.

Pupuh 19


Makin hari makin mahir menulis indah. Terkadang aku membantu dia menulis catatan untuk kebutuhan kerajaan. Berdiam tekun menulis di pesanggrahan tepi danau tempat bunga bertumbuh lebat. Kutuliskan pemandiannya yang penuh lukisan dongengan berpagar batu gosok tinggi. Berhamburan bunga nagakusuma di halaman yang dilingkungi karawira, kayu mas, menur serta kayu puring dan lain-lainnya. Telaga bergumpal airnya jernih. Kebiru-biruan, di tengahnya candi karang bermekala. Tepinya rumah berderet, penuh pelbagai ragam bunga. Tujuan para pelancong penyerap sari kesenangan. Terlewati keindahannya, berganti cerita narpati. Setelah reda terik matahari, melintas tegal tinggi. Rumputnya tebal rata, hijau mengkilat, indah terpandang. Luas terlihat laksana lautan kecil berombak jurang.  

 Tak ada yang mengalahkan kebahagiaanku selain mendapati karya-karyaku bertumpuk dengan lontar milik para kalangwan kenamaan itu.

Pupuh 20

Memasuki purnama ke empat, aku mulai dirundung bosan yang menjemukan pikiran. Bila hari mulai teduh, surya larut, telah gelap dan Sri Paduka memberi perintah memasang tenda, aku menyelinap memisahkan diri dari rombongan. Melalaikan paseban mengabaikan tata tertib para pendeta. Di ujung lurah Daya kutilik sudut pasar yang riuh dengan adu ayam jago. Sekali dua kali, aku ketagihan menyelinap. Sekali waktu aku menemukan warung di wilayah Surabasa dengan banyak wanita cantik bertubuh molek. Wanita-wanita penggetar berahi. Aku tak merasakan getaran itu di samping Sri. Ini sesuatu yang berbeda. Dan laki-laki bergembira di sana sembari meminum tuak. Diikuti gamelan rancak, sambil bertandak memilih pasangan.

Tingkahnya menarik gelak, menggelikan pandangan. Tempat jadah itu memanjakan tubuh dan menyegarkan pikiran.

Pupuh 21

Di Patunjungan, Sri Paduka bercengkerama menyisir tepi lautan. Heran memandang karang tersiram riak gelombang berpancar seperti hujan. Ke jurusan timur turut pasisir datar, lembut-limbur dilintasi kereta. Berhenti beliau di tepi danau penuh teratai, tunjung sedang berbunga. Asyik memandang udang berenang dalam air tenang memperlihatkan dasarnya. Terlangkahi keindahan air telaga yang lambai-melambai dengan lautan.

Ia makin sering menghilang dari rombongan. Entah ke mana perginya. Malam menghilang, muncul baru keesokan paginya. Kadang berhari-hari ia baru muncul. Dan aku selalu dihardiknya bila bertanya tentang kepergiannya. Maka aku menghibur hati dengan terus menulis sanjak. Aku sudah bisa menceritakan bagaimana sebuah desa lengkap dengan batas wilayah serta bunga, pohon, dan ternak yang kudapati. Aku juga mulai mahir menceritakan hutan, sungai, danau, dan jalan-jalan yang dilalui rombongan, sebagaimana ia menuliskannya. Pula peristiwa demi peristiwa yang terjadi. Rasanya aku sudah menulis ragam wilayah lebih dari  separuh luas kerajaan ini.
Satu purnama lagi, perjalanan ini akan berakhir.

Pupuh 22
Tanggal satu bulan Kartika, di balai agung Manguntur, Baginda Sri Nata mengumpulkan seluruh kalangwan, juga mengundang kalangwan dari padepokan di luar istana. Turut hadir pula pejabat kerajaan Mahamantri Agung, Mahapatih, Tanda, Demung, Kanuruhan, Rangga, hingga Tumenggung. Ini kerapatan besar untuk membahas rencana perayaan Saraswati yang berbeda dari perayaan-perayaan sebelumnya. Saraswati jatuh saat purnama 12 harmal ke depan.
Semua orang tunduk, sujud menyembah kaki Sri Nata Prabu bagai tanda bakti.

“Saban 6 purnama, kita selalu melakukan upacara Saraswati. Saya ingin sesuatu yang berbeda untuk perayaan bulan ini. Apakah diantara hadirin ada memiliki usulan?” seru Baginda Raja.

Paseban hening. Hingga Baginda berdiri dari singgasana dan duduk kembali, masih belum ada yang bereaksi. Lalu aku teringat pada Sri. Keinginannya untuk membaca lontar-lontar milik istana pastilah bukan hanya keinginan seorang diri. Di luar pagar istana, tentu banyak kalangan, para hamba sahaya, yang ingin mengetahui cerita-cerita yang dibuat para kalangwan untuk rajanya.

“Beribu maaf, Paduka,” aku kumpulkan keberanian untuk unjuk wicara sambil mengangkat sembah takzim.

“Silahkan, Mpu. Engkau ada usulan apa?”

“Ampun Paduka,” “Selama ini kita sudah menyimpan banyak bacaan dalam istana. Hamba pikir, akan sangat arif pabila sesekali di kesempatan yang istimewa ini, kita membagi sedikit bacaan itu pada kalangan di luar istana. Ampun Baginda, demikian usulan hamba.”

“Maksudmu, kita izinkan mereka masuk istana begitu?”

“Tak mesti begitu, Paduka. Itu tentu akan merepotkan istana,” lanjutku sambil memperbaiki selendang putih yang tersampir di pundak.

“Bagaimana bila kita bacakan saja salah satu lontar untuk rakyat kita? Semua kalangwan bergantian membacakannya selama satu bulan penuh. Rakyat mendengarkan di alun-alun. Kita bisa lakukan itu usai melakukan upacara Saraswati.”
Raja tersenyum. Kalangwan-kalangwan lain saling berbisik. Kerapatan besar itu telah menemui satu titik. Tinggal masalahnya, lontar yang mana yang akan dipilih Paduka Yang Mulia untuk dibacakan.

Pupuh 23
Di kamarnya aku tertegun. Lontar-lontarku tersusun rapi di sebuah rak bambu dengan urutan yang runtut. Lontar-lontar itu kubuka satu per satu. Kudapati tulisanku, namun juga banyak sekali tulisannya yang tak kalah indah dengan karyaku. Aku terpesona dengan keindahan ukiran tulisannya. Juga bahasa yang digunakan. Rupanya, ia mengalami kemajuan yang pesat. Tentu berkat kecerdasan yang diwarisnya dari Ramandanya. Juga kerja kerasnya. Lihatlah, dia juga sudah mahir menggarami kalimat dengan perasaan perempuan sehingga terasa lembut saat membaca kata per katanya. Aku sendiri memang tak terlampau suka dengan bahasa puja-pujian yang melambungkan. Itulah mengapa aku tak pandai merayu.

Pupuh 24
Dia memang tak pandai merayu. Setiap pudak yang ditulisnya untukku hanya berisi panduan menulis.

“Kau mesti membaca. Membaca sebanyak-banyaknya. Baca apa saja. Lontar, selingkunganmu, ucapan-ucapan para brahman dan brahmin, juga kalangwan-kalangwan sepuh. Juga memanjatkan puji kepada dewata. Membaca dan santiaji itu makanan jiwa para penoreh kakawin.”

Dan aku pun, tak hanya lontar yang kulahap, juga membekali diri kepekaan atas selingkungan. Seperti yang dia petuahi. Saban hari aku mendengarkan para brahmin bertutur dan berdoa untuk keselamatan bhumi pratiwi.

“Tulis saja dahulu apa yang kau jumpai saban hari dengan bahasamu sendiri. Sekuat-kuat menahan diri untuk tak meniru gaya kalangwan mana pun.”

Dan mulailah aku menulis apa yang kulihat dan kurasakan tiap hari di selingkunganku. Awalnya hanya pada karas. Kemudian pudak, lama-lama aku merasa sayang bila catatan-catatan itu musnah tersiram hujan atau embun karena pudak kutulis dengan getah sirih. Maka aku pun belajar menulis dengan lontar.
Tapi ia tak mengizinkan. Apalagi jika itu lontar dari kerajaan.

“Tenunlah lontarmu sendiri, baru kau menulis di atasnya. Seorang penulis harus mengerti bagaimana sulitnya menemukan dan menyediakan lontar agar ia berhati-hati betul memilih kata untuk menghindari kesalahan. Setiap lontar adalah titisan pengetahuan.”

Dia memang tak sedang merayu, tapi aku menurut apa katanya. Seperti ketika ia menarik pinggangku ke pinggangnya saat terakhir kali ia menyerahkan lontar curiannya. Aku menurut saja ketika tubuhnya menghimpitku di bawah pohon jarak yang hampir mati di dekat kandang kuda.

Pupuh 25
Seperti menang bertaruh, kegembiraanku meruah-ruah. Baginda Sri Nata tak hanya menerima usulanku, tapi juga memilih kisah perjalanan panjang terakhir kerajaan di mana aku dan Sri berada dalam barisannya. Tak hanya berada dalam barisan, tapi aku dan Sri juga yang merekam, menulis, dan menyalin kisah itu. Ya, aku dan Sri. Akan kukabarkan padanya berita suka cita ini.

Pupuh 26
Aku baru saja beranjak merapikan buntelan lontar untuk kubawa pulang ke Lemah Tulis ketika pintu kamar dibuka dengan terburu-buru. Dia masuk dan langsung menutup pintu. Kemudian menubrukku dan mendekapku hingga napasku tersengal.

“Kita berhasil. Kita berhasil, Sri, gendukku,” ucapnya berulang-ulang tanpa melepas dekapannya. Napasku tertahan. Napasnya memburu.

Belum lagi aku memperbaiki posisi sadar, ia sudah membopong tubuhku ke atas balai. Barulah seusai bersaut keluh dan peluh, ia membisikkan kabar bahagia itu di telingaku. Wajahku merona. Betapa bahagianya aku. Kubayangkan betapa menyenangkannya namaku tertulis di batang lontar bersanding dengannya. Karyaku dibacakan pula di depan kalangan, petalangan, dan jelata. Rasa bahagia yang meledak di batinku menyurung tubuhku untuk kembali memintai tubuhnya ke atas balai.

“Kakang, mari berbagi,” kataku kepadanya. Dan kami pun hilang dalam jagad kecil.

Pupuh 27
Pertanda apa siang ini, setelah semalam menumpahkan kebahagiaan di dadanya. Aku tak tahu bagaimana menyampaikan kabar buruk ini ketelinganya. Aku tak akan sampai hati menoreh luka.

“Kau masih berpijak pada kewarasan bukan, Mpu? Tak pernah ada dalam tradisi kerajaan ini, kalangwan adalah seorang perempuan. Hapus saja namanya, cantumkan namamu!”

Titah raja itu menghantuiku sepanjang perjalanan pulang ke Padepokan Lemah Tulis. Seperti guntur yang mengejarku dari ujung langit.

Pupuh 28
Sri dari Lemah Tulis itu. Putri dari seorang kalangwan kepercayaan dan kebahagiaan ayahanda. Mahapendeta terpundi sasantri. Jika bukan karena tali-temali itu, sudah lama perempuan itu kuusir dari kerajaanku. Aku mengurungkannya karena persahabatan dengan Lemah Tulis. Lagi pula, padepokan itu menjadi salah satu padepokan tempat lahirnya kalangwan-kalangwan terpilih.

Tapi Sri. Sri dari Lemah Tulis itu. Perempuan yang dengan kurang ajar telah mempermalukanku dengan menggambar sebintik luka bakar di bagian paling pribadi di pangkal paha Prameswari, Maha Dewiku yang hianat padaku. Mungkin gambar itu sudah diperlihatkan pada kalangwan yang merayunya dengan kakawin.

Dan baru saja, kalangawan dari Lemah Tulis itu mengatakan bahwa perempuan itulah yang menulis lontar yang akan dibacakan di Hari Sarawati . Oh, sungguh itu tak boleh terjadi. Namanya tak boleh muncul. Sekarang dan kapan pun. Sejarah kerajaan ini tak boleh mencatat bahwa seorang perempuan pernah menempati posisi terhormat sebagai kalangwan. Bila ia ternama sebagai kalangwan perempuan pertama, hilang sudah wibawa kaumku. Lagi pula, ia dipanggil ke istana adalah sebagai penyenang bagi hati istriku.

Dan Hari Saraswati hanya beberapa hari lagi. Tak mungkin mencari karya pengganti. Keputusannya: nama Sri dipudarkan dari lembar lontar.

Pupuh 29
Baginda Raja memanggilku. Aku dipenuhi kekhawatiran bila Baginda mengubah keputusannya untuk membacakan karyaku. Tiba di hadapannya, aku unjuk sembah dan menunggu titah.

“Ini tulisanmu, Mpu?” sabda Baginda sambil memperlihatkan sebuah lontar usang.

“Daulat tuanku. Sahaya yang menuliskannya untuk kekasih hamba.”

“Siapa perempuan itu?” Tanya Paduka penuh selidik.

“Seorang pasiran, Paduka yang Mulia.” Aku berusaha tak menyebut nama menahan rasa ewuh.

Aku mengenali tulisan itu yang kutujukan untuk Sri bertahun-tahun lewat. Kakawin itu awalnya kutulis di atas pudak, dan kutaruh di sebuah patani jamur dekat Danau Sore. Aku tahu Sri sering duduk-duduk di patani itu. Sajak itu kemudian kusalin ke atas lontar dan kusimpan.

Raja terduduk lesu di singgasananya. Sayup kudengar ia bergumam, “Terpujilah Siwa! Terpujilah Girinata! semoga mengampuni kesalahanku.” Kulihat Baginda mengeleng-gelengkan kepala sambil memegangi dahinya. Aku tak bertanya apa-apa, menunggu perintah.

“Mpu, perintahkan pasukan untuk menjemput Kanjeng Putri Prameswari. Aku memaafkannya.”

Pupuh 30
Aku hanyalah satu di antara ribuan orang yang memadati lapangan Bubat. Memenuhi sabda agung Sri Nata Baginda Prabu. Rakyat ini demikian mencintai pemimpinnya. Sri Nata rajin memanjatkan puja dan samadi demi keselamatan seluruh praja. Menghindarkan tenung, mengindahkan anugerah kepada rakyat murba. Di antara para raja yang lampau tidak ada yang setara beliau. Faham akan nam guna, sastra, tatwopadesa, pengetahuan agama. Adil, teguh dalam Jinabrata dan tawakal kepada laku utama.

Bubat adalah lapangan luas, lebar dan rata. Membentang setengah krosa sampai marga raya. Dan membujur setengah krosa bertemu tebing sungai. Dikelilingi bangunan Mahamantri Agung yang menjulang sangat tinggi di tengah padang. Tiangnya penuh berukir dengan isi dongengan parwa.

Di tepi lapangan terhias indah sebuah rumah-rumahan. Satu di antaranya bertiang merah. Indah dipandang semua menghadap ke arah takhta Sri Paduka. Mandapa dihias janur rumbai, tempat duduk para raja. Serambi dihias bunga-bunga berlapis untuk tempat duduk para isteri, pembesar, Mahamantri Agung, pujangga serta pendeta. Beberapa serambi berhias untuk para abdi dalem. Semua pendeta berdiri dalam lingkaran di tengah lapangan bagai saksi.

Hari ini kami merayakan upacara Sarawati. Mengheningkan cipta, mengucapkan puja pada Dewi Pengetahuan. Setelah dibersihkan semua lontar milik kerajaan, bangsawan, dan padepokan diusung ke tengah alun-alun dan diletakkan di atas petala bambu. Rupa-rupa sesembahan sajian buah-buahan dan panganan  tersaji di sekitarnya. Upacara, dipimpin oleh pendeta Stapaka. Tenang, sopan budiman faham tentang sastra tiga tantra. Umurnya melintasi seribu bulan. Tubuhnya sudah rapuh, selama upacara harus dibantu. Mudra, mantra dan japa diucapkan khidmat. Memuja arca Saraswati bagai penampung jiwa mulia.

Upacara siang itu kemudian dilanjutkan pada malam harinya. Tepat saat itu purnama bersinar terang. Semua kalangwan berkain putih duduk di atas panggung istana. Mereka secara bergantian membacakan karya yang kususun bersama dia selama perjalanan enam purnama mengitari pedusunan-pedusunan negeri. Sebuah catatan panjang yang kami susun dengan kecintaan dan ketekunan. Dan separuh dari lontar dengan keping-keping panjang itu adalah tulisanku.
Para petalangan, kalangan, dan jelata sudah menyemut. Ini kali pertama sebuah lontar milik kerajaan dibacakan untuk kalangan di luar istana. Setiap orang gelisah menanti-nanti isi lontar macam apa yang akan dibaca. Beberapa berbisik-bisik menebak-nebak nama kalangwan penulisnya. Aku diam menunggu.
Raja memegang lontar pertama.

“Wahai rakyatku yang kucintai. Ini adalah kakawin pujaan tentang perjalanan jaya keliling nagara. Segenap desa tersusun dalam rangkaian. Dengan mendengarkan pembacaan karya ini, kelak dapatlah kalian tuturkan turun temurun tentang kebesaran daya dan kaya negeri ini. Itulah tujuan melintas, menelusur dusun-dusun sampai di tepi laut. Ditulis dengan penuh ketekunan selama 6 purnama. Simaklah baik-baik.”
Semua orang bersorak riuh. Aku masih menunggu.

“DESAWARNANA, karya Mpu Panca!”
Aku masih menunggu. Belum kudengar namaku disebut.

Tapi hingga lontar ke dua, tiga, sepuluh, dua puluh, aku masih belum mendengar ada namaku disebut-sebut. Silam matahari waktu lingsir, perayaan berakhir. Aku bersabar, menunggu malam berganti. Memang urutannya belum sampai pembacaan kakawin yang kutulis.

Malam berikutnya, aku sudah menunggu dengan was-was. Kupasang telinga baik-baik. Aku mendengar kakawinku dibacakan. Membuncah serasa gunung di dadadaku. Kakawin yang kugores dengan keringat dan darahku dibaca para kalangwan tersohor di hadapan rakyat seluruh negeri.

Tapi hingga kakawin itu usai masih tak kudengar namaku disebut. Juga kakawin berikutnya. Berikutnya lagi. Dan lagi.
Aku ingin bertanya pada kakangku Panca, tapi lautan manusia yang sedang khidmat menyimak ini tak mungkin kusingkap. Maka aku berjalan jongkok mundur meninggalkan alun-alun.

Langit cerah oleh purnama tiba-tiba saja di pelupuk mataku yang merah dan basah menjadi gulita.
Oh, Dewi Saraswati, rengkuh aku bersamamu. (Diana AV Sasa)

Kakawin                                 : Syair,Puisi
Sakakala                                : Sajak berbentuk kronogram
Lambang                                : Sanjak liris yang pendek
Parwasagara                         : Samudera Cerita (judul karya)
Dharmadhyaksa                     : Pejabat tinggi dalam agama Budha di kalngan keraton
Kadharmadhyaksan               : Rumah Dharmadhyaksan
Perdikan                                : Desa otonom yang mengembangkan kesenian, tradisi, spiritual
Tetirah                                   : Beristirahat
Prameswari                            : Permaisuri
Pasiran                                  : Dayang
Patani                                    : Pondok-pondok tempat melepas lelah dengan bangku, beratap, di sepanjang    jalan atau alaun-alaun
Pudak                                     : Bunga pandan, biasanya dipakai untuk menulis surat cinta
Kropak                                   : ruas-ruas daun lontar
Pengumpak                            : Alat runcing untuk menggores lontar, serupa pahat/pisau
Karas                                     : Papan tulis berbahan dari tanah
Kawi                                       : penyair,penulis indah, sastrawan
Kalangon                               : keindahan
Paseban                                 : ruang pertemuan
Sasantri                                  : murid, santri, siswa
Mandapa                               : Bagian depan bangunan, pendapa


Si Sri ini tumbang di Lomba Cerpen Panji DKJT (o..a lah..nasibmu sri...) hehehhehee... abadi disini saja yah....

Puisi yang terinspirasi oleh cerpen ini
Karya: Rama Prabu

Sri dan Punggung Bukit

punggung bukit yang kau tulisi dengan tinta puspa warna
kini bermandi gerimis, tetesnya jadi mantra
beningnya jadi sabuk waskita
putihnya jadi kata-kata cinta

hingga esok kau biarkan gerimis itu jadi badai
keran gemuruh dada adalah bahasa andai
bahasa jadi sangkakala
mantra jadi bunga nagakusuma, wajah paduka!

kau ingat, undak yang jadi pudak
kini bergulung memanjat doa penyibak sorga
kakawin suci bak sesanti
tuah kalangwan di hari Saraswati

punggung bukit yang kau tulisi dengan tinta puspa warna
telah jadi mandapa bagi pertapa
lembahnya ngarai perdikan
dimana kau kembali tetirah menganyam kata-kata
meranumkan bebunga soka, pupuh pangkur asmarandana

[menafsir cerpen Diana AV Sasa, Sri dari Lemah Tulis]

note:
~ pudak itu bunga pandan
~ kakawin itu syair/puisi
~ mandapa itu bagian depan bangunan pendapa

Bandung, 03 Agustus 2010

Kalangwan dari Tanah Tulis

Tamansari, tangan Sri dan Syair Negeri
tapak sajak kakawin di daun lontar
jadi antara, Kutaraja dan Dharmadhyaksa
dirajut jadi pupuh, jadi megatruh

seandainya tetirah suci di lemah tulis
diiring wangi pandan, bait perdikan
Sri runduk mengayuh biduk, oleh titah paduka raja
mencium pudak-pudak asmara
memintalnya jadi aksara

dan disanalah kau semai cinta
dilembar getah dan daun pasrah
menggenapkan purnama dengan gores belahan dada
tepat dilubang arang, paseban lambang gumiwang

setumpuk sangkakala, jadi parwasanagara
esoknya kau leburkan senja jadi bahtera
semua demi sang puteri, prameswari pujaan negeri
dimana kau, kalangwan tak pernah ingkar janji

tapi mana kidung agung syair pujian?
lontar-lontar kerajaan yang pernah kau catatkan
kenapa sebaris nama itu hilang? diamuk reranting hening
kau kehilangan kata-kata, mungkin kinanti bisa wakili bahasa hati

tamansari, lemah tulis ketika sebaris nama kalis
seseorang telah mencuri, mengubahnya jadi narpati
menarik langkah setengah gelisah
enam purnama segera sudah

dan tangan Sri ragu menyentuh kepingan waktu
disambut kalalatu-jiwanya kembali rindu pada bilah petala bambu
tempat dulu menulis keyakinan: gores pena, tinta darah dan air mata
pasti bisa jadi kunci pembuka sorga
dimana hati sering menitip bait puisi

[menafsir cerpen Diana AV Sasa, Sri dari Lemah Tulis]

note:
~ kakawin itu syair/puisi
~ sakakala itu sajak berbentuk kronogram
~ lambang itu sanjak liris yang pendek
~ parwasagara itu samudera cerita (judul karya)
~ dharmadhyaksa itu pejabat tinggi dalam agama budha di kalangan keraton
~ perdikan itu desa otonom yang mengembangkan kesenian, tradisi spiritual
~ terirah itu beristirahat
~ pudak itu bunga pandan

Bandung, 03 Agustus 2010

0 comments: