Thursday, November 24, 2011

Buku Sakti Para Resensor

:: Truly Rudiono

Saya penggemar novel???


Hem…. Saya segera melirik rak-rak buku saya. Sepertinya disana juga ada buku agama, pengetahuan umum, motivasi, sejarah dan kamus. Ada satu lemari kecil dua susun khusus untuk buku-buku seputar Bahasa Mandarin. Geser sedikit ada bagian khusus untuk buku seputar wayang, disebelahnya berjejer cergam. Lalu ada satu rak khusus untuk buku-buku marketing. Di bagian bawahnya tersusun dengan rapi komik-komik. Tak ketinggalan buku-buku untuk swap. Sepertinya sih isi rak buku saya beragam.


Tuesday, November 15, 2011

Berguru Pada Pesohor Resensi Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan

:: Indrian Koto

Saya memulai paragraf pertama ini sesuai petunjuk yang ada dalam buku yang baru selesai saya baca berjudul Berguru Pada Pesohor Panduan Wajib Menulis Resensi Buku  Berguru pada Pesohor Panduan Wajib Menulis Resensi Buku, uh pasti buku tips lagi nih. Dalam buku ini dikatakan, jika paragraf pertama  bisa ditaklukan, maka (paragraf) selanjutnya akan lebih mudah (hal. 92). Lalu ia memberikan beberapa model paragraf pertama yang biasa dipakai dalam menulis sebuah resensi buku.

Sunday, September 4, 2011

Klandestin Banci di Negeri Banci *

“…Di sisi penyebaran sifat, wanita-pria bahkan sampai merengsek dan menelusup setiap tempat, tak terkecuali tempat-tempat penting penentu kebijakan berbangsa dan bernegara. Kebijakan pemimpin negara rata-rata menjadi kebijakan banci, tidak tegas dalam keberpihakan. Sikap mereka mirip para waria, tidak laki-laki tidak perempuan!”

Sikap dan sifat banci itu lah yang coba diangkat Yonathan Rahardjo dalam novel terbarunya Taman Api (2011). Dituturkan dengan gaya filmis, Yonathan meramu antara fenomena dunia seksualitas para banci (dalam hal ini adalah waria-transgender) dengan banci sebagai sebuah gejala sosial, sikap dan sifat dalam masyarakat. Dengan cara ini, Yonathan seakan ingin menunjukkan bagaimana sekelompok manusia di sebuah negeri bisa dijadikan korban dengan tuduhan-tuduhan, yang ironisnya, penuduh adalah juga pelaku apa yang dituduhkan, meski dalam dimensi atau takaran yang berbeda.

Monday, August 29, 2011

Bakti Buku TKI Mudik

:: Diana AV Sasa*)

Ritus lebaran di Indonesia yang khas dengan tradisi mudik, tidak hanya disambut gempita oleh para perantau di kota yang mudik ke kampung, tapi juga oleh mereka para pemasok devisa terbesar negri ini, Tenaga Kerja Indonesia (TKI) di luar negeri. Badan Nasional Penempatan dan Perlindungan Tenaga Kerja Indonesia (BNP2TKI) memperkirakan 50 ribu Tenaga Kerja Indonesia (TKI) dari luar negeri akan masuk melalui Gedung Pendataan Kepulangan (GPK) TKI di Selapajang, Tangerang, Banten pada mudik lebaran tahun ini. Angka ini bisa membengkak jadi ratusan ribu jika ditambah TKI yang melalui jalur lain seperti di Surabaya, Solo, Bandung, Mataram, Nunukan, Padang atau Parepare (Antara,13/8).

Friday, August 19, 2011

Nganan Lebih Baik Ketimbang Ngiri

Kebetulan dalam bahasa Inggris, ‘kanan’ dan ’benar’ itu diterjemahkan jadi ‘right’. Mungkin ini isyarat, kanan itu memang benar. Kebetulan pula, ‘kiri’ dan ‘ketinggalan’ itu sama-sama diterjemahkan jadi ‘left’. Mungkin ini isyarat, kiri itu memang ketinggalan (56)

Kutipan diatas hanyalah satu dari beberapa kebetulan yang dengan cemerlang dapat ditemukan Ippho Santosa mengenai ‘pledoi’ mengapa kanan lebih baik ketimbang kiri. Pledoi itu tertuang dalam buku motivasi bertajuk 7 Keajaiban Rezeki: Rezeki Bertambah, Nasib Berubah, dalam 99 Hari dengan Otak Kanan. Kebetulan lain yang ia temukan adalah rambu-rambu “Gunakan lajur kanan untuk mendahului”, dan “Gunakan lajur kiri untuk jalur lambat”. Mungkin ini pula isyarat bahwa untuk mendahului pesaing gunakan otak kanan, gunakan otak kiri kalau ingin ditinggalkan oleh pesaing.

Sunday, August 7, 2011

Episto Ergo Sum


:: Diana AV Sasa*)

Episto ergo sum semboyannya. ‘Saya menulis surat pembaca karena saya ada’ artinya. Kalimat plesetan dari cogito ergo sum. Saya berpikir karena saya ada. Milik filsuf dan matematikawan Perancis, Rene Descartes. Di dalam pers, kedudukan mereka sangat istimewa, setara dengan penulis opini. Karena istimewanya posisi mereka ini, halaman mereka  “haram” dimasuki berita-berita iklan, bebas dari segala kepentingan.

Monday, July 11, 2011

Pra Gagas Kelompok Oi Buku Ini Aku Pinjam

(Set Wahedi & Diana AV Sasa)
# Buku adalah Kapak Es

Buku adalah Kapak Es, kata Kafka. Kapak es yang akan menghancurkan batu-batu dalam diri kita: batu kebodohan, batu kepicikan, batu kesewenang-wenangan, batu kecemasan, dan batu-batu yang terus berjatuhan dari angan dan mimpi kita. Di lain tempat, buku adalah dunia tempat mengungsi. Dunia saat kita bisa membaca segala peristiwa sepenuh hati. Memaknai kenangan tak hanya sekadar manis dan pahit. Tapi kenangan yang mesti dimasuki dengan penghayatan sepenuh hati.

Friday, June 17, 2011

Bukan Sekadar Panduan

::  M Iqbal Dawami

Masih bingung dan tidak tahu bagaimana meresensi buku? Bacalah buku ini! Ingin tahu rekam jejak sejarah resensi di Indonesia? Bacalah buku ini. Ya, buku ini mengandung dua hal itu. Jadi, boleh dikata buku ini merupakan kiat meresensi buku plus-plus. Kita tidak hanya diberi tahu bagaimana cara meresensi buku, tetapi juga informasi pelbagai kisah dunia resensi tempo doeloe di Indonesia. Gabungan keduanya menjadikan unik dan istimewanya buku ini. Haqqul yaqin, suatu hal yang tidak bisa ditemukan dalam buku-buku sejenisnya.

Monday, June 13, 2011

Kesan-Kesan Pribadi

:: Melmarian

Warning: INI BUKAN REVIEW.


Saya hanya akan menulis sekelumit kesan-kesan pribadi mengenai buku Berguru Pada Pesohor ini, karena bakal agak aneh kan kalau saya meresensi buku panduan meresensi buku? (mulai jelimet…)


Buku Limited Edition yang sukses bikin saya penasaran ini kemarin mendarat juga di tangan saya. Bikin penasaran karena buku ini mengupas teknik-teknik dan berbagai tips untuk meresensi buku. Dan tentu saja bikin penasaran karena daftar blog buku Indonesia yang dimuat di bagian akhir buku ini, walaupun sudah pernah melihat beberapa fotonya di note FB nya mbak Truly Rudiono, tapi tetep aja penasaran pingin lihat secara langsung:D

Keren kan kalo blog anda dimuat di buku (congkak mode on :D )

Thursday, May 5, 2011

Panduan Wajib Meresensi Buku

Judul: Berguru Pada Pesohor, Panduan Wajib Menulis Resensi Buku Penulis: Diana AV Sasa, Muhidin M Dahlan Penerbit: d:buku dan I:BOEKOE Tebal: 265 hlm Ukuran: 13 x 20 cm (Paperback) ISBN: 978-602-98997-0-2 Harga: Rp 60.000 (belum termasuk ongkos kirim) LIMITED EDITION

Resensi bukan semata timbangan buku yang menjadi promosi, melainkan juga sebuah pengadilan atas sebuah buku. Melalui resensi nasib sebuah buku ditentukan takdirnya, cacat atau hidup mulus.
Di sini, penulis resensi dituntut bermata ganda: mata seorang wisatawan dan sekaligus penyidik.

Monday, April 4, 2011

Tradisi Lisan-Tulisan (1): Tanggapan untuk Diana AV Sasa

 :: Ahmad Subhan

Pada 6 Maret 2012, situs Indonesia Buku memuat tulisan Diana AV Sasa yang berjudul “Perpustakaan yang Bernapas”. Diana membuka esai itu dengan kritik terhadap cara pandang yang telanjur diamini banyak pihak bahwa “Minat baca masyarakat kita masih sangat rendah”. Berseberangan dengan cara pandang tersebut, Diana menawarkan perspektif yang tak lagi membenturkan antara budaya lisan dengan budaya baca-tulis. Berdasarkan landasan berpikir itu, Diana menganjurkan agar perpustakaan-perpustakaan meninggalkan tradisi sebagai tempat menyimpan koleksi, ruang baca, dan pinjam pustaka belaka. Pengelola perpustakaan harus kreatif adalah gagasan pokok Diana dalam artikel tersebut.

Sunday, March 6, 2011

Perpustakaan yang Bernapas

:: Diana AV Sasa*)

“Minat baca masyarakat kita masih sangat rendah”

Kalimat bernada pesimis ini terlampau sering saya dengar di setiap perbincangan mengenai baca-tulis. Ini pesimistis yang alpa dari akar sejarah literasi negeri sendiri. Melupakan prasasti, relief di  gua-gua purba, dan lontar-lontar maha karya para kawi.

Tuesday, February 22, 2011

Dadang, Ini Zulfa Memanggilmu….

Tak banyak perempuan yang melakukan pameran tunggal fotografi, dan Zulfa menjadi satu diantara yang sedikit itu. Ia, sekali lagi membuktikan bahwa pameran tunggal adalah persoalan mental melawan arus publik dan ketahanan diri.  Selamat, di titik ini Anda berhasil, saudaraku.

Menjadi perempuan yang mampu melepaskan diri dan mengaktuaisasi potensi dirinya dengan karya kreatif sungguh bukan hal yang mudah. Ia mesti berkompromi dengan budaya juga mengupayakan sebuah pembuktikan untuk mendapat pengakuan keber-ada-an.

Saturday, January 1, 2011

Aktivis Perempuan, Menulislah!

:: Diana AV Sasa*
 
“Memang ini pekerjaan rumit; tapi barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang. Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga per empat dunia”

Ini adalah manifesto ibu penulis Indonesia, Kartini. Ia, perempuan yang setiap 21 April tanggal kelahirannya diperingati seluruh negeri. Perempuan yang dikenang dengan konde dan jarit oleh bocah-bocah taman kanak, pun tak ketinggalan ibu-ibu mereka. Habis gelap terbitlah terang, kalimat ini membawanya abadi. Ia perempuan yang menjadi simbol kesetaraan laki-laki dan perempuan di belahan bumi bernama Indonesia