Saturday, January 1, 2011

Aktivis Perempuan, Menulislah!

:: Diana AV Sasa*
 
“Memang ini pekerjaan rumit; tapi barangsiapa tidak berani, dia tidak bakal menang. Maju! Semua harus dilakukan dan dimulai dengan berani! Pemberani-pemberani memenangkan tiga per empat dunia”

Ini adalah manifesto ibu penulis Indonesia, Kartini. Ia, perempuan yang setiap 21 April tanggal kelahirannya diperingati seluruh negeri. Perempuan yang dikenang dengan konde dan jarit oleh bocah-bocah taman kanak, pun tak ketinggalan ibu-ibu mereka. Habis gelap terbitlah terang, kalimat ini membawanya abadi. Ia perempuan yang menjadi simbol kesetaraan laki-laki dan perempuan di belahan bumi bernama Indonesia

.

Kartini, perempuan Indonesia yang seluruh hidupnya habis dalam keterbatasan aturan kaum ningrat feodalis pribumi. Kartini, perempuan yang bertahan dalam kekangan kekuasaan patriarkal laki-laki. Ia berupaya untuk menyuarakan kegelisahannya dengan satu cara :Menulis.

Dia menulis hal-hal sederhana dan keseharian. Tentang perasaan dan kesan-kesannya dari suatu kejadian. Ia menulis catatan harian. Juga surat-surat untuk para sahabat perempuannya di luar negeri. Mula-mula hanya remeh dan sepele. Kemudian seiring ketrampilan bahasanya, ia menulis tentang pendapat-pendapat dan pandangan terhadap beberapa hal disekitarnya. Ia tak pernah berpikir bahwa apa yang ditulis suatu saat akan membuatnya dikenang. Namun ia begitu percaya bahwa apa yang ditulisnya adalah alat untuk pembentukan kekuatan.

Perempuan putri asisten Wedana di rembang itu telah membuktikan. Dengan tulisan ia menembus batas aturan dan kekuasaan yang membuat perempuan di masanya demikian sulit bersuara. Tulisan Kartini kemudian menjadi cermin bagaimana perempuan ketika mengenyam pendidikan dan mampu mengasah bakat dan kemampuan ternyata bisa menghasilkan ketajaman karya yang tak kalah dengan laki-laki.

Kartini cukuplah memberi teladan. Kini saatnya perempuan-perempuan millennium melanjutkan lakunya. Adalah tugas nasional yang mesti dipundaki oleh perempuan-perempuan yang mengaku sebagai aktivis pergerakan untuk melanjutkan apa yang sudah dimulai oleh Kartini. Dan tugas itu adalah:Menulis.

Tak banyak perempuan yang menulis. Lebih sedikit lagi aktivis perempuan yang menulis. Selama ini perempuan-perempuan yang menceburkan diri dalam dunia pergerakan acap kali terjebak pada pergulatan eksistensi perempuan-laki-laki. Pucuknya adalah perebutan kekuasaan tampuk kepemimpinan organisasi. Jika behasil ditampuk teratas dianggap berhasil gemilang mewakili suara kaumnya. Bila luput lantas merutuki diri dan golongan laki-laki dengan tuduhan patrarkis cum marginalisasi. Dan ini bergulir terus menerus dari generasi ke generasi.

Perempuan-perempuan aktivis ini tentu tak akan lupa pada nama Kartini. Tapi mereka alpa pada apa yang diajarkannya tentang senjata menembus kekuasaan laki-laki yang terlanjur mengukung kuat hingga ke akar kehidupan. Mereka berjuang dengan alat yang sama dengan yang dipakai laki-laki. Cara-cara yang sama untuk berebut kekuasaan. Mereka lupa bahwa alat yang sedemikian sederhana sesungguhnya menjanjikan keberhasilan yang bisa melebihi harapan mereka.

Perempuan aktivis tak harus menulis hal-hal berbau wacana yang muluk-muluk dengan bahasa akademis tinggi agar dianggap aktivis intelektual. Mereka bisa mulai menulis dari apa-apa yang mereka jalani dalam keseharian selama bercurah hidup dengan alur kehidupan organisasi pergerakannya. Keseharian bukan tak punya arti. Justru disitulah kesejatian peristiwa kehidupan berada.

Menulis catatan harian. Itulah yang diajarkan Kartini. Bukan pekerjaan mudah untuk menulis catatan harian. Ini adalah uji ketahanan bertarung dengan kemalasan diri dan kejenuhan yang memuncak. Catatan harian mulanya hanya akan merangkum hal-hal remeh, kemudian akan meningkat menjadi pandangan dan pendapat-pendapat. Semakin detil semakin baik. Semakin sepele semakin baik. Penulis terbaik adalah mereka yang telaten dan teliti menuliskan detil.

Rincian hal-hal sepele yang terkesan remeh itulah yang dikemudian hari akan menjadi sumber otentik tentang perjalanan sejarah suatu organisasi. Tak banyak organisasi yang memiliki catatan apa-apa yang terjadi dalam organisasinya. Rekaman percakapan lengkap dalam sebuah rapat. Surat-surat penting organisasi. Notulensi pertemuan. Hingga peristiwa-peristiwa penting organisasi. Siapa pelakunya, dimana kejadiannya, kapan terjadinya, apa penyebabnya, dan bagaimana peristiwanya.

Ini memang kerja rumit, keras, dan menantang. Hanya mereka yang memiliki ketekunan dan ketelatenan yang mampu mengerjakannya. Dan perempuan dianugrahi bakat-bakat alami untuk melakukan kerja itu. Karena itulah perempuan diberi rahim agar bisa mengandung anak manusia, merawatnya sepenuh kecintaan, dan membesarkannya hingga menjadi manusia tangguh.

Bakat alami telah ada. Alat telah tersedia, saatnya beraksi. Pekerjaan menghimpun dokumentasi organisasi adalah tugas perempuan aktivis yang dilakukan dengan kesadaran penuh. Kesadaran untuk mencatat sejarah organisasi. Sejarah perjuangan perempuan dari masa ke masa.

Dengannya, kelak tak akan ada lagi kebingungan akan sejarah perjalanan organisasi. Tak akan ada lagi perseteruan turun temurun yang ahistoris. Dan dengan menulis, perempuan aktivis akan membuktikan bahwa kerja nyata tak semata perebutan kekuasaan tampuk kepemimpinan organisasi. Menulislah, kau akan abadi!

*)Penulis adalah mantan bendahara Pengurus Cabang PMII Surabaya 2003-2004
**) Dimuat di Buletin PMII Cabang Surabaya,

0 comments: