Tuesday, February 22, 2011

Dadang, Ini Zulfa Memanggilmu….

Tak banyak perempuan yang melakukan pameran tunggal fotografi, dan Zulfa menjadi satu diantara yang sedikit itu. Ia, sekali lagi membuktikan bahwa pameran tunggal adalah persoalan mental melawan arus publik dan ketahanan diri.  Selamat, di titik ini Anda berhasil, saudaraku.

Menjadi perempuan yang mampu melepaskan diri dan mengaktuaisasi potensi dirinya dengan karya kreatif sungguh bukan hal yang mudah. Ia mesti berkompromi dengan budaya juga mengupayakan sebuah pembuktikan untuk mendapat pengakuan keber-ada-an.


Pemeran tunggal Zulfa ini menunjukkan bahwa pilihannya dalam fotografi tidak berada dalam ‘arus besar’ fotografi, meski bukan hal yang baru. Pembeda ini bukan hanya membuatnya istimewa sebagai fotografer yang seniman, tapi juga menunjukkan kemampuannya mengolah isi kepala dengan rasa kalbunya. Dibutuhkan ketelitian, kesabaran dan kecerdasan untuk mampu menguasai teknik photogram yang memiliki tingkat kesulitan tinggi untuk mengdapatkan gradasi warna yang diinginkan. Sekali lagi terbukti, apa yang kau ‘baca’ adalah apa yang ada dalam dirimu.

Roshomon, yang dipilih Zulfa sebagai tema pamerannya kali ini menunjukkan sebuah karya yang begitu personal, dekat dengan keseharian sang seniman. Zulfa yang mahasiswa penekun bahasa Jepang mampu meramu kecintaannya dalam fotografi yang menjadi pilihan karya seninya. Seakan mendobrak apa yang dilakukan seorang laki-laki bersebut nama Dadang Ari Murtono yang melakukan plagiat cerpen Roshomon di harian nasional beberapa waktu lalu, Zulfa menunjukkan bagaimana berkarya dengan arif.

Maka, membaca sesungguhnya bukan sekedar melihat, mengamati, dan merasakan, namun juga mengambil sari pati dan menelurkannya menjadi sesuatu yang memiliki kebaruan makna. Dbuku Bibliopolis memberikan apresiasi sepenuh penghormatan atas proses berkarya Zulfa. Selamat berpameran.

Diana AV Sasa


Direktur Yayasan Dbuku

0 comments: