Sunday, March 6, 2011

Perpustakaan yang Bernapas

:: Diana AV Sasa*)

“Minat baca masyarakat kita masih sangat rendah”

Kalimat bernada pesimis ini terlampau sering saya dengar di setiap perbincangan mengenai baca-tulis. Ini pesimistis yang alpa dari akar sejarah literasi negeri sendiri. Melupakan prasasti, relief di  gua-gua purba, dan lontar-lontar maha karya para kawi.



Daripada mengatakan minat baca masyarakat Indonesia rendah, saya lebih suka mengatakan akses terhadap bacaan di Indonesia terbatas. Coba perhatikan di tempat orang menghabiskan waktu untuk menunggu, atau bersantai, adakah buku tersedia di sana?


Ketersediaan bahan bacaan yang sangat minim ini sampai pula ke ruang-ruang keluarga. Bila tidak ada yang akan bahan bacaan, apa yang mau dibaca? Maka jangan salahkan mereka bila kemudian lebih mengakrabi tontonan. Sesuatu yang bersifat audio-visual, lebih memanjakan indrawi sehingga bisa dinikmati tanpa harus memompa keseriusan.

Namun, Muhidin M Dahlan dalam Jangan Paksa Masyarakat Membaca Buku yang dimuat Jawa Pos, 18 Mei 2008, mewanti-wanti agar para aktivis buku—yang disebutnya angkuh dan sombong—tak terlampau memaksakan budaya membaca pada masyarakat. Kampanye membaca itu disebut Muhidin melupakan masyarakat berlatar visual dan tontonan. Masyarakat punya pandangan hidup sendiri bagaimana memperlakukan hidup.

Muhidin mengamini pendapat sejarawan Taufik Abdullah bahwa tradisi budaya lokal kita adalah lisan dan bukannya tulisan. Ingatan kolektif, pengetahuan, informasi atau perbendaharaan kultural apa pun ditransmisikan secara lisan dan visual. Melahirkan maestro upacara bukan cendikiawan pemikir. Bahkan Bahasa Indonesia pun berkarakter lingua franca (sehari-hari) yang tak mengenal struktur lampau,kini, dan akan datang. Bukan bahasa yang diperuntukkan untuk bahasa tulis, bahasa refleksi, bahasa filsafat.

Jika perhatian para aktivis buku kemudian terjebak pada perdebatan tradisi akar ini, maka kerja-kerja penyebaran pengetahuan melalui buku yang dilakukan akan terjebak pada kegamangan. Pesimis karena apa yang sudah dianggap akar budaya membutuhkan upaya kerja besar dan waktu panjang untuk merubahnya. Tapi bukan mana akar mana batang yang menjadi persoalan. Bagaimana para aktivis buku memaknai hal ini dalam gerakannya, itu yang lebih penting.

Posisi Buku

Ketika kampanye membaca buku digelorakan, isu utama yang diusung pada dasarnya adalah perluasan pengetahuan. Harapannya, dengan pengetahuan yang luas sesorang dapat meningkatkan kulitas diri dan hidupnya. Karenanya embel-embel slogan ‘buku adalah jendela dunia’ seringkali melekat.

Bila tujuan utamanya adalah meluaskan pengetahuan, maka membaca mesti dimaknai secara luas pula. Buku, dengan demikian hanyalah salah satu medium sumber pengetahuan itu disesapi. Artinya, pengetahuan itu dapat pula diserap dari sumber lain dalam medium lain. Misalnya audio dan visual. Sepanjang medium-medium itu memberikan apa yang dibutuhkan sebagai pengetahuan, maka tidak ada yang paling unggul atau agung daripada yang lain dalam posisi sumber informasi. Manfaat dari masing-masing medium sangat bergantung dari minat dan kemampuan penyerapan si pemamah pengetahuan itu sendiri.

Medium buku kemudian meluas tak semata bentuk fisik sebagai sekumpulan teks di atas kertas, namun bisa menjadi audio book (buku suara) atau visual book (buku visual). Buku-buku dalam multimedium ini kemudian menduduki posisi sebagai alat dokumentasi pengetahuan. Pemikiran, peristiwa, benda, ruang, sosok, imajinasi diabadikan dalam ‘buku-buku’ agar tak menguap dan menghilang tergerus waktu.

Jadi, membaca tontonan, membaca suara, membaca peristiwa, membaca pikiran, membaca tulisan adalah apa yang diteriakkan dalam kampanye membaca. Tak usah lagi berdebat tentang akar tradisi atau pesimis terhadap daya-minat baca masyarakat. Yang dibutuhkan selanjutnya adalah keterbukaan akses terhada pengetahuan itu sendiri.

Dilarang diam di Perpustakaan!

Perpustakaan, di sinilah orang, seringkali, merendahkan suara mereka dan meninggikan pikirannya.(Richard Armour Light Armour, McGraw-Hill, 1954)

Secara harafiah, kalimat Richard di atas saya katakan: basi! Perpustakaan sebagai rumah bagi buku, rumah bagi pengetahuan, semestinya mengikuti perkembangan dunia di luar rumahnya pula. Perpustakaan yang senyap hanya akan menjadi kuburan bagi pengetahuan. Disentuh hanya oleh para cerdik pandai. Sementara mereka yang belum memiliki kesadaran tentang perlunya meluaskan pengetahuan hanya menjadi bagian asing yang terpinggir.

Bila sebuah perpustakaan didirikan hanya untuk menjadi gudang buku dan berharap orang akan menyambut suka cita, lantas bila harapan tak terpenuhi stereotip semacam ‘minat baca rendah’ itu pun ditempelkan, maka saya katakan: perpustakaan macam itu adalah masa lalu!

Perpustakaan modern adalah perpustakaan yang bukan hanya menyediakan buku cetak, tapi juga sesuatu untuk ditonton, didengarkan, diperbincangkan, disuarakan, digerakkan. Perpustakaan masa kini yang bertujuan masa depan adalah perpustakaan yang tak hanya diam menunggu pembaca, tapi yang memikat, yang mengundang orang untuk menghampirinya. Maka kreatif adalah syarat yang wajib dipenuhi.

Perpustakaan kreatif hendaknya memenuhi kebutuhan kreasi dan rekreasi. Perpustakaan menjadi ruang belajar bersama. Aktivitasnya melibatkan partisipasi aktif dari pengunjung perpustakaan. Di sini siapa saja dapat bertukar pengetahuan dengan medium apa pun dan membaginya pada khalayak luas. Perpustakaan bertugas mendokumentasikan aktivitas-aktivitas itu. Maka perpustakaan tidak hanya menjadi pengumpul tapi juga pencipta informasi. Bukan hanya menerima bentuk jadi tapi juga menciptakan (create) bentuk baru.

Coba tengok apa yang dilakukan rumah buku semacam C2O Library yang ada di Surabaya. Perpustakaan milik Kathleen Azali ini tidak hanya menyediakan buku, tapi juga film-film bermutu, baik dari dalam maupun luar negeri. Di sana juga menjadi arena berkumpulnya para anak muda kreatif yang membuat film. Kathleen juga memanfaatkan dinding-dindingnya sebagai galeri mini yang bisa dipakai untuk memajang karya seni. Selain diskusi-diskusi rutin, C2O juga kerap menggelar acara untuk anak-anak yang merangsang kreatifitas penciptaan.

Di jantung pulau Jawa ada perpustakaan Indonesia Buku (I:BOEKOE) punya radio online dan angkringan (semacam warung). Radio yang menyajikan renik-renik dunia perbukuan itu bisa didengarkan melalui internet dan mobile phone. Angkringannya sering dimanfaatkan untuk diskusi. Di angkringan ini ada pula televisi. Para sesepuh di kampung sekitar juga rutin memanfaatkan ruangan perpustakaan untuk ajang membaca bersama kitab-kitab jawa kuno (semacam reading group). Pemuda-pemudanya diajak melakukan riset penulisan sejarah kampung. Suasana ‘hidup’ itu terasa sekali di perpustakaan ini.

Contoh lain bisa dilihat di banyak perpustakaan maupun taman bacaan yang tersebar di seluruh Indonesia. Rumah Dunia-nya Gol A Gong cukup populer dengan aktivitasnya yang didukung oleh masyarakat sekitar sampai pada upaya pembelian lahan untuk pengembangan area. Di Makasar ada Café Buku Biblioholic yang mengajak warganya menjadi reporter berita-berita lokal (citizen journalism). Di Pacitan, perpustakaan Gelaran Pakis membimbing anggotanya belajar pertanian organik.

Perpustakaan-perpustakaan yang banyak digawangi orang-orang muda ini mengusung semangat yang sama tentang rumah buku masa depan. Mereka berinovasi seiring perkembangan zaman. Buku-bukunya mulai merambah medium digital. Anggota perpustakaan tak hanya dijadikan tamu pasif, tapi penyumbang napas bagi perpustakaan itu sendiri. Masyarakat sekitar ikut merasa memiliki dan memberikan dukungan setelah merasakan manfaatnya. Perlu strategi dan pembacaan karakter masyarakat secara menyeluruh untuk bisa memperoleh pola yang tepat untuk masing-masing perpustakaan. Mereka lah  nafas perpustakaan yang menjadikan perpustakaan tetap berdenyut.

*)Pengelola Perpustakaan Dbuku Bibliopolis, Surabaya

**) Dimuat di Newsletter Rumah Baca Tikungan Jember, edisi Maret 2011

0 comments: