Monday, April 4, 2011

Tradisi Lisan-Tulisan (1): Tanggapan untuk Diana AV Sasa

 :: Ahmad Subhan

Pada 6 Maret 2012, situs Indonesia Buku memuat tulisan Diana AV Sasa yang berjudul “Perpustakaan yang Bernapas”. Diana membuka esai itu dengan kritik terhadap cara pandang yang telanjur diamini banyak pihak bahwa “Minat baca masyarakat kita masih sangat rendah”. Berseberangan dengan cara pandang tersebut, Diana menawarkan perspektif yang tak lagi membenturkan antara budaya lisan dengan budaya baca-tulis. Berdasarkan landasan berpikir itu, Diana menganjurkan agar perpustakaan-perpustakaan meninggalkan tradisi sebagai tempat menyimpan koleksi, ruang baca, dan pinjam pustaka belaka. Pengelola perpustakaan harus kreatif adalah gagasan pokok Diana dalam artikel tersebut.

Saya sepakat dengan pemikiran Diana tentang anggapan bahwa minat baca masyarakat Indonesia rendah karena kuatnya budaya lisan adalah cara pandang yang usang. Begitu juga terhadap saran agar perpustakaan perlu kreatif untuk memikat minat masyarakat dengan menyediakan beragam jenis koleksi serta berbagai kegiatan yang bukan sekadar menyediakan koleksi untuk dibaca dalam diam atau kemudian dipinjam. Kendati demikian, ada beberapa pendapat Diana yang tidak saya sepakati, bahkan saya nilai tidak koheren sehingga masih terjebak dalam cara pandang yang mempertentangkan antara budaya lisan dengan tulisan. Artikel ini merupakan upaya melengkapi gagasan-gagasan Diana.

Lisan-Tulisan

Saya membaca inkonsistensi Diana sejak dia memperingatkan bahwa negeri ini punya akar sejarah tradisi literer yang tercatat pada prasasti, relief di  gua-gua purba, dan lontar-lontar. Keyakinan tersebut justru bertentangan dengan landasan berpikir yang dia sitir dari Muhidin M. Dahlan yang menyepakati pendapat Taufik Abdullah bahwa tradisi budaya lokal Indonesia adalah lisan, bukan tulisan. Diana juga mengutip pendapat Muhidin M Dahlan yang mewanti-wanti para aktivis kampanye gemar membaca agar tidak memaksakan budaya membaca pada masyarakat, karena mereka seolah-olah lupa bahwa masyarakat Indonesia punya tradisi budaya visual dan tontonan.

Menurut saya, inkonsistensi tersebut dapat menimbulkan kebingungan pada pembaca perihal pada tradisi manakah masyarakat Indonesia sebetulnya berakar, tulisan ataukah lisan? Kebingungan tersebut juga akan menimbulkan pertanyaan baru. Apabila benar masyarakat kita punya akar tradisi tulisan sebagaimana Diana sinyalir dapat dibuktikan pada artefak-artefak tradisi literer, mengapa akar tersebut seolah-olah kemudian mati, sehingga tak dapat menjadi fondasi perkembangan masyarakat dengan tradisi tulisan yang kuat?

Diana menghindari perdebatan tradisi lisan versus tulisan dengan menulis bahwa jika para aktivis buku terjebak dalam perdebatan tersebut, maka kerja-kerja penyebaran pengetahuan melalui buku akan terjebak dalam kegamangan.

Saya menganggap perdebatan tentang lisan-tulisan tetap penting dikemukakan dengan tujuan menyingkap perihal bagaimana sebetulnya duduk persoalan, perbedaan, dan persamaan antara keduanya, serta bagaimana dua tradisi tersebut sebetulnya saling melengkapi, bukan untuk dipertentangkan.

Suara Aksara

Lisan maupun tulisan tak dapat dilepaskan dari perangkat yang digunakan manusia untuk berkomunikasi, yakni bahasa dan aksara. Oleh karena itu, perlu upaya memahami unsur-unsur bahasa dan aksara apabila hendak mengurai bagaimana pertautan antara antara lisan dengan tulisan. Pertautan tersebut kita temukan pada unit bunyi terkecil dalam alfabet, yakni fonem (Phoneme = bunyi, suara).

Menurut Pendit (2008), setiap alfabet dapat dikaitkan dengan bunyi. Dengan demikian, bahasa tertulis pun harus dikaitkan dengan bahasa lisan. Setiap huruf pasti dapat diucapkan, oleh karena itulah setiap huruf memiliki bunyi yang unik. Bandingkan antara huruf “f” yang saat disuarakan, bibir kita mengatup dengan menyisakan sedikit ruang untuk mengeluarkan udara. Lain halnya pada huruf “v” dengan mulut terbuka. Dalam buku-buku belajar mengaji aksara Arab, selalu ada gambar rongga mulut, hidung, dan lidah yang mana tiap huruf hijaiyah diposisikan pada titik-titik tertentu pada bagian-bagian organ bicara tersebut. Begitu pula teknik belajar bicara bagi para tunawicara, yakni memperkenalkan dan membiasakan mereka dengan getaran-getaran tertentu pada lidah dan rongga mulut saat menyuarakan huruf-huruf dan kata-kata.

Setiap orang yang ingin menguasai sebuah bahasa, harus memiliki kesadaran fonem (Pendit, 2008). Seseorang harus dapat mengisolasi sebuah fonem di antara fonem-fonem lainnya, sekaligus juga dapat menggabungkan beberapa fonem untuk menimbulkan bunyi baru, contohnya menggabungkan antara huruf “n”, huruf “y”, dan “a” sehingga menjadi kata “nya”.

Kesadaran fonem kemudian menjadi kata-kata itulah yang dilatih saat belajar membaca di bangku sekolah dasar. Be-u, bu.. Ka-u, ku., BUKU, seperti itulah suara siswa sekolah dasar yang berlatih membaca dengan mengeja keras-keras setiap alfabet. Dalam istilah kebahasaan, membaca sambil menyuarakan bacaan itu merupakan bagian dari phonetic literacy, yaitu kemampuan mendekode teks, sukukata demi sukukata, lalu menyuarakannya keras-keras. Tujuannya adalah agar si pembaca dapat mengingat secara persis, apa “bunyi” dari sebuah kata, sehingga lama kelamaan dia dapat mengingat dan mengenal kata itu (Pendit, 2008).

Pengalaman masa kecil Ajip Rosidi tentang membaca sembari bernyanyi dapat menjadi contoh keterkaitan antara tradisi-lisan-tulisan. Berikut ini saya kutip kisah Ajip Rosidi:

Tradisi menyuarakan apa yang dibaca sebenarnya merupakan bagian dari tradisi lisan yakni tradisi mewariskan pengetahuan kultural dari satu generasi ke generasi lain melalui pernyataan atau ekspresi lisan, dengan pengucapan (Pendit, 2008). Di Nusantara, tradisi ini dapat ditemui di kalangan orang Petalangan, suku asli di Riau, yakni tradisi pembacaan atau menyanyikan cerita tentang tradisi suatu suku (tombo) oleh pebilang tombo (penutur/pembaca yang telah menghafal cerita di luar kepala). Salah satu tombo yang telah dibukukan adalah “Nyanyian Panjang Bujang Tan Domang” (Kleden, 2004).

Di Belitung, ada tradisi bercerita yang dikenal dengan istilah begalor. Salah satu kisah yang sudah turun-temurun diceritakan secara begalor di kalangan keturunan ningrat Belitung kini pun telah dibukukan oleh Ian Sancin menjadi novel berjudul “Yin Galema”.
Membaca dalam Diam

Sub-judul artikel Diana berbunyi “Dilarang diam di Perpustakaan!” Saya menduga, kritik Diana terhadap perpustakaan sebagai tempat membaca dalam diam adalah cermin dari citra buruk perpustakaan dengan penjaga yang judes bila ada pengunjung yang berisik serta ingatan pada tulisan yang biasanya terpampang di ruang baca perpustakaan yang berbunyi “Harap Tenang” atau bahkan “Dilarang Berdiskusi”.

Saya ingin sampaikan di sini bahwa membaca dalam diam sesungguhnya justru adalah hakikat budaya baca. Untuk menjelaskan pernyataan ini, saya akan menyambung uraian pertautan antara lisan-tulisan serta suara aksara sebagaimana yang sudah saya jabarkan di atas.

Setahap demi setahap orang yang belajar membaca berhasil mengeja huruf kemudian mengenal kata-kata, lalu mengaitkan makna antarkata, hingga memahami seluruh teks, maka seseorang tak lagi tergantung pada bunyi. Karena seseorang perlu berkonsentrasi penuh saat membaca.

Menurut Pendit (2008), proses tersebut pada dasarnya adalah proses penerjemahan. Mata pembaca menerima simbul-simbul tertulis yang harus diterjemahkan sesuai dengan rujukan verbalnya, lalu dicari maknanya. Meski seseorang membaca dalam diam, setiap membaca sebuah teks, pastilah ada “suara-suara” di dalam kepala. “Suara-suara” yang akrab bagi pembaca itu membantunya dalam memahami teks.

Pada tahap inilah kegiatan membaca menjadi benar-benar bersifat personal. Meski ruang baca perpustakaan penuh pengunjung, seorang pembaca seolah-olah berada dalam dunianya sendiri. Itulah mengapa perpustakaan menyediakan fasilitas meja baca yang dapat memberi privasi.

Seseorang yang sedang membaca pada dasarnya adalah seseorang yang sedang sendirian. Memang benar bahwa pada awalnya seorang pembaca terlibat dalam sebuah proses komunikasi antara dirinya dengan penulis buku yang ia baca. Namun ketika ia membaca dalam diam, berpindahlah proses komunikasi itu dari proses interpersonal menjadi intrapersonal. Ia menjalani proses menjadikan dirinya sebagai pribadi yang mandiri, tak lagi bergantung kepada kontak dengan penulis buku, dan menjadikan buku sebagai perahu baginya untuk berlayar di tataran lautan intertekstualitas (Pendit, 2008).

 

Bacaan rujukan:

Kleden, Ignas. 2004. Sastra Indonesia dalam Enam Pertanyaan. Jakarta: Grafiti & Freedom Institute.

Pendit, Putu Laxman. 2008. Mata Membaca Kata Bersama. Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.

Pendit, Putu Laxman. 2008. Mata Membaca Kata Bersama . Jakarta: Cita Karyakarsa Mandiri.

Sularto, St., Wandi S. Brata, Pax Benedanto (eds). 2004. Bukuku Kakiku. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

0 comments: