Monday, July 11, 2011

Pra Gagas Kelompok Oi Buku Ini Aku Pinjam

(Set Wahedi & Diana AV Sasa)
# Buku adalah Kapak Es

Buku adalah Kapak Es, kata Kafka. Kapak es yang akan menghancurkan batu-batu dalam diri kita: batu kebodohan, batu kepicikan, batu kesewenang-wenangan, batu kecemasan, dan batu-batu yang terus berjatuhan dari angan dan mimpi kita. Di lain tempat, buku adalah dunia tempat mengungsi. Dunia saat kita bisa membaca segala peristiwa sepenuh hati. Memaknai kenangan tak hanya sekadar manis dan pahit. Tapi kenangan yang mesti dimasuki dengan penghayatan sepenuh hati.


Maka, buku mesti dijadikan ruang laboratorium. Untuk membedah, mereduksi dan menyusun kembali ingatan kita tentang peristiwa yang abadi. Pun, buku mesti dijelmakan sebagai lorong ikhtiar guna memenangkan masa depan. Kemenangan yang telah digagas dan dibuktikan oleh mereka yang percaya dan yakin, bahwa buku akan melahirkan sebuah generasi bangsa yang membawa perubahan lebih baik.

Mereka, sebut saja  Soekarno, Mohamad Hatta, Haji Agus Salim, Sjahrir, Ki Hadjar Dewantara, Adam Malik, I.J. Kasimo, Soepomo, Mohammad Yamin, A.A. Maramis, Tjipto Mangunkusumo, Iwa Kusuma Sumantri, hingga Tan Malaka, telah begitu gamblang meninggalkan jejak agung perdaban manusia yang bersumber dari buku.

Tak hanya persoalan politik, kekuasaan dan angan semata yang dapat dieksplorasi dalam buku. Kebudayaan, tata sosial, dan kejumudan masyarakat pun, kiranya akan menemukan ruang bedah dalam buku.

Tahun 60-an, Gie, seorang anak muda keturunan Tionghoa, dan Ahmad Wahib, remaja Islam yang binal, menunjukkan pada kita bagaimana mengubah jalan hidup masyarakat yang runyam. Dengan gigihnya Gie, memberikan contoh berdedikasi pada sebuah negeri. Pada nilai-nilai kemanusiaan, serta kesungguhan dalam memperjuang keadilan. Yang pasti, semua mimpi Gie disuarakannya lewat tulisan. Lewat buku. Kenyataan buku sebagai senjata terus berlanjut. Kesadaran untuk memasukinya tak hanya sekadar mengisi luang di stasiun atau di ruang tunggu pasien.

Buku telah menjadi semacam simbol spirit untuk menjadikan diri sebagai manusia yang memiliki jati diri; sebagai generasi harapan ibu pertiwi. Lihatlah gerombolan itu: Komunitas Puisi Bunga Matahari (Buma), Komunitas Pasar Buku, Komunitas Bambu, Klub Buku Kick Andy, Forum Indonesia Membaca, Mitra Netra, komunitas Historia, Indo-Harry Potter, Rumah Pelangi, Masyarakat Tjerita Silat, Rumah Dunia, 1001buku, Ibnu Hajar, Bergema, Library Lover’s Club, Forum Lingkar Pena (FLP), Indonesia Buku, Insan Baca, dan masih banyak lagi. Mereka berhimpun dalam ragam bentuk, namun dengan satu keyakinan dan tujuan:buku untuk perubahan.

# 5 Juli 2011 Sebagai Tonggak

Buku tetaplah kapak es yang siap menghancurkan. Kapak yang berada dalam genggaman generasi tanpa dendam. Kapak yang selalu membayang di depan gerbang kekuasaan. Ya, buku begitu menghantui para penguasa negeri ini. Sejak Orde Lama hingga Era Reformasi, buku memiliki ruang gelap. Ruang, di mana cerita dibungkam, angan dininabobokkan, dan ketidakadilan jadi tontonan para penguasa.

5 Juli 1959 sejarah mencatat terbitnya naskah penting. Presiden Soekarno menerbitkan Dekrit Presiden yang menyatakan bahwa Indonesia berada dalam keadaan ketatanegaraan yang membahayakan persatuan dan keselamatan Negara, nusa dan bangsa. Dekrit salah satunya menyatakan pemberlakuan kembali UUD 1945 dan tidak berlakunya UUDS 1950. Teks dasar Negara inilah yang hingga kini mejadi pandu kita menjalani kehidupan berbangsa dan bernegara. Pada masa darurat ini, banyak kebijakan diambil Soekarno untuk mengamankan cita-cita revolusi, menentang imperialism Barat.

Empat tahun kemudian Presiden Soekarno melalui kekuasan tangan militer menerbitkan Penetapan Presiden (PP) No.4 Tahun 1963 tentang Pengamanan terhadap Barang-barang Cetakan yang isinya dapat mengganggu Ketertiban Umum dalam rangka kampanye menentang imperialisme di bidang kebudayaan.

5 Juli 1969, untuk tetap mempertahankan kekuasaan dalam mengontrol peredaran barang cetakan, Pemerintahan Soeharto dan DPR melalui UU No.5 tahun 1969 menyatakan mengadopsi Penetapan Presiden No.4 tahun 1963 menjadi Undang-undang. UU No.4/PNPS/1963 ini yang kemudian menjadi dalil pelarangan buku di Indonesia. Pelarangan buku di era Orde Baru menciptakan trauma pengekangan kebebasan berekspresi. Ancaman basi di era ketebukaan informasi. Maka kemudian sekelompok anak muda mengupayakan perjuangan pencabutan pemberlakuannya. Dan mereka berhasil.

Maka 5 Juli 2011 yang dipilih sebagai kelahiran kelompok baru para pecinta buku yang terhimpun dalam organisasi massa penggemar Iwan Fals bersebut Orang Indonesia (Oi) Buku Ini Aku Pinjam, adalah sebuah titik mula yang diharapkan menjadi refleksi atas pengekangan terhadap akses rakyat Indonesia terhadap buku. Titik ini adalah titik pijak menuju kebebasan dalam meraup bacaan buku seluas-luasnya. Kebebasan melawan kebodohan, ketidaktahuan, dan ketunaan pengetahuan.


# Buku Ini Aku Pinjam




Dikantin depan kelasku disana kenal dirimu
Yang kini tersimpan dihati jalani kisah sembunyi
Dihalte itu kutunggu senyum manismu kekasih
Usai dentang bel sekolah kita nikmati yang ada
Seperti hari yang lain
Kau senyum tersipu malu
Ketika ku sapa engkau
Genggamlah jari ................ Genggamlah hati .................... ini
Memang usia kita muda namun cinta soal hati
Biar mereka bicara telinga kita terkunci
Dia tahu ............... dia rasa...............
Maka tersenyumlah kasih ..................
Tetap langkah .............. Jangan hentikan ..............
Cinta ini milik kita .................. he'eh....................
Buku ini aku pinjam kan kutulis sajak indah
Hanya untukmu seorang .................
Tentang mimpi-mimpi malam 
Dalam mukadimah AD/ART Organisasi Oi tersebut bahwa, “Perjuangan    adalah   pelaksanaan     kata-kata,   merupakan     wujud terbukanya     kesadaran    sebagai    matahari,    terbentuknya    kesabaran    sebagai bumi, dan tercapainya keberanian sebagai cakrawala adalah kemuliaan Orang Indonesia   dalam   melepaskan   diri   dan   terbebas   dari   kemiskinan,   kebodohan,
keterbelakangan   dan   kebobrokan   moral   yang   membelenggu   sesuai   amanat
Proklamasi Kemerdekaan bangsa Indonesia”.

Pasal 5 ayat (2) menyebutkan, bahwa Oi berfungsi  sebagai   wadah   pembinaan,   pengembangan   bakat,   kreatifitas anggota     dan  atau   masyarakat    pada   bidang   seni,  pendidikan,   olahraga, niaga, kerohanian dan sosial.

Dalam mewujudkan maksud dan tujuannya itu, Pasal 8 (1) menyebutkan bahwa Oi  melakukan usaha-usaha menghimpun, dan membina anggota - anggota Oi melalui kegiatan-kegiatan yang bersifat kreatif, rekreatif, edukatif dalam rangka penumbuhan idealisme, patriotisme,   peningkatan    budaya   baca,   budaya   belajar,   daya   cipta,   daya nalar,   daya   analisis,   prakarsa   dan   daya   kreasi   sesuai   azas,   dan   tujuan  Oi, serta peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Maka sekali lagi, dengan penuh cinta, kita mesti meminjam buku dari sejarah. Dari mereka yang telah dibesarkan oleh buku. Mereka yang yakin akan kemampuan buku. Kita mesti meminjam buku untuk menulis sajak yang indah. Sajak tentang cita-cita dan keinginan kita. Cita-cita tentang Negara-bangsa tanpa penindasan. Keinginan turun ke jalan untuk merobohkan setan yang mengangkang di jalan.

Ya, kita yang dilahirkan tanpa dendam, mesti menyiapkan diri dengan buku.
Berseru dalam buku. Dan merayakan pesta cinta dengan buku.

Oi...!, kita mesti memanggil setiap hati dari setiap lembaran buku. Memanggil mereka yang terkasih. Mereka yang tak pernah mendapat tempat tentang arti, harga diri, dan eksisitensi diri.

Oi…!, sudah saatnya kita meminjam buku dari sejarah, dan menuliskan sajak indah untuk mereka yang terlupa. Meraka yang kita sebut rakyat. Mereka yang kita sebut penguasa. Mereka yang kita sebut bertuhan. Mereka yang kita sebut anak jadah zamannya.

Oi…!, sudah saatnya kita menggenggam kapas es!



Surabaya, 5 Juli 2011
Kelompok Oi Buku Ini Aku Pinjam

0 comments: