Wednesday, February 22, 2012

Kekerasan di Negeri Bermental Seng

:: Diana AV Sasa

Catatan ini saya tulis dengan sebuah kelegaan karena 2 tahun yang saya pancangkan sejak pemeran vespa  Street Rebel (2010) terlampaui sudah oleh kawan saya, Taufik Monyong Hidayat. Ia bertahan di jalur keseniannya. Jalur kompromipun ia ambil. Seni yang barnapas sosial politik mantap menjadi pilihannya.

Dalam rentang 2 tahun itu ia terus bergerak dengan serangkaian aksi kontroversial. Saya sebut kontroversial - bukan fenomenal - karena suara-suara sumbang tentang kemunculannya- yang dianggap tiba-tiba- di jagad seni rupa masih saja terdengar.


Sebagian orang memuji daya kreatifnya yang cerdas dengan pesan yang kuat meski dalam tampilan sederhana. Sebagian lagi menganggap ia berkesenian dengan ‘kotor’ karena sarat kepentingan politis. Sebagian lagi mungkin ‘cemburu’ karena galeri membuka pintu untuknya, perhelatan kesenian di kota lain mulai meliriknya, dan produktifitasnya tak terbendung   Tapi ia kukuh pada pilihannya. Karyanya memang tak ‘indah’ dan ‘manis’ tapi keras dan membangkang.

“Setelah membaca buku “Lekra Tak Membakar Buku”, aku jadi faham apa yang harus aku lakukan dengan jalan kesenianku, terimakasih Dik”

Itu bunyi smsnya pada saya pertengahan 2011. Setidaknya dari buku itu kemudian ia memahami filosofi berkarya 1-5-1 seniman Lekra. Sari patinya ia ambil, kemudian ia jadikan pijakan pilihannya berkesenian: seni yang menyuarakan kondisi rakyat, berpihak pada yang tertindas.

Maka ketika ia merambah video art, menjadi pembawa acara, menyanyi,  melakukan performance art, membuat patung, mendalang, dan melukis ia tak kehilangan arah kendali apa yang akan disuarakan dengan keseniannya. Ia membebas berkarya. Pilihan dasar nyawanya jelas: kerakyatan dan kritis.

Namun ia tak kemudian menjadi gagap. Ketika ditawari menggelar pameran tunggal di beberapa kota, ia menolak. Bukan itu tujuannya berkarya. Monyong sepenuhnya sadar dan mengakui bahwa capaian artistik karyanya masih belum matang. Pameran tunggal baginya lebih sebagai persoalan mental daripada puncak karya. Dia sudah membuktikan itu. Selama 2011 dia menggelar 4 pameran tunggal. Tempatnya bukan di Galeri tapi di trotoar jalanan. Maka ia memilih untuk terus berproses meningkatkan kualitas artistiknya sembari bersetia pada pesan sosial sebagai napasnya.

Lajur keseniannya adalah proses penyadaran wakil rakyat, birokrasi, politisi, pebisnis, hingga rakyat biasa. Pesan itu pula yang ia usung dalam Nasib Seng: Stop Violence. Ia mencoba menafsir fenomena kekerasan yang akhir-akhir ini kerap muncul dalam ranah agama, politik, ekonomi, seksual, hingga kebudayaan.

Medium seng ia pilih sebagai sebuah wujud keprihatinan mental bangsa Indonesia. Dulu founding fathers negeri ini, Soekarno, pernah menggelorakan semangat bahwa bangsa kita adalah bangsa yang bermental baja. Kini di tengah gerusan arus global, rasa kebangsaan dan nasionalisme itu kian menipis, seperti seng. Sedikit terpampang panas nasionalisme itu memuai, dihujani hedonisme dan kapital, ia berkarat. Bahasa kekerasan kemudian berbicara.

Duapuluhtiga profil wayang seng Moyong merepresentasikan berbagai bentuk kekerasan yang akhir-akhir ini terjadi di negeri ini, dalam skala lokal maupun nasional. Sosok perempuan dalam #Aku Bukan PSK mewakili para Pekerja Seks Komersial yang memilih seks sebagai solusi dari kekerasan ekonomi yang mereka alami. Pilihan ini kemudian berhadapan dengan perilaku kekerasan yang mengatasnamakan kesucian agama. Garis warna hitam-putih pada kostum menunjukkan bagaimana mereka diperlakukan bak kriminal.

Karakter ini disandingkan dengan #Mat Kemprut untuk menyindir perilaku politisi yang suka nyentot (baca:korupsi)  tak beda dengan pelacur kelamin. Mereka melakukan kekerasan politik untuk meraih kebahagiaan pribadi dengan mengorbankan kepentingan rakyat. Berkumpul pula di sekitarnya #Babi-babi Dollar mewakili kekerasan para kacung ekonomi yang abai pada kepentingan bangsa demi menumpuk kekayaan. Menyedot hasil bumi dengan tameng kekerasan senjata dan menghamba pada penguasa modal.

Truk yang tertancap pada gedebok pisang menggambarkan bagaimana kekayaan alam kita diangkut ke luar negeri dengan menggilas  rakyat si empunya tanah. Negeri ini kemudian menjadi semacam ajang perjudian, seperti tergambar dalam #Super Jago. Profil beberapa wayang seng dengan kopyah dan pantat gendut seperti Semar mengingatkan akan sosok Gus Dur yang telah tiada. Ada semacam kerinduan pada Guru bangsa yang dulu kerap menyuarakan keberagaman dan penghormatan pada perbedaan tanpa kekerasan.

Eksplorasi warna dalam wayang-wayang monyong mewakili bidikan-bidikan kritiknya. Merah, kuning, biru, hijau, ungu, hitam, seperti warna bendera partai peserta pemilu. Para pemangku kekuasaan yang melakukan kekerasan ekonomi, kekerasan politik, dan menciptakan kekerasan perjuangan bertahan hidup bagi rakyat yang dipimpinnya. Hijau gelap mendekati doreng menunjuk hidung korps tentara yang kerap menciptakan situasi tidak kondusif dengan jalan kekerasan.

Sementara itu, 11 wayang dalam medium tong yang dapat berputar menunjukkan bagaimana kekerasan-kekerasan dalam segala aspek kehidupan itu berputar sebagai sebuah siklus. Saling mengait, saling bergantung, dan berpusar pada satu kebutuhan dasar: pemenuhan ekonomi. Tong besar dengan tulisan PERTAMINA yang sengaja diekspose dapat dibaca sebagai protes pengerukan tambang minyak bumi. Pertamina sebagai perusahaan nasional mewakili perusahaan tambang lain yang sebagain besar adalah milik asing. Rakyat yang terasing dalam pusaran seakan terbang terbuang dari bumi kelahirannya. Negeri ini dalam cengkeraman penjajahan bentuk baru.

Demikian, Taufik Monyong masih bergulat seputar isu-isu sosial politik dalam karyanya. Masih pula ia mencoba kritis akan situasi disekitar. Bukan untuk gagah-gagahan atau sok pemberontak. Ia lahir dari Pergerakan. Pembacaan mendalam pada setiap peristiwa yang berkecamuk di negeri ini mewujud dalam wayang-wayang sengnya. Menafsir karya-karya ini membutuhkan pula daya nalar dan wawasan meluas akan topik yang diangkatnya. Maka MEMBACA adalah keharusan. (*)

Surabaya, Februari 2012
*)Pengantar Pameran Nasib Seng: Stop Violence (Taufik Monyong)< IFI Surabaya 23-28 februari 2012

0 comments: