Saturday, May 12, 2012

Selamatkan Kretek Selamatkan Indonesia

:: Diana AV Sasa*)
Judul buku ini rada seram. Membunuh Indonesia: Konspirasi Global Penghancuran Kretek. Gambar sampulnya merah darah. Bergambar kepala raksasa yang mencaplok peta bola Indonesia. Pertanyaannya kemudian: sepenting apakah kretek hingga bila ia hancur maka Indonesia akan terbunuh?

Buku ini melengkapi sekaligus menegaskan apa yang ditulis Wanda Hamilton dalam buku Nicotin War.  Wanda mengurai bagaimana konspirasi industri farmasi global dalam upaya menghilangkan kretek. Sementara buku Membunuh Indonesia coba mengurai bagaimana sejarah kretek dalam kaitannya dengan konspirasi ekonomi politik tembakau yang berhubungan dengan regulasi anti tembakau di Indonesia.


Dalam peta rempah, nusantara memang salah satu penghasil tembakau dan cengkeh terbesar di dunia. Diuraikan dalam buku ini bagaimana sejarah tembakau yang bukan tanaman asli Indonesia namun ketika ditanam di negeri tropis yang kondisi alamnya berbeda-beda kemudian menghasilkan varian tembakau yang aneka ragam dan khas. Juga tentang bagaimana cengkeh sebagai tanaman unggulan yang diburu Eropa kemudian bertemu dalam racikan kretek.

Kretek berbeda dengan racikan rokok lain. Kretek diramu dari belasan jenis tembakau yang dicampur dengan rajangan bunga cengkeh dan ditambah saos dari bahan-bahan herbal. Ini yang menjadikan kretek memiliki aroma dan cita rasa khas Indonesia, bebrbeda dengan rokok putih yang hanya maksimal 3 tembakau (dikenal dengan American Blended) dan tanpa cengkeh.

Dengan rinci diuraikan dalam buku ini bagaimana kretek pernah dianggap sebagai penanda identitas, simbol pergerakan nasional bagi mahasiswa-mahasiswa Indonesia menimba ilmu di Belanda. Kretek juga menjadi bagian dari kebudayaan masyarakat Indonesia sejak jaman kerajaan. Bahkan kretek menjadi saksi sistem tanam kerja paksa.

Industri kretek berkembang dari usaha rumahan ke industri besar. Sumbangan kretek terhadap ekonomi negara sangat signifikan. Bahkan industri kretek terbukti paling tahan banting dalam masa ekonomi sulit seperti Perang Dunia dan krisis moneter karena seluruh mata rantai industrinya dikerjakan dalam negeri. Kretek merajai pasar rokok dunia. Rokok putih (rokok dengan tembakau Amerika) tak mampu menandingi.

Namun kini, kretek mengalami ancaman akan terbunuh perlahan sebagaimana kopra, garam, jamu dan gula yang tersingkir di negeri sendiri. Modusnya mirip: Selalu terselip motif ‘mulia’, ada kepentingan bisnis negara maju, ada dukungan lembaga-lembaga internasional, dan ada keterlibatan pemerintah dalam negeri.

Untuk membunuh industri minyak kelapa, dilancarkanlah perang anti kelapa. Amerika Serikat memimpin.  Negara penghasil minyak kedelai terbesar di dunia itu melempar isu bahwa minyak kelapa berbahaya bagi kesehatan. Minyak kelapa mengandung kolesterol tinggi, minyak yang aman adalah minyak kedelai dan sawit.

Penelitian dibuat, dana kampanye digelontorkan, dan percayalah masyarakat di seluruh dunia bahwa minyak kelapa berbahaya. Bahkan penduduk negeri tropis yang sudah mengkonsumsi minyak kelapa selama berabad-abad pun ikut percaya. Pemerintah Soeharto (1970) mengeluarkan regulasi larangan ekspor kopra. Harga kopra lalu anjlok ke titik terendah. Produksi menurun drastis. Petani pun bangkrut total.

Isu kesehatan juga dipakai untuk mengantam industri jamu. Meski di negeri tumbuh  ribuan tanaman obat, dan lebih dari separuh penduduk melakukan pengobatan sendiri tanpa bantuan medis, jamu tetap belum menjadi tuan rumah di negeri sendiri. Padahal, industri jamu berkembang pesat, menyerap jutaan tenaga kerja, dan dengan bahan baku dari dalam negeri.

Namun kebijakan pemerintah di bidang kesehatan masih menomorduakan jamu dibanding obat farmasi modern. Sistem pendidikan kedokteran pun masih berkiblat ke barat. Para dokter banyak yang lebih memilih jadi agen obat farmasi dan ragu merekomendasikan jamu. Dukungan pemerintah terhadap penelitian dan pendidikan untuk saintifikasi jamu juga setengah hati. Kita berada dalam ancaman pembajakan kekayaan hayati.

Industri garam mengalami nasib serupa. Sebagai negara maritim dengan garis pantai terpanjang ke dua di dunia, Indonesia pernah menjadi pengekspor garam terbesar. Namun sejak Akzo Nobel, sebuah perusahaan garam yodium skala multinasional, mengkampanyekan pentingnya garam yodium bagi kesehatan, industri garam Indonesia pun kolaps.

Dengan menggandeng UNICEF melakukan penelitian pentingnya yodium untuk tumbuh kembang anak. Regulasi yang mengatur standar kualitas garam rakyat dikeluarkan Menteri Perindustrian (1994). Kompetisi menjadi tidak sehat. Sekarang 70% kebutuhan garam di Indonesia dipenuhi oleh pasokan garam impor. Petani garam sekarat.

Sementara itu, penandatanganan dokumen kesepakatan tata niaga pertanian, termasuk gula, oleh pemerintah Indonesia dengan International Monetery Fund (IMF) pada tahun 1998 menjadikan ekspor gula menggila. Bea masuk gula import dihapuskan. Petani beralih ke usaha lain. Pabrik gula satu persatu tumbang.

Ketika setahun kemudian petani tebu berhasil menekan pemerintah dengan demonstrasi dan menaikkan bea masuk impor gula menjadi 20-25%, industri gula dalam negeri masih belum tertolong. Bahkan saat regulasi tata niaga impor gula diperbaiki (2002) dengan pembatasan jumlah importir dan kewajiban menyangga harga gula petani, kebutuhan gula dalam negeri masih belum mampu dipenuhi sendiri. Ironisnya, pemain impor gula adalah perusahaan-perusahaan asing.

Sedangkan proses pembunuhan industri kretek diawali dengan munculnya regulasi kontrol tembakau. Dollar digelontorkan oleh Bloomberg Initiative, institusi milik seorang milyader Amerika yang juga komisaris perusahaan farmasi. Riset bahaya tembakau dilakukan. Dana untuk program hibah anti tembakau diberikan pada lembaga-lembaga kemasyarakatan, institusi pendidikan, dan komunitas. Konferensi anti tembakau digelar. Larangan merokok diberlakukan di tempat-tempatt tertentu.

Kadar kandungan nikotin dan tar dibatasi. Ini tak mungkin dipenuhi kretek karena kadar nikotin dalam tembakau Indonesia sangat tinggi. Akibatnya mau tidak mau tembakau untuk kretek harus diganti tembakau Virginia, bahan baku rokok putih. Ini mengancam perubahan cita rasa khas kretek dan punahnya tanaman tembakau khas Indonesia.

Perda anti tembakau bermunculan. Cukai rokok naik. Lembaga Kesehatan Dunia (WHO) pasang badan. Perusahaan farmasi bersembunyi di belakang kepentingannya.

Konspirasi pembunuhan kretek ini sudah berjalan sistematis. Sementara pemerintah kita tidak mendukung regulasi yang melindungi industri kretek. Pasar dibanjiri rokok putih yang beban cukainya rendah. Perusahaan kretek justru mulai diakusisi oleh asing. Impor tembakau semakin meningkat. Ratusan perusahaan rokok kretek kecil gulung tikar. Industri paling tangguh yang menopang ekonomi Indonesia itu pun terancam bakalan terbunuh.

Dengan pemaparan yang gamblang, bahasa yang mengalir, dan data yang akurat,  buku ini (mengutip pendapat Butet Kertaradjasa) membekali wawasan dan pengetahuan kita untuk terus melawan setiap upaya penghancuran budaya lokal. Ketiadaan indeks dalam buku ini sedikit mengurangi kesempurnaannya.

Kehadiran buku semacam ini sungguh dibutuhkan masyarakat Indonesia untuk meningkatkan kewaspadaan akan potensi penjajahan model baru yang tanpa sadar sedang menggerogoti negeri ini. Maka upaya penulisan ini adalah sebuah ihktiar penyebaran informasi. Mengamini nubuat guru sukarela Sekolah rakyat di pedalaman Papua,  Roem Topatimasang: Jika sejarah ketidakadilan dan keserakahan semacam ini terus berlanjut, maka perjuangan untuk menentangnya juga tak boleh berhenti.


Judul                    : Membunuh Indonesia, Konspirasi Global Penghancuran Kretek
Penyusus             : Abhisan DM, Hasriadi Ary, Miranda Harlan
Penerbit               : Katakata
Halaman              : 172 Halaman
Terbit                   : Desember, 2011

*)Dimuat Majalah Marhaen edisi 1, tahun 2012

0 comments: