Friday, July 20, 2012

Godam Keadilan: Tajam Ke Bawah Tumpul ke Atas

Pengantar Katalog Gelar Karya Jalanan Taufik Monyong

Palu dan Simbol

 
Tak sampai berselang 5 bulan dari unjuk karya Wayang Seng-nya, Taufik Monyong kembali mendobrak panggung seni rupa dengan memanggul palu-palu besi super besar. Orang menyebut palu besar sebagai palu godam. Kali ini ia memilih jalanan (lagi) sebagai ruang unjuk karya. Di depan gedung negara Grahadi, pinggir jalan jantung kota Surabaya, ia menyajikan patung-patung palu besinya.

Palu atau hammer  sebagai  simbol muncul dalam proses bersatunya kaum buruh dan petani revolusi Bolshevik tahun 1917 di Rusia. Simbol ini kemudian menjadi identitas pemberontakan para pekerja kasar (buruh). Palu menjadi simbol solidaritas, pemersatu dan penguat hubungan antar masyarakat. Palu memiliki arti penting dalam penyampaian pesan revolusi.

Dalam perkembangannya, simbol palu tidak hanya digunakan oleh kaum pekerja tapi juga kaum borjuis (pelajar) saat menolak kebijakan pemerintah. Simbol ini juga digunakan oleh kaum sosialis yang menjunjung tinggi kesetaraan status.

Palu dalam persidangan adalah alat untuk mengabsahkan suatu keputusan. Ketika palu diketuk itulah petanda keputusan telah diambil. Palu memikul tanggungjawab dan legitimasi sebuah keadilan. Apakah keputusan yang diambil memenuhi rasa keadilan atau tidak.

Palu juga menggambarkan suatu kekuatan yang sangat besar. Ia akan menghancurkan apapun yang dihantamnya. Yang kecil akan tenggelam, yang besar akan remuk, yang kokoh akan hancur. Palu kemudian bertransformasi dari alat pekerja menjadi sebuah simbol keadilan, simbol pemberontakan.

Palu Godam Keadilan

Apa yang disuarakan Taufik Monyong melalui palu-palunya saat ini tak terlampau sulit dibaca oleh orang awam di luar seni rupa sekalipun. Dengan kalimat penyerta ‘Tajam Ke Bawah Tumpul Ke Atas’ dapatlah difahami bahwa ia tengah menyindir kondisi hukum di Indonesia. Reportase media massa memberikan gambaran mudah untuk menafsir kalimat itu. Bahwa hukum di negeri ini masih saja tidak memenuhi rasa keadilan..

Karya yang berupa palu dengan ujung bawah tajam dan ujung atas tumpul menggambarkan bagaimana hukum di Negara kita tak berdaulat. Orang-orang kelas bawah diganjar tanpa ampun. Hanya karena pencurian sekelas kakao, piring, atau sandal jepit. Sementara perampokan uang negara bernilai milyaran nyaris hanya menjadi tontonan sandiwara. Pengacara, jaksa, hakim, polisi, sampai makelar kasus memainkan peranannya. Hukum pun terjungkir balik. Keadilan bukan lagi di ujung palu hakim, tapi bergantung tebal tipis dompet terdakwa

Pedestal tulang-tulang dengan palu diujungnya, melukiskan bagaimana birokrasi hukum negara kita sangat rumit dan menyulitkan kalangan rakyat kelas bawah. Saking rumitnya, banyak kasus yang kemudian berhenti di tengah jalan. Tak sedikit pula kasus yang kemudian terabaikan dan terlupakan.

 Patung Herman dan Petrus (keduanya adalah aktivis pergerakan yang hilang diculik semasa reformasi ‘98) yang dibuat tak utuh mengingatkan kita akan sebuah pekerjaan besar yang belum tuntas. Hukum di negara kita belum mampu menyentuh ranah keadilan bagi orang-orang yang dihilangkan dengan paksa itu. Mereka belum kembali. Pengusutan kasusnya juga setengah hati. Bahkan kawan-kawan seperjuangan yang kini berada di lingkaran kekuasaan pun seakan lupa bahwa sahabat-sahabatnya itu hilang. Hilang, dan kita dipaksa melupakannya pelahan-lahan. Maonyong menolak untuk lupa. Ia menyeru lagi agar kita terus melakukan upaya pengusutan tuntas kasus orang hilang itu. Tentu saja dengan cara a la Monyong.

 Palu keadilan juga disuarakan Monyong di ranah kesenian. Ia mencermati bagaimana para pekerja seni masih belum memiliki serikat. Juga belum ada lembaga khusus yang melakukan advokasi terhadap pekerja seni . Advokasi ini penting agar pekerja seni memiliki tempat berlindung ketika karya-karyanya dirampas, dijiplak, diklaim pihak lain, dan mendapat perlakuan-perlakuan tidak adil lainnya. Ini juga sekaligus menyindir minimnya perhatian pemerintah pusat pada pekerja seni. Sementara di bawah, explorasi  kesenian itu terus berjalan dan menjadi sendi kebudayaan bangsa ini.

Melalui palu godam yang didominasi warna merah itu, Monyong seakan ingin menunjukkan sebuah sikap berani melawan. Keberanian untuk keluar dari tatanan mapan, keberanian untuk menyuarakan kebenaran, dan keberanian untuk menggelar pameran tunggal. Dimanapun tempatnya. Karena pameran tunggal baginya adalah persoalan mental. Berani atau tidak, itu saja. (Diana AV Sasa)

 *)catatan pendek ini dibuat dalam tempo 15 menit. Peringatan keras buat Monyong: nulis ga kayak goreng tempe cuk...! wakkkkk....

0 comments: