Friday, September 21, 2012

Upacara Para Pemuja Buku

:: Diana AV Sasa


Mereka adalah sekumpulan orang-orang pemuja buku yang berhimpun untuk melakukan upacara buku. Upacara ini adalah sebuah wujud perayaan yang dilakukan atas nama kecintaan. Dengan upacara ini mereka menggiring buku-buku untuk menemukan kematangan ‘jiwa’nya, mendapatkan ruang pengembaraan, melahirkan keturunan-keturunan, dan  menjajaki kemungkinan nasib yang membawanya pada kumpulan masyarakat pembaca tempat ia bersemayam.


Upacara mereka beragam. Ada yang berupa pengumpulan buku-buku, bincang makna, pendedaran untuk melahirkan buku baru, hingga dokumentasi rekam jejak lingkungan sekitar. Melalui upacara ini mereka mengolah daya hidupnya dengan mengusung buku sebagai alat pemujaan.

Para pemuja buku ini tidak hanya menggelar upacara yang sifatnya eksklusif dalam kelompok. Mereka juga menebarkan gairah kecintaan pada buku itu pada orang-orang awam buku di sekitarnya. Sesekali mereka juga membuat sebuah perayaan bersama antar kelompok sebagai ruang otokritik gerakan dan bertukar kabar serta pengalaman. Seperti inilah yang dilakukan ajang Temu Sastra 5 Kota helatan Dewan Kesenian Jombang.

Dari 16 kelompok para pemuja buku Temu Sastra 5 Kota itu kebetulan titik pijar kecintaannya adalah buku yang serumpun: sastra. Maka ketika menggelar upacara, ritual mereka tak jauh dari aroma dupa sastra. Hingga mereka pun tersebut sebagai komunitas sastra, sekumpulan orang-orang yang mengolah daya hidup dari, untuk, dengan kesusastraan.  

Jalan untuk mengumpulkan sesama pemuja sastra itu tak semudah menemukan pemuja sepakbola. Ada yang beruntung menemukan kawan seminat dan kemudian menggandeng yang lain, hingga kemudian upacara mereka lebih pada pendalaman makna sastra dan pengolahan daya diri bersusastra. Tapi ada pula yang berjalan dalam kesunyian tanpa kawan seminat hingga akhirnya merangkul para awam sastra dan menggiringnya pada kecintaan sastra.

Dua pola upacara ini yang kemudian menjadi karakter utama kelompok-kelompok pemuja buku itu. Kelompok yang nguri-uri  dan kelompok yang menebarkan virus sastra. Karakter pertama bisa dilihat pada Komunitas Pena Endhut Ireng, Komunitas Arek Japan, Komunitas Lembah Pring, Komunitas Pondok Kopi, Sanggar Belajar Bareng Gubug Liat Jombang, atau Lingkar Studi Warung Sastra (baca profil mereka). Karakter kedua ada pada Komunitas Sastra KOMA Tambakberas, Komunitas Sanggar Kata, Komunitas Lincak Sastra,  Komunitas Sastra Pesantren Tebuireng, Gelaran Buku: Daar el Fikr, atau Kelompok Alief Mojoagung.



Kelompok pertama umumnya dipicu oleh individu-individu yang merasakan kebutuhan ruang apresiasi dan berolah wawasan tentang kesastraan dengan sesama peminat sastra. Di pedalaman kampung kota-kota kecil seperti Mojokerto, Jombang, atau Kediri kebutuhan akan hal itu memang jarang terpenuhi. Dari individu-individu yang merasa kering, haus dan terpinggir inilah kemudian lahir semangat untuk menghimpun diri.



Kelompok kedua yang tidak menemukan kawan seminat kemudian lebih termotivasi untuk mengembangkan sayap. Umumnya mereka menggunakan medium kumpulan masa terorganisir seperti sekolah dan pesantren sebagai ruang pengembangan gagasan dan gairahnya. Ruang massal ini memberi kemudahan perekrutan anggota kelompok dibanding mereka yang secara acak berupaya menggandeng orang-orang awam disekitar tempat tinggalnya. Dari sini kemudian muncul para peminat sastra baru yang mau menghimpun diri dan melakukan upacara perayaan.



Ragam upacara yang dilakukan oleh para pecinta sastra, yang sifatnya nguri-nguri sastra  lebih cenderung pada pengkajian dan olah daya diri anggotanya untuk berkarya. Maka ritual upacara mereka tak jauh dari bedah karya, baik itu karya sendiri maupun karya dari luar komunitas. Mereka membedah karya dari luar komunitas sebagai alat banding sekaligus perluasan wawasan kesastraan. Bedah karya mereka sendiri sebagai penajaman kualitas. Karya-karya hasil olah daya diri mereka itu kemudian diujikan pada penerimaan atau penolakan media massa untuk memuatnya.



Pilihan lain yang mereka lakukan adalah menciptakan media sendiri baik berupa buku, bulletin, majalah, atau media maya internet. Dengan media pengabaran karya itu mereka ingin mengetahui sejauh mana karya mereka direspon kalangan luar kelompok dan bagaimana posisinya diantara karya-karya lain sejenis.



Sementara para penebar virus sastra memerlukan pola upacara yang lebih panjang untuk mencapai tahapan seperti kelompok penguri-uri. Ketika mereka mampu mengumpulkan para awam, tak bisa kemudian menjejalkan sastra begitu saja. Seringkali para awam ini bukanlah pembaca buku sehingga tahap pertama yang mereka lakukan adalah mengenalkan buku.



Setelah mengenal buku tak bisa pula langsung mengajak mereka menulis karya sastra, menulis adalah asing bagi para awam itu. Maka pelahan mereka kenalkan budaya kepenulisan melalui jurnalistik. Diselingi dengan dedah karya dari luar kelompok dengan maksud memecut motivasi, mereka kemudian menggiring kemunculan karya-karya sastra dari kelompok dalam bentuk puisi, cerpen, atau esai secara lebih khusus. Tak jarang pula mereka mesti melakukan perluasan medium dengan olah seni lain seperti teater, musik, atau seni rupa.



Suatu karya yang dihasilkan oleh satu kelompok menjadi pertaruhan bagaimana karya dan kelompok mereka diperhitungkan dalam konstelasi di antara komunitas lain. Tak dapat dipungkiri, kemudian pemuatan media massa turut menjadi salah satu ukuran keberhasilan mereka. Meski kualitas dan posisi karya sastra media massa juga masih menjadi perdebatan di kalangan sastra, tapi bagi kelompok-kelompok pinggiran itu menjebol gerbang redaksi media adalah nilai tambah dan kebanggan tersendiri pula. Lihat saja bagaimana dalam profil kelompok, mereka dengan rapi menjejerkan karya-karya yang dimuat oleh media massa.



Tak hanya media massa, penerbitan karya-karya dalam sebuah buku juga seakan menjadi pendongkrak ‘kasta’ kelompok. Buku yang dihimpun dari karya anggota kelompok menjadi corong sekaligus batu pelontar sejauh mana produktifitas kekaryaan mereka. Bila ada anggota kelompok yang karyanya dihimpun dalam antologi bersama kelompok-kelompok lain maka itu seakan menjadi legitimasi kenaikan ‘kasta’ si individu penulis maupun kelompoknya.

‘Kasta’ kelompok ini kemudian juga seolah ditentukan oleh seberapa sering mereka muncul dalam perhelatan-perhelatan upacara bersama kelompok lain. Jika masih diundang maka mereka seolah dianggap ada. Jika tidak diundang itu ibarat ancaman eksistensi. Upacara-upacara itu pun kemudian menjadi semacam pesta. Bukan lagi ajang olah karya dan wawasan tapi ruang bertemukangen antar komunitas. Di sini, jebakan popularitas itu seakan mengacungkan celurit ancaman pada ruh upacara kesusastraan yang mereka usung semula.



Seolah dan seakan karena jebakan itu semu. Kentara tapi tak teraba. Eksistensi tentu perlu, namun kualitas karya juga tak boleh diabaikan. Maka terus mengolah daya kritis, analitis, dan kemampuan pembacaan yang lebih luas menjadi syarat mutlak bagaimana kelompok-kelompok itu bisa mengantarkan individu-individu di dalamnya terus meletupkan kreatifitas. Peningkatan kualitas tak bisa ditawar jika ingin terus hadir dan memberi warna, bukan hanya penggembira.



Ukuran kualitas bukan sekedar ditentukan oleh faktor-faktor seperti media massa, jumlah penjualan buku, frekuensi kegiatan atau kehadiran dalam upacara-upacara.  Kualitas juga mempertimbangkan sumbangsih apa yang ditawarkan kelompok pada dunia sastra dan peradaban masyarakat secara lebih luas.  Tengoklah misal apa yang dilakukan bocah-bocah di Gelaran Buku Daar el Fikr. Mereka menulis segala sesuatu mengenai kampungnya dengan pola catatan harian, puisi, cerpen, dan esai sederhana. Ditulis oleh bocah-bocah kampung yang awam sastra namun memiliki muatan dan pesan kuat.



Dengan karyanya itu mereka bukan saja melahirkan karya kesusastraan-yang entah diperhitungkan atau tidak di kalangan sastra- tapi juga menawarkan sebuah informasi mengenai sejarah dan potensi kampung mereka yang  tak pernah ditulis oleh sejarawan akademis. Dalam upacara buku para bocah sastrawan kampung inilah terselip (mengutip slogan Lentera Dipantara) sumbangan dari Indonesia untuk dunia. Sekarang, pada kelompok pemuja buku yang tengah mencari eksistensi dan jatidiri, ajukan pertanyaan: Apa sumbanganmu pada peradaban? (*)


Diana AV Sasa, Pengasuh Perpustakaan Dbuku Bibliopolis, di Surabaya.

0 comments: