Sunday, February 17, 2013

Berguru Pada Pesohor

:: Hernadi Tanzil

“Bagaimana sih menulis resensi buku itu?” Itulah pertanyaan yang sering diajukan pada saya semenjak saya menulis resensi di blog buku ini. Biasanya saya tidak memberikan jawaban berupa teori ini dan itu melainkan menjawabnya dengan, “Mulailah menulis sekarang juga, tak perlu harus begini begitu, bebaskan dirimu dari semua aturan dan teori, mulailah menulis semua yang ada dalam kepalamu ketika selesai membaca sebuah buku!”



Apakah semudah itu? Sebagai langkah awal saya rasa itulah resep yang paling mujarab untuk melenturkan otot-otot menulis kita, setelah otot-otot menulis kita lentur barulah kita belajar menulis resensi secara baik dan benar. Bagaimana caranya? Kini ada sebuah buku panduan untuk menulis resensi buku yaitu buku Berguru pada Pesohor – Panduan Wajib Menulis Resensi Buku karya Diana AV Sasa dan Muhidin M Dahlan duo pegiat buku yang sebelumnya juga pernah sama-sama menulis buku Para Penggila Buku : Seratus Catatan di Balik Buku, (I:boekoe, 2009)

Ya, buku ini memang merupakan sebuah buku panduan bagi para resensor yang ingin meresensi secara baik karena resensi yang baik bukanlah semata menulis sinopsis atau berbagi kesan membaca saja, melainkan seperti yang dikatakan penulisnya resensi adalah sebuah ‘pengadilan’ atas sebuah buku.
 
Melalui resensi nasib sebuah buku ditentukan takdirnya, oleh karena itu penulis resensi dituntut untuk bermata ganda ; mata seorang wisatawan dan sekaligus penyidik (Diana AV Sasa & Muhidin M Dahlan)

Buku panduan menulis resensi ini mencoba memberi panduan pada pembacanya bagaimana cara menulis resensi buku mulai dari landasan teori pengertian resensi buku, model-model resensi buku, dan bagaimana memilih buku yang akan diresensi hingga langkah-langkah praktis berisi penjelasan dan contoh penulisan resensi mulai dari membuat judul, menaklukkan paragraf pertama, mengolah tubuh resensi, membuat paragraf penutup, dan sebagainya


Dalam membahas bagian-bagian resensi tersebut terlihat penulis memberikan bobot yang sama pentingnya di semua bagian, mulai dari membuat judul hingga paragraf akhir. Saat membahas bagaimana menaklukkan paragraf pertama, penulis menekankan pentingnya paragraf pertama karena di bagian inilah kita mempertaruhkan mata dan hati pembaca, apakah akan melanjutkan membaca resensi kita atau tidak.

Setelah paragraf pertama dibuat kini bagaimana mengolah tubuh resensi yang merupakan jantung sebuah resensi . Di bagian ini diperlukan keluasan pengetahuan, kritisisme, dan kelihaian resensor dalam meresensi, selain itu kelancaran dan kefasihan peresensi dalam merangkai paragraf juga dipertaruhkan di bagian ini. 

Buku ini memperlihatkan bagian-bagian penting apa saja yang masuk dalam tubuh resensi seperti bahasan mengenai jenis buku, metode penulisan, tema, bagian vital buku, kisah yang menonjol, kritik, dsb.

Yang sama pentingnya dengan membuat paragraf awal dan mengolah tubuh resensi adalah bagaimana membuat paragraf akhir sebagai paragraf penutup dimana di bagian ini para resensor biasanya memberikan kesimpulan berupa kepada siapa buku yang diresensi tersebut ditujukan, kritik dan saran, atau pujian sebagai pengunci resensinya.



Kesemua bagian diatas disajikan secara terstruktur disertai contoh berupa resensi-resensi yang pernah ditulis dari para resensor mulai dari para penulis ternama di Indonesia mulai dari Tirto Adi Soerjo, Abdullah SP, Syahrir, hingga Goenawan Moehamad yang dikutip dari media cetak dari kurun waktu lebih dari 100 tahun! (1901-2010). Tak hanya media cetak, buku ini juga menyajikan contoh-contoh resensi yang bertebaran di blog-blog buku.

 
Setelah seluruh tahapan menulis resensi dibahas, buku ini juga memberikan tips-tips bagaimana mematangkan sebuah resensi seperti mengendapkan tulisan untuk dibaca ulang guna memeriksa tata bahasa, kesalahan ketik, hubungan antar paragraf, dll. Penulis juga menyarankan Jika resensi ditulis menggenakan computer maka sebaiknya dicetak diatas kertas dan dibaca ulang sekali lagi dengan mengeluarkan suara agar dapat diketahui kalimat-kalimat mana yang mungkin akan membuat pembaca tersendat saat membaca resensi kita.


Hal yang menarik yang mungkin tidak ada di buku-buku panduan menulis resensi adalah bagian yang mungkin menjadi akhir perjalanan dari semua resensi-resensi yang kita buat yaitu “Menerbitkan Antalologi Resensi Buku” dimana di bab ini penulis memberikan langkah-langkah praktis bagaimana jika resensi-resensi kita bisa dibukukan untuk diterbitkan.


Sebelum penulis benar-benar mengakhiri bukunya buku ini juga menyertakan daftar 40 media massa (Koran, majalah, radio, TV) yang menyediakan ruang resensi buku lengkap dengan alamat email, telepon, honor, deskripsi buku –buku tentang resensi buku, dan sebuah essai berjudul “Halaman Resensi buku di Internet” yang mengukuhkan keberadaan blog-blog buku sebagai generasi baru pembaca buku yang bersenang-senang dengan buku dengan menggosipkan dan menuliskan resensinya secara jujur dan apa adanya di blognya masing-masing. Di essainya ini penulis juga menyertakan alamat ink 50 blog buku dan website yang berisi resensi buku.


Setelah membaca habis buku ini saya berani mengambil kesimpulan bahwa hingga kini buku ini adalah buku panduan terbaik dan terlengkap untuk menulis resensi dibanding buku-buku sejenis yang pernah terbit. Contoh-contoh resensi yang diambil dari para resensor wahid dari berbagai media masa selama kurun waktu 100 tahun lebih membuat saya terkagum-kagum dengan ketekunan kedua penulis ini mengutip contoh-contoh resensi dalam buku ini


Melalui contoh-contoh yang beragam dalam rentang waktu yang demikian panjang ini kita akan menemukan resensi-resensi legendaris yang pernah dibuat antara lain “resensi pembunuh buku”di tahun 1977 yang membuat penulis buku yang diresensi ini meminta pada kepala proyek Pengadaan Buku P &K mencabut rekomendasi untuk bukunya. Lalu ada pula resensi yang menjadi polemik di dunia sastra Indonesia selama dua tahun (1960-1962), yaitu resensi-essai Abdullah SP yang membongkar skandal plagiarisme Hamka atas novel Tenggelamnya Vander Wijk, dll.


Sayangnya buku ini tak menampilkan resensi atas novel Adam dan Hawa karya Muhidin M Dahlan di harian Media Indonesia pada tahun 2005 yang dijadikan acuan bagi sebuah ormas Islam untuk mensomasi penulis novel dan Pemred Media Indonesia untuk bertobat dan meminta maaf kepada publik serta menarik novel tersebut dari peredaran dan memusnahkannya untuk menebus dosa yang dilakukannya.


Tak ada gading yang tak retak, walau buku ini telah menjadi yang terbaik dari buku-buku sejenis, buku ini tidaklah sempurna karena bahasan dalam buku ini sedikit sekali menyinggung resensi buku-buku fiksi. Hampir semua bahasan dan contoh dalam buku ini adalah resensi buku-buku non fiksi padahal ada hal-hal khusus yang perlu diperhatikan dalam meresensi buku fiksi. Andai saja ada buku ini menyertakan bab khusus yang membahas bagaimana meresensi buku-buku fiksi maka buku ini akan semakin kokoh posisinya sebagai buku panduan wajib menulis resensi buku.


Dan yang sangat disayangkan adalah status limited edition yang tertera di sampul depan buku ini sehingga buku ini tidak akan dapat kita temui di toko-toko buku umum, semoga ke depan buku ini bisa dicetak secara masal sehingga buku ini dapat dijangkau lebih luas lagi bagi para penulis-penulis resensi yang ingin membuat resensi-resensi mereka menjadi semakin baik dan berpengaruh pada dunia buku tanah air.


Terlepas dari itu saya member bintang 4 untuk buku ini, dan kini jika ada yang bertanya pada saya “Bagaimana cara menulis resensi?” , saya akan menjawab demikian.”Tulislah semua kesan-kesan yang ada di kepalamu tentang buku yang telah kaubaca, lalu belajarlah menulis resensi yang baik dari buku Berguru Pada Pesohor”
@htanzil

No. 275
Judul : Berguru Pada Pesohor
Panduan Wajib Menulis Resensi Buku
Penulis : Diana AV. Sasa & Muhidin M Dahlan
Penerbit : 1# dbuku
Cetakan : I, April 2011
Tebal : 254 hlm

Komentar2


orybun
Wah, sepertinya saya harus punya buku panduan ini. Apa cuma bisa didapatkan di Indonesiabuku, Oom?
htanzil
yap! buku ini hanya bisa diperoleh di Indonesia Buku.

okeyzz
Wah, menarik sekali buku Berguru Pada Pesohor. Tapi kenapa harus limited edition ya..

Peri Hutan 
wahaha ak kalo nulis review asal apa dari otak langsung ditulis tanpa mikir yg baek gimana caranya, pelan-pelan deh membuat review yg baik, masih newbie soalnya nggak kayak om rahib :))

htanzil
@peri hutan : ya, langkah awal tulislah apa yang ada di kepalamu, pelan-pelan baru belajar menulis review yg baik, terutama kalau review itu untuk dikirimkan ke media cetak. Keep reading & writing yak!

@okeyzz : nah itulah, mari kita kitik2 penerbitnya biar buku ini bisa dicetak secara massal.

Fanda
Aku pribadi merasa malah makin stress setelah baca buku ini. Ada sih poin2 yg cukup penting. Tapi di luar itu, aku lebih suka menulis dengan bebas, tanpa harus memikirkan teori. Terus terang, sekarang bahkan aku sudah lupa teori2 di buku ini, hehehe...

htanzil
@Fanda : hehe, buku ini memang dirancang agar kita bisa menulis resensi secara baku agar bisa dikirim ke media cetak.

Jadi semua tergantung kita, bagaimana kita mau menulis resensi kita, mau secara baku atau secara bebas. dua2nya kupikir sama bagusnya hanya beda kemasannya yang penting :

Keep reading and writing !
rahma
Buku langka dan unik seperti ini sangat menarik gan. Saya dukung agan buat terus posting. Buku-Buku antik dan unik disini juga enak dibaca.

Tampaknya buku ini buku yang bagus banget. Tapi saya tidak akan membacanya, hehehe

Takut. Bila dijejali dengan beberapa aturan nantinya malah nggak jadi-jadi nulis, hehe

thanks infonya. hunting nih. buku wajib soalnya.

Semoga yang membaca dapat manfaat yang banyak.

bisa dapetin dimana nih bukunya? salam.

Ini limited edition ya om? klau nyari di gramedia ada ga ya?
Lagi berminat nulis tentang buku juga niy, tetapi lebih ke mengungkapkan apa yg d rasa saat baca bukunya. kalau gitu ga bisa disebut review ya? hehehe...





0 comments: