Sunday, August 7, 2011

Episto Ergo Sum


:: Diana AV Sasa*)

Episto ergo sum semboyannya. ‘Saya menulis surat pembaca karena saya ada’ artinya. Kalimat plesetan dari cogito ergo sum. Saya berpikir karena saya ada. Milik filsuf dan matematikawan Perancis, Rene Descartes. Di dalam pers, kedudukan mereka sangat istimewa, setara dengan penulis opini. Karena istimewanya posisi mereka ini, halaman mereka  “haram” dimasuki berita-berita iklan, bebas dari segala kepentingan.


Sebagaimana penulis opini yang menulis dengan kritis dan tajam, mereka juga menulis dengan kritis, tentang hal-hal yang gawat, darurat, dan genting. Saking kritis dan gawatnya, mereka ini juga demikian ditakuti oleh para pemangku kepentingan. Epistoholik mereka menyebut diri. Para pecandu menulis surat pembaca.

27 Januari 2005, mereka mendeklarasikan diri sebagai Warga Epistoholik Indonesia (EI). Tanggal yang sama dengan berdirinya Museum Rekor Indonesia (MURI). Tahun itu juga, MURI menobatkan mereka sebagai gagasan komunitas terbaik versi MURI dengan memenangkan Mandom Resolution Award 2004. Ini sebuah komunitas para pecandu surat pembaca.Tahun ini, usia mereka genap 6 tahun sudah.

 Mereka adalah orang-orang yang percaya bahwa dengan tulisan mereka dapat melakukan perubahan. Coba lihat apa yang dilakukan Bambang Haryanto, inisiator EI asal kota gandul, Wonogiri. Bambang menulis tentang pohon palem yang tidak terurus di Alun-Alun Utara Solo. Surat itu dimuat di surat kabar Suara Merdeka sekitar tahun 1973. Dan hasilnya, pohon palem itu tidak jadi mati, disirami, dan terpelihara hingga tumbuh besar.

Hendra NS, melalui Surat pembaca yang ia tulis di harian Kompas 16 Juli 2010, mengeluhkan tentang arogansi aparat Patroli dan Pengawalan (Patwal) iring-iringan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) di jalur Cikeas-Cibubur sampai Tol Jagorawi Presiden. Kritik yang menyentil nama orang nomor wahid di negeri itu pun kemudian mendapat respon cepat dari istana.  SBY menginstruksikan investigasi terhadap tindakan arogansi itu. Presiden pun kemudian berangkat ke Istana lebih pagi dari biasanya.

Tapi jalan mereka memang tak selalu mulus. Selalu ada arus balik yang mesti mereka lawan sepenuh kayakinan. Sebut saja nama Khoe Seng Seng. Dia menulis keluhannya terhadap PT Duta Pertiwi, pengelola ITC Mangga Dua di harian Kompas, Warta Kota dan Suara Pembaruan pada 26 September 2006.

Dalam surat pembaca tersebut, Seng Seng sebagai pedagang di ITC Mangga Dua menganggap PT Duta Pertiwi telah melakukan penipuan kepada para pedagang. Gara-gara surat itu, dia dianggap melakukan pencemaran nama baik dijerat dengan pasal Un¬dang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE). Ganjaran untuk tulisannya adalah membayar ganti rugi kepada PT Duta Pertiwi sebesar Rp 1 Miliar.

Tapi mereka adalah pecandu. Penulis yang kukuh dan tak goyah oleh ancaman. “Saya akan tulis surat pembaca lagi di surat kabar. Saya tidak kapok,” begitu kata Kho Sen Seng. Maka ketika kasus semacam ini terulang beberapa bulan kemudian, penggila kolom ini sekali lagi menunjukkan bahwa mereka cukup bertaring dan tak gentar untuk menyuarakan pendapat.

Adalah  Fifi Tanang, salah seorang pedagang di ITC Mangga Dua yang merasa dikibuli oleh PT Duta Pertiwi.  Ia merasa dirugikan lantaran, saat membeli kios dari Duta Pertiwi pada 1994 dan mengira bakal memperoleh sertifikat hak guna bangunan (HGB) murni. Ternyata belakangan ia menyadari hanya menerima sertifikat HGB di atas hak pengelolaan lahan.

Fifi kemudian menulis surat pembaca di harian Investor Daily 2-3 Desember 2006. Akibatnya, Fifi dituntut oleh PT Duta Pertiwi dan diganjar dengan enam bulan penjara dengan masa percobaan selama satu tahun oleh majelis hakim Pengadilan Negeri Jakarta Selatan.

Surat pembaca, dengan demikian menjadi sebuah ruang berpendapat yang sangat demokratis. Sayangnya, di Indonesia, kontrol terhadap kolom ini masih lemah. Standard redaksi media di Indonesia untuk kolom Surat pembaca hanya fotokopi KTP dan nomor telepon yang bisa dihubungi. Namun jarang dilakukan croos check kebenaran identitas pengirim. Bayangkan jika  tidak diperiksa, ada seseorang yang menggunakan 20 nama yang berbeda dan mengirimnya dalam 20 versi berbeda kepada 20 media. Yang terjadi kemudian adalah kegaduhan dan desas-desus yang meneror.

Menurut Lasma Siregar, warga EI yang kini tinggal di pedalaman Melbourne, Australia, disana, sebuah surat pembaca harus ada nama, alamat, nomer phone-nya. Penulis dikontak, apakah benar-benar ada yang bernama A di A dan yang ditulisnya bisa dibenarkan. Terkadang apa yang ditulis di surat pembaca itu dianggap bermutu untuk diselidiki dan akhirnya menjadi berita. Ini lah yang kemudian menjadi bibit dan berkembang apa yang disebut jurnalisme warga itu.

Telah menjadi kesepakatan tidak tertulis bagi pelaku media masa untuk menyediakan ruang aduan bagi masyarakat. Ini adalah ruang bebas yang tidak terkatrol oleh standar penulisan jurnalistik namun harus dimuat keseluruhan isinya. Kebebasan berpendapat dan menuangkan gagasan mendapat ruang besar dalam demokrasi. Halaman surat pembaca adalah ruang alternatif penyampaian pendapat yang bebas dari kepentingan. Epistoholik Indonesia adalah sedikit dari mereka yang meyakini bagaimana tulisan bisa menjadi alat untuk melakukan perubahan. Dengan jalan ini mereka menjaga pilar demokrasi. Selamat milad ke 6.

 *) Penulis adalah Direktur dbuku bibliopolis Royal Plaza Surabaya

0 comments: