Saturday, November 16, 2013

#5BukuDalamHidupku | Buku Ibu, Ibu Buku

"Kamu buang saja barang-barangmu itu, bikin masalah aja"

Ingatan sontak tertuju pada buku. Tak ada barang yang lebih banyak dari buku. Barang yang memenuhi setiap sudut rumah. Pikiran diselimuti prasangka dan amarah. Bagaimana perempuan ini menyuruh membuang hal yang diyakini anaknya sebagai pilihan jalan hidup. 

Batin dilingkupi kecewa. Betapa ia tak paham apa yang telah menjadi bagian dari napas. Nalar tak mampu menjawab. Semestinya ia sadar bahwa restunya adalah tiket menuju surga. Anak mana yang tak takut disebut durhaka karena membangkang ibu?
Namun bayangan betapa makin beratnya jalan ke depan jika tiada restu di genggaman memuncak sudah. Golok perlawanan pun diacungkan. Kata-kata pembelaan dan cerca menyembur bak naga berapi. Menghantam-hantam dinding bukit nun jauh di pucuk. Dan ibu menjawab pelan, "Ibu tak marah, hanya ingin kamu bahagia. Kasihan bapak sakit kepikiran kamu". 

Ah, tumpas sudah segala keberanian. Apa lagi akan didustakan bila itu adalah kebenaran. Centang perenang kehidupan tiga tahun terakhir tak dapat dipungkiri bahwa itu sungguh menyesakkan. Menguras segala daya untuk bertahan. Membuat siapa saja yang melihat akan tergidik dan mengelus dada. Ibu melihat dari gerbang kebahagiaan yang berbeda. Dan itu belum wujud. 

Namun itu adalah buku, ibu...
Memang kau bukan orang yang kusebut dalam wawancara tentang siapa yang punya jasa mengenalkanku pada buku semasa aku belia. Pahlawan itu adalah laki-laki yang kupanggil Bapak. Tapi aku tak akan lupa ketika kau juga mendongeng di sebelahku tentang Timun Mas, Bawang Merah Bawang Putih, Kleting Kuning, Buta Ijo, Kancil dan Buaya, dan kisah-kisah lain yang tak lagi mampu kuingat. Kau memang tak memberi buku bacaan, tapi kau menyemai bibit kepengarangan itu sedari aku masih menyusu padamu. Aku hanya memupuk dan merawat apa yang kau tanam. 

Ibu, apa kau lupa pernah mengirimiku buku catatan harian di hari ulang tahunku? Saat itu usiaku baru 11. Buku yang merekam kemarahan dan kekecewaanku karena saat lebaran kau tak pulang. Aku menyembunyikan air mata di buku itu karena tak mau menyusahkan Bapak. Aku kecewa padamu. Pikirku kala itu kau mementingkan uang daripada aku, bapak, dan adik. Meski kemudian kupahami bukan begitu kau maksud. Buku itu juga yang melekap bagaimana Bapak mengajariku memasak, mencuci, menyetrika, dan menjahit baju robek. Segala kisah selama engkau di ibu kota tersimpan di sana. Di buku kecil warna ungu nan harum itu. 

Apa kau juga tak ingat, ibu....
Saban kali pulang kau bawa majalah Ayah Bunda, Femina, Kartini, Fakta, Tempo, Intisari dan entah apa lagi. Kulahap semua itu ketika kau tak ada di rumah. Kau sadari atau tidak, kegilaanku pada bacaan bersebab darimu pula. 

Kini, aku telah demikian mencintai buku-buku. Membacanya atau sekedar mengumpulkan untuk berjaga bila aku butuh bahan tulisan. Membagikannya pada bocah-bocah kampung dan membangun perpustakaan di desa kita. Semua itu karena aku telah menyatu dengan buku, ibu. Masihkah kau ingin menyuruhku untuk membuangnya? 

Bila kini pilihanku untuk bekerja sebagai penulis dan hidup di selingkupan buku-buku ternyata membuat jalanku tersengal-sengal, dan itu membuatmu bersedih karena melihatku seakan tak bahagia, kumohon duhai ibu, jangan kau kutuk aku karena tak turuti perintahmu untuk menjadi guru. Biarlah kutempuh jalan ini sebagai ujian ketahananku. Percayalah, aku bahagia di sini. (*)

0 comments: