Friday, November 15, 2013

#5BukuDalamHidupku | 9 BukuTulis: Jejak Seorang Penulis

#5BukuDalamHidupku
Jika saya ditanya: Dimana jejak kepenulisan saya terekam? Nampaknya saya tak mesti menyebut nama-nama Koran atau media sejenisnya. Barusan saya membuka kardus kiriman dari Jogja yang isinya  surat-surat dan buku-buku catatan. Dulu saya menitipkan kardus itu untuk disimpan di perpustakaan yang saya tahu pemiliknya adalah penyimpan arsip yang baik. Saya memintanya kembali. Ingin menggali lagi jejak kepenulisan saya di tengah kemandegan tulis menulis yang beberapa waktu terakhir tersita oleh kesibukan lain. 

Ketika kardus itu saya buka, saya menemukan setumpuk buku tulis. Awalnya saya sangka itu catatan kuliah. Tapi setelah saya buka satu per satu, saya terkesiap. Ternyata saya menyimpannya karena alasan yang tak sepele: itu lah jejak kepenulisan seorang Diana AV Sasa.

Jejak itu tersimpan dalam 9 buku tulis yang dilihat dari sampulnya sungguh tak istimewa. Ada yang gambar bebek, kupu-kupu, pemain basket, balap motor, seminar, buah jeruk, mesin, hingga kotak-kotak arsir. Nampaknya saya tak punya maksud karena sampulnya ketika memilih buku-buku itu. Asal ada saja. Ketika saya baca lagi lembar-demi lembar, saya terkejut juga. Ternyata saya sudah menulis resensi di tahun 2006, ternyata saya sudah membuat draft novel, ternyata saya mencatat rapat-rapat penting, dan banyak ternyata-ternyata yang lain. Intinya, saya sadar kembali bahwa saya nampaknya memang terlahir untuk menulis. Keyakinan yang akhir-akhir ini melempem dari benak saya.

Untuk meyakinkan lagi, saya coba runut buku-buku itu satu demi satu. Buku pertama berukuran quarto. Gambar sampulnya perkembangan ilmu pengetahuan yang disimbolkan melalui buku,komputer, CD,dan globe. Halaman pertama isinya begini:

Waktu sekisaran 2005.
Saat aku ingin sekali menjadi penulis.
Saat dipecat dari LP3i.
Kuliah/skripsi mangkrak.
Lari dari pergerakan.

Aih saya tak percaya saya pernah menulis tentang cita-cita untuk menjadi penulis itu.Isinya? Ah, saya ternyata pernah membuat draft novel dan cerpen. Sungguh, saya sendiri lupa pada jejak ini. Novel pertama itu judulnya Aku Mencari Cinta: Memoar Perempuan Malam. Tertulis di sana:

Konsep: Tulisan ini berbentuk autobiografi. Menceritakan perjalanan hidup seorang perempuan selama 25 tahun mengarungi lika liku dunia. Tonggak yang ingin dipancangkan di sini adalah tentang esensi kasih saying dan kehangatan keluarga serta cara yang tepat untuk mengasuh dan menerapkan pendidikan anak….
Konsep Struktur Tulisan:narasi & Foto
Hal-hal yang ditekankan:
1.       Keinginan orang tua yang membentuk karakter anak
2.       Realitas lingkungan yang mempengaruhi tumbuh kembang anak
3.       Pertanyaan-pertanyaan anak yang tak terjawab karena dogma dan norma sosial
4.       Ketertekana psikologianak dan hasratnya untuk terus mencari jawaban dari kehidupan
5.      
Alur:

Ah saya membuatnya? Masih tak percaya, saya kemudian membacanya dengan lebih cepat. Ternyata saya sudah buat beberapa cerita awal juga. Tapi tak berlanjut. Ada tulisan dengan judul Aku Memicu PDku dengan Caraku Sendiri,  Be Just What The Way You Are, Need Analysis,Love tidak sama dengan Take and Give, Endrometriosis Bukan Sekedar Nyeri Haid,Perempuan Suamiku, Suatu Malam Aku Bercinta, The Wedding of Batavia, Blue Triangle, dan banyak coretan lain tanpa judul. Ada yang selesai ,tapi banyak yang tak tuntas dari draft itu. Tapi buku ini mengingatkan lagi pada gairah yang saya pendam untuk menulis di tengah kegamangan saya menjalani masa awal kedewasaan.

Acak, saya ambil lagi satu buku bergambar balap motor. Astaga, ternyata isinya adalah salinan surat-surat saya untuk para pacar. Para, karena banyak: My Sabath, Mas Bambang, Mas Iwan, Dear Fernando, Mas Agus, Mas Teguh, Aa’ Yayan. Termangu saat membacanya. Baru ingat, dulu sebelum menulis surat, saya selalu membuat draft-nya dulu di buku tulis. Baru saya tulis rapi di kertas surat. Ah, betapa hal semacam ini sudah aus dari ingatan saya.

Kemudian saya raih lagi buku bersampul warna hijau dengan gambar lukisan bunga dan capung. Halaman pertama bertuliskan: Sebuah Persembahan Dari Rasa Terdalam (untuk Bintang). Oh siapa lagi ini Bintang? Saya tak ingat. Saya nyaris terjingkat ketika membuka halaman tengah nampak berderet-deret nama laki-laki. Rupanya daftar mereka yang mendekat dan status hubungannya dengan saya, lengkap dengan siapa mereka dan berapa lama kami bertahan. Saya menggeleng-geleng keheranan.  Lupa pada sejarah diri sendiri itu parah. Saya bahkan tak sadar pernah melakukan itu. Menulis daftar para lelaki di sekitar saya. Anehnya, saya justru menemukan tulisan yang membuat saya terbangun dari sandaran bantal: surat buat SGA. Saya pernah menulis surat buat pengarang favorit saya? Imajiner. Surat itu tak pernah terkirim.

Aku ingin menulis, tak penting lagi untuk apa. Aku hanya ingin menulis.sekedar menumpahkan setumpuk pikiran di otakku yang sudah penat. Mungkin ini tak terlalu berarti bagimu. Bisa jadi tulisan initak akan sampai padamu,terhapus bersama puluhan atau ratusan (ribuan) junk mail yang kau trima. Atau kau abaikan seperti surat-surat dari peggemarmu yang lain. Tapi masih pentingkah itu semua? Kau baca atau tidak, tak akan membuatku berhenti menulis.

Lalu berhamburan pujian kekaguman usai perjumpaan pertama di sebuah diskusi fotografi. Tahun 2010 saya mulai akrab dengan SGA. Tapi saya tak pernah ingat saya pernah menulis surat imajiner semacam itu sebelumnya. Betapa pendeknya ingatan, betapa abadinya tulisan.  

Buku ke empat bergambar kupu-kupu dia atas motif jeans biru. Di dalamnya terekam aktifitas saya di senat kampus. Catatan-catatan rapat, susunan pengurus, rencana aksi, dan hasil-hasil diskusi menyadarkan saya akan apa yang selama delapan tahun terakhir saya terjuni: politik. Uniknya, di bagian belakang ada cerpen yang saya tulis dengan membuka halaman mundur ke depan. Ya, cerpen. Sekali lagi, cerpen. Saya memang tak pernah yakin saya mampu menulis cerpen, tapi keinginan untuk itu ada. Dan saya pernah mencobanya. Meski cerpen cinta-cintaan yang picisan. Lihat saja judulnya: Karena Aku Mencintainya, Sorry Sa Aku Mencintainya, Laki-Laki Terakhir, Tak Ada Yang Lain.  Sejak mulai menulis serius di tahun 2008, saya baru membuat  1 cerpen, Sri tulis dari Lemah Tulis.  Sudah itu tiada lagi.

Saya ambil buku bergambar Donald bebek. Oh, buku apa ini? Di halaman pertama bagian atas ada tulisan arab. Ya, tulisan arab tangan saya sendiri. Bunyinya (kalau tak salah) semacam doa pembuka majelis. Lalu ada tulisan huruf kapital : IT’S JUST A LITTLE NOTE ABOUT RELIGION FROM MANY KINDS OF BOOKS. Di dalamnya saya mencatata atau lebih tepatnya merangkum beberapa buku. Judul-judul buku yang saya rangkum sempat membuat kening saya berkerut. Pertanyaan terbesarnya: Dimana saya baca buku-buku itu?  Aliran dan Faham-faham Islam, Kitab Kuning: Pesantren dan Tarekat (Martin VanBruinessen), Kaki Langit Peradaban islam (Cak Nur), Islam Doktrin dan Peradaban: Telaan Kritis Keimanan, kemanusiaan, dan Kemodernan (Cak Nur), Terjemahan Injil Barnabas, KH. Ali Ma’syum: Perjuangan dan pemikirannya, Urgensi Tarbiyah Dalam islam (Abu Ridho). Sekali lagi buku-buku ini membuktikan kesaktian teks disbanding ingatan. Saya ingat pernah galau dengan agama yang saya anut. Saya pernah ikut pengajian dengan kerudung besar dan kaos kaki rapat. Lalu saya kebingungan dan ditaruh ayah di sebuah pondok kecil di Pacitan. Di sana lah saya temukan buku-buku itu. Ya, di perpustakaan kecil milik Pak Kyai itu lah saya menemukan jawaban dari kegalauan saya. Sejak itu saya menjadi seorang Gusdurian.

Makin penasaran, saya buka buku yang lain. Sampul hitam gambar daun dan jeruk hijau dengan lembaran yang agak tebal. Saya menulis draft skripsi di sana. Diakui atau tidak, skripsi itu sebenarnya jejak kepenulisan saya juga. Nilai A yang saya dapat adalh pembuktian di atas kertas yang saya banggakan meski saya terlambat lima semester untuk lulus tepat waktu. Anehnya, selain skripsi itu, saya menemukan beberapa cerpen lagi. Kok cerpen sih?  Batin saya rada jengkel juga. Saya masih juga tak percaya bahwa saya menulis cerpen cinta-cintaan. Penyakit lupa yang saya idap sudah akut rupanya.

Saya raih buku hadiah seminar Wimar Witoelar, lalu coba menebak isinya. Saya tak bisa sama sekali membuka ingatan. Ketika saya buka, saya terbelalak. Catatan resensi buku SGA: Jazz,Parfum, dan Insiden ada di bagian awal. Lalu ada catatan kekaguman saya pada tulisan Dahlan Iskan. Dan ada kritik saya pada Gus Muh. Herannya, di tulisan itu saya membela Taufik Ismail. Nyaris terlompat saya dari tempat duduk. Rasanya muskil. Darimana logikanya saya yang mengagumi GM ini membela TI? Catatan saya itu membuktikannya. Betapa malu saya membaca catatan itu. Sekarang tak mungkin saya akan menulis seperti itu. Dan terkejutnya lagi, saya masih menemukan lagi satu draft novel : Teror Tania. Lengkap dengan alur dan pertanyaan wawancara. Dalam buku ini juga terselip print out rekaman chatting saya di Yahoo Messenger dengan nara sumber yang kisahnya akan saya tulis. Novel yang tak selesai.

Saya lelah terkejut.Buku kecil yang tersisa hanya saya buka sekilas. Isinya catatan harian.Limpahan perasaan yang tak terungkap dengan bibir. Saya menutupnya dan kembali tepekur. Buku-buku tulis itu telah menunjukkan kekuatannya. Saya mengaku kalah. Kalah oleh pembuktian bahwa teks lebih kuat dari ingatan. Betapa terbatas yang tak bisa terekam oleh kepala saya.

Tulisan tangan di 9 buku tulis itu begitu jujur, menunjukkan acak kadut kondisi kejiwaan saya semasa tulisan-tulisan itu dibuat. Sekarang  saya menulis dengan komputer. Bahkan akhir-akhir ini nyaris sudah jarang membuka laptop karena semua selesai di tablet. Tapi tak banyak luapan perasaan yang tergambar di dalam mesin tulis. Kemudian saya menyadari satu hal penting: Saya bercita-cita jadi penulis. Maka semestinya intensitas membaca dan menulis saya mengarah ke situ. Selama saya masih hanyut dengan aktifitas di luar itu, saya melenceng dari cita-cita sudah. (*)

Buat Bajang: Terimakasih membuat saya menulis rutin selama 3 hari ini. Hal yang sudah 4 bulan saya coba lakukan tapi gagal. Mudik yang menyenangkan dan berkesanJ

Ngagel Jaya Tengah, 14 November 2013, 11:12 PM

0 comments: