Friday, November 15, 2013

#BukuDalamHidupku | Veronica Memutuskan Mati | Nidah Memutuskan Melacur

#BukuDalamHidupku


Ini kisah tentang dua buku yang saling mempengaruhi untuk memenangkan pikiran. Buku-buku ditulis bukan tanpa tujuan. Ada pesan yang diusung oleh sang pengarang. Bagaimana pembaca menangkap pesan dalam buku, itu soal lain. Perspektif pembaca bisa beragam.


Seperti buku Tuhan Ijinkan Aku Jadi Pelacur (TIAMP) tulisan Muhidin M Dahlan yang sejak pertama terbit hingga tahun 2004 mengikuti saya seperti hantu. Nidah Kirani, tokoh utama dalam novel ini mulanya saya sangka adalah diri saya. Saya bahkan mencurigai seseorang telah mencuri baca catatan harian saya.
Lalu mengolahnya menjadi sebuah cerita untuk dijadikan novel. Saya cari-cari nama teman-teman saya yang rada mirip sama Muhidin. Nihil. Saya menduga MMD  itu nama samaran. Saya bahkan mengutak atik nama saya sendiri bagaimana bisa menjadi Nidah Kirani. Hingga saya dengar kabar ribut-ribut soal buku itu di Jogja, saya masih tak percaya. Dan tetap mencurigai seseorang  yang mungkin teman saya di Jogja adalah pelakunya. Menyamarkan tempat,menyamarkan nama agar tak terendus.



Apa pasal saya sampai securiga itu? Kisah Nidah 90% mirip dengan yang saya alami selama jadi mahasiswa. Dia aktifis organisasi kemahasiwaan berbasis islam. Sedikit Bengal dan pemberontak. Cerdas dan suka berdebat. Rada tomboy karena kawannya banyak laki-laki. Mencari-cari eksistensi dan mempertanyakan banyak hal. Dari soal cinta sampai soal ketuhanan. Sampai-sampai masuk ke organisasi islam garis keras hanya untuk mencari jawaban dari keyakinannya.


Nidah percaya cinta laki-laki, tapi kemudian kepercayaannya terjungkal karena laki-laki hanya menginginkan tubuhnya, bukan hatinya. Nidah percaya Tuhannya, tapi keyakinannya terpental karena Tuhan yang diyakini kelompoknya bahkan bisa dihianati oleh pemimpinnya ketika berhadapan dengan tubuh perempuan. Nidah percaya pergerakan mahasiswa, namun ia tak dapat menerima ketika aktifisnya ternyata juga lumpas menghadapi tubuhnya.


Saya merasa begitu terwakili oleh buku itu. Kegelisahan saya tergambar jelas dalam tokoh Nidah. Sampai tahun 2005 saya menemukan nama MMD di daftar pertemanan pacar saya yang seorang fotografer. Dari situ saya percaya Nidah Kirani bukan saya. MMD benar-benar ada dan bukan salah satu dari teman saya. Tapi soal pilihan akhir Nidah yang melcurkan diri di akhir novel itu benar-benar menghantui saya terus menerus. Haruskah pilihan akhir saya sama dengan Nidah?


Tahun 2005 adalah tahun penentuan pilihan saya. Itu tahun krusial karena saya berada dalam situasi yang sangat menekan dari segala lini. Kehilangan pekerjaan, ditinggal pacar,  skripsi mandeg, nulis ga bisa-bisa. Buntu sudah pikiran. Saya bahkan mencicipi pil ekstasi dan menghabiskan hari-hari saya untuk menemani teman yang kelebihan duit. Tapi jauh dalam batin saya sesungguhnya saya tak bahagia mesti saban malam saya menari. Saya rindu Tuhan saya. Sering sekali saya dihinggapi pikiran soal pilihan untuk meniru Nidah. Toh saya kenal banyak pejabat. Tapi niat itu selalu saya tahan. Saya tak yakin dengan pilihan itu. Pasti ada pilihan lain yang saya belum tahu.


Saking tak bisanya menemukan jawaban, bunuh diri adalah bayangan lain yang sering hinggap di kepala saya. Tapi saban kali akan melakukannya,saya ingat tangisan ayah, saya ingat pesan ustadz saya semasa SMA ketika nyawa saya nyaris melayang usai ditinggalin pacar pertama. “Bapak saying sama kamu”. Dan saya pun urung menjalani pilihan itu. Hingga saya menemukan sebuah buku yang menghantui saya berhari-hari. Veronica Decides to Die.


Saya tak ingat dari mana mendapatkan buku itu. Mungkin karena judulnya lalu saya membelinya. Membaca bagian awal buku ini, saya kembali merasa diri saya terpotret. Apa yang dipikirkan Veronika sama seperti yang ada di benak saya. Saking merasa ada yang merongrong pikiran, saya sampai ling-lung. Berjalan siang hari menyusuri jalanan Surabaya yang sumpeg. Termangu di tepi Kali Mas. Bahkan saat berjalan sempat tertubruk becak yang mengangkut muatan karung-karung besar. Saya seperti mendapat dorongan untuk bunuh diri. Tokoh Veronika itu memang mau bunuh diri dan mencari alasan-alasan yang membenarkannya.


Untungnya, saya selesaikan novel itu sampai akhir. Jika saja tidak, mungkin saya tidak akan menulis cerita ini. Air mata saya terburai tak bisa dibendung usai membacanya. Saya tak ingat kaalimat persisnya seperti apa. Tapi kurang lebih saya mengerti bahwa untuk memahami tentang kematian, kita mesti hidup. Saya menangkap pesan pengarangnya bahwa hidup mesti bermakna, bermanfaat, agar tak sekedar menjadi mayat hidup. Jadi, bukan kematian solusi dari kebuntuan hidup. Hiduplah, dan buat hidup bermanfaat untuk sesama dan sekitarnya (*)

2 comments:

adek giribana said...

tetap semangat n slalu smile..my sist... :) akan byk sahabat n saudara jg keluarga yg kan slalu mensupportmu untuk menjadi lbh baik lagi n bermanfaat buat sesamanya.

Joko Sulistiono said...

anda tau siapa sosok nidah kirani itu ?
jika tau, tolong hub saya.
facebook.com/jokosulistiono22