Sunday, November 10, 2013

Lupakan Banner, Bagikan Buku

::  Diana AV Sasa *

'Ah, emang pohon bisa nyoblos di TPS?'

PARA politisi kerap melontar kalimat ini sebagai bahan canda. Menyindir maraknya wajah-wajah kandidat memamerkan diri pada pohon tepi jalan jelang pemilihan umum. Wajah-wajah cantik, tampan, lucu, aneh, dan cenderung seragam itu berlomba mencuri perhatian khalayak. Memajang wajah-wajah kandidat dalam spanduk, banner, dan baliho adalah strategi yang diterapkan mulai tingkat pemilihan kepala desa, bupati, gubernur, anggota dewan, bahkan sampai presiden. 


Saking banyak dan kerapnya justru menimbulkan kesan sumpeg dan semrawut. Sampai Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai penyelenggara pemilu pun menerbitkan aturan khusus pemilihan anggota legislative 2014 untuk mengatur pembatasan intensitas pamer wajah itu. PKPU No.15 tahun 2013 mengatur para kandidat anggota dewan tak lagi bisa seenaknya pamer wajah di tepi jalan.

Bagi kandidat yang berpikir linier tentang cara sosialisasi diri kepada pemilih, pembatasan ini bisa dianggap pemasungan. Mereka yang terlanjur memacak dalam benaknnya bahwa kalau mau sosoknya dikenal ya mesti pasang wajah di tempat umum sebanyak-banyaknya, selama mungkin, dan sesering mungkin wajahnya dilihat, dihafal orang lewat. Meski belum tentu mereka memilih di Tempat Pemungutan Suara (TPS). Minimal popularitas naik. Sedikit diantara para politisi itu yang terpikir untuk beralih pada buku sebagai alat sosialisasi. Berbagai alasan pun terlontar; terlalu intelek, takut dibuang, tidak dibaca, tidak tahan lama, tidak efektif, tak cocok untuk pemilih di desa, dan sebagainya.

Baiklah, berikut ini bukti bagimana buku tak bisa dikesampingkan sebagai alat sosialisasi. Mari memanjangkan ingatan, kita tengok tradisi awal Partai Komunis Indonesia (PKI) berdiri. Semasa itu buku adalah alat propaganda dan pengkaderan handal bagi partai. Pembelajaran pada kader tentang teori penopang jiwa partai, program, dan visi partai memerlukan media yang bisa dipahami oleh kader di level terendah. Dan,buku menjadi pilihan utama bagi PKI.

Poestaka Ketjil Marxis, nama proyek ini, umumnya menerbitkan buku berukuran mungil, 10,5 x 14 cm, tipis saja antara 20-100 halaman. Berisi teori dan panduan. Juga agitasi propaganda untuk memperjuangkan nasib petani, buruh, kaum miskin. Buku disebar hingga kader terbawah partai. PKI meluaskan gerakannya dengan mendirikan Jajasan Pembaruan pada Mei 1951 di Jakarta. Ini adalah sebuah lembaga penerbitan yang menjadi "mesin ilmiah" partai. Rata-rata menerbitkan 1 judul sepekan. Tahun pertama: Rentjana Konstitusi PKI, Djalan Baru Untuk Republik Indonesia, Pengantar Ekonomi Politik Marxis, Dimitrov Menggugat Fasisme, Tentang Ajaran2 dan Perjuangan Karl Marx, dan Bintang Merah (Jurnal). Penulis yang pernah diterbitkan tulisannya pun tak tanggung-tanggung: Ir. Sukarno, Njoto, Sudisman, Ir. Sakirman, Joebaar Ajoeb, Pramoedya Ananta Toer, Utuy Tatang Sontani, Dhalia, Sobron Aidit, dan lain-lain.

PKI juga memiliki Biro Penerjemahan CC PKI yang diawasi langsung Ketua Aidit. Umumnya yang diterjemahkan adalah tulisan pemimpin kiri dunia, seperti Stalin, Mao Zedong, Maurice Thorez (Perancis), Paul de Groot (Belanda), Ajoy Gosch (India), dan lain-lain. Selain itu Bintang Merah sering memuat terjemahan sajak-sajak progresif maupun tulisan dari/tentang pengarang terkenal karya sastra dunia seperti Ilya Erenburg, Maxim Gorki, Martin Carter, Ho Chi Minh, dan sebagainya. Badan Penerbitan Bagian Penerbitan Lembaga Kebudayaan (Lekra)--organ yang secara ideologis sejalan dengan PKI (baca Lekra tak Membakar Buku tentang posisi Lekra-PKI ini) didirikan tahun 1960 di Jakarta. Terbitan pertamanya adalah 4 buku puisi Sahabat (Agam Wispi), Pulang Bertempur (Sobron Aidit), Bukit 1211 (Rumambi, Sudisman, dan FL Risakotta), dan Lagu Manusia (Nikola Vaptsarov-diterjemahkan Risakotta, Agam Wispi, Walujadi Toer, dan Bintang Suradi). Setelah 2 tahun sudah menerbitkan 30 buku diantaranya karya sastra (pengarang Indonesia) 47%, 30 % terjemahan, 16% karya-karya musik, dan 7% ilmu. Hasilnya, pada pemilu 1955, PKI berhasil masuk 4 besar dengan perolehan 39 kursi atau setara dengan 16,36 %.

Medio buku sebagai alat penyebaran wacana dan profil partai ini pernah dilakukan pula oleh salah satu peserta pemilu 1999, Partai Keadilan (PK). Semasa itu, PK mencetak buku saku dan terdistribusi hingga di desa-desa dimana kelompok pengajian mereka berada. Ada 6 buku ukuran saku yang sempat penulis dokumentasikan. Masing-masing berisi tak lebih dari 30 halaman. Ada buku sejarah berdirinya partai, arti lambang dan semboyan partai, AD/ART dan cara menjadi anggota, program prioritas partai, 10 alasan mengapa memilih PK, dan profil ketua umum partai. Masih ada bonus buku memo kecil yang berisi beberapa doa harian dan halaman kosong yang bisa ditulisi.

Dengan buku saku, mereka memasuki ruang pribadi setiap pemilik hak suara. Langsung menyerang pikiran. Maka kelihaian menata kata dan kalimat menjadi kunci penting bagaimana mempengaruhi pembacanya. Buku saku PK tidak dibuat asal-asalan. Mereka perhitungkan betul tata letak, kalimat, ilustrasi, dan alur berpikir pembacanya. Pada ruas ini, PK percaya bahwa buku membawa mereka pada keberhasilan mempengaruhi pikiran. Hasilnya, dalam waktu yang relatif singkat PKS dapat masuk 5 besar pada pemilu 2009. Bahkan perolehan suara antara tahun 1999 ke 2004, melonjak hingga 600%.

Terdekat, pada pemilihan gubernur Jawa Timur Agustus lalu, ada kandidat yang menggunakan buku sebagai alat sosialisasi. Adalah Bambang DH, calon gubernur yang diusung PDI Perjuangan menggunakan buku biografi Bambang DH Mengubah Surabaya anggitan Ridho Saiful Ashadi untuk mengenalkan dirinya ke kalangan pemilih terdidik. Selain itu, ia gunakan pula buku saku berisi profil dirinya dan pasangan cawagubnya, MH Said Abdullah. Sayangnya buku saku ini kurang digarap maksimal hingga kurang menarik dibaca. Meski kemudian Bambang-Said ini kalah dalam pertarungannya, namun mereka menunjukkan bagaimana menggunakan cara-cara yang mendidik dan tidak konvensional untuk sosialisasi.

Jika ingin merujuk agak jauh, lihatlah Michael Sessions yang menjadi wali kota Hillsdale, Michigan, Amerika Serikat, pada usia 18 tahun. Ia mengalahkan rivalnya, Douglas Ingles, 51 tahun, bekas wali kota sebelumnya yang seusia bapaknya, dengan ''hanya'' bermodalkan uang 700 ribu rupiah. Yang sehari-hari dilakukannya adalah mengetuk setiap pintu saat senggang sekolah dan memberi kado berupa buku-buku kecil yang harganya tak seberapa. Dengan keyakinan itu, Michael berhasil mencuri hati pemilihnya.

PKI, PK, Bambang DH, Michael barangkali hanya sedikit dari sekian banyak kandidat pemilu yang memiliki kesadaran pentingnya buku sebagai alat sosialisasi. Jika calon pemimpin di negeri ini peduli tentang pendidikan pemilih, maka mereka tak akan sekedar mengelabuhi pemilih dengan memajang wajah-wajah manis. Pendidikan politik dimulai dengan mengenalkan sosok yang akan dipilih dengan cara-cara yang mencerdaskan. Jadi, wahai para kandidat, lupakan banner, buatlah bukumu dan perkenalkan dirimu pada pemilihmu. (*)

*) Penulis adalah pegiat buku, tinggal di Surabaya
**) Dimuat Jawa Pos 10 November 2013

0 comments: