Tuesday, November 12, 2013

#5BukuDalamHidupku | Para Penggila Buku: Tantangan 100 Catatan


#5BukuDalamHidupku

Cara melatih analisis dan melunglaikan bahasa dalam menulis, kuncinya terus-menerus menulis. Berhenti dua tiga bulan saja akan tampak persendian tangan dan pikiran membeku (GM, 18 juli 2007)

Sepenggal kalimat itu tertulis dalam balasan surat elektronik yang masuk ke kotak surat seorang perempuan. Surat dari penulis idola yang isinya pendek saja. Namun perempuan itu bak baru saja menerima sepucuk surat cinta. Ia membaca surat itu lagi saban kali menyalakan komputer dan tersambung ke dunia maya. Jika saja tak ingin dianggap gila, ia tentu ingin mencium-cium layar komputernya. Seperti ketika ia menghirup dalam-dalam wangi kertas surat cinta dari sang kekasih. Dulu semasa
masih berseragam abu-abu. Menyimpannya di balik bantal, dan membacanya lagi sebelum berangkat tidur. Ya, dan surat dari penulis yang ia puja itu memang kemudian menjelma semacam mantra yang ia rapal dalam batin. Ia hafal isinya kata demi kata di luar kepala.

Sejak menerima surat itu, ia seperti ketakutan bila sehari saja alpa dari menulis catatan harian. Catatan yang ia sembunyikan di jejaring sosial Friendster. Dia tak berani lagi menulis di buku harian. Ada sang suami yang akan menjadi murka bila mengetahui apa yang ditulisnya. Beruntunglah karena sang suami tak seberapa akrab dengan internet. Persembunyiannya di bentala cahaya itu membuatnya merasa nyaman. Hanyut dalam kesunyian laiknya sedang bersembunyi di sungai tepi hutan sambil menulis catatan harian, semasa kanak-kanak dulu.

Di friendster, perempuan itu menulis tentang kesehariannya, perasaannya, dan apa-apa yang ada di benaknya. Remah-remah perasaan yang kadang getir, bergejolak, pahit, namun tetap menyelipkan secuil harapan. Malu-malu ia sodorkan catatan itu pada penulis idolanya. Dan ketika sang idola kembali menghujani dengan kata-kata yang melambungkan hasrat menulisnya, ia pun nekad untuk minta diajari menulis. Sang idola menyanggupi untuk menjadi mentor. Syaratnya 2 : 1) Satu hari satu tulisan, hingga genap 100. 2) Sehari wajib menulis 12 jam. Perempuan itu tercenung dengan syarat yang diajukan. “Mana mungkin”, pikirnya. Lalu ia coba menawar. Delapan jam sehari dengan 2 hari 1 tulisan. Sang mentor mengiyakan. Lalu mulailah mereka membincang dari mana akan memulai.

Lecutan Pertama

Tantangan pertama adalah menulis esai untuk rubrik Di Balik Buku, koran Jawa Pos. Sebuah rubrik yang khusus membahas renik-renik perbukuan dan tulis menulis. Perempuan itu nyaris menangis karena ia tak tahu bagaimana menulis untuk koran. Apa pula yang akan ditulis sedang ia hanya terbiasa menulis remah-remah perasaan. Tantangan itu terlampau berat baginya. Ia ingin menolaknya namun kadung janji untuk mau belajar. Maka ia pun memberanikan diri untuk menanyakan pertanyaan paling lugu : Apa yang mau ditulis?

“Kamu tulis lah tentang Mbah Suparto Brata dan Pak Oei Him Whie itu. Kan kamu sudah ketemu mereka, sudah kenalan juga,” kata Sang Mentor.

“Biografinya? Kan sudah banyak yang menulis tentang mereka”.

“Ya semacam itu, tapi digabung-gabung saja. Kamu lihat dong, mereka itu sepuh-sepuh, tekun dengan buku, kota ini beruntung memiliki mereka. Masukkan juga Budi Darma. Penting itu,” ujar dia lagi.

Perempuan itu terdiam. Is coba mencerna maksud kata-kata Sang Mentor.  “Oke, deh… Aku coba," akhirnya ia menyanggupi.

Dan mulailah ia berburu data tentang ketiga kakek itu. Google diobrak abriknya. Cuma itu modalnya. Dia tak banyak memiliki buku. Selama ini ia hanya bisa menyisihkan gaji mengajarnya untuk membeli satu dua novel seban bulan. Tapi ketika semua data telah didapata, da dilanda kebingungan lagi, mau diapakan data-data itu.

“Jahit dong, tugas penulis kan menjahit-jahit data,” seru Sang Mentor.

Menjahit…, menjahitnya dengan benang apa? Perempuan itu berpikir keras. Tetap saja buntu. Tak sabar, ia pun bertanya lagi, “Menjahitnya dengan apa? Aku tak punya ide”.

 “Kamu bayangkan saja mereka itu seperti begawan yang menjaga ingatan sebuah kota dengan buku,”

Sedikit petunjuk akhirnya membuka kran pikiran perempuan itu. Ia pun coba merangkai-rangkai jahitan. Dua hari kemudian ia mengirimkan hasil jahitannya pada Sang Mentor. Berdebar-debar cemas ia menunggu hasilnya. Tak sampai sehari, ia terima balasan. Hasilnya sungguh membuatnya terkesiap. Enam paragraph pertama DIHAPUS! Lemas sudah seluruh sendinya. Tak terbendung untuk mengajukan protes. Enam paragraf itu tentu perjuangan yang tak mudah baginya. Begitu berarti karena untuk menulisnya ia memilah banyak data. Menghilangkan begitu saja ibarat membuang jerih payahnya sia-sia. Tapi sang mentor kemudian menerangkan di suratnya:

“Paragraf itu terlalu bertele-tele dan gak penting. Bicaralah langsung ke pokok persoalan. Rubrik ini dibatasi hanya 600 kata. Buat paragraph awal yang memikat. Carilah kutipan untuk memulainya”.

Perempuan itu terdiam lama. Tak lagi bisa membantah, ia menelusuri kembali mesin pencari di internet. Dia meloncat ketika menemukan sebuah artikel tentang Milan Kundera dan mendapati kalimat “Perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa”. Bagai mendapat kucuran air berlimpah ia pun membredel ulang tulisannya. Ia tahu apa yang meti ia tulis. Begitu selesai, dikirim lagi pada Sang Mentor. Dua hari kemudian, sebuah balasan masuk. Hampir tak percaya ketika dia membaca apa yang tertulis di layar komputernya. Ragu-ragu untuk mengakui itu tulisannya. Pilihan kata-katanya jauh dari jangakauan gudang kosakatanya.

"Kupinjamkan kata-kataku untuk menemukan jalan kata-katamu sendiri" -- william forrester, 'finding forrester'.

Direngkuhnya paragraph-paragraf itu ke pangkuannya kembali. Ia rangkai lagi untuk merapikan tepian-tepiannya. Dan dua minggu kemudian, 24 agustus2008, “Begawan Penjaga Ingatan Melawan Lupa” tayang di Jawa Pos. Mengharu biru perasaan perempuan itu. Tak pernah terbayang di benaknya bahwa namanya bisa nangkring di halaman koran setelah puisi pertamanya semasa SMA dulu. Dan itu lah lecutan pertama yang memicunya untuk terus menulis.

*****
Buku tentang Buku

Perempuan dan mentornya akhirnya sepakat untuk menulis buku tentang buku. Seperti rubrik Di Balik Buku itu. Bagaimana bentuknya mereka tak tentukan di awal. Intinya menulis saja soal buku dan dunia yang melingkupinya. Buku The Devine Madness menjadi kitab utama. Beruntung s perempuan pernah belajar hingga menjadi sarjana Bahasa Inggris, jadi tak terlampau kesulitan memahami isi buku. Esai dalam buku itu dipenggal menjadi semacam fragmen-fragmen. Tinggal tugas mereka adalah menerjemahkan dan memperkayanya dengan gaya masing-masing.

Satu esai selesai disusul lainnya. Perempuan itu sudah terbiasa bangun subuh dan duduk di depan komputer hingga matahari naik. Mengulik data di Google, membuka-buka beberapa buku. Sesekali menerjemah. Berhenti sejenak untuk menyelesaikan masakan di dapur dan bebenah rumah. Duduk lagi dan menulis hingga tengah hari. Sore berhenti lagi untuk mandi dan berangkat mengajar. Malam sepulang bekerja ia sudah di depan komputer lagi. Begitu terus saban hari. Tidurnya nyaris hanya 3-4 jam saja.

Tak semua tulisan mampu ia tuntaskan dalam dua hari seperti janjinya. Hingga lima bulan berlalu ia baru menyelesaikan 20-an tulisan. Jadi nyaris dalam satu minggu ia baru bisa menulis satu esai. Capaian yang cukup menggembirakan untuk seorang pemula.

Tumpat dengan rutinias menulisnya, ia meminta saran pada Sang Mentor. “Jalan-jalan lah,” katanya. Perempuan itu pun kemudian memilih untuk mendaki lereng Merapi dan menyepi di sana. Kabut dan gerimis memberinya asupan daya menulis yang berbeda dengan yang biasa ia temui di kota nan sibuk. Sang Mentor mengawasinya dari kejauhan. Sesekali melempar kail gagasan. Sesekali mengomel bila tahu ada kejumudan menyergap. Ia terus menyalakan api agar perempuan itu tak padam gairahnya.

Dari Merapi ia berpindah tempat lagi. Menyepi di tepi pantai kota Pacitan. Menghayati malam-malam pekat tanpa cahaya dan deburan ombak yang gemuruh seperti badai. Menyambut matahari naik di ufuk timur sambil memangku laptop. Buku-buku ia borong berpindah-pindah. Puas di pantai, ia pulang ke kampung halaman. Naik lagi ke kaki Gunung Brengos, Pacitan. Di sana ia punya waktu lebih banyak dan terbebas dari kewajiban rumahtangga karena menjadi Nyonya kecil yang disayangi seisi rumah. Ingatan peristiwa masa kecil membantunya menemukan asupan segar untuk ditulis. Kelancarannya menulis sudah mengalir deras. Tangannya bergerak cepat tak tebendung.

“Terimakasih, saya senang mengenalmu. Kesenangan yang akan saya bawa mati. Karena sulutmu telah menyalakanku, lagi. Aku menyuguhkan terimakasih atas kesediaanmu menyulutku. Aku telah bangun dari kemandegan jariku. Kini aku bisa menulis lagi selancar beberapa tahun lalu. Terbangun lagi setiap subuh dan menulis. Aku menemukan sendiri kalimatku setelah kau pinjami dulu itu. Terimakasih kawan, terimakasih sahabat. Kuharap bisa kerasukan rohmu dan trans menulis dengan kegilaan yang tak terhenti,”tulisnya di surat suatu hari pada Sang Mentor.

Writing Block

Januari 2009, sebuah petaka datang. Partai merah memanggil perempuan itu untuk bertugas di ajang pemilihan umuma nggota Dewan Perwakilan Rayat. Keputusan suara terbanyak mewajibkan semua calon wakil rakyat untuk turun. Dia yang semula hanya penggenap quota perempuaan tak luput dari kewajiban. Resikonya harus total menyediakan waktu untuk turun ke basis massa pemilih. Keputusan penting mesti diambil si perempuan. Dia harus rela meninggalkan pekerjaan sebagai guru di lembaga bimbingan belajar yang selama ini menghidupinya.

Setelah menimang-nimang, ia tak ragu sama sekali untuk berhenti mengajar. Ia tahu dirinya membebas dari kejenuhan sebagai guru setelah ia bisa menulis. Ia sadar menulis lah dunianya. Bakat yang ia pendam sejak belia. Hasrat yang ia kubur bertahun-tahun. Hati kecilnya berbisik mantab untuk memilih menjadi penulis. “Penulis itu juga profesi. Bila dijalankan dengan serius akan menghasilkan seperti pekerjaan lainnya,” pesan Sang Mentor kepadanya.

Maka ia pun pamit pada Sang Mentor untuk turun menyapa rakyat. Dia janji akan tetap menyempatkan diri untuk menulis. Namun ternyata riuhnya pesta politik tak menyisakan waktu untuk sekedar menulis. Beruntung, sang mentor ini bukan seorang tentara yang kaku. Ia tetap mendukung dengan caranya. Dikirimnya berdus-dus buku sebagai alat perang untuk dibagikan ke calon pemilih. Ia kirim buku-buku baru untuk dibaca di perjalanan. Tak lupa mengingatkan agar menulis catatan harian sekecil apapun. Dan perempuan itu menurut.

Pesta politik usai, dan perempuan itu kalah. Tak menunggu lama, ia segera menyewa satu kamar losmen kecil di atas danau Sarangan. Ia bawa serta semua buku-buku pemberian Sang Mentor. Juga film-film tentang buku yang disarankan olehnya. Ia ceburkan lagi dirinya dalam lautan kata yang selama empat purnama terabaikan. Bahkan dalam salah satu esainya, ia tulis keindahan alam pagi di depan teras losmen itu sebagai pembuka paragraf. Ibarat musafir yang kehausan di tengah gurun pasir, kesejukan alam di kaki gunung Lawu itu diserapnya habis-habisan hingga menghasilkan puluhan tulisan. Membuatnya lupa pada kekalahan pemilu.

Namun gonjang-ganjing politik pasca pemilu ternyata berbuntut panjang. Tugas kembali memanggilnya untuk berangkat ke ibu kota. Di kota yang ganas itu ia bereskan tugas sembari menulis berpindah-pindah tempat. Gedung tua di jalan Veteran dimana markas Sang Mentor berada, adalah tempat yang juga menghasilkan beberapa tulisan. Kamar berjendela besar di lantai dua itu menghadirkan ide-ide yang tak disangkanya. Di sanalah esai tentang Sang Mentor diawali penulisannya. Ya, mereka saling menulis tentang diri masing-masing. Tulisan yang kemudian menjadi bagian khusus: Tentang Penulis.

Perempuan itu terus menulis untuk mengejar angka 100 seperti janjinya. Di ibu kota, ia bak ratu yang dimanja. Tinggal di sebuah rumah gedong di bilangan Menteng yang tenang dan elit. Tanpa kawan, hanya berteman 3 orang pembantu dan 2 orang satpam yang siap sedia memenuhi apa pun kebutuhannya. Tak ingin menyia-nyiakan kesempatan dan fasilitas, sembari menyelesaikan tugas politik, ia terus menulis. Target 100 esai itu menjadi obsesi sudah.

Sekira akhir April, Sang Mentor mengingatkan bahwa buku itu mesti dilahirkan bertepatan dengan hari kebangkitan nasional, 20 Mei. Momen tepat untuk sebuah tonggak penting kepenulisan perempuan itu. Tak bisa dihindari, ia menggila lagi di depan komputer. Namun kebuntuan dan kejenuhan merubungnya. Ia kehabisan gagasan. Kehabisan daya. Demam pun menyerang. Kulitnya memerah gatal. Tapi Sang Mentor berujar, “Kalau sudah sampai sakit, biasanya akan muncul pencerahan. Nabi itu begitu. Jangan berhenti!”.

Perempuan itu menurut. Ia tulis apa saja yang hinggap di benaknya. Dan benar, setelah melampau kesakitan itu jarinya semakin tak terhentikan. Pagi, siang, malam ia mengetik. Sampai terkumpul 63 tulisan. Dan Sang Mentor menyampaikan berita gembira, “Sisanya biar saya yang melengkapi. Kamu lulus ujian”. Tertunduk haru, perempuan itu memilah-milah tulisan dan mengelompokkannya. Buku tentang buku itu merangkum segala-gala tentang buku: kisah, tokoh, buku, film, komunitas, ruang, musuh, hingga revolusi buku.

Bekejaran dengan waktu, buku itu selesai di tata perwajahannya. Dicetak kilat dengan mendesak-desak pihak percetakan. Dikirim dengan kereta tercepat. Dan hanya dicetak 15 biji saja. Begitu istimewa buku hasil perkawinannya dengan Sang Mentor itu.

Terkagum bangga perempuan itu melihat betapa mentereng dan gagah buku pertamanya. Tinggi dan gemuk. Terhitung 666 halaman, 100 esai tentang buku. Ia pinta ibunda untuk hadir dalam upacara kelahiran buku pertamanya. Sungguh ingin ia melihat perempuan yang melahirkannya itu menjadi saksi kelahiran anak ruhani pertamanya: Para Penggila Buku; 100 Catatan di Balik Buku.

Perempuan itu memeluk anak pertamanya erat-erat. Dielus dan dicium-ciumnya penuh kesukaan. Seperti ciuman pertama dengan sang pacar yang menerbangkan pikirannya. Dulu semasa sekolah. Inilah anak pertama yang menjadi pijakan langkah pertamanya. Ia telah tertasbihkan sebagai penulis. Seakan melihat masa depan yang gemilang, ia tersenyum membaca nama yang terpampang di sampul buku putih itu: Diana AV Sasa. (*)

5 comments:

irwan bajang said...

wasyuuuuw, merinding aku bacanya!!! haaa

sasa said...

@irwan bajang: ada thypo, salah kata, dan kisah terlewat, boleh diedit kan biar rapi?

jaka said...

terimakasih bos infonya dan semoga bermanfaat

tejo said...

mantap mas infonya dan salam kenal

sarmin said...

makasih gan buat infonya dan salam sukses