Wednesday, November 13, 2013

#5BukuDalamHidupku | Register 2979904



#5BukuDalamHidupku
REPUBLIK INDONESIA
KUTIPAN AKTA NIKAH
KANTOR URUSAN AGAMA
NO: 100/26/III/2006

Buku itu kecil saja. Seukuran buku saku. Warnanya hijau lumut. Ada angka 2979904 tercetak bolong-bolong di sampulnya. Isinya cuma empat lembar. Tapi empat lembar itu telah membalikkan suratan seorang gadis. Seluruh hidupnya berubah drastis setelah seorang laki-laki membubuhkan tandatangan di halaman 5. Yang mana dengan itu ia terikat sumpah;


Sesudah akad nikah, saya ERP bin K berjanji dengan sesungguh hati, bahwa saya akan menepati kewajiban saya sebagai seorang suami dan akan saya pergauli istri saya bernama DAV binti NS dengan baik (mus’asyarah bilma’ruf) menurut ajaran syariat islam.

Gadis tomboy berambut cepak itu tak berpikir panjang ketika laki-laki itu meminangnya. Yang ia tahu, suatu siang di sebuah café ia bertemu laki-laki itu. Pertemuan pertama setelah komunikasi panjang melalui seorang sahabat. Pertemuan yang menyita waktu hampir empat jam. Pertemuan yang menghabiskan dua bungkus kretek Sampoerna A-Mild. Asap mengepul dari mulut dan hidung gadisi itu. Si lelaki hanya menatap sambil menyorongkan batang selanjutnya. Cerita-cerita mengalir deras dari bibirnya. Dari politik hingga urusan cinta. Bak seorang tukang dongeng yang ditanggap. Gadis itu nerocos tak terbendung hingga malam menjelang.

Malam usai pertemuan pertama, si gadis tomboy menerima pesan pendek bernada klasik di telepon genggamnya, “sudah tidur?”. Sebuah sapaan yang ia jadikan taruhan dengan teman-teman satu kos. “Ayo taruhan, pasti malam ini dia akan kirim sms”. Dan, ketika peristiwa sms itu terjadi seperti diperkirakan, meledaklah tawa seluruh penghuni kamar. Sebuah tak-tik pendekatan laki-laki pada perempuan yang tak terlampau sulit untuk ditebak.

Tebakan ke dua pun beredar “Pasti besok pagi dia sms—sudah makan dik?” Dan benar begitu kejadiannya. “Bilang belum, biar dia bawakan makanan,” seru mulut-mulut usil itu lagi. Tak salah lagi, menjelang siang, laki-laki itu datang membawa rangsum. Rejeki yang tak akan disia-siakan oleh anak kos mana pun.

Seminggu berjalan,  pesan-pesan pendek berhamburan. Memasuki minggu ke dua, mereka bertemu lagi. Pembicaraan sudah mulai mengarah pada cita-cita dan harapan. Minggu ke tiga, si lelaki ingin berjumpa orang tua si gadis. Tak banyak pikir, permintaan dituruti. Pertemuan digelar di sebuah cafe. Dua laki-laki duduk di pojokan nampak akrab dan serius. Si gadis membangun sendiri percakapan di meja bar dengan para pelayan. Tak lama, si gadis dipanggil ayahnya.

“Ini tadi bapak sudah bicara sama Mas, nanti tanggal 30 Desember mas dan keluarganya mau ke rumah,” ujar laki-laki brewok itu tanpa bertanya atau memberi kesempatan berkelit.
Setengah kaget tak percaya setengah gembira si gadis cuma diam. Ketika dua laki-laki itu berpamitan, si gadis memilih tinggal di café. “Hey…aku mau dilamar!” bisiknya pada para pelayan. Lalu menghambur pergi meninggalkan café. Ia ingin melompat-lompat, ingin menari berputar-putar, namun kakinya seperti tertancap di lantai. Diseretnya langkah menuju rumah bilyard. Dipanggilnya teman-teman. Ia habiskan hari itu dalam benturan bola-bola dan tongkat.

Malam sebelum ia berangkat tidur, sebuah pesan masuk lagi ke telepon genggamnya. “Besok jadi mau hunting?” Ah, nyaris saja lupa, dia masih belum memutuskan hubungan dengan fotografer yang sudah lama ingin ditinggalkannya karena hati sudah tak bertaut.

Waktu berjalan cepat. Hari penentuan tiba. Upacara pinangan digelar pada penghujung tahun. Pesta dihelat tiga bulan kemudian.

Masih tak percaya, si gadis tomboy gamang menjalani status barunya. Tak biasa dengan keterikatan, ia merasa dunianya menyempit secara mendadak.Tiba-tiba tak ada lagi kawan-kawan yang mengajaknya menyanyi di ruangan sempit karaoke. Tak ada lagi yang menghampirinya untuk menari tengah malam di bawah lampu kerlip-kerlip dan musik berdentum. Tak adalagi yang menemaninya minum kopi di café dan begadang sampai dini hari. Semua berubah.

Setahun berlalu, si gadis terbaring di meja operasi. Janin yang dikandungnya tak bisa bertahan lama. Ia bahkan mesti rela dibedah karena darah tertinggal di luar rahimnya. Kata dokter, kalau tidak mau dibedah ia akan mati. Sejak itu, si gadis tak diijinkan melakukan aktifitas berat apa pun. Di rumah saja. Tugasnya menjaga dan merawat rumah. Menyediakan makanan dan merapikan baju. Bila ingin pergi kemana diantar dan ditunggui hingga urusan selesai. Lama-lama ia benar-benar tak pernah kemana-mana selain untuk urusan menemani laki-laki yang sudah menjadi suaminya itu.

Tahun ke dua terlewati. Gadis tomboy itu  rambutnya sudah panjang. Celana jeansnya sudah tak muat. Kaos oblongnya kesempitan. Bajunya hanya satu model: daster. Badannya mekar. Perutnya buncit. Ada bayi di dikandungnya. Sembilan bulan kemudian bayi itu lahir. Namun sejak manusia mungil itu keluar dari perutnya belum sekalipun ia menggendongnya. Sekali ia pernah cium pipinya beberapa saat setelah brojol dan masih berlumur darah. Sekali dilihatnya bayi mungil itu ketika ia sudah bisa berjalan pasca pembedahan ke dua. Namun sekalipun, ia tak bisa menyentuhnya. Bocah itu tertutup tabung. Selang-selang melilit tubuhnya. Napasnya tersengal. Tak kuasa melihat semua itu, ia memilih pulang. Semua orang memintanya untuk tinggal di rumah. Entah apa alasan. Padahal sungguh ia ingin mendekap dan meminjamkan napasnya pada si jabang bayi. Hanya doa yang bisa ia hembuskan dalam batin.

Sebelas hari setelah bayi itu lahir, bapak brewok datang membopong bayi yang telah dinamai Raya itu. “Aku ingin menggendongnya,” bisik si gadis tomboy. Sang jabang bayi pun dipindahkan ke pangkuannya. Ia nikmati gendongan pertama dan terakhir itu. Karena tak akan bisa diulangnya lagi. Bayi itu telah berkalang kafan.

Sebulan kemudian, si gadis tomboy tahu bahwa Toxoplasma lah yang telah merenggut napas Raya, putrinya pertamanya. Setelah itu ia pun sibuk mengusir penyakit itu dari tubuhnya. Namun ia tak merasa makin sehat, sebaliknya ia merasa frustasi dan makin lemah. Tak ada aktifitas yang ia lakukan selain berurusan dengan rumah dan selingkupnya. Ia kehilangan kawan-kawan yang dulu kerap menghiburnya. Pelariannya hanyalah teman-teman maya di internet. Itu pun ia lakukan sembunyi-sembunyi ketika suami tak ada di rumah. Naik sepda butut ia pergi ke warnet seharian.

Tahun ke lima, ia beranikan mencari kawan-kawan baru. Bertemu para kutu buku. Sedikit demi sedikit ia belajar menulis. Hingga akhirnya ia pun bisa menerbitkan buku pertamanya. Seperti mendapat mainan baru ia pun hanyut. Dia mulai sibuk. Dunianya mendadak meluas. Ia temukan kesempatan-kesempatan baru. Seperti pintu gerbang yang jebol, ia pun membludak. Ia lupa pada Raya, juga keinginan untuk menghadirkan adiknya.

Adalah ketakutan terbaring di meja operasi, juga ketakutan akan bayang-bayang napas Raya yang tersengal yang membutanya ciut untuk mau menyemai benih lagi. Lebih ketakutan lagi ia akan bayangan Raya di gendongan dengan kafan melilit tubuh. Ketakutan itu yang kemudian membuatnya berjarak dengan suaminya. Ia melarikan diri pada buku. Mereka menjadi demikian asing satu sama lain.

Enam purnama sudah keterasingan itu menjejal diantara mereka berdua. Ketika ketakutan semakin merubungnya, ia merasakan kesakitan-kesakitan dari emosi yang tak terbendung. Kesakitan yang merembet dari batin ke tubuhnya. Pada akhir tahun ke lima itu, ia beranikan diri untuk membuang buku saku bersampul hijau yang mengikatnya bertahun-tahun. Sebagaimana sighat yang tertulis di halaman 5 dan dibaca laki-laki itu, dulu:

Atau saya membiarkan (tidak mempedulikan) istri saya enam bulan lamanya, kemudian istri saya tidak ridha dan mengadukan kepada Pengadialan Agama dan pengaduannya dibenarkan oleh pengadilan tersebut dan istri saya membayar uang sebesar Rp.10.000,00 (sepuluh ribu rupiah) sebagai iwadh (pengganti) kepada saya, maka jatuhlah talak saya satu kepadanya (*)

2 comments:

31oktober said...

Aduh jadi pengen punya deh... Selamat ya menang :D

khrisna aprianto said...

Menyentuh sekali membaca sepenggal kisah dari mbak sasa. speechless