Wednesday, December 4, 2013

Mimpi dan Impian

"Mimpi itu hanya ada di dalam tidur, sedang impian itu ada di  dalam kesadaran"

Mimpi bertemu putri Bung Karno, Megawati, memang ada dalam tidurku. Beberapa hari lalu, usai mendengarkan pidato panjangnya dalam sebuah acara Partai di aula Hotel Utami, Juanda. Pidato yang kumaknai sebagai kemarahan seorang ibu pada anaknya. Aku merasa dijewer karena belum melaksanakan tugas secara maksimal. Dirubung ketakutan menghadapi kondisi pragmatisme di kalangan masyarakat. Ciut nyali dan enggan bersusah payah meyakinkan. Tapi pidato ibu itu, dan juga sedikit cerita Cornelis Lay dalam pidato pengantarnya, mengingatkanku kembali pada  apa yang kami punya, mengapa kami ada, dan untuk apa kami berjuang di bawah panji merah.


Itu adalah kali ke lima aku melihat ibu langsung selama 2 tahun ini. Pertama saya melihatnya langsung adalah ketika bertugas memotretnya turun dari pesawat di bandara Juanda, sekira pertengahan 2012. Sempat merasakan bagaimana memotret dirinya hanya diijinkan dari jarak 200 meter, ditegur paspampres ketika berusaha mendekat, berjalan mundur berdesak-desakan dengam fotografer lain yang badannya lebih besar dariku sambil membidik dan menekan tombol kamera, kemudian diminta pergi dari ruang transit. Tak ada perlakuan khusus meski tanda pengenal panitia menggantung di leher, lengkap dengan gambar kepala banteng. Kecut rasanya. Namun rasa itu terobati ketika gambar yang kuhasilkan dipilih redaktur untuk nangkring di gallery foto, dan beberapa diambil media lain yang tak sempat memotret.

Perjumpaan ke dua masih di momen yang mirip, hanya beda tempat. Ia akan membuka rapat kerja nasional di kawasan Pakuwon City (nama yang menurutku aneh untuk sebuah wilayah di Surabaya, berasa asing). Aku menunggunya bersama puluhan fotografer lain di pintu masuk gedung. Sebagian besar fotografer menunggu di lobby tempat mobil direncanakan akan berhenti. Aku memilih menunggu di atas pintu masuk yang posisinya beberapa tangga lebih tinggi dari teras gedung. Tepat di samping anak perempuannya, Puan Maharani, yang akan menyambut. Kupikirkan, aku akan dapat gambar tepat saat mereka bersalaman.

Dan ia pun datang. Momen itu berjalan begitu cepat. Aku sudah bersiap membidik ketika serombongan fotografer yang menunggu di lobby itu bergerak mundur ke arah pintu masuk. Makin lama makin dekat, makin cepat, dan berdesakan dengan petugas keamanan serta orang-orang yang ingin bersalaman. Aku terjebak di antara kerumunan. Berusaha menggeser namun tubuhku kalah besar. Keseimbangan pun lepas. Dan akhirnya terjengkang oleh desakan tubuh-tubuh juru potret yang lebih besar. Saat itu lah aku mengutuk dalam hati mengapa tubuhku pendek. Momen tak dapat diulang, aku menyerah kalah tanpa hasil. Pertemuan ibu-anak itu pun luput dari bidikan lensaku.

Ketika kemudian ibu berada di dalam gedung dan memberikan pidatonya, aku memilih untuk meletakkan kamera dan menyalakan perekam suara. Menyimak baik-baik kata demi kata, kalimat demi kallimat. Kurasa aku mengenali gaya bahasanya, pilihan katanya, dan pola gagasan pidatonya. Sempat terlintas satu nama di benakku, nama yang kutahu memang kerap menulis bahan pidato sebelum ia sendiri maju ke mimbar. Nama yang kini kulihat kerap berada di samping ibu. Nama yang mempengaruhiku untuk menyimak lebih jauh pidato ibu. Dan itu lah kali pertama aku mendengar langsung pidatonya. Jantungku bergetar lebih kuat saban kali intonasi bicaranya meninggi. Bukan mendramatisir, namun momen pertama itu memang membuatku leher belakangku tergidik. Sampai-sampai ketika ia turun dari podium, dan beberapa saat kemudian acara pembukaan berakhir, aku bengong saat ibu itu berhenti di hadapanku. Ya, tepat di hadapanku. 

Saat itu aku tengah memotret ia yang menyalami kader-kader di sepanjang altar menuju pintu keluar. Momen itu begitu cepat, beberapa detik. Ibu menatapku. Diam sejenak. Sekejap aku sadar bahwa aku berada di barisan orang-orang yang hendak bersalaman. Mungkin janggal ketika sampai di hadapanku dan aku masih tetap pada posisi bidik memegang kamera. Menyadari keanehan itu, buru-buru aku menyambut tangannya dan membawanya ke dahiku. Ia berlalu. Aku masih tergetar gagu. Grogi lebih tepatnya. Ah,aku mencium tangan putri proklamator, batinku.

Kesan pertama yang demikian melekat itu yang kemudian membuatku bersemangat untuk segera menuju ruang media centre begitu pidatonya usai. Aku ingin menulis transkrip pidato itu selengkap-lengkapnya. Kuingat pesan guru menulisku, "Latihan dasar dari seorang jurnalis adalah menulis transkrip". Maka kupasang pengeras suara di telinga, nyalakan laptop, dan mulai menulis. Pidato berdurasi 40-an menit itu menghabiskan waktu hampir 3 jam untuk mentraskripnya.

Kelelahan berjam-jam duduk di depan komputer itu terbayar begitu transkrip itu kuserahkan pada editor dan tayang di web site partai tempat aku mengabdi. Berjingkrak aku saat transkrip itu ditayang ulang lengkap di situs pengurus pusat. dan tak kusangka, koordinator media centre memutuskan untuk memuat penuh transkrip itu pada buletin edisi ke dua yang akan terbit keesokan harinya. Aku dan kawan-kawan lembur hinga pukul 3 dini hari untuk menyelesaikan edisi itu.

Untuk melepas lelah pasca 3 jam menulis transkrip, aku berburu gambar di area luar gedung. Menemukan obyek-obyek menarik untuk diabadikan. Lensa kameraku membidik dengan cepat barisan tukang becak, pedagang baju Jokowi, jasa bordir, mobil-mobil stasiun televisi bergerak, petugas kesehatan, hingga tenda konsumsi dan rombongan penggembira dari daerah yang tak bisa masuk gedung. Foto-foto iseng itu ternyata dipilih redakturku untuk tayang di buletin bersama transkrip pidato. Aku melonjak kegirangan. Ketika cetakan buletin itu ada di tanganku, aku memuja-mujanya sedemikian rupa sebagai sebuah karya. Meski tak ada namaku tercantum di sana. Aku bangga. Ibu telah kuabadikan dalam hasil kerjaku.

Perjumpaan ke tiga dengannya terjadi di makam ayahnya, di Blitar. Aku masih menjalankan tugas yang sama, mengabadikan gambar. Ia datang untuk nyekar sebelum bulan suci Ramadhan tiba. Hadir pula seluruh putra-putri dan cucu-cucunya. Saat itu lah aku merasakan nyaliku ciut karena dihardik ibu langsung saat mencoba mendekat ke pusara. Baju, tanda pengenal, atau pun status tak laku saat itu. Itu momen keluarga, bukan acara partai. Ia tak ingin direkam kecuali oleh juru potret pribadi. Jadilah aku mencuri-curi dari kejauhan. Hardikan itu demikian membekas di ingatanku. Entah mengapa. Bayangan cium tangan kala itu pun membayang di ingatan.

Perjumpaaan di kota Blitar itu berlanjut pada rapat akbar deklarasi calon gubernur Jawa Timur, Bambang-Said. Saat lagu Indonesian Raya dikumandangkan, kudengar regu paduan suara demikian gemulai menyanyikan temponya. Aku ingat kata-kata dari salah satu seniorku, "Kalau Indonesia Raya dinyanyikan tidak dengan semangat, ibu pasti marah". Aku perhatikan mimik ibu saat menyanyi, nampak masam memang. Dan benar saja, di tengah pidatonya yang berapi-api, soal Indonesia Raya itu disinggungnya pula. 

"Bagaimana kalau anak-anak mudanya sudah tak lagi bangga pada lagu kebangsaannya. Menyanyikan Indonesia Raya dengan cengengesan. Dimana national pride itu? Saya iri dan kagum pada bangsa Amerika yang demikian bangga pada benderanya, bangga pada lagu kebangsaannya. Menyanyikannyan pun dengan badan tegak dan dada terbusung, tidak sambil duduk dan cengengesan," katanya sembari memandang sekelompok anak muda yang celometan di depan panggung. Mereka mungkin datang untuk menonton musik dangdut, bukan mendengar pidato, maka tak antusias. Pidatonya itu, sekali lagi, menyengat kesadaranku.

Pidato yang juga membuatku tergetar adalah ketika di bawah terik matahari siang ia bicara tanpa teks, di depan ribuan massa di lapangan Flores, Surabaya. Itu adalah pidato pertamanya yang kusaksikan langsung pasca mendiang suaminya, Taufik Kiemas tiada. Di mataku saat itu, ia nampak lepas dan tanpa beban. Demikian yakin saat mengkritik dan tegas menyampaikan seruan perjuangan. "Kau telah kembali, ibu" batinku saat itu.

Ya, itu memang hanya retorika yang kudengarkan dari bawah panggung diantara jubelan massa. Namun retorika itu mengandung kebenaran yang menumbuhkan kecintaaanku pada rumah tempat aku bernaung hingga saat ini. Aku semakin yakin disini lah tempat yang pas bagiku. Inilah rumah yang diisediakan Tuhan untukku guna menyiapkan diri agar bisa meneruskan jalan perjuangan. .

Maka ketika pada perjumpaan ke lima, aku tercenung oleh kemarahannya, sungguh diri ini tertunduk malu. Ya, ibu benar, mengapa mesti takut untuk turun, mendekati rakyat, menyampaikan pesan perjuangan partai ini, dan mendengarkan suara mereka, hanya karena tak punya modal finansial besar. Meski tuntutan tentang itu memang seakan tak terbendung, mestinya memang tak perlu ciut nyali. Karena pesan perjuangan ini jelas, untuk kesejahteraan rakyat. Kalau pun masih ada yang menyimpang, itu resiko dan mesti dibenahi. Itu lah proses, itu lah dinamika.

Perjumpaan dengannya di dalam mimpi barangkali hanya kembang-kembang bawah sadar yang terbawa tidur. Namun impian untuk terus berjuang itu bisa diraih, bisa dijalankan, bukan sekedar mimpi. Maka bergerak adalah pilihannya. Terus bergerak sampai jantung berhenti berdetak, kata Sawung Jabo. (*)

Magetan, 4 Des 2913, 1:49 PM

0 comments: