Thursday, December 5, 2013

Tekad dan Nekat

Tekad adalah kebulatan hati untuk melakukan sesuatu. Nekat, melukiskan kemauan keras dan tak mau menyerah pada suatu keadaan. Jika tekad sudah menjadi nekat, reaksinya akan tidak berpikir panjang, atau tak peduli apa-apa lagi. Yang ada hanya lakukan, atau tidak sama sekali. 

Tekad yang jadi nekat itu lah cambuk saya untuk mau menempuh perjalanan Surabaya-Magetan-Ponorogo-Pacitan dengan sepeda motor. Awalnya, membayangkan jarak ratusan kilo meter melintasi lima kota itu sudah mamang di pikiran. Namun tekad untuk menjalankan tugas turun ke bawah dan keterbatasan kemampuan, akhirnya memaksa diri untuk nekat menjalaninya. 

Pertimbangan utama kenekatan itu adalah soal kemudahan transportasi. Saya bisa saja naik bis atau kereta, tapi itu hanya akan menyelesaikan masalah sampai hari kedatangan. Setelahnya, saya akan kebingungan mencari transportasi yang cepat dan praktis untuk mobilitas yang tinggi. Meminjam bisa juga, namun itu menambah masalah baru karena mesti menyesuaikan kondisi si empunya dan tak bisa sewaktu-waktu digunakan. Kalau pun motor itu dinaikkan kereta, ongkos tiketnya lebih mahal dari harga tiket saya. Maka tak ada pilihan lain selain menempuh jarak jauh dengan mengendarainya. 

Pernah mencoba manaruh motor di rumah kos saya di Magetan, lalu naik kereta ke Surabaya. Namun itu ternyata mendatangkan masalah juga. Saya mesti merepotkan orang lain-yang belum tentu bisa- untuk mengantar saya ke stasiun Madiun, dan menjemput bila saya datang lagi. Belum lagi di Surabaya saya mesti naik taxi atau angkot untuk beraktifitas. Sungguh bukan pilihan yang tepat karena tidak efisien waktu maupun dana. Jadi, bagi saya tidak ada pilihan lain kecuali membawa motor kemana pun saya pergi selama bertugas turun ke bawah menjumpai rakyat. 

Awal mula saya berani menempuh jarak sejauh itu adalah saat musim mudik lebaran agustus lalu. Setelah pulang kampung ke Pacitan, saya mesti silaturahim ke kawan-kawan di Ponorogo dan Magetan. Maka saya bawa motor mio saya. Ketika mesti balik ke Surabaya, saya menantang diri saya sendiri untuk membawa motor menempuh jarak 214 km. Adik saya mampu menempuh Pasuruan-Pacitan dengan membonceng istri dan anak, masa saya tidak bisa, pikir saya waktu itu. Maka selepas dhuhur, saya pun berangkat memacu motor ke arah Surabaya. 

Dalam hati saya tanam niat untuk menikmati perjalanan sembari berburu obyek foto di sepanjang jalan. Maka beberapa kali perjalanan terhenti di tugu batas kota, atau di bangunan-bangunan unik, untuk sekedar mengabadikan gambar. Saya menikmati perjalanan meski arus mudik sungguh padat, nyaris macet sepanjang jalan. 

Hampir 7 jam saya melewati jarak tempuh itu dengan dua kali berhenti di Jombang dan Mojokerto. Makan sejenak di warung soto kwali pinggir jalan di Jombang, dan mampir di posko mudik depan pabrik Tjiwi Kimia, Mojokerto. Hari sudah gelap ketika saya memasuki kota Surabaya dengan perasaan lega. Ternyata saya mampu mengalahkan tantangan. Hal yang 8 tahun terakhir sudah tak pernah saya lakukan lagi, naik motor jarak jauh. 

Pengalaman pertama itu membuat saya ketagihan. Perjalanan kedua, ke tiga dan seterusnya saya sudah mulai mengenali medan jalan tiap kota yang terlewati. Saya juga sudah bisa menghitung dimana mesti berhenti untuk istirahat atau mengisi bahan bakar kendaraan. Apa yang mesti disiapkan agar perjalanan lebih nyaman juga sudah saya ketahui. 

Saradan, Nganjuk, dan Mojokerto memiliki ruas jalan yang lebar dan halus. Di sana bisa sedikit menambah kecepatan hingga di atas 80km/jam bila arus tidak padat. Nganjuk dikenal dengan kota angin, karena memang angin berhembus cukup kuat di kota ini. Maka meski kecepatan tinggi, keseimbangan wajib terjaga bila tak ingin terbawa hembus angin dan oleng ke samping. Jombang jalannya cenderung bergelombang dan berlubang di beberapa tempat, mesti ekstra waspada saat melewati kota ini. Truk besar akan mulai berjajar begitu memasuki Mojokerto. Maka kelihaian mengambil sela sangat dibutuhkan bila tak ingin mengekor di belakang asap tebal yang menyembur dari pantatnya. Adrenalin saya terpacu dengan tantangan medan berbeda ini. 

Kertosono adalah kota yang tepat untuk berhenti istirahat dan mengisi bahan bakar karena posisinya di tengah antara Madiun-Nganjuk-Kertosono-Jombang-Mojokerto-Surabaya. Saya tak asing dengan kota ini karena ayah berasal dari sini. Sejak kecil saya akrab dengan sudut-sudut kota yang masuk kabupaten Nganjuk ini. Warung pecel Bu Rekso adalah tempat langganan saya untuk istirahat. Tempatnya di dekat viaduk menuju pasar Kertosono. Selain makanannya enak, murah, di sini juga bisa istirahat lesehan sambil menambah daya telepon genggam jika perlu. Bila tak ingin makan besar, saya biasanya berhenti di Masjid Agung dekat alun-alun Jombang. Selain bisa shalat,  di sana juga banyak pedagang kaki lima yang menyediakan minuman minuman ringan di sekeliling alun-alun. 

Sedia air putih adalah bekal wajib yang mesti saya siapkan sepanjang perjalanan. Sepatu kats, sarung tangan, syal penutup leher, kacamata gelap, dan jaket tebal adalah perlengkapan yang tak boleh saya abaikan. Agar tak jenuh head set diperlukan agar bisa memutar mp3 dari gadget. Saya biasanya memutar ayat-ayat suci sepanjang perjalanan. 

Pengalaman terakhir beberapa hari lalu, ketika berangkat dari Surabaya ke Magetan tanpa persiapan matang, membuat saya kapok. Berangkat dari Surabaya sudah terlalu sore, sekira pukul 3. Tanpa head set membuat sepanjang jalan berasa jenuh, hingga saya pun komat-kamit merapal wirid. Tanpa jaket tebal dan persiapan jas hujan, kelabakan ketika tiba-tiba di Mojokerto hujan turun deras. Sedangkan di sepanjang jalan tak ada toko yang menjualnya. Beberapa kali hanya bisa mengumpat dalam hati saat air menyembur ke badan dari genangan yang tergilas roda mobil. Sementara perjalanan 2 jam terakhir mesti ditempuh dalam kondisi gelap malam. Tak ayal lagi, badan pun meriang karena basah kuyup dan masuk angin. 

Pengalaman-pengalaman itu membuat saya makin kuat. Saya jadi tahu bagaimana rasanya orang-orang yang menempuh perjalanan jauh saban hari untuk bekerja. Saya juga jadi mengerti mengapa sepeda motor menjadi pilihan banyak masyarakat menengah ke bawah sebagai moda transportasi. Selain praktis, hemat waktu dan biaya adalah pertimbangannya. Walau dibutuhkan tenaga lebih untuk mengendarai. Saya juga jadi tahu bahwa area peristirahatan di sepanjang jalan adalah sediaan swasta, pemerintah seakan tak hirau dengan kebutuhan rakyat yang saban hari melaluinya.

Tekad saya untuk mendekat pada masyarakat di desa sudah bulat. Keterbatasan kemampuan akhirnya mendorong saya untuk nekat menempuh resiko. Kelak, jika rakyat mempercayakan tugas pada saya sebagai wakilnya, saya akan selalu ingat pesan-pesan jalanan. Karena jalanan sudah mengajari saya untuk bersabar dan tidak jumawa. (*)
Magetan, 5 Desember 2013, 08:14

4 comments:

YUDI ESTHER said...

wesssssH!
tuku domain barang rek...

q ngelola blog sampai 35 biji, ndak ada satupun yang tak belikan domain dw. wkwkwk

mulai mikir branding ya?
sip!

btw, napa musti sering pp Sby - Mgtan sech?
ngeman awak nduk....

Diana Sasa said...

Hehehe, sebagian besar blogku kubelikan domain:-D,gaalasan branding sih,cuma kok arsip tulisanku tercecer dimana2.Jadi pengen nyatuin.PPSby-Magetan? Lha gimana lagi, nyambut gawene nang sby, nang magetan nyepi ae hehehhe

mugtHar waHyudii vinandaa said...

Selamat malam.mau tanya.Jika saya dari surabaya mau ke magetan dgn sepeda motor..saya harus lewat mana ya..saya tdk tau jalan ke luar kota sama sekali.. cuma tau jalan kota surabaya saja.. sempat terpikir untuk mengikuti bus dibelakangnya sampai magetan -____-

Diana Sasa said...

Hai..maaf baru balas..surabaya-Magetan : ambil jalur bungur-mojokerto-jombang-kertosono-nganjuk-caruban-madiun-maospati-magetàn