Wednesday, December 11, 2013

Tentang Surabaya

Sejak 1999, sy menempuh pendidikan tinggi di kota ini. Dapat PMDK di jurusan bahasa Inggris Unesa (dulu IKIP). Dan ga kerasa sudah 14 tahun saya menjadi bagian dari Surabaya. Kota ini penting karena beberapa fase krusial kehidupan saya terjadi di sini. Lulus terlambat sebagai sarjana pendidikan dng nilai sangat memuaskan, sy pun menjajal jadi guru hingga dosen. Hanya bertahan 7 tahun.

Bawaan orok mungkin ya, kesukaan nguplek organisasi terbawa sampai kuliah. Di sini lah titik balik itu. Kalau dulu jaman SMP, SMA sy slalu gagal menjadi bagian penting d organisasi, karena sy bukan anak pejabat, dan cenderung dibilang trlalu kritis,  ambisius, nakal, maka di kampus sy mendapat tempat. Sy diapresiasi karena kapasitas. Saya pun masuk senat, ikut fotografi, belajar ju jit su, sampai mengenal pergerakan mahasiswa. Pc Pmii Surabaya tempat sy ditempa. Tapi di BEM interaksi sy dengan kawan2 sosialis lebih kuat. Dan menancapkan pemahaman dasar sy sampai sekarang ttg politik. Aroom Affandi Faizal Alfino Malik Dian Bintang ini diantara kawan2 sy di BEM selain @azam @ade guruh @nurcahyani @mas anam @nurkholid, dll
Aan Rofik Nuri Zuhri Hendro Subiyantoro Sunan Fanani @yenny lutfiana yg ngajari banyak hal d PMII. Pada mereka dan banyak nama2 lain, sy berhutang budi baik.
Di kota ini juga sy bertemu jodoh dan merasakan manis getir kehidupan. Kehilangan 1 putri, kehilangan ayahnya dan menjajaki dinamika seusainya.
Di kota ini pula akhirnya sy menemukan pilihan hidup yg sy yakini, menjadi penulis dan bergelut di dunia buku. Saya belajar menulis pada Muhidin M Dahlan, bersamanya juga merintis perpustakaan, membangun website, dan belajar jurnalistik. Lalu menjalani lika likunya bareng Gita Pratama Nawi de Santos @habsari savitri, dan banyak nama2 lain.
Di kota ini pula sy mengenal Oi, jatuh cinta, dan menyimpannya dalam batin hingga sekarang. Sy ingin mengabdi bagi banyak anak2 muda di Oi, tapi sy bukan kaum pengabdi yg baik utk fanatisme personal yg kental di sini. Sy adalah liyan yg hanya bisa memberi sedikit warna.
Di kota ini pula sy mengenal dunia kesenian. Menulis untuk senirupa, menjajaki dunia teater, hingga terjun di showbist musiknya.
Jejak2 di kota tepi laut ini kemudian mengantarkan sy pada sebuah pelabuhan pilihan politik. Bersama PDI Perjuangan, sy ingin mengabdikan diri untuk bangsa ini, agar tak ada lagi anak2 yg tak sekolah, tak ada lagi orang susah makan, dan susah cari penghidupan di negri yg kaya raya ini. Saya pengagum Soekarno dan Gus Dur. Kandang banteng ruang yg pas bagi sy. 2014 untuk kali kedua saya ditugaskan lagi menjadi kandidat wakil rakyat di jawa timur. Sy mewakili tanah kelahiran sy, seputaran Mataraman. Tugas berat yg tetap mesti sy pikul dengan kemampuan apa adanya. Mungkin alam memang berkehendak sy tak harus makmur dulu utk menjadi pengabdi bangsa. Mungkin sy diminta belajar bahwa bela negara itu tak menunggu kita sejahtera baru mengabdi. Rasanya memang muskil ditengah kapitalisme politik seperti sekarang, tapi yang namanya tugas mesti dijalankan dan diselesaikan sepenuh2 daya kemampuan. Tanpa menghitung2 akibatnya. Begitu kata Bung Karno.
Surabaya mungkin terlalu keras bagi saya yg melankolis. Pun untuk tinggal saja sy masih mesti jadi kontraktor. Bahkan sekarang indekos karena tak lagi mampu memenuhi kenaikan harga sewanya. Surabaya juga trlalu panas bagi seorang penulis macam sy yg platonik. Tapi banyak penulis besar lahir di sini. Penghasilan sy dari menulis belum membuat sy bisa menakhukkan kota yg kencing saja mesti bayar ini. Tapi sy teguh di dunia buku dan akan terus di jalan pengabdian ini.
#ilovesurabaya

1 comments:

logo Unesa said...

surabaya kota pahlawan dan kota yang penuh kenangan