Sunday, November 9, 2014

Luka

Sudah kukisahkan kepadamu

tentang lukaku

Luka yang mengeram terlampau lama hingga membusuk di batinku. 

Sudah kututurkan kepadamu 

tentang harapanku

Bila engkau bisa membasuh perihnya


Dan tentu, 

tak kuinginkan kau menambah sebaris luka baru

Namun nyatanya itu kau lakukan jua


Kini luka itu semakin panjang
Membiru
Menyurungku mundur
Menjauh darimu

Saturday, November 1, 2014

Sujud di Ujung Senja

Permulaan November. Matahari sedang menggelincir ke barat. Tabuhan bedug terdengar bertalun-talun dari langgar sebelah rumah. Air dari sumber pegunungan Lawu yang mengalir melalui pipa Pavin membasahi wajah hingga kaki. Rasa adem perlahan menjalari selaput kulit. Batin mendadak sejuk dan bibir tergetar kelu. Ada yang tak biasa.

Di balik kain putih yang menyelimuti tubuh, berusaha menyembunyikan debar jantung yang terasa lebih cepat. Ayat-demi ayat terlafalkan. Tenggelam dalam sujud senja yang syahdu. Doa terpimpin dibacakan. Tubuh tiba-tiba terguncang. Air mata pun berderai tak terbendung. 

Dia hadir senja itu. Dengan pandangan tertunduk. Dan bincang kisah tentang impian masa depan. Tersentak mendengar urai impian yang senada dengan apa yang ada di dalam benak. Tentang rumah dengan ketenangan pedesaan dan tawa riang bocah-bocah kampung. Tentang sawah, kodok, dan air mancur dari sungai kecil. Tentang desa wisata dan berkebun. Juga tentang perpustakaan dan pendidikan kearifan alam.

Ya, dia yang ingin meminang dengan buku AR Rahman itu tiba-tiba hadir di ujung senja kaki Lawu. Menyajikan perbincangan tentang buku dan keinginan menulis. Isyarat apa yang Engkau ingin tunjukkan duhai penguasa hidup? Sahaya pasrah dan tak ingin mendahului kehendakMu. Juga tak ingin melukai yang lain. Terserah padaMu.

Friday, October 31, 2014

Pemimpin Banteng

Ketika banyak orang berharap kau masuk dalam salah satu jajaran kabinet pembantu presiden baru negeri atas angin, aku menjadi liyan. Aku berharap kau tak ada di sana. 

Hari ini, satu pesan pendek dari Ketua masuk ke dalam teleponku. Ia mengabarkan bahwa kau menjadi pendamping tertinggi Ketua Umum, meski sifatnya untuk sementara. Namun besar kemungkinan untuk menjadi permanen saat kongres nanti. Aku berjingkrak girang seperti anak kecil dihadiahi mainan baru.  

Ya, seperti pernah kutulis melalui pesan pendek beberapa waktu lalu kepadamu, aku lebih suka bila kau tetap di Partai, mendampingi Ibu Ketua. Bukan tanpa sebab aku memilih begitu. Di mataku, kau lah sosok yang kurasa pas memegang kendali itu. Partai ini butuh orang dengan ketegasan dan kedisiplinan sepertimu.

Apa yang kau ajarkan padaku lima tahun lalu itu adalah barometerku mengukur kapasitas kepemimpinanmu. Kerja kerasmu selama lima tahun ini adalah bukti kesungguhan tentang cita-cita yang kau tuturkan di hadapanku kala itu. Kepercayaan Ibu kepadamu membuatku tak lagi ragu. Aku percaya padamu meski sempat isu tak sedap menimpamu.

Hubungan kita bukan hubungan politis. Kepercayaanku padamu adalah soal keyakinan pada seseorang. Sebagaimana selama ini kita bangun persahabatan ini. Juga tentang perkawanan antara kau, aku, dan kawan kita di Klaten itu. 

Kau tahu aku tak pernah meminta apa pun darimu meski aku tahu aku bisa dan kau tak akan menolak. Kau juga tahu aku tak pernah marah meski berminggu-minggu baru kau balas pesanku. Aku cukup tahu diri untuk tidak mendekat. Di mataku, kau terlampau tinggi dan aku terlampau kecil untuk mengaku dekat.

Namun, saat aku menghindar dari perjumpaanku denganmu di beberapa kesempatan, kau tetap menunjukkan sosok yang tak berubah. Ketika aku bersembunyi di antara kawan jurnalis, tiba-tiba kau menghampiri dan menyapa hangat sebagaimana kawan yang lama tak bersua. "Halo Diana, apa kabar?" Selalu begitu sapamu. 

Aku pun menyambut sapamu dengan gagu dan tertunduk. "Baik. Apa kabar? Sehat?" Selalu juga begitu yang kuucapkan. Selebihnya kita akan berbasa-basi dan kemudian saling melambai kembali ke posisi masing-masing. Kau di panggung dan aku di selasar juru potret. Kau di mimbar dan aku memegang perekam di hadapanmu. 

Kulihat matamu ewuh saban kali pandangan kita bersitatap. Barangkali kau iba. Tapi dengan mata pula lantas kuisyaratkan bahwa aku baik-baik saja. Ini sudah tugasku dan aku menikmatinya. Kerjakan tugasmu sebaik kau bisa. Wujudkan cita-cita seperti yang dulu pernah kau ungkapkan padaku. Aku percaya padamu. Semoga kau tak melukai kepercayaan ini. Juga kepercayaan berjuta kader di bawah. 

Selamat bertugas, kawan...
Jaga kesehetan, doaku untukmu...
Terus berjuang dan ikuti jalur yang benar. Semoga Tuhan menjagamu dari kejatuhan yang tak pantas.

Wednesday, October 29, 2014

Tur Literasi Gol A Gong Singgahi Magetan

Magetan (Antara Jatim) - Tur literasi di Jawa yang dilakukan penulis Heri Hendrayana Harris yang akrab dengan Gol A Gong menyinggahi Kabupaten Magetan, Rabu.

"Kebetulan Mas Gol A Gong sedang ada tur di Jawa, lalu saya minta mampir Magetan," kata penulis muda asal Surabaya Diana AV Sasa kepada Antara melalui surat elektronik.

Dalam "Workshop Menulis Catatan Perjalanan dan Bincang Literasi Bersama Gol A Gong", pengasuh Perpustakaan Dbuku itu mengajak Gol A Gong untuk mengampanyekan minat baca di Magetan.

"Saya minta Mas Gol A Gong membagikan pengalaman tentang bagaimana membangun Pustaka Rumah Dunia (PRD) di Banten hingga masyarakat sekitar tergerak untuk banyak membaca, apalagi PRD juga menjadi pusat kegiatan seni budaya," ujarnya.

Di hadapan 300-an peserta, Gol A Gong yang dikenal sebagai "travel writer" (penulis catatan perjalanan) itu menegaskan bahwa buku itu jendela dunia.
"Dengan banyak membaca, kita bertambah pengetahuan. Dengan pengetahuan, kita jauh dari kemiskinan karena berdaya," kata pria kelahiran Purwakarta, 15 Agustus 1963 itu.

Selanjutnya, Gol A Gong membagikan tips membuat catatan perjalanan kepada komunitas sekolah unggulan di Kabupaten Magetan yakni Gen Muda SMAN 1 Magetan serta aktivis pelajar lainnya.

"Kalau sekedar jalan-jalan saja kenangannya hanya ada di pikiran dan foto. Tapi kalau kita menuliskannya, maka kisahnya akan abadi," tandasnya.

Setelah Magetan, Gol A Gong yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Forum Taman Bacaan Masyarakat (FTBM) Indonesia itu akan melanjutkan misi "blusukan literasi" ke komunitas buku dan perpustakan kampung di Kabupaten Ngawi dan Tulungagung.

Selain itu, ke Jombang, Surabaya, Madura hingga daerah tapal kuda, dan akan berakhir di Yogyakarta setelah melewati Blitar, Trenggalek, dan Pacitan. (*)

Sumber : Antara

Saturday, October 4, 2014

Penuhi Hasrat Maniak Buku, Pilih Pindah ke Magetan

SURYA Online, SURABAYA - Keberadaan Dbuku di tengah kampung benar-benar menjadi obat dahaga pengetahuan warga sekitar. Bukan saja para mahasiswa yang menjadi anggota, anak-anak, ibu rumah tangga, tukang becak hingga korban politik 1965 pun menjadi pelanggan.

Sasa masih ingat, anak-anak begitu menjadi gila dengan buku. Setiap hari mereka bisa berganti buku bacaan.
Sementara kaum ibu meminjam buku-buku masakan, dua buku per satu minggu. Sementara para mahasiswa rata-rata satu buku per satu minggu.

“Mereka begitu haus akan pengetahuan, saya bisa melihat itu. Bahkan tukang becak pun ada yang rutin datang dan meminjam buku. Itu menjadi sesuatu yang membangkitkan semangat,” ucap Sasa.

Keberadaan Dbuku bahkan mengundang perhatian penulis besar, Seno Gumira Ajidarma. Seno menitipkan lima kardus koleksi bukunya kepada Dbuku.
Seno beralasan, tidak bisa lagi mengurus –ratusan buku warisan dari sang kakek tersebut.

“Dbuku juga menerima titipan buku. Nanti kalau yang bersangkutan butuh, akan kami kembalikan. Setidaknya buku titipan ini semakin menambah koleksi buku kami,” katanya.

Sayangnya, lagi-lagi biaya sewa tempat menjadi kendala bagi Sasa untuk meneruskan Dbuku. Selepas Pilkada Gubernur Jawa Timur, Dbuku kolaps setelah berjuang untuk bertahan.

Sasa membawa sekitar 6.000 koleksi bukunya ke Pacitan, tanah kelahirannya.
Namun Sasa tidak patah semangat. Kader PDIP ini, kini mulai merintis Dbuku di Magetan.

Masih menurut Sasa, di Surabaya sudah banyak perpustakaan yang bisa diakses warga. Sementara di Magetan, belum ada perpustakaan selain perpustakaan milik pemerintah.

“Kalau menurut saja, tugas saya di Surabaya sudah selesai karena perpustakaan sudah begitu banyak. Sementara di Magetan belum ada yang memulai “pelayanan” perpustakaan,” ucapnya.

Demi mendekatkan akses ini, Sasa tengah merintis perpustakaan lesehan.
Rencananya setiap hari minggu, koleksi buku yang dimilikinya akan dibawa ke alun-alun Kabupaten Magetan. Di sana masyarakat bebas membaca sepuasnya.

Cara ini untuk memperkenalkan Dbuku, sebelum beroperasi secara resmi.
Sasa yakin, Dbuku bisa eksis di wilayah pinggiran seperti Magetan. Sebab dari sisi operasional, seperti sewa tempat relatif lebih murah.

Cara ini dilakukannya, untuk memenuhi hasrat para maniak buku. Selain memupuk jiwa pengabdian, yang semakin sulit ditemukan di tengah masyarakat.

“Masyarakat sangat haus dengan pengetahuan, dan kita mencoba mendekatkan akses sumber pengetahuan,” tandasnya. (day)  
Sumber : Surya 4 Oktober 2014

Thursday, September 25, 2014

Surat untuk Ibu

Ibu....
Apa kabar? Nana kangen...
Maafkan Nana jarang bisa menyempatkan waktu untuk tengok rumah. Meski jarak kita sebenarnya tak seberapa jauh. Bahkan sebenarnya tak genap 2 jam untuk menaiki dan menuruni punggung bukit yang memisahkan kita itu. Namun ternyata banyak hal lain yang membuat Nana lebih memilih untuk tidak pulang barang sehari. Hal-hal yang bila Nana ungkapkan hanya akan menyakiti hati Ibu karena seakan Ibu tak lagi lebih penting dari itu. Murkai anakmu ini, Ibu... bila hatimu tak rela dengan pilihanku.

Ibu.... Nana kangen....
Waktu Nana tak banyak lagi. Nana ingin bereskan semua yang belum tuntas selama ini. Ijinkan Nana gunakan sisa waktu ini untuk mengabdi pada buku-hal yang Nana cinta sepenuh jiwa raga. Rumah buku itu mesti berdiri lagi, Ibu....
Setidaknya, kelak bila aku pergi, masih ada harta berharga yang kutinggalkan: buku. Nana janji, setelah itu Nana akan pulang tengok Ibu.

Ibu, Nana kangen...
Maafkan Nana selama ini banyak menyusahkan keluarga. Anak perempuan yang diharapkan bisa jadi kebanggaan ini belum bisa membuatmu tersenyum bangga. Seperti ketika kau menangis bahagia, 20 Mei 2009 lalu: lahirnya buku pertamaku. Nana belum bisa wujudkan harapan Ibu yang lain.  Semoga dengan buku yang kutinggalkan bisa membuatmu bangga padaku. Maaf... bila jauh dari harapan. 

Ibu... Nana akan bertahan sekuat-kuat tubuh ini bisa bertahan.  Percaya pada anakmu ini, ia tak akan membuat hidupnya sia-sia tanpa makna. Percayalah, Nana kangen padamu...

Friday, August 8, 2014

Sendiri tanpa Bunuh Diri

Jika tak ada yang menyapa "selamat pagi" ketika kau buka mata di pagi hari, sapalah dirimu sendiri dan tambahkan "I love you".

Jika tak ada yang menemanimu di meja makan menyantap sarapan pagi, makan lah santapan lezat dan biarkan lidahmu membahagiakan dirimu sembari menonton televisi. 

Jika tak ada yang mengingatkan apa-apa yang mesti ada dalam tasmu sebelum berangkat kerja,dengarlah suaramu menjadi pengingat paling cerewet dengan mencatat barang-barang itu kemudian ucapkan dan rekam di teleponmu.

Jika hingga lewat tengah hari tak ada yang menegurmu untuk makan siang, biarkan teleponmu menjadi pengingat setia tanpa kompromi.

Jika tak ada yang menjemputmu pulang kerja, pacu lah kendaraanmu dengan lantunan musik kesukaan dan kejarlah senja meranum itu. 

Jika tak ada yang memelukmu dalam ketenangan dan memijat kakimu yang pegal, rendamlah kaki dalam air hangat bergaram dan baca lah buku.

Jika kau merasa tubuh diserang demam dan tak ada yang meraba jidatmu, ambillah air dingin dan letakkan di ubun-ubun agar beku itu mencair pelahan.

Jika kau ingin diantar ke laboratorium karena tubuhmu nyaris rubuh namun tiada kau temukan malaikat penolong itu, angkat telepon dan panggillah petugas laborat ke kamarmu.

Jika kau berharap ada yang menemanimu mengunjungi dokter namun tak seorang pun nenawarinya, pilihlah dokter terbaik dan ajak lah berbicara panjang tentang sakitmu hingga kau merasa nyaman.

Jika mulutmu berasa pahit dan berkeinginan ada yang menyuapkan makanan ke mulutmu namun tiada terjadi, miringkan lah tubuhmu dan cobalah menyendoknya dengan semampu jarimu.

Jika tidurmu terganggu kejutan tubuh yang membuatmu terjaga berkali-kali, sedang tiada seorang menenangkanmu, ingatlah Tuhan karena Dia selalu ada di dekatmu.

Jika usahamu mencari kawan bicara tak berhasil, menulis lah. Karena itu yang akan membebaskanmu dari keinginan meraup pisau dan tali...

Thursday, August 7, 2014

Sakit itu Tak (cuma) Butuh Obat

Saban kali tubuh didera kelelahan dan jatuh dalam kesakitan, yang terbayang di benak adalah belaian lembut dan dekapan hangat. Rasa nyaman dan dicintai itu demikian mujarab membungkam segala keluhan. Tapi ada lagi yang menyembuhkan lebih cepat : berurusan dengan buku.

Barangkali ini semacam sugesti. Ketika berkutat dengan buku, rasa bahagia bisa menjalar dari ubun-ubun dan menyebar memenuhi jantung. Tiba-tiba kesakitan musnah. Yang ada adalah gairah.

Buku membuat lupa pada nyeri dan ngilu yang merajam tubuh. Sejenak mengantarkan imaji gairah pada pucuk-pucuk harapan.  Maka itu lah pilihan ramuan penyembuh ketika obat-obat hingga jejamuan tak memberi penyelesaian. Juga kesendirian yang menghujam sepi dan membikin gigil.

Sendiri itu kondisi. Meratapinya tak akan menuntaskan kesakitan. Sakit itu kondisi. Mengeluhkannya tak akan menyembuhkan. Pada buku-membaca menulis- kesembuhan kupacakkan.

Kendangsari, 7-8-2014

Saturday, August 2, 2014

Sendiri itu...

Sendiri itu pilu....

Dalam dingin mencekat nadi
Malam sunyah.....
Tubuh terguncang gigil
Ngilu......
Air mata tanpa isak
Kesakitan tak berujung

Tiada seorang pun di sisi
Meski banyak nama terbisik
Ma...Be... Yank...Mas...Gus....
Aku sakit. ...

Wednesday, July 30, 2014

Perang Telah Usai

Pertempuran tak lama lagi akan usai. Satu per satu pasukan ditarik mundur dari palagan. Meski hasilnya belum paripurna, namun bisa dipastikan kemenangan sudah menanti. Pesta kemenangan bahkan telah disiapkan untuk digelar begitu kepastian itu ada di tangan. 

Tanpa terasa 19 purnama terlewati dalam keriuhan senada : politik. Purnama 19 kali tanpa jeda. Meski sekedar untuk menghela nafas panjang. Atau tidur lelap tanpa terjaga oleh bunyi panggilan telepon. Pun sebuah percakapan hangat tentang masa sepan dengan kekasih. Segalanya tumpas
L oleh perang kuasa.

Pilkada Magetan di akhir 2012 hingga April 2013 adalah mulanya. Seorang diri menjalani tugas tanpa keyakinan. Kandidat harus menang meski nurani menentangnya. Dia korup! Dan betapa naifnya memberi jalan seorang koruptor untuk bisa berkuasa lagi.

Tanpa jeda, tugas beralih ke Pilkada Kota Malang di Mei 2013. Kandidat sosok yang pas di hati untuk diperjuangkan kemenangannya. Sayang, rupanya uang lebih berkuasa. Kekalahan pun menjadi buah yang harus dibawa pulang.

Tak ada waktu untuk bersantai, pilgub Jatim menunggu. Tugas bersambung lagi di bulan Juni 2013. Kandidat setengah hati, berjuang pun setengah hati. Jempol tak berakhir jempolan. Tiga bulan berjuang meyakinkan. Namun kekalahan tak dapat dielakkan. 

September tak ceria. Pemilu legislatif sudah menanti. Meski keyakinan akan kegagalan sudah membayang sedari mula, namun pejuang tak boleh diam. Tanpa uang pemilih harus bisa diyakinkan. Media sosial dunia maya punya kekuatan tersendiri.  Dan 13 ribu suara menjadi bakti pertempuran 9 April 2013.  Walau kursi belum teraih. Namun itu lah buah keyakinan tentang politik bersih. 

Sambung menyambung seperti peluru memberondong tiada ampun, perang pilpres sudah menanti. Awalnya menyangka pertempuran tak akan berat karena kandidat punya modal sosial kuat. Nyatanya, lawan lebih ganas dari perkiraan. Tingkat irasional dan emosional pendukungnya sudah di luar batas kewajaran. Caci maki, fitnah, dan ancaman seakan berusaha menghilangkan kegembiraan pesta rakyat lima tahunan itu. Ada cakar kekuasaan rezim lama yang berusaha ditancapkan lagi. Perlawanan pun datang dari segala lini.

Mereka yang sebelumnya apatis pada politik tiba-tiba antusias. Yang semula tak acuh akhirnya mendukung.  Beragam alasan. Mulai ketakutan akan kisah gelap rezim lalu, hingga harapan perubahan lebih baik. Sebagai pecinta buku, tentu tak ingin orang yang terlibat rezim lalu-yang melakukan pelarangan buku-  berkuasa di negri ini. Ini perlawanan kutu buku untuk Sang Jenderal! 

Diawali kemenangan diakhiri kemenangan.  Tugas ini purna sudah. Saatnya kembali ke barak. Jalani tugas sehari-hari sebagaimana biasanya. Selamat datang pemimpin baru. Jangan senang dulu,  kami akan buat parlemen jalanan untuk mengawasimu.

Tahun politik segera berakhir.  Saatnya untuk kembali ke dunia buku. Tempat dimana ruh dan asa bersetubuh. 

Tuesday, July 8, 2014

Magetan #1 : Rumah Tua di Kaki Lawu

Magetan, kota sunyi di kaki Gunung Lawu ini telah membuat hatiku tertunduk takhluk. Menyerahkan diri pada mantra halimun yang melingkupinya bak selimut putih. Air pegunungan yang jernih mengalir di sela bebatuan kali. Udara yang segar seakan mencuci bersih kerak di paru-paru. Lezat panganannya yang terbeli dengan selembar uang lima ribuan. Hingga orkestra alam antara burung, sapi, jangkrik, kodok, dan kambing yang seakan bersekutu merayu agar siapapun sudi singgah, dan kemudian berdiam lebih lama.

Benar saja, aku pun betah untuk berlama-lama menyepi di kota kecil ini. Saat menatap senja yang turun di balik punggung gunung Lawu, ingatanku terlempar pada pendekar perempuan bernama Lasmini, yang kukenal dari sandiwara radio Saur Sepuh, semasa kanak-kanak dulu. Konon, Si Cantik Lasmini tersesat di belantara hutan Gunung Lawu. Seorang perempuan tua bernama Nenek Lawu menemukannya. Kemudian ia  mengajak Lasmini singgah di padepokan. Di tempat ini lah Lasmini menghabiskan bertahun-tahun waktunya untuk belajar ilmu kanuragan dari Nenek Lawu. 

Seperti halnya Lasmini, aku pun merasa seakan tersesat dan terhisap sekaligus, oleh pusaran mantra alam yang ditebarkan lubang-lubang tanah di selingkup Gunung Lawu. Tepat di saat arus kehidupan nyaris menenggelamkan raga dan batinku. Barangkali, seperti juga Lasmini yang ditempa kedigdayaan ilmu kanuragannya dalam pelukan magis pegunungan Lawu, aku mendapati diriku dituntun oleh alam, untuk menghidupkan kembali lentera kehidupan yang lama padam: menulis.

Bila Lasmini menemukan padepokan Nenek Lawu di antara belukar belantara Lawu, aku punya rumah tua di satu sudut kampung tepian kota kecil ini. Rumah di balik rimbun pohon pisang itu seperti sengaja disediakan untukku begitu saja. Ia berjodoh denganku seperti sepatu kaca yang pas di kaki Cinderela. Seorang laki-laki paruh baya yang tiada mengenalku, tiba-tiba saja berbaik budi menyerahkan rumah kosong itu untuk kutinggali.

"Tempatilah selama kisanak mau. Tak usah membayar apa-apa. Cukupi saja ongkos listrik dan airnya. Ada orang yang sudi menempati saja sahaya sudah senang," ujarnya padaku satu sore ketika aku menyusuri kampung Banjeng di timur jantung kota ini sekira setahun lalu.

Rumah tua itu berada 50 meter dari  jalan kampung Banjeng. Letaknya agak menjorok ke dalam, tertutup pohon pisang dan mangga. Di depan rumah dekat jalan ada sungai kecil yang airnya jernih. Aku suka suara gemericik yang datang dari saluran irigasi desa itu. Sederet dengan rumahku itu, ada mushala tua dan sebuah bengkel sepeda motor di seberangnya. 

Anak-anak Si empunya rumah sudah tak ada yang mau tinggal di situ. Dan di rumah tua bekas kandang sapi itu lah kehidupan baru mulai aku jalani. Setapak demi setapak, pelan dan pasti.  

Lama tak berpenghuni, dari kejauhan, rumah itu nampak suram dan berkesan seram di malam hari. Bola lampu listrik dengan menyala temaram membuatnya kian terlihat wingit. Bisik-bisik orang kampung, katanya rumah ini dulunya berhantu. Tetangga sekitar bahkan heran ketika aku sudi menempatinya. Ah, apa pula yang mesti kutakutkan dari sebuah rumah tua bila setan iblis adalah sekutu dan ketakutan itu sendiri adalah musuhku? Rumah adalah tempat beristirah, dan bekas kandang sapi ini memenuhi syarat itu. Maka cukuplah bagiku alasan untuk menerima tawaran si empunya rumah itu untuk menempati rumah tua itu. 

Rumah itu kecil saja. Menghadap ke timur. Ukurannya sekira 4 depa melebar dan 7 depa memanjang ke belakang. Sebelah kiri ada rumah kampung milik seorang ibu penumbuk emping melinjo yang tinggal dengan anak dan suaminya. Di sebelah kanan ada rumah sederhana yang dihuni dua orang anak muda yang ibunya pergi merantau jadi pembantu rumah tangga di Surabaya. Di depannya sebuah rumah cukup mentereng terpisahkan oleh pagar bata, entah siapa pemiliknya. Yang kutahu, ada mobil Avanza yang setiap malam terparkir di samping rumah. Bila dibandingkan dua rumah di kanan kirinya, rumah tuaku masih lebih layak bangunannya. Jadi, perlu alasan apa lagi bagiku untuk menempati rumah tua itu bila di sekitar masih ada yang lebih memprihatinkan kondisinya dan mereka sudi menghuninya? Kurasa aku perlu untuk tahu diri tidak bermewah-mewah.
 
Bagian belakang rumah tua itu adalah sepetak tanah kosong yang ditumbuhi rumput liar. Ketika awal menempati rumah, kupangkas habis rumput-rumput liar di sekelilingnya agar binatang-binatang liar tak lagi bersembunyi di sana. Pernah suatu malam aku dibuat panik oleh ular hitam yang merayap dari sela bawah daun pintu. Tak ada yang bisa kuperbuat selain melompat ke atas kursi dan diam menahan napas, seraya berdoa komat kamit agar ular itu segera keluar dari rumah. 

Bagian depan rumah tua itu adalah kaca besar yang tak bisa dibuka. Sepertinya sengaja dipasang kaca utuh dengan 3 kolom penyangga berbentuk persegi panjang-yang dimaksudkan sebagai jendela. Namun tak kulihat ada celah udara bisa menembus ke dalam rumah. Hanya cahaya matahari pagi menyembul dari sela-sela pelepah pisang yang bisa menghalau lembab udara dalam rumah itu. Selebihnya, siang hingga petang yang terasa hanya hawa adem. Bila malam tiba, rasa ademnya berlipat kali. Dilihat dari luar, nampak seperti sebuah aquarium besar dengan aku sebagai ikan tunggal yang berenang di dalamnya. 

Kubayangkan, barangkali dari jendela ini lah dulu sapi-sapi diberi makan oleh tuannya. Badannya di dalam kandang dan kepalanya menjulur ke luar melalui jendela itu. Tiga lembar kain korden merah menjulur di balik kaca. Itu adalah satu-satunya penutup pandangan dari luar rumah. Ketika malam hari dari balik tirai itu tetap nampak bayang-bayang gerak gerikku ditempa oleh lampu yang menyala di dalam rumah. 

Ada empat ruang dalam rumah itu. Satu ruang depan bersambung dengan ruang tengah berbentuk L terbalik memanjang ke belakang. Di ruang tamu teronggok sebuah meja kaca berkaki empat terbuat dari kayu. Tiga pasang kursi tua berbusa warna merah mengitarinya. Dua kursi pendek dan satu kursi panjang. Model kursi itu mengingatkanku pada kursi di rumah nenek yang kukira sama tua usianya dengan kursi itu. Khas perabot keluarga menengah era 90-an. 

Pada dinding ruang depan itu terpasang tiga figura foto. Satu foto menggambarkan keluarga berencana-bapak, ibu, satu anak laki-laki, satu anak perempuan-, satu foto ibu dan anak-anak, serta satu lagi foto setengah badan sang Ibu saat muda. Kuperkirakan itu adalah keluarga anak dari si empunya rumah ini. Aku tak sempat bertanya kepadanya soal itu. Kami jarang sekali jumpa. Ia tinggal cukup jauh di rumah barunya yang lebih bagus dari kandang sapi yang kini kutinggali. 

Sebuah almari kayu berukir kembang menempel di dinding ruang depan. Almari itu berisi boneka dan baju. Semua nampak kusam. Bila kulihat dari perabotan yang ditinggalkan, sepertinya keluarga ini cukup berpunya pada masa menghuni rumah ini beberapa tahun silam. 
 
Di ruang tengah, teronggok sebuah meja besi dengan televisi tua diatasnya. Televisi yang hanya menampakkan dua warna: hitam putih. Bila ingin tahu kabar di luar rumah tentang negriku dan negri - negri jauh,  mesin tua itu masih gagah menunjukkan kekokohannya sebagai penyedia informasi. Meski gambarnya terkadang seperti dikerumuni semut, namun itu cukup bagiku yang tak butuh gambar bagus melainkan inti berita. Kerap aku hanya mendengarkan suaranya tanpa melihat gambarnya. 

Sepetak kamar tidur dan gudang kecil berjajar di samping kiri ruang tengah. Hanya ada dua perabot di kamar tidur itu. Satu kasur busa pegas yang sudah reyot karena pegasnya tak lagi berfungsi, dan penuh debu, serta sebuah almari kayu dengan kaca cermin besarberbentuk oval di daun pintunya. Tuan rumah mengijinkanku menggunakan semua barang di rumah itu. Kuputuskan untuk hanya menggunakan almarinya saja. Sedang tempat tidur kupilih membeli yang baru. Memaksakan kasur tua itu hanya akan menambah masalah baru dengan sakit punggung ketika bangun tidur. Sedang barang-barang peralatan dapur kubiarkan saja tetap ada di gudang tanpa pernah kusentuh sama sekali. Debunya terlampau tebal dan aku enggan berurusan dengan debu yang pasti membuatku bersin. 

Di bagian belakang rumah yang terpisahkan oleh dinding bata, ada ruang dapur berlantai tanah yang dipenuhi sarang laba-laba. Dindingnya sebagian nampak berlubang. Sebuah tungku batu teronggok di tengah ruangan. Barang-barang lain seperti cangkul, sabit, sapu nampak berserakan. Aku memilih untuk tak memfungsikan dapur itu. Untuk kebutuhan menjerang air panas dan sekedar membuat kopi, kupilih untuk meletakkan kompor gas kecil di ujung ruang tengah.  Kukunci rapat pintu antara dapur dengan ruang tengah. Tak sekali pun pernah kubuka lagi. Ada rasa seram yang kadang menjalar di pikiranku bila membukanya. Baiknya kuhindari saja. Kupisahkan dapur tua itu dari ruang lain dalam arti sesungguhnya. Benar-benar tak membuka akses di antara keduanya. 

Mulanya,  ketika membeli kasur busa, kukira bisa dengan mudah menaruhnya di atas tempat tidur tua yang sudah ada. Nyatanya pegas reyot itu justru membuat pinggangku ngilu saban kali bangun tidur. Aku pun mencari akal dimana baiknya bisa menaruh tempat tidur. Lantas kuingat gaya rumah kos kawan-kawanku di Jogja yang umumnya hanya kasur di atas lantai dengan meja belajar dan almari buku. 

Dan segera saja kupindahkan meja kursi di ruang depan ke ruang tengah dekat televisi. Lalu selembar tikar yang kutemukan di dekat almari kujadikan alas. Kasur baru itu pun kubaringkan diatasnya. Setelah dipasang sprei dan selimut tebal, tempat tidur itu pun terlihat nyaman untuk dijadikan tempat merebahkan pungung dan beristirah. Begitu lah nyatanya. Selama setahun ini aku tidur di kasur, di atas lantai, tepat di depan kaca jendela rumah tua itu. Kadang bayangan tentang bekas kandang sapi itu menyembul di benakku. Ah, aku tidur di bawah bayangan pantat sapi. 

Untungnya, bayangan buruk itu sirna bila pagi hari kubuka pintu dan kelambu jendela. Burung-burung kecil terlihat melompat-lompat dari pohon melinjo ke pohon jambu di pekarangan depan rumah. Sinar matahari mengintip dari sela daun pisang. Di depan teras rumah ada kulah dengan air bening, dingin, dan segar menantiku membasuh muka. Kamar mandi yang berlapis semen itu cukup bersih. Apa lagi yang mesti kukeluhkan dengan segala kenyamanan ini? Tak layak menurut orang lain, ternyata cukup layak bagiku. Kesederhanaan ini sungguh sudah cukup bagiku. 

Rumah itu menyediakan segala yang kubutuhkan untuk berdiam menyepi dan menulis.  Di Magetan, kaki Gunung Lawu, aku menjumput kembali ruh kehidupanku yang terpenggal. Menulis.

Saturday, May 24, 2014

Membedah Anak-anak Revolusi Budiman Sudjatmiko

MADIUN – "Kita jangan hanya belajar dari yang benar, belajarlah juga dari yang menang. Karena tidak semua kebenaran pernah dimenangkan. Sebagai orang politik, kita harus memenangkan kebenaran yang kita yakini," demikian ucapan politisi PDI Perjuangan almarhum Taufik Kiemas semasa hidup kepada kadernya, Budiman Sudjatmiko.

Sabtu (24/5/2014) malam, Budiman mengutip kembali kalimat itu di hadapan peserta bedah buku anggitannya “Anak-Anak Revolusi” di toko buku Togamas, Jalan Biliton, Kota Madiun, Jawa Timur. Selain Budiman, acara bedah buku itu menghadirkan Diana AV Sasa, kader PDI Perjuangan yang juga penulis, serta Yossi Suparyo, aktivis Gerakan Desa Membangun (GDM).

Dengan kalimat itu, Budiman ingin menegaskan kepada peserta bedah buku, bahwa pilihannya untuk menjalani tugasnya sebagai anggota DPR mesti dilakoni dengan integritas dan bermodalkan ide sebagai kebenaran yang dia yakini. “Ketika akan maju sebagai anggota DPR di pemilu 2009, ide itu saya gali dari buku, film, diskusi, dan juga turun langsung ke masyarakat. Hasilnya adalah Rancangan Undang-Undang Desa itu. RUU Desa ini yang saya tawarkan pada calon pemilih saya,” kisah Budiman.

Bersama tim kecilnya, Budiman lantas melakukan sosialisasi tentang RUU Desa yang kelak bila tepilih akan diperjuangkannya di parlemen. Sebanyak 200 desa dari 600 desa di Banyumas dan Cilacap ia datangi untuk mempresentasikan RUU Desa.

“Pesan saya kala itu kepada calon pemilih saya, kurang lebih begini,” kata Budiman sembari memegang bukunya, “Tidak perlu pilih Budiman, tidak ada gunanya. Kalau Budiman terpilih, kalian tidak akan tiba-tiba jadi kaya. Jangan pilih saya, tapi pilihlah RUU Desa yang akan saya perjuangkan. RUU itu lah yang akan menyejahterakan kalian,” lanjutnya.

Hasilnya, bermodalkan ide itu dan hanya 8 baliho besar serta tanpa money politik, Budiman meraih suara terbanyak di dapilnya. Setelah menjadi anggota dewan do Senayan, dia pun benar-benar membuktikan janjinya pada para pemilihnya. Duduk sebagai wakil ketua panitia khusus RUU Desa, dia perjuangkan apa yang menjadi gagasannya.

Dia bahkan menunda permintaan sang istri untuk memiliki rumah pribadi sebelum RUU itu ditetapkan. “Saya merasa menanggung beban moral ketika saya punya rumah pribadi, sedangkan orang-orang yang memberangkatkan saya ke Senayan masih ada yang tak punya rumah. Masih ada yang lahannya tergusur dan tak punya rumah,” ungkapnya.

Diana AV Sasa yang menjadi pembahas dalam bedah buku ini menyampaikan apresiasinya atas usaha yang dilakukan Budiman. Menurutnya, tidak banyak caleg yang memiliki kesadaran untuk melakukan pendidikan politik di tengah sistem pemilu seperti sekarang dimana uang masih mendominasi.

“Budiman melakukannya. Ia percaya dengan gagasannya, dan kemudian mengujikannya pada masyarakat. Ternyata masyarakat menerima. Menuliskan kembali pengalamannya itu dalam sebuah buku adalah suatu pendidikan politik pula agar masyarakat memahami pentingnya memiliki integritas dalam diri. Hal yang sekarang menjadi langka di negeri kita ini,” ujar Sasa.

Buku Anak-Anak Revolusi terdiri dari 2 jilid. Jilid I merupakan refleksi Budiman Sudjatmiko atas peristiwa-peristiwa yang dia alami dari kecil hingga dirinya membulatkan tekad untuk melawan otoriterisme orde baru. Sedang buku jilid II mengisahkan perjalanannya pasca reformasi, belajar di luar negeri, hingga menjadi anggota DPR.

Bedah buku ini sendiri adalah bagian dari Festival Domain Rakyat yang diadakan oleh jaringan GDM bersama Relawan TIK Madiun. (sa)

Friday, February 28, 2014

Media Sakit, Demokrasi Gaduh

1. Berakhirnya orde baru menandai era kemerdekaan yang utuh. Setiap orang menemukan kedaulatannya #DemokrasiGaduh
2. Kedaulatan melihat,bicara, bertindak sesuai naluri kemanusiaan di atas tata aturan hidup bersama #DemokrasiGaduh
3. Dalam negara demokrasi, kedaulatan warga negara semakin nyata dengan hadirnya media massa, cetak, elektronik, maupun online #DemokrasiGaduh
4. Di negara demokrasi, terutama di negara berkembang, media diharap jadi lembaga penyambung lidah rakyat #DemokrasiGaduh
5. Media juga menjadi penafsir kebijakan pemerintah. Fungsi evakuasi dan kontrol #DemokrasiGaduh
6. Peran dan fungsi media yang independen sangat menentukan eksistensi negara-bangsa, kini dan nanti #DemokrasiGaduh
7. Meski begitu, kita harus sadar bahwa dalam demokrasi tak ada kebenaran tunggal. #DemokrasiGaduh
8. Semua orang, selagi berpegang pada aturan main hukum, dibenarkan untuk menafsir dan menyatakan pendapat #DemokrasiGaduh
9. Pun untuk sekadar bertanya: sudah sehatkah media kita? #DemokrasiGaduh
10. Pertanyaan ini patut diajukan untuk refleksikan berbagai peristiwa politik yang gaduh dalam media kita hari ini. #DemokrasiGaduh
11. Artinya, kontrol kita semua terhadap media akan berimplikasi pada hadirnya udara segara demokrasi. #DemokrasiGaduh
12.Udara segar yang akan buat paru-paru kita berdegup normal dan otak kita berpikir dengan nalar normal. #DemokrasiGaduh
13. Pemberitaan seputar orangorang korupsi itu wajar. Kabar ttg pencekalan pejabat k luar negeri itu lumrah.  #DemokrasiGaduh
14.Publikasi hasil survey popularitas dan elektabilitas capres itu bumbu penyedap. #DemokrasiGaduh
15. Tapi kalau media sudah memprovokasi seseorang itu perlu dipertanyakan. Kenapa? #DemokrasiGaduh
16. Akhir2 ini kita disuguhi meroketnya kemungkinan terpilihnya jokowi jika pilpres diadakan hari ini.
#DemokrasiGaduh
17. Lalu kita ditawari desakan pada Megawati untuk segera deklarasikan pencapresan jokowi.
#DemokrasiGaduh
18. Setelah Megawati kukuh memegang keputusan partainya: penentuan capres stelah pileg, tibatiba kita disuguhi berita di luar nalar. #DemokrasiGaduh
19.Sebuah media on-line menulis: Agar Jokowi Otomatis Nyapres,PDI P biarkan kalah.
#DemokrasiGaduh
20. Berita ini saya kira kurang mendidik. Alasannya? Simak #DemokrasiGaduh
21. Pertama, Jokowi yg notabene kader PDI P, baru bisa dicalonkan kalau PDI P mampu meraih suara 27% dalam pileg. #DemokrasiGaduh
22. Kedua, uu pilpres menegaskan hanya parpol/gabungan parpol yang suaranya mencapai minimal 20% yang bisa mengajukan capres. #DemokrasiGaduh
23.  Ketiga, PDI P memiliki aturan kepartaian: penentuan capres setelah pileg. #DemokrasiGaduh
24. Tak lama berselang kita disuguhi tangis Risma di acara #MN, yang sertamerta disambut heboh tagar #SaveRisma di socmed #DemokrasiGaduh
25. Tak ada angin tak ada hujan, tiba2 PDI P santer dituding massa seakan melakukan pendzoliman #DemokrasiGaduh
26. Sekjend turun tangan, ketua umum menghampiri. Bertanya: Ada apa, nak? Maunya gimana? #kasihibu #DemokrasiGaduh
27. Anak mengadu, ibu menengahi, berdiri di atas kebenaran. Tempuh jalur hukum! Tapi media terus gaduu simpang siur #DemokrasiGaduh
28. Ada apa sebenarnya dengan media kita, sakit kah? Sehat kah? #DemokrasiGaduh
29. Mempertanyakan media bukan berarti kita mempertanyakan kebebasan dan kemerdekaan berpendapat. #DemokrasiGaduh
30. Mempertanyakan media sebagai refleksi atas upaya kita untuk mengawasi pilar-pilar demokrasi terpancang dengan kukuh. #DemokrasiGaduh
31. Jika media sakit, demokrasi kita akan hanya melahirkan permainan gaduh. #DemokrasiGaduh
Opini Set Wahedi, ditwitkan @dianasasa, 27 Februari 2014
Foto: nyobamoto

Friday, February 14, 2014

Surat Terbuka untuk Mas Ganjar Pranowo

Surat Terbuka untuk Mas Ganjar Pranowo
Ijinkan Diskusi Tan Malaka di Semarang
Merdeka...!
Mas Ganjar yang terhormat,
Perkenalkan, saya Diana AV Sasa, pengasuh perpustakaan Dbuku di Surabaya. Kita pernah bersua, saat blusukan di kampanye pilkada kota Malang sekira 8 bulan lalu. Saya perempuan mungil yang menunggu Mas di depan pasar karena Mas tersesat dan terpisah dari rombongan saat itu. Saya pula perempuan yang mewawancarai Mas saat kampanye gubernur jempol di Blitar 6 bulan lalu. Ya, kita kawan satu rumah perjuangan, Mas. Baju kita sama-sama merah. Ketua umum kita sama. Bendera kita sama. Lagu kita sama. Dan saya kira, nafas perjuangan kita juga sejalan.
Mas Ganjar yang saya hormati,
Saya membaca di media jejaring sosial, kawan-kawan komunitas Hysteria yang akan mengadakan diskusi buku Tan Malaka di Grobak Art Kos, Jl Stonen no 29, Bendan Ngisor, Gajah Mungkur, Semarang pada tanggal 17 februari mendatang mendapat tekanan dari beberapa pihak.
Kamis, 12 Februari 2013, kawan Adin selaku panitia acara didatangi 2 orang dari Polrestabes Semarang. Mereka menyampaikan adanya keberatan dari Laskar Umat Islam Semarang terhadap acara bedah buku tersebut.
Tidak hanya itu, lima menit kemudian datang surat keberatan bernada ancaman dari organisasi MPC Pemuda Pancasila Kota Semarang. Mereka meminta polrestabes Semarang untuk tidak memberikan ijin penyelenggaraan acara tersebut. Surat ditembuskan pada walikota Semarang dan kodim 0733 BS/Semarang.
Karena itu, kawan-kawan mengajukan petisi kepada Mas Ganjar selaku pemangku kekuasaan tertinggi di Jawa Tengah agar dapat memberikan jaminan keamanan atas penyelenggaraan diskusi tersebut. Lihat di sini untuk petisi http://www.change.org/id/petisi/ganjarpranowo-izinkanlah-diskusi-buku-tan-malaka-di-semarang-senin-17-februari/share?just_signed=true
Petisi di atas tidak hanya berdasarkan ketakutan kami semata. Akan tetapi atas kesadaran untuk belajar pada sejarah: diskusi buku yang sama di Surabaya pada 7 Februari lalu ( http://www.tempo.co/read/news/2014/02/07/078552073/Diskusi-Buku-Tan-Malaka-Diganggu-Ormas-di-Surabaya)
Kemudian saya juga memiliki trauma atas kejadian serupa sekira 4 tahun lalu, di Jombang, Jawa Timur. Ketika itu, kita juga memegang tampuk kekuasaan di sana. Lihat
http://sastra-indonesia.com/2010/08/bedah-buku-eks-seniman-lekra-disantroni-intel/
Dalam hal ini, saya sebagai kader PDI Perjuangan merasa malu dan bersalah atas kegagalan diskusi di Surabaya.  Itu mengingat pemegang tampuk kekuasaan di Surabaya adalah kader PDI Perjuangan. Semestinya hal itu bisa dicegah. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang Diana Sasa selain mengemis pada pimpinannya agar memberi jalan? Ia bukan siapa-siapa di rumah merah ini. Namun, sebagai seseorang yang didapuk memegang  penerbitan di bidang infokom DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, saya sungguh menanggung beban tanggungjawab yang menusuk nurani saya sebagai kader partai yang berlatarbelakang pegiat buku.
Saya tak ingin kejadian serupa terulang. Saya percaya Mas Ganjar akan mampu mengambil kebijakan yang tepat. Saya percaya, di rumah merah ini masih ada kader-kader yang peduli pada kebebasan berkumpul dan berpendapat. Saya percaya, di rumah merah ini idealisme saya tidak akan terpasung.
Untuk itu, saya ingin mengingatkan Mas Ganjar bahwa Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka adalah pahlawan nasional yang diangkat langsung oleh Presiden Soekarno. Sekali lagi, Soekarno, Mas! Sosok yang menjadi panutan kita. Sosok yang gambarnya selalu kita pajang berjajar dengan Ketua Umum dan lambang partai. Jadi apa lagi mesti kita ragukan?
Kesalahpahaman mengenai sosok Tan Malaka masih kerap terjadi hingga kini. Maka diskusi mengenainya adalah sebuah upaya membuka wacana. Dan di ranah ini, Mas Ganjar yang dekat dengan kawan-kawan aktivis, tentu memahami sejauh mana jangkauannya. Kami hanya ingin belajar tentang sejarah bangsa kami. Tak ada yang perlu ditakutkan dari kami. Kami tidak sedang mengancam dengan mengacungkan golok atau melakukan kekerasan terhadap siapa pun.
Mas Ganjar,
Bersikap lah...!
Fasilitasi, moderasi, tengahi, dan ambil kebijakan yang tegas dan tepat. Bila perlu, pindahkan diskusi ke rumah dinas Mas Ganjar, atau ke tempat lain dengan jaminan keamanan penuh. Biarkan anak-anak muda ini meluaskan jangkauan pikirannya, agar bangsa ini kelak tak mandul karena kebebasan berpikir yang diberangus.
Demikian surat terbuka ini. Apabila apa yang saya tulis kemudian tidak berkenan bagi pimpinan saya di partai, sepenuhnya sebagai kader, saya siap menanggung konsekuensinya.
"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda."--- Tan Malaka
Diana AV Sasa
Sie Penerbitan
Badan Informasi dan Komunikasi
DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

Wednesday, February 5, 2014

Mereka Rakyatku

Mungkin Tuhan punya cara sendiri untuk menunjukkan bagaimana seorang pemangku kekuasaan menyembunyikan kebobrokan sistemnya dan penderitaan rakyatnya di balik pencitraan dan piala penghargaan. Salah satunya adalah melalui penderitaan itu sendiri. 

Mereka hanyalah orang-orang yang didera kemiskinan hingga harus lari ke negri asing demi sebuah penghidupan. Kemiskinan itu pula yang kemudian menggerakkan mereka untuk mengulurkan bantuan pada tetangganya di kampung yang masih dihimpit kemiskinan. Awalnya hanya satu, dua, namun lama kelamaan kemiskinan dan derita yang mengiringi itu menyeruak seperti lingkaran setan. Membesar dan makin nyata.
Mereka yang sendirian itu akhirnya menarik yang lain di luar mereka untuk bergerak bersama dalam kerelaan. Sedikit demi sedikit pasukan mereka makin membesar, mereka pun semakin kuat. Disela kesibukan masing-masing mereka datangi satu demi satu yang papa itu untuk membagi sedikit kebahagiaan. Dan senyum adalah buah berbagi kebahagiaan itu. 

Mereka sepenuhnya sadar, apa yang mereka lakukan tak akan menyelesaikan masalah kemiskinan yang seperti lingkaran setan. Namun setidaknya, mereka membuka mata banyak orang, bahwa di kota ini, ada borok yang tersembunyi, ada derita yang membusuk di balik pamer prestasi semu. 

Keberhasilan angka-angka yang oleh pemangku kekuasaan  dipampang besar-besar di koran itu adalah sebuah kepalsuan. Selama masih ada banyak ditemukan rakyat yang tak bisa makan, tak bisa bekerja, tak punya rumah, dan anak-anak yang tak bisa sekolah, piala-piala itu hanya mahkota tanpa makna. 

Mereka, orang-orang yang yang tak bisa sekolah tinggi karena miskin itu, telah membuktikan, bahwa mereka lebih memiliki nurani daripada pemangku kekuasaan yang berpendidikan tinggi. Mereka turun dan menjemput persoalan, menyajikannya kepada publik agar mata hati yang lain terbuka, bahwa kota ini belum ayem tentrem kerta raharja seperti slogan yang digembor-gemborkan penguasa.

Mereka, dan orang-orang papa itu, adalah rakyatku. Derita mereka adalah deritaku. Bila kekuasaanmu membuat mereka menderita, maka kau adalah musuhku! Aku bersama mereka yang papa. Pun bila kau sudutkan aku dari lingkaran kekuasaanmu, itu tak soal bagiku. Karena mereka rakyatku!