Wednesday, February 5, 2014

Mereka Rakyatku

Mungkin Tuhan punya cara sendiri untuk menunjukkan bagaimana seorang pemangku kekuasaan menyembunyikan kebobrokan sistemnya dan penderitaan rakyatnya di balik pencitraan dan piala penghargaan. Salah satunya adalah melalui penderitaan itu sendiri. 

Mereka hanyalah orang-orang yang didera kemiskinan hingga harus lari ke negri asing demi sebuah penghidupan. Kemiskinan itu pula yang kemudian menggerakkan mereka untuk mengulurkan bantuan pada tetangganya di kampung yang masih dihimpit kemiskinan. Awalnya hanya satu, dua, namun lama kelamaan kemiskinan dan derita yang mengiringi itu menyeruak seperti lingkaran setan. Membesar dan makin nyata.
Mereka yang sendirian itu akhirnya menarik yang lain di luar mereka untuk bergerak bersama dalam kerelaan. Sedikit demi sedikit pasukan mereka makin membesar, mereka pun semakin kuat. Disela kesibukan masing-masing mereka datangi satu demi satu yang papa itu untuk membagi sedikit kebahagiaan. Dan senyum adalah buah berbagi kebahagiaan itu. 

Mereka sepenuhnya sadar, apa yang mereka lakukan tak akan menyelesaikan masalah kemiskinan yang seperti lingkaran setan. Namun setidaknya, mereka membuka mata banyak orang, bahwa di kota ini, ada borok yang tersembunyi, ada derita yang membusuk di balik pamer prestasi semu. 

Keberhasilan angka-angka yang oleh pemangku kekuasaan  dipampang besar-besar di koran itu adalah sebuah kepalsuan. Selama masih ada banyak ditemukan rakyat yang tak bisa makan, tak bisa bekerja, tak punya rumah, dan anak-anak yang tak bisa sekolah, piala-piala itu hanya mahkota tanpa makna. 

Mereka, orang-orang yang yang tak bisa sekolah tinggi karena miskin itu, telah membuktikan, bahwa mereka lebih memiliki nurani daripada pemangku kekuasaan yang berpendidikan tinggi. Mereka turun dan menjemput persoalan, menyajikannya kepada publik agar mata hati yang lain terbuka, bahwa kota ini belum ayem tentrem kerta raharja seperti slogan yang digembor-gemborkan penguasa.

Mereka, dan orang-orang papa itu, adalah rakyatku. Derita mereka adalah deritaku. Bila kekuasaanmu membuat mereka menderita, maka kau adalah musuhku! Aku bersama mereka yang papa. Pun bila kau sudutkan aku dari lingkaran kekuasaanmu, itu tak soal bagiku. Karena mereka rakyatku!

0 comments: