Friday, February 14, 2014

Surat Terbuka untuk Mas Ganjar Pranowo

Surat Terbuka untuk Mas Ganjar Pranowo
Ijinkan Diskusi Tan Malaka di Semarang
Merdeka...!
Mas Ganjar yang terhormat,
Perkenalkan, saya Diana AV Sasa, pengasuh perpustakaan Dbuku di Surabaya. Kita pernah bersua, saat blusukan di kampanye pilkada kota Malang sekira 8 bulan lalu. Saya perempuan mungil yang menunggu Mas di depan pasar karena Mas tersesat dan terpisah dari rombongan saat itu. Saya pula perempuan yang mewawancarai Mas saat kampanye gubernur jempol di Blitar 6 bulan lalu. Ya, kita kawan satu rumah perjuangan, Mas. Baju kita sama-sama merah. Ketua umum kita sama. Bendera kita sama. Lagu kita sama. Dan saya kira, nafas perjuangan kita juga sejalan.
Mas Ganjar yang saya hormati,
Saya membaca di media jejaring sosial, kawan-kawan komunitas Hysteria yang akan mengadakan diskusi buku Tan Malaka di Grobak Art Kos, Jl Stonen no 29, Bendan Ngisor, Gajah Mungkur, Semarang pada tanggal 17 februari mendatang mendapat tekanan dari beberapa pihak.
Kamis, 12 Februari 2013, kawan Adin selaku panitia acara didatangi 2 orang dari Polrestabes Semarang. Mereka menyampaikan adanya keberatan dari Laskar Umat Islam Semarang terhadap acara bedah buku tersebut.
Tidak hanya itu, lima menit kemudian datang surat keberatan bernada ancaman dari organisasi MPC Pemuda Pancasila Kota Semarang. Mereka meminta polrestabes Semarang untuk tidak memberikan ijin penyelenggaraan acara tersebut. Surat ditembuskan pada walikota Semarang dan kodim 0733 BS/Semarang.
Karena itu, kawan-kawan mengajukan petisi kepada Mas Ganjar selaku pemangku kekuasaan tertinggi di Jawa Tengah agar dapat memberikan jaminan keamanan atas penyelenggaraan diskusi tersebut. Lihat di sini untuk petisi http://www.change.org/id/petisi/ganjarpranowo-izinkanlah-diskusi-buku-tan-malaka-di-semarang-senin-17-februari/share?just_signed=true
Petisi di atas tidak hanya berdasarkan ketakutan kami semata. Akan tetapi atas kesadaran untuk belajar pada sejarah: diskusi buku yang sama di Surabaya pada 7 Februari lalu ( http://www.tempo.co/read/news/2014/02/07/078552073/Diskusi-Buku-Tan-Malaka-Diganggu-Ormas-di-Surabaya)
Kemudian saya juga memiliki trauma atas kejadian serupa sekira 4 tahun lalu, di Jombang, Jawa Timur. Ketika itu, kita juga memegang tampuk kekuasaan di sana. Lihat
http://sastra-indonesia.com/2010/08/bedah-buku-eks-seniman-lekra-disantroni-intel/
Dalam hal ini, saya sebagai kader PDI Perjuangan merasa malu dan bersalah atas kegagalan diskusi di Surabaya.  Itu mengingat pemegang tampuk kekuasaan di Surabaya adalah kader PDI Perjuangan. Semestinya hal itu bisa dicegah. Tapi apa yang bisa dilakukan seorang Diana Sasa selain mengemis pada pimpinannya agar memberi jalan? Ia bukan siapa-siapa di rumah merah ini. Namun, sebagai seseorang yang didapuk memegang  penerbitan di bidang infokom DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, saya sungguh menanggung beban tanggungjawab yang menusuk nurani saya sebagai kader partai yang berlatarbelakang pegiat buku.
Saya tak ingin kejadian serupa terulang. Saya percaya Mas Ganjar akan mampu mengambil kebijakan yang tepat. Saya percaya, di rumah merah ini masih ada kader-kader yang peduli pada kebebasan berkumpul dan berpendapat. Saya percaya, di rumah merah ini idealisme saya tidak akan terpasung.
Untuk itu, saya ingin mengingatkan Mas Ganjar bahwa Sutan Ibrahim Gelar Datuk Tan Malaka adalah pahlawan nasional yang diangkat langsung oleh Presiden Soekarno. Sekali lagi, Soekarno, Mas! Sosok yang menjadi panutan kita. Sosok yang gambarnya selalu kita pajang berjajar dengan Ketua Umum dan lambang partai. Jadi apa lagi mesti kita ragukan?
Kesalahpahaman mengenai sosok Tan Malaka masih kerap terjadi hingga kini. Maka diskusi mengenainya adalah sebuah upaya membuka wacana. Dan di ranah ini, Mas Ganjar yang dekat dengan kawan-kawan aktivis, tentu memahami sejauh mana jangkauannya. Kami hanya ingin belajar tentang sejarah bangsa kami. Tak ada yang perlu ditakutkan dari kami. Kami tidak sedang mengancam dengan mengacungkan golok atau melakukan kekerasan terhadap siapa pun.
Mas Ganjar,
Bersikap lah...!
Fasilitasi, moderasi, tengahi, dan ambil kebijakan yang tegas dan tepat. Bila perlu, pindahkan diskusi ke rumah dinas Mas Ganjar, atau ke tempat lain dengan jaminan keamanan penuh. Biarkan anak-anak muda ini meluaskan jangkauan pikirannya, agar bangsa ini kelak tak mandul karena kebebasan berpikir yang diberangus.
Demikian surat terbuka ini. Apabila apa yang saya tulis kemudian tidak berkenan bagi pimpinan saya di partai, sepenuhnya sebagai kader, saya siap menanggung konsekuensinya.
"Idealisme adalah kemewahan terakhir yang dimiliki oleh pemuda."--- Tan Malaka
Diana AV Sasa
Sie Penerbitan
Badan Informasi dan Komunikasi
DPD PDI Perjuangan Jawa Timur

11 comments:

Damar "Amang" Juniarto said...

Musuh kita bukan diskusi sejarah, musuh kita sesungguhnya adalah kesesatan pikir dan jiwa kerdil tidak mau membuka pikiran. Senafas dengan Diana Sasa, saya ikut mendorong Pak Ganjar Pranowo mengambil sikap mengizinkan diskusi diadakan di mana saja, tak hanya di Semarang, tetapi juga di daerah lain di Jawa Tengah.

[dam]

Irwan Bajang said...

surat terbuka ini penting. dan harus direspons. semoga bisa jalan diksusi di Semarang bersama kawan-kawan Hysteria.

Kika said...

Semoga diskusi ini bisa berlangsung. Ketakutan beberapa pihak sangat tidak beralasan, karena yang dipelajari adalah sejarah dan hasil pemikiran bukan pahamnya.

Lagi pula, setiap insan di Indonesia ini dijamin kebebasannya oleh UUD.

Anonymous said...

ah beginilah nasib bangsa yang takut akan sejarahnya sendiri

yas rizal said...

tan malaka sendiri berkata belajarlah pada barat tapi jadilah murit yang cerdas dari timur,tan malaka dipercayakan jdi ketua komintern dan berusaha membela islam dlm komfrensi internasional membela islam bukan musuh tapi teman/kawan yg harus dirangkul.kemudian apa yang dilihat dgn mata kepalanya sendiri yang terjadi dimoskou saat itu yg akhirnya menjadikanny menjauh dari moskou, rasional,logika itu yg slalu ditekankan tan malaka dan tujuanya hanya satu kita bangsa yg mempunyai karakter bangsa sendiri ,setara mempunyai nilaitawar yang sama dan itu diawali dgn kemandirian,

Gondrongg said...

apa yang ditakutkan dari sosok Tan Malaka? perjuangannya yg kiri? atau pernah berpaham komunis? Jangan takut sama komunis, takutlah sama Gusti Allah :)

michael christian said...

Ketakutan yg timbul akibat dibutakan sejarah palsu. Mengenaskan, sungguh mengenaskan.

Komunitas Cahaya said...

Warna putih itu masih suci. Merah itu masih berani,

Kami pemuda ingin mengerti dan tidak mau berdiam diri.

Namun jika kiranya kami salah arti, maka ingatkan kami. Tan Malaka ada pada diri kami.

www.komunitascahaya.org

Anonymous said...

Saya heran kok di zaman keterbukaan ini, masih ada manusia-manusia kerdil yang memandang sejarah menurut kacamata kuda. Inilah salah satu ulah Rezim orde Baru yang membunuh semua karakter para pejuang kita, yang tidak sejalan dengannya. sehingga pemikiran-pemikiran revolusioner semacam Tan Malaka sengaja diputar balikkan, dan mempengaruhi manusia-manusia munafik jaman sekarang.

abdul wahab said...

apapun yang di ajarkan oleh tanmalaka, ketika konstitusi negara indonesia menjamin adaya kebebasan untuk berfikir, berkumpul dan diskusi. maka lakukanlah apa yang harus kalian lakukan, biarkan mereka yang berupaya untuk mengintimidasi melanjutkan niatya, dan mari kita lihat sampai dimana negara kita menjamin hak asasi manusia, dan sampai dimana pula keberania seorang provokator dalam melawan konstitusi... tetaplah semangat walaupun yawa yang harus di pertaruhkan... dan saya tidak yakin kalau mereka berani membubarkan dan polisi tidak mempuyai wewenang untuk memberikan ijin kegiatan tersebut..

Mugiyanto said...

Saya yakin, surat ini sangat membantu kesuksesan diskusi buku tan malaka di semarang, dan mengalahkan para pecundang FPI, PP, PPM dan semacamnya.

Salut untuk Diana Sasa