Wednesday, July 30, 2014

Perang Telah Usai

Pertempuran tak lama lagi akan usai. Satu per satu pasukan ditarik mundur dari palagan. Meski hasilnya belum paripurna, namun bisa dipastikan kemenangan sudah menanti. Pesta kemenangan bahkan telah disiapkan untuk digelar begitu kepastian itu ada di tangan. 

Tanpa terasa 19 purnama terlewati dalam keriuhan senada : politik. Purnama 19 kali tanpa jeda. Meski sekedar untuk menghela nafas panjang. Atau tidur lelap tanpa terjaga oleh bunyi panggilan telepon. Pun sebuah percakapan hangat tentang masa sepan dengan kekasih. Segalanya tumpas
L oleh perang kuasa.

Pilkada Magetan di akhir 2012 hingga April 2013 adalah mulanya. Seorang diri menjalani tugas tanpa keyakinan. Kandidat harus menang meski nurani menentangnya. Dia korup! Dan betapa naifnya memberi jalan seorang koruptor untuk bisa berkuasa lagi.

Tanpa jeda, tugas beralih ke Pilkada Kota Malang di Mei 2013. Kandidat sosok yang pas di hati untuk diperjuangkan kemenangannya. Sayang, rupanya uang lebih berkuasa. Kekalahan pun menjadi buah yang harus dibawa pulang.

Tak ada waktu untuk bersantai, pilgub Jatim menunggu. Tugas bersambung lagi di bulan Juni 2013. Kandidat setengah hati, berjuang pun setengah hati. Jempol tak berakhir jempolan. Tiga bulan berjuang meyakinkan. Namun kekalahan tak dapat dielakkan. 

September tak ceria. Pemilu legislatif sudah menanti. Meski keyakinan akan kegagalan sudah membayang sedari mula, namun pejuang tak boleh diam. Tanpa uang pemilih harus bisa diyakinkan. Media sosial dunia maya punya kekuatan tersendiri.  Dan 13 ribu suara menjadi bakti pertempuran 9 April 2013.  Walau kursi belum teraih. Namun itu lah buah keyakinan tentang politik bersih. 

Sambung menyambung seperti peluru memberondong tiada ampun, perang pilpres sudah menanti. Awalnya menyangka pertempuran tak akan berat karena kandidat punya modal sosial kuat. Nyatanya, lawan lebih ganas dari perkiraan. Tingkat irasional dan emosional pendukungnya sudah di luar batas kewajaran. Caci maki, fitnah, dan ancaman seakan berusaha menghilangkan kegembiraan pesta rakyat lima tahunan itu. Ada cakar kekuasaan rezim lama yang berusaha ditancapkan lagi. Perlawanan pun datang dari segala lini.

Mereka yang sebelumnya apatis pada politik tiba-tiba antusias. Yang semula tak acuh akhirnya mendukung.  Beragam alasan. Mulai ketakutan akan kisah gelap rezim lalu, hingga harapan perubahan lebih baik. Sebagai pecinta buku, tentu tak ingin orang yang terlibat rezim lalu-yang melakukan pelarangan buku-  berkuasa di negri ini. Ini perlawanan kutu buku untuk Sang Jenderal! 

Diawali kemenangan diakhiri kemenangan.  Tugas ini purna sudah. Saatnya kembali ke barak. Jalani tugas sehari-hari sebagaimana biasanya. Selamat datang pemimpin baru. Jangan senang dulu,  kami akan buat parlemen jalanan untuk mengawasimu.

Tahun politik segera berakhir.  Saatnya untuk kembali ke dunia buku. Tempat dimana ruh dan asa bersetubuh. 

0 comments: