Friday, August 8, 2014

Sendiri tanpa Bunuh Diri

Jika tak ada yang menyapa "selamat pagi" ketika kau buka mata di pagi hari, sapalah dirimu sendiri dan tambahkan "I love you".

Jika tak ada yang menemanimu di meja makan menyantap sarapan pagi, makan lah santapan lezat dan biarkan lidahmu membahagiakan dirimu sembari menonton televisi. 

Jika tak ada yang mengingatkan apa-apa yang mesti ada dalam tasmu sebelum berangkat kerja,dengarlah suaramu menjadi pengingat paling cerewet dengan mencatat barang-barang itu kemudian ucapkan dan rekam di teleponmu.

Jika hingga lewat tengah hari tak ada yang menegurmu untuk makan siang, biarkan teleponmu menjadi pengingat setia tanpa kompromi.

Jika tak ada yang menjemputmu pulang kerja, pacu lah kendaraanmu dengan lantunan musik kesukaan dan kejarlah senja meranum itu. 

Jika tak ada yang memelukmu dalam ketenangan dan memijat kakimu yang pegal, rendamlah kaki dalam air hangat bergaram dan baca lah buku.

Jika kau merasa tubuh diserang demam dan tak ada yang meraba jidatmu, ambillah air dingin dan letakkan di ubun-ubun agar beku itu mencair pelahan.

Jika kau ingin diantar ke laboratorium karena tubuhmu nyaris rubuh namun tiada kau temukan malaikat penolong itu, angkat telepon dan panggillah petugas laborat ke kamarmu.

Jika kau berharap ada yang menemanimu mengunjungi dokter namun tak seorang pun nenawarinya, pilihlah dokter terbaik dan ajak lah berbicara panjang tentang sakitmu hingga kau merasa nyaman.

Jika mulutmu berasa pahit dan berkeinginan ada yang menyuapkan makanan ke mulutmu namun tiada terjadi, miringkan lah tubuhmu dan cobalah menyendoknya dengan semampu jarimu.

Jika tidurmu terganggu kejutan tubuh yang membuatmu terjaga berkali-kali, sedang tiada seorang menenangkanmu, ingatlah Tuhan karena Dia selalu ada di dekatmu.

Jika usahamu mencari kawan bicara tak berhasil, menulis lah. Karena itu yang akan membebaskanmu dari keinginan meraup pisau dan tali...

Thursday, August 7, 2014

Sakit itu Tak (cuma) Butuh Obat

Saban kali tubuh didera kelelahan dan jatuh dalam kesakitan, yang terbayang di benak adalah belaian lembut dan dekapan hangat. Rasa nyaman dan dicintai itu demikian mujarab membungkam segala keluhan. Tapi ada lagi yang menyembuhkan lebih cepat : berurusan dengan buku.

Barangkali ini semacam sugesti. Ketika berkutat dengan buku, rasa bahagia bisa menjalar dari ubun-ubun dan menyebar memenuhi jantung. Tiba-tiba kesakitan musnah. Yang ada adalah gairah.

Buku membuat lupa pada nyeri dan ngilu yang merajam tubuh. Sejenak mengantarkan imaji gairah pada pucuk-pucuk harapan.  Maka itu lah pilihan ramuan penyembuh ketika obat-obat hingga jejamuan tak memberi penyelesaian. Juga kesendirian yang menghujam sepi dan membikin gigil.

Sendiri itu kondisi. Meratapinya tak akan menuntaskan kesakitan. Sakit itu kondisi. Mengeluhkannya tak akan menyembuhkan. Pada buku-membaca menulis- kesembuhan kupacakkan.

Kendangsari, 7-8-2014

Saturday, August 2, 2014

Sendiri itu...

Sendiri itu pilu....

Dalam dingin mencekat nadi
Malam sunyah.....
Tubuh terguncang gigil
Ngilu......
Air mata tanpa isak
Kesakitan tak berujung

Tiada seorang pun di sisi
Meski banyak nama terbisik
Ma...Be... Yank...Mas...Gus....
Aku sakit. ...