Thursday, September 25, 2014

Surat untuk Ibu

Ibu....
Apa kabar? Nana kangen...
Maafkan Nana jarang bisa menyempatkan waktu untuk tengok rumah. Meski jarak kita sebenarnya tak seberapa jauh. Bahkan sebenarnya tak genap 2 jam untuk menaiki dan menuruni punggung bukit yang memisahkan kita itu. Namun ternyata banyak hal lain yang membuat Nana lebih memilih untuk tidak pulang barang sehari. Hal-hal yang bila Nana ungkapkan hanya akan menyakiti hati Ibu karena seakan Ibu tak lagi lebih penting dari itu. Murkai anakmu ini, Ibu... bila hatimu tak rela dengan pilihanku.

Ibu.... Nana kangen....
Waktu Nana tak banyak lagi. Nana ingin bereskan semua yang belum tuntas selama ini. Ijinkan Nana gunakan sisa waktu ini untuk mengabdi pada buku-hal yang Nana cinta sepenuh jiwa raga. Rumah buku itu mesti berdiri lagi, Ibu....
Setidaknya, kelak bila aku pergi, masih ada harta berharga yang kutinggalkan: buku. Nana janji, setelah itu Nana akan pulang tengok Ibu.

Ibu, Nana kangen...
Maafkan Nana selama ini banyak menyusahkan keluarga. Anak perempuan yang diharapkan bisa jadi kebanggaan ini belum bisa membuatmu tersenyum bangga. Seperti ketika kau menangis bahagia, 20 Mei 2009 lalu: lahirnya buku pertamaku. Nana belum bisa wujudkan harapan Ibu yang lain.  Semoga dengan buku yang kutinggalkan bisa membuatmu bangga padaku. Maaf... bila jauh dari harapan. 

Ibu... Nana akan bertahan sekuat-kuat tubuh ini bisa bertahan.  Percaya pada anakmu ini, ia tak akan membuat hidupnya sia-sia tanpa makna. Percayalah, Nana kangen padamu...